NovelToon NovelToon
Merebut Kembali Takdirku

Merebut Kembali Takdirku

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Wanita perkasa / Pengantin Pengganti / Kelahiran kembali menjadi kuat / Balas dendam dan Kelahiran Kembali / Putri asli/palsu / Chicklit
Popularitas:10.9k
Nilai: 5
Nama Author: Vionique

Alya pernah menjadi perempuan yang mengangkat seorang pria ke puncak, tapi hidupnya berakhir dengan luka dan pengkhianatan.
Saat kembali ke hari perjanjian pernikahan, adiknya merebut Rafi, pria yang diyakini akan menjadi pewaris Pradipta Group. Alya justru “dibuang” untuk menikahi Arga, putra sakit-sakitan yang bahkan tak hadir di akadnya sendiri.
Namun mereka tidak tahu satu hal.
Takdir yang mereka rebut bukan milik Rafi.
Takdir itu ada di tangan Alya.
Di rumah Pradipta yang penuh racun, rahasia, dan ambisi, Alya akan menyelamatkan Arga, menghancurkan para pengkhianat, dan merebut kembali hidup yang seharusnya menjadi miliknya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vionique, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 26

Bab 26

Maya mengirim draft revisi pukul dua lewat lima puluh delapan.

Alya membacanya di ruang kerja. Arga duduk di sofa dengan tablet di tangan, pura-pura membaca laporan padahal beberapa kali matanya berpindah ke wajah Alya.

"Apa?" tanya Alya tanpa mengangkat kepala.

"Aku ingin tahu apakah asisten baruku lulus ujian."

"Dia bukan asistenmu."

"Konsultan eksternal yang tidak boleh masuk rumah tanpa izin."

"Bagus. Kamu mendengarkan."

"Aku pasien teladan."

Alya menatapnya.

Arga tersenyum kecil. "Baik. Kadang."

Draft Maya memang lebih rapi daripada yang Alya harapkan. Tidak ada kalimat yang jelas-jelas menyerahkan kontrol kepada Ratna. Tidak ada permainan emosi. Tapi ada satu bagian kecil yang berbahaya:

`Keluarga besar Pradipta akan terus mendampingi proses pemulihan Arga Pradipta.`

Keluarga besar.

Kata yang cukup luas untuk memasukkan Ratna, Daren, dokter lama, atau siapa pun yang ingin masuk kembali.

Alya menghapusnya.

Ia mengganti dengan:

`Proses pemulihan Arga Pradipta berada di bawah pengawasan tim medis independen dan keluarga inti sesuai persetujuan Arga Pradipta.`

Arga membaca dari samping. "Keluarga inti?"

"Aku dan kamu."

"Ayah?"

"Jika kamu setuju."

Arga diam sebentar. "Setuju."

Alya menambahkan catatan:

`Gunakan versi ini. Jangan menambah kalimat tanpa persetujuan tertulis.`

Ia mengirim.

Lima menit kemudian, Maya menelepon.

Alya menyalakan speaker.

"Nyonya Alya," suara Maya terdengar lebih hati-hati, "saya sudah menerima revisi. Tapi frasa keluarga inti mungkin akan dianggap terlalu membatasi."

"Oleh siapa?"

"Pihak keluarga."

"Nama."

Maya terdiam.

Arga menutup mulut, menikmati.

"Bu Ratna mungkin akan bertanya," kata Maya akhirnya.

"Kalau Bu Ratna bertanya, jawab bahwa Arga menyetujui."

"Mas Arga ada di sana?"

Arga berkata, "Ada."

Hening di telepon.

"Mas Arga, apakah benar Mas menyetujui?"

"Benar."

"Tapi selama ini keputusan keluarga biasanya--"

"Maya," potong Arga, "selama ini aku juga biasanya dibuat tidur."

Maya tidak menjawab.

Alya hampir tersenyum.

Arga semakin mahir.

"Kirim pernyataan itu," kata Arga. "Kalau Ratna keberatan, minta dia bicara denganku. Bukan denganmu."

"Baik, Mas."

Telepon ditutup.

Arga meletakkan tablet. "Aku suka membuat orang hening."

"Jangan ketagihan."

"Terlambat."

Pernyataan itu keluar satu jam kemudian melalui akun resmi Pradipta Foundation.

Reaksi datang lebih cepat daripada hujan Jakarta.

Beberapa orang memuji Arga yang mulai pulih. Beberapa bertanya kenapa pernyataan kesehatan pribadi keluar dari akun yayasan. Beberapa akun gosip bisnis menulis bahwa menantu baru keluarga Pradipta tampaknya mengambil peran besar dalam hidup Arga.

Lalu narasi yang ditunggu muncul:

`Kasihan Arga. Baru sembuh sedikit, sudah dikontrol istri.`

`Alya Wiratama ambisius banget ya?`

`Nyonya Ratna yang merawat bertahun-tahun malah disingkirkan.`

Arga membaca komentar itu dengan wajah datar.

"Mereka cepat."

"Akun bayaran biasanya cepat."

"Kamu tidak terganggu?"

"Harus?"

"Mereka menyebutmu ambisius."

"Mereka benar."

Arga menatapnya, lalu tertawa.

Ponsel Alya bergetar. Pesan dari Karina.

`Mau aku bantu luruskan?`

Alya membalas:

`Belum. Biarkan mereka bicara.`

Karina menjawab:

`Kamu aneh. Tapi baik.`

Satria juga mengirim pesan:

`Narasi mulai diarahkan ke isu istri mengontrol suami. Ini taktik lama. Aku akan simpan tangkapan layar.`

Alya membalas:

`Terima kasih. Jangan masuk dulu.`

Tidak lama kemudian, Bima menelepon Arga.

Arga menatap layar, lalu mengangkat dengan speaker.

"Ayah."

"Kamu baik-baik saja?"

"Cukup."

"Aku membaca pernyataan yayasan."

"Aku menyetujuinya."

"Ratna marah."

"Aku tahu."

Bima menghela napas. "Dia merasa dipermalukan."

Arga menatap Alya. Alya menggeleng kecil: jangan terpancing.

"Ayah," kata Arga, "aku dibuat tidur bertahun-tahun. Kalau sekarang ada orang merasa dipermalukan karena tidak bisa mengatur obatku, aku tidak punya tenaga untuk menghiburnya."

Bima diam lama.

"Aku mengerti."

"Benarkah?"

"Aku sedang belajar mengerti."

Jawaban itu membuat Arga tidak langsung membalas.

Bima melanjutkan, "Aku akan minta tim hukum keluarga meninjau semua kontrak medis lama."

Alya mengangkat alis.

Langkah bagus.

Arga berkata, "Libatkan Alya."

"Aku tahu kamu akan mengatakan itu."

"Jadi?"

"Aku akan kirim salinan."

Telepon selesai.

Arga meletakkan ponsel.

"Ayah berubah."

"Atau merasa bersalah."

"Apa bedanya?"

"Rasa bersalah bisa hilang kalau terlalu tidak nyaman. Perubahan bertahan saat diuji."

Arga menatapnya. "Kamu benar-benar tidak membiarkan orang menikmati satu hal pun."

"Aku membiarkan kamu menikmati membuat orang hening tadi."

"Kecil sekali kemurahan hatimu."

Sebelum Alya menjawab, Marni mengetuk pintu dengan wajah tegang.

"Nyonya, Mbak Maya datang lagi."

Alya menatap jam. "Tanpa janji?"

"Katanya ada dokumen yang harus ditandatangani Tuan Arga."

Arga mengangkat alis. "Cepat sekali dia kembali."

"Bawa ke ruang tamu," kata Alya.

Maya menunggu di bawah dengan map biru. Kali ini tidak ada koper. Wajahnya tetap sopan, tetapi matanya lebih waspada.

"Maaf datang mendadak," katanya. "Bu Ratna meminta saya membawa dokumen persetujuan komunikasi. Agar ke depan tidak ada salah paham."

Alya mengambil map itu.

Isinya bukan sekadar persetujuan komunikasi.

Ada klausul yang memberi tim Pradipta Foundation hak mengelola citra publik Arga, termasuk menyetujui wawancara, foto, kunjungan, dan pernyataan kesehatan. Di halaman terakhir, ada ruang tanda tangan Arga.

Alya membaca sampai selesai.

Lalu menutup map.

"Siapa yang menyusun?"

"Tim hukum yayasan."

"Nama."

Maya menelan ludah. "Saya tidak tahu detail."

"Kalau tidak tahu detail, kenapa membawa untuk ditandatangani?"

"Saya hanya diminta--"

"Menjadi kurir?"

Maya terdiam.

Alya menyerahkan map kepada Arga. "Baca halaman tiga."

Arga membaca.

Wajahnya dingin.

"Mereka ingin mengambil hak bicara atas namaku."

Maya cepat berkata, "Bukan begitu, Mas. Ini hanya agar semua komunikasi rapi."

Arga mengambil pena dari meja.

Maya tampak lega.

Alya diam saja.

Arga mencoret seluruh halaman tanda tangan dengan garis besar, lalu menulis:

`Ditolak. Jangan kirim dokumen serupa lagi.`

Ia menandatangani di bawah catatan itu.

Maya pucat.

"Kirim kembali," kata Arga.

"Mas Arga, Bu Ratna akan--"

"Marah?"

Maya menunduk.

Arga tersenyum tipis. "Bagus. Berarti dia membaca."

Alya melihat Maya menggenggam map itu seperti benda panas.

Setelah perempuan itu pergi, Arga bersandar dengan napas sedikit berat.

Alya memberinya air.

"Kamu menikmati ini terlalu banyak."

"Aku kehilangan bertahun-tahun. Biarkan aku menikmati beberapa penolakan."

Alya tidak membantah.

Di luar, isu tentang istri yang mengontrol suami terus bergerak.

Di dalam rumah, untuk pertama kalinya, Arga sendiri yang menulis kata ditolak.

Malam itu, kabar penolakan sampai ke rumah utama lebih cepat daripada sopir Maya.

Ratna membaca foto dokumen itu di layar ponsel. Tulisan tangan Arga hanya satu kata, tetapi cukup untuk membuat ruang makan yang luas terasa sempit.

"Dia sudah bisa menulis?" tanya Daren.

"Jangan bicara seperti orang bodoh."

"Aku hanya memastikan."

Ratna meletakkan ponsel di meja. "Yang perlu dipastikan adalah siapa yang memberi dia keberanian."

Daren tidak menjawab. Nama Alya sudah terlalu jelas untuk disebut.

Di rumah Arga, Alya baru saja mengganti perban kecil di punggung tangan suaminya. Bekas jarum lama masih terlihat samar.

Arga menatap tulisan di salinan dokumen yang tersisa.

"Tanganku jelek."

"Tanganmu baru belajar dipakai untuk melawan."

Ia tertawa pelan, lalu batuk. Alya langsung mengambil gelas air, tetapi Arga menahan pergelangan tangannya.

"Jangan membuat wajah seperti itu. Aku tidak pecah hanya karena menulis satu kata."

"Aku tahu."

"Tidak. Kamu sering lupa."

Alya terdiam.

Arga melepas tangannya lebih dulu. "Selama ini tanda tanganku dipakai untuk menyerah. Hari ini aku memakainya untuk menolak."

Alya menatapnya lama.

"Kalau begitu besok kamu akan belajar menolak lebih panjang."

"Berapa kata?"

"Tergantung seberapa tebal muka keluargamu."

Arga tersenyum. Wajahnya masih pucat, tetapi matanya hidup.

Di meja kecil, ponsel Alya menyala. Akun gosip yang siang tadi menyerangnya mulai mengganti narasi.

`Sumber internal menyebut Mas Arga sendiri menolak kontrak yayasan. Jadi siapa sebenarnya yang memaksa siapa?`

Alya mematikan layar.

Tidak semua serangan harus dibalas dengan suara keras. Kadang satu kata yang ditulis tangan orang yang selama ini dibungkam sudah cukup untuk membuat orang-orang panik.

Di ujung lain kota, Maya membaca unggahan itu dua kali.

Lalu ia menghapus pesan panjang yang sudah ia siapkan untuk Ratna.

Hari pertama masuk ke rumah Arga, ia sudah belajar satu hal: Alya bukan perempuan yang mudah dibuat tampak gila hanya karena ada perempuan lain berdiri di dekat suaminya.

1
Aisyah Suyuti
menarik
Rossy Annabelle
next thor 💪,alurnya menarik sih thor ada bab ambisius gitu .tentang orang² besar yah🤔tp seru sih
Irsyad layla
kapan lanjut lagi thor
Irsyad layla
tapi tadi dia bawa mobil sendiri
Rossy Annabelle
bayi tabung GX tuh yg Segede gaban/Facepalm/
Rossy Annabelle
next ,doble up-nya thor/Chuckle/
Rossy Annabelle
next💪
Rossy Annabelle
sampe sini bagus thor ceritamu ada vote buat author 😁
Rossy Annabelle
apakah Maya kartu as Ratna y thor
Dewi Sartika
lanjutt Thor
Dewi Sartika
bagus ceritanya.,ga bertele² ,gass thor
ririn nurima
cerita nya seru ...aku suka
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!