Budiman Sekar, mahasiswi biasa yang butuh uang, melamar kerja di PT Lestari Group. Tapi nasib berkata lain — lamarannya dialihkan, dan dia berakhir jadi pengasuh pribadi nomor 88 untuk Tan Ardian, mantan Direktur Utama yang kini terpaksa duduk di kursi roda setelah kecelakaan misterius.
Ardian dingin. Angkuh. Sudah mengusir 87 pengasuh sebelumnya.
Tapi Sekar bukan orang yang gampang menyerah. Dia berani, blak-blakan, dan tidak takut membalas tatapan tajam sang CEO dengan senyum lebar.
Yang tidak Sekar tahu: Ardian menyimpan banyak rahasia. Tentang kecelakaan itu. Tentang kakinya. Dan tentang buku catatan kulit cokelat yang diam-diam ia tulis setiap malam — "Panduan Memelihara Kucing Hoki."
Isinya? Semua hal tentang Sekar.
"Hari ke-15: Dia tersenyum. Rasanya seperti matahari masuk lewat jendela yang sudah lama tertutup."
*Ketika sang kucing dingin bertemu anjing kecil yang ceria — siapa yang sebenarnya merawat siapa?*
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lumisse, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 33
Bab 33
Jagoan Sekar
Ardian tidak melarang Sekar pergi ke reuni.
Itu saja sudah membuat Darren curiga.
"Koko tidak mau mengirim delapan bodyguard?" bisiknya malam sebelum acara.
"Tidak."
"Empat?"
"Tidak."
"Satu bodyguard yang menyamar jadi tanaman?"
Ardian menatapnya.
Darren langsung mengangkat kedua tangan. "Aku hanya memastikan kadar kecemasan keluarga."
Kadar kecemasan itu tetap ada. Ardian hanya tidak menunjukkannya pada Sekar. Ia meminta Handi memastikan mobil antar-jemput siap, lalu menghubungi seseorang secara terpisah untuk mencari informasi lebih jauh tentang Gunawan Denny. Ia tidak akan mengganggu libur Sekar tanpa bukti.
Namun ia juga tidak akan membiarkan Denny berdiri terlalu dekat dengannya tanpa pengawasan.
Club Bintang pada Sabtu malam terlihat jauh dari tempat yang biasa Sekar kunjungi. Lampu hangat, sofa beludru, musik pelan, dan aroma parfum mahal menyambutnya sejak pintu masuk. Ia sempat mengecek alamat dua kali, takut salah masuk ke acara orang lain.
Teman-teman SMA-nya sudah berkumpul di ruang privat kecil. Ada yang bekerja di bank, ada yang baru menikah, ada yang sibuk memotret minuman. Begitu Sekar masuk, beberapa wajah terkejut.
"Sekar? Lama banget!"
"Wah, sekarang kerja di mana?"
"Katanya di keluarga Tan, ya?"
Denny duduk di tengah, kemejanya rapi, jam tangannya terlihat jelas. Di sebelahnya ada Jessica, pacarnya, dengan tas kecil mengkilap dan senyum yang cepat menilai dari ujung rambut sampai sepatu Sekar.
"Sekar," kata Denny, berdiri setengah. "Akhirnya datang."
Sekar tersenyum sopan. "Iya. Macet."
Jessica melihat seragam sederhana yang masih dipakai Sekar karena ia langsung datang setelah memastikan jadwal obat Ardian. "Kamu masih pakai baju kerja?"
"Praktis."
"Oh." Senyumnya tipis. "Aku kira reuni begini orang biasanya dandan."
Sebelum Sekar menjawab, seorang teman lain, Raka, tertawa. "Dulu Sekar juga begini. Jangan lihat bajunya. Waktu SMA, dia yang paling berani di kelas."
"Jagoan Sekar!" seru yang lain.
Beberapa orang langsung tertawa hangat. Sekar tersipu. Julukan lama itu muncul lagi. Dulu ia mendapatkannya karena berani menghadapi senior yang memalak uang kantin anak kelas sepuluh. Ia tidak memukul siapa pun. Ia hanya berdiri di depan pintu kelas, membawa daftar nama korban, lalu menyerahkannya langsung ke guru BK dan kepala sekolah.
Sejak itu, jika ada teman yang diganggu, orang akan berkata, panggil Jagoan Sekar.
Raka bahkan masih ingat detailnya. "Dia waktu itu kecil, rambutnya dikepang dua, tapi berani berdiri di depan ruang guru. Seniornya sampai tidak berani lewat kantin seminggu."
Teman lain menambahkan, "Dia juga yang ngumpulin uang kelas waktu buku LKS Denny hilang, kan?"
Denny yang tadinya tersenyum langsung kaku.
Sekar menoleh cepat. "Itu sudah lama."
"Loh, benar kan? Denny waktu itu hampir tidak ikut ujian karena bukunya hilang."
Sekar tidak menjawab. Ia dulu sengaja bilang uang itu hasil patungan kelas, padahal sebagian besar dari uangnya sendiri. Ia tidak pernah ingin Denny merasa dikasihani.
Sekarang, mendengar hal itu disebut di depan semua orang, Denny tampak bukan tersentuh, melainkan malu.
Denny tertawa, tetapi tawanya tidak sampai mata. "Iya, dulu Sekar memang berani. Sayang keberanian tidak selalu cukup buat naik kelas sosial."
Ruang kecil itu sedikit hening.
Sekar menatapnya. "Maksudmu?"
"Tidak ada. Aku cuma bilang dunia kerja beda dari sekolah." Denny bersandar. "Di kantor besar, orang perlu koneksi, cara bicara, penampilan. Kalau tidak, ya akhirnya masuk jalur lain."
Jessica menambahkan manis, "Tapi jadi pengasuh keluarga konglomerat juga lumayan, kan? Dekat orang kaya."
Sekar meletakkan gelas airnya di meja.
"Pekerjaan halal tidak perlu direndahkan," katanya.
Denny mengangkat bahu. "Aku tidak merendahkan. Justru aku membantu waktu itu."
Sekar menyipitkan mata. "Membantu apa?"
Denny sadar ia bicara terlalu cepat. "Maksudku, kalau dulu datamu lewat HRD, aku mungkin ikut... memastikan kamu tidak hilang begitu saja."
Saat itu pintu ruang privat terbuka.
Seorang manajer club masuk dengan wajah sangat sopan. Di belakangnya, Lina Santoso melangkah masuk.
Sekar berdiri kaget. "Bu Lina?"
Semua orang di ruangan itu langsung berubah sikap. Club Bintang bukan sekadar tempat mahal. Lina adalah pemiliknya, nama yang sering hanya terdengar di lingkar orang dewasa yang punya uang dan koneksi.
Lina menatap Sekar, lalu tersenyum. "Aku dengar ada teman putraku datang ke club."
Teman putra?
Beberapa orang saling pandang.
Denny berdiri lebih cepat. "Bu Lina, selamat malam. Saya Gunawan Denny, staf HRD PT Lestari Group."
Lina menatapnya sebentar. "Oh. Kamu Denny."
Satu kalimat itu membuat Denny tampak senang sekaligus gugup. "Iya, Bu."
Lina duduk di kursi yang disiapkan manajer. "Kebetulan sekali. Aku baru menerima dokumen dari Handi tentang satu kasus rekrutmen yang aneh."
Sekar menegang.
Denny memucat.
Lina membuka tablet yang dibawa manajer. "Budiman Sekar melamar posisi Business Development. Data awalnya masuk benar. Lalu ada perubahan jalur kandidat menjadi kebutuhan pengasuh keluarga Tan. Perubahan dilakukan dari akses HRD internal."
Ruangan itu benar-benar sunyi.
Sekar merasa suara musik dari luar mendadak jauh.
Lina mengangkat mata. "Akses itu tercatat atas nama Gunawan Denny."
Jessica menoleh pada Denny. "Apa?"
Denny berdiri kaku. "Itu... pasti salah sistem."
"Sistem mencatat waktu, perangkat, dan akun." Lina menaruh tablet di meja. "Kalau kamu ingin menyebutnya salah sistem, sebaiknya kamu menyiapkan penjelasan untuk audit internal."
Sekar menatap Denny. "Kamu yang mengubah CV-ku?"
Denny membuka mulut, menutupnya, lalu berkata, "Aku cuma... aku pikir posisi itu terlalu berat untukmu."
Raka memaki pelan.
Teman-teman lain mulai berbisik.
Sekar berdiri sangat diam. "Kamu pikir?"
"Sekar, aku tahu latarmu. Kamu butuh uang cepat. Jadi pengasuh keluarga Tan gajinya besar. Aku membantu."
"Membantu siapa?" Suara Sekar tidak tinggi, tetapi semua orang mendengarnya. "Membantu aku kehilangan kesempatan yang aku pilih sendiri?"
Denny mulai panik. "Kamu sekarang juga baik-baik saja, kan? Malah dekat keluarga Tan."
Lina berkata dingin, "Kamu tidak punya hak mengatur hidup orang lain karena merasa tahu yang terbaik."
Jessica pelan-pelan menjauh dari Denny. "Kamu memalsukan data rekrutmen?"
"Bukan memalsukan, cuma mengalihkan..."
"Itu tetap pelanggaran," kata Lina.
Ia menoleh pada manajer. "Minta Handi menghubungi HR Compliance malam ini. Akses Denny dibekukan sementara sampai audit selesai. Semua perubahan kandidat yang pernah melewati akunnya diperiksa ulang."
Denny langsung pucat. "Bu Lina, jangan sampai sebesar itu. Ini cuma satu data."
"Satu hidup orang," koreksi Lina. "Bukan satu data."
Teman-teman yang tadi diam kini menatap Denny dengan wajah yang tidak lagi bisa ia kendalikan lewat senyum.
Raka berdiri lebih dulu. Ia mengambil gelasnya dari dekat Denny dan memindahkannya ke sisi lain meja, gerakan kecil yang justru terdengar keras.
"Gue kira lo cuma sombong," katanya. "Ternyata lo curang."
Seorang teman perempuan yang tadi sempat tertawa ketika Jessica menyindir seragam Sekar, menunduk malu. "Sekar, maaf. Aku ikut ketawa tadi."
Sekar tidak menjawab langsung.
Permintaan maaf di ruang seperti itu selalu datang terlambat. Namun setidaknya, kali ini terlambatnya disaksikan orang banyak. Bukan hanya Sekar yang dipaksa berdiri di tengah sorotan. Denny juga.
Lina menatap seluruh meja. "Mulai malam ini, tidak ada satu pun staf Club Bintang yang boleh membocorkan rekaman internal ke luar. Tapi jika HR Compliance atau legal PT Lestari Group membutuhkan salinan, club akan menyerahkan sesuai prosedur."
Kalimat itu membuat Denny makin pucat.
Ia tidak lagi menghadapi gosip reuni. Ia menghadapi jejak yang bisa diperiksa.
Sekar memegang tali tasnya lebih erat, bukan karena takut, melainkan agar tangannya tidak gemetar di depan orang yang dulu ia lindungi.
Di layar ponsel beberapa teman, chat grup alumni mulai bergerak. Tidak ada yang berani menulis panjang, tetapi satu kalimat muncul berulang: Denny keterlaluan. Untuk orang seperti Denny, kehilangan panggung kecil itu sama menyakitkannya dengan surat pemanggilan HRD.
Sekar menatap pria yang dulu pernah ia bantu diam-diam. Saat SMA, keluarga Denny pernah kesulitan. Sekar tidak pernah bilang pada siapa pun bahwa ia menyisihkan uang jajan untuk membeli buku bekas bagi Denny, juga menitipkan sembako melalui guru kelas agar harga dirinya tidak terluka.
Sekarang orang itu berdiri di hadapannya dan berkata ia tahu yang terbaik untuk hidupnya.
"Dulu kamu pernah bilang ingin masuk perusahaan besar agar ibumu bangga," kata Sekar pelan. "Aku senang waktu dengar kamu diterima. Aku tidak tahu kamu memakai meja kerjamu untuk menjatuhkan orang."
Wajah Denny berubah.
"Sekar..."
"Jangan panggil aku seolah kita masih teman yang sama."
Lina berdiri. "Pak manajer, malam ini tagihan ruangan ini atas nama club. Sekar, kalau kamu ingin pulang, mobilku bisa mengantar."
Sekar menggeleng pelan. "Terima kasih, Bu. Saya perlu udara sebentar."
Ia keluar dari ruang privat dengan langkah tegak.
Di koridor, suara teman-temannya masih terdengar di belakang. Ada yang memanggil namanya, ada yang memaki Denny, ada yang bertanya apakah semua itu benar.
Sekar berjalan sampai balkon kecil di sisi club.
Angin malam menerpa wajahnya. Ia tidak menangis. Belum. Marahnya terlalu padat untuk menjadi air mata.
Ponselnya bergetar.
Ardian: Kamu baik-baik saja?
Sekar menatap layar lama.
Lalu ia menekan tombol video call.
Begitu wajah Ardian muncul, pertahanan yang ia tahan sejak tadi retak sedikit.
"Pak Tan," katanya, suara mulai goyah, "jemput saya..."