Selama lima tahun, Arka Pradana hidup sebagai suami miskin yang dianggap gagal. Ia bekerja siang malam demi membayar utang keluarga istrinya, Hana. Namun semuanya hancur ketika Arka menemukan kenyataan pahit: Hana dan selingkuhannya diam-diam meracuninya selama bertahun-tahun.
Saat pernikahannya runtuh, sebuah liontin tua justru membangkitkan Warisan Hantala dalam tubuh Arka. Ilmu pengobatan, feng shui, tenaga dalam, dan kemampuan melihat rahasia manusia mengalir ke dalam dirinya.
Dari pelayan klub malam yang diremehkan, Arka berubah menjadi pria berbahaya yang ditakuti dunia bawah Jakarta. Di sisinya muncul Maya Santoso, wanita matang pemilik klub malam; Bianca Lestari, CEO cantik yang dingin dan penuh rahasia; serta wanita-wanita lain yang terseret oleh kekuatan dan pesonanya.
Dulu ia diinjak. Sekarang, siapa pun yang berani mengkhianati, menghina, atau menyentuh orang-orangnya harus siap berlutut di hadapannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 22
Bab 22
Beberapa waktu berlalu, tetapi kamar itu tetap terlalu sunyi.
Liana berbaring miring di satu sisi ranjang bulat, gaun merah anggurnya sudah dirapikan sebisanya. Arka berbaring di sisi lain, kemeja dan celananya kembali rapi. Jarak di antara mereka cukup untuk satu orang lagi, meski ranjang di bawah selimut jelas tidak setenang wajah mereka.
"Kamu tidur?" bisik Liana.
"Belum."
"Aku juga belum."
"Aku tahu."
Liana mengambil bantal kecil dan melemparkannya ke dada Arka. "Jangan jawab seperti itu. Menyebalkan."
Arka menangkap bantal itu. "Mau cerita sebelum tidur?"
"Aku bukan anak kecil."
"Tadi yang tidak bisa diam siapa?"
"Itu karena..." Liana berhenti, wajahnya kembali panas. Ia menarik selimut sampai bahu. "Sudahlah."
Arka menatap langit-langit kamar yang memantulkan bayangan samar mereka. Hotel ini bahkan memasang cermin buram di atas ranjang. Benar-benar tidak punya niat baik.
Liana mengikuti arah pandangnya, lalu cepat-cepat memalingkan wajah.
"Kenapa aku memilih kamar ini?"
"Karena kamu profesional."
"Aku benci kamu."
"Tadi tidak terdengar begitu."
"Diam."
Arka tertawa kecil.
Liana berguling telentang. "Cerita sesuatu."
"Aku tidak pandai bercerita."
"Kalau begitu bicara apa saja. Aku tidak bisa tidur."
"Hitung domba."
"Sudah. Dombanya kabur semua."
"Hitung bakso."
"Nanti lapar."
Arka akhirnya ikut telentang. Ia teringat liontin di leher Leon dan kecelakaan yang mungkin sudah terjadi.
"Kakakmu polisi?"
"Iya. Kriminal. Maksudku, polisi bagian kriminal." Liana menghela napas. "Kerjanya serius, wajahnya serius, hidupnya juga serius. Makanya menyebalkan."
"Kalau begitu dia mungkin benar-benar bisa datang membawa razia."
Liana tertawa kecil. "Jangan bercanda. Walau Kak Leon galak, masa sampai merazia adik sendiri?"
"Dengan temperamennya tadi, mungkin saja."
Liana hendak menjawab, tetapi suara langkah berat tiba-tiba terdengar di lorong.
Ia membeku.
Arka menoleh ke pintu.
"Kamu dengar?"
"Jangan bilang..."
Belum selesai Liana bicara, pintu kamar dihantam keras.
"Polisi! Razia! Semua tetap di tempat!"
Pintu terbuka dari luar. Beberapa orang berseragam masuk cepat, diikuti Leon Putra dengan wajah gelap dan Mario yang tampak seperti ingin memakan Arka hidup-hidup.
Liana melompat dari ranjang.
"Kak Leon!"
Para polisi yang masuk lebih dulu langsung melihat dua orang itu masih berpakaian lengkap. Kelopak mawar memang berantakan, ranjang memang mencurigakan, tetapi jarak di antara Arka dan Liana jelas terlalu sopan untuk kamar semahal itu.
Seorang polisi muda batuk kering dan memalingkan wajah, lebih karena canggung daripada menemukan bukti.
Leon berdiri di ambang pintu. Wajahnya tetap dingin, tetapi matanya sempat melirik gaun Liana yang kusut dan bibirnya yang masih sedikit merah.
"Liana."
"Kakak gila?" Liana menunjuk pintu dengan mata berkaca-kaca karena marah. "Razia sampai kamar adik sendiri? Aku mau lapor Mama!"
"Kamu ikut pria ke hotel."
"Aku sudah dewasa!"
"Dewasa bukan berarti boleh sembarangan."
"Yang sembarangan itu Kakak!"
Mario menunjuk Arka. "Dia pasti menipumu!"
Liana menatap Mario seperti melihat orang paling bodoh di Jakarta.
"Aku yang bayar kamar."
Mario tersedak.
"Aku yang pilih kamar."
Wajah Mario makin pucat.
"Aku yang ajak dia ke sini."
Mario mundur setengah langkah, seolah setiap kalimat Liana menusuk dadanya.
Arka duduk di tepi ranjang dan mengancingkan kancing kemejanya yang tadi terbuka satu karena panas. "Pak Leon, kalau mau menangkap orang, setidaknya beri tahu pasal yang dipakai."
Leon menatapnya tajam. "Kamu masih berani bicara?"
"Saya korban pekerjaan paruh waktu sebagai pacar palsu."
Liana hampir tertawa, tetapi langsung menahan karena masih marah.
Leon memejamkan mata sebentar, lalu melambaikan tangan pada polisi lain.
"Semua keluar dulu."
"Pak?"
"Keluar."
Para polisi saling pandang, lalu mundur ke lorong. Mario ingin tetap tinggal, tetapi Leon menarik kerahnya dan mendorongnya keluar juga.
Pintu tertutup.
Di dalam kamar tinggal Leon, Liana, dan Arka.
Liana menyilangkan tangan. "Kak, kamu keterlaluan."
Leon menggosok wajah. "Aku cuma takut kamu dibohongi."
"Dengan cara membawa polisi?"
"Aku panik."
"Panikmu punya surat tugas?"
Leon tidak menjawab.
Arka menatap lehernya. Tali merah itu sudah tidak ada.
"Liontinnya pecah?"
Leon langsung menoleh. Wajahnya berubah.
Liana juga lupa marah sebentar. "Kak?"
Leon mengeluarkan potongan giok dari saku. Pecahannya dibungkus tisu, tetapi retakan hitam di tengahnya masih terlihat jelas.
"Di jalan tadi ada kecelakaan. Truk bambu terguling. Satu batang hampir menembus kepala."
Liana menutup mulut. "Kak..."
"Aku selamat karena giok ini pecah." Leon menatap Arka. Suaranya turun. "Kamu sudah tahu."
"Aku cuma melihat tanda."
"Tanda apa?"
"Bencana darah. Liontin itu menahan satu kali, tapi akar masalahnya bukan di sana."
Leon yang beberapa menit lalu datang seperti kakak galak mendadak kehilangan semua kesombongan. Ia duduk di kursi dekat sofa, napasnya berat.
"Di rumahku ada apa?"
"Ada benda baru yang ditempatkan di posisi tenggara. Bentuknya mungkin hewan penjaga, logam tua, dan ada hawa kubur di dalamnya."
Leon menatap Arka seperti melihat pintu yang tiba-tiba terbuka di tempat gelap.
"Patung pi xiu perunggu."
Liana merinding. "Yang dari teman Kakak itu?"
Leon mengangguk pelan.
"Benda itu tidak cuma kotor. Ada orang menambahkan darah untuk mengunci kutukannya. Kalau tidak dibersihkan, malam ini bukan akhir."
Leon berdiri cepat. "Ikut aku sekarang."
Liana mengambil blazer di sofa dan mengenakannya lagi. "Aku ikut."
"Kamu pulang."
"Kakak baru saja hampir mati, lalu mau pergi dengan orang yang baru Kakak razia dari kamar hotelku. Aku ikut."
Leon ingin membantah, tetapi akhirnya menelan kata-katanya. "Baik. Tapi jangan membuat masalah."
Liana menunjuk dirinya sendiri dengan wajah tidak percaya. "Aku?"
Arka berdiri dan mengambil jaket. "Pertanyaan itu tidak cocok untukmu."
"Kamu juga diam."
Mereka keluar kamar. Di lorong, para polisi berpura-pura tidak melihat apa pun. Mario berdiri paling jauh dengan wajah hijau.
Leon berjalan cepat tanpa banyak bicara.
Mobilnya sudah tidak bisa dipakai karena kecelakaan. Mereka naik mobil dinas lain menuju apartemen Leon, sebuah hunian luas di kawasan Jakarta Selatan yang rapi, dingin, dan terlalu bersih untuk orang yang katanya sibuk menangkap kriminal.
Begitu masuk, Arka langsung melihat benda itu.
Di rak pajangan sisi tenggara ruang tamu, seekor pi xiu perunggu berdiri dengan mulut terbuka. Warnanya gelap kehijauan. Permukaannya tampak mahal, tetapi hawa di sekitarnya keruh seperti air got yang ditutup parfum.
Leon menyalakan lampu lebih terang. "Itu."
Arka mendekat.
Di kepala, punggung, dan bagian dasar patung, ada tiga noda hitam kecil. Orang biasa mungkin mengira itu karat. Arka tahu itu darah.
"Darah ujung jari, darah di antara alis, dan darah dari dada." Arka menunjuk tiga titik itu. "Tiga lapis niat buruk. Orang yang memasangnya bukan cuma ingin membuatmu sial. Dia ingin kamu mati pelan-pelan, lalu keluargamu ikut kacau."
Wajah Leon berubah dingin.
Liana mengepalkan tangan. "Siapa yang memberi ini?"
"Urusan kantor," kata Leon singkat.
"Kak!"
"Nanti aku jelaskan."
Arka menatap mereka. "Kalau mau bertengkar, tunggu benda ini keluar dari rumah."
Leon langsung menahan emosi. "Apa yang harus dilakukan?"
"Cari pohon beringin tua, minimal puluhan tahun. Tempatnya agak sepi lebih baik. Benda ini harus ditanam di bawah akarnya."
"Kenapa beringin?"
"Akar tua menyimpan hawa tanah dan bayangan. Kalau benda ini ditanam di sana, energi buruknya akan terseret oleh tempat itu dan saling menggigit sampai tidak sempat mengejar manusia."
Leon tidak banyak bertanya. Ia menghubungi beberapa orang. Sepuluh menit kemudian, ia mendapatkan lokasi halaman kosong di pinggiran kota, bekas rumah tua yang sudah lama tidak dihuni, dengan satu pohon beringin besar di dalamnya.
"Aku ikut," kata Liana.
"Tidak," Leon dan Arka menjawab bersamaan.
Liana menatap mereka berdua.
Leon menghela napas. "Tempatnya kotor dan tengah malam."
Arka menambahkan, "Kamu belum pernah bersentuhan langsung dengan benda seperti itu. Lebih baik jangan dekat."
Liana awalnya ingin membantah, tetapi melihat wajah Arka, ia akhirnya menekan mulut.
"Baik. Tapi kamu harus kembali."
"Aku kembali sebelum pagi."
Arka berdiri di depan rak.
Ia mengangkat dua jari. Qi Hantala mengalir ke ujung tangannya. Ruang tamu yang dingin tiba-tiba terasa seperti ada angin melewati lantai.
Pi xiu perunggu itu bergetar.
Leon dan Liana menahan napas.
Patung berat itu bergerak sendiri, melompat kecil dari rak, dan jatuh tepat ke tangan Arka.
Liana hampir memekik.
Leon mundur setengah langkah. Baru sekarang ia benar-benar yakin bahwa malam ini ia bukan bertemu penipu, melainkan seseorang yang berada di luar ukuran akal sehatnya.
Arka membungkus patung itu dengan kain hitam yang diminta dari Leon.
"Tunggu di sini. Jangan sentuh rak itu sampai aku kembali."
Leon mengangguk kaku.
Liana menatap Arka dengan mata campur aduk. Setelah kamar hotel, setelah kecelakaan Leon, setelah melihat benda itu bergerak sendiri, ia tidak tahu harus menggoda atau takut.
Akhirnya ia hanya berkata pelan, "Hati-hati."
Arka membawa pi xiu itu keluar.
Pintu tertutup.
Leon menatap Liana.
Liana menatap balik.
Beberapa detik kemudian, Leon berkata dengan suara letih, "Pacar palsu?"
Liana memalingkan wajah.
"Untuk sementara, jangan tanya."