NovelToon NovelToon
Elvan

Elvan

Status: tamat
Genre:Teen / Romantis / Komedi / Tamat
Popularitas:327.2k
Nilai: 4.8
Nama Author: Fira Anjelita

"Jangan deket-deket!" teriak Aleta galak saat mengetahui Elvan cowok genit yang kerap dipanggil pecinta banyak wanita itu hendak meraih tangannya.

"Hari ini lo boleh nolak gue. Tapi lihat aja cepat atau lambat lo bakalan ngejar-ngejar gue!" Elvan berkata dengan nada meremehkan lalu terkekeh pelan. "camkan itu!" lanjutnya sambil mendorong pelan kening Aleta dengan jari telunjuknya.

"Gak akan!"

"Berani apa?"

"Gue bakalan tembak lo di depan lapangan upacara kalau sampe gue suka sama lo!" kata Aleta penuh keyakinan.

"Fine. Gue bakalan putusin semua cewek gue kalau sampai gue suka sama lo!"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fira Anjelita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

031

031

Penjelasan

"Apapun yang kamu jelasin gak berguna."

.....

Sudah tiga hari ini Aleta berdiam diri di kelas tanpa keluar. Hanya berangkat dan pulang yang dia lakukan. Dia mengabaikan tugasnya sebagai ketua OSIS. Hatinya masih sakit. Perasaannya masih sulit dikendalikan. Dan otaknya berkata berhenti.

Tiga hari terakhir ini dia juga banyak mendengar gosip mengenai dirinya dan Elvan. Ya, taruhan itu. Semua orang sudah tau. Semua orang mengoloknya.

"Pantesan Elvan mau sama Aleta. Ternyata taruhan."

"Gue kira selera Elvan beneran jadi yang alim, ternyata taruhan."

"Bodoh banget ya Aleta mau dijadiin taruhan."

Kalimat seperti itu sekarang seperti makanan sehari-hari bagi Aleta.

"Ta!" teriakan Raina begitu kencang dari luar kelas.

Aleta menggeleng pelan mendengar suara cempreng milik sahabatnya.

Brak

"Aleta! ASTAGA, LO HARUS TAU BERITA PENTING!"

Aleta sampai berdebar saat mendengar suara Raina yang berdiri sambil menggebrak mejanya keras.

"Apaan sih?" tanyanya malas. Pasti soal Elvan lagi.

Wajah Raina seketika melongo menatap Aleta. "Lo sehat?" tanyanya begitu pelan.

Aleta mengangguk mantap. "Gue kenapa?"

"Ya ampun!" teriak Raina kembali, "lo tuh mukanya kusut abis! Gak ada cantik-cantiknya!"

Aleta memutar bola matanya jengah. "Gak penting."

Cewek di depan Aleta itu kembali melotot dan menggebrak-nggebrak meja Aleta heboh. "Gue lupa gue lupa! Lo harus tau, Elvan gak masuk tiga hari!"

Aleta diam mendengarkan. Telinganya masih terpasang dan berfungsi normal. Bahkan otaknya berkata biarkan. Tapi ... Lagi dan lagi hatinya menjadi gelisah. Dan pikirannya melayang jauh mempertanyakan keadaan Elvan. Baik-baik sajakah? Masa iya hanya karena penolakan Aleta cowok itu menjadi lemah, bolos? Tidak-tidak. Elvan dan gengnya memang suka membolos kan? Hari apa sekarang? Rabu. Jadi Elvan tidak masuk dari hari Senin kan? Tidak papa, dia pasti hanya membolos biasa.

"Ta!" Hanya panggilan kecil dari Raina, tapi mampu membuat Aleta terkejut setengah hidup.

"Apa?" sahutnya pelan setelah beberapa detik dia terdiam untuk berkedip.

Raina tersenyum masam. Jadi Aleta tidak mendengarkan dirinya saat bercerita? Astaga, dia sudah bercerita seperti maraton! Panjang, capek pula!

"Lo tuh kenapa sih, Ta?"

Ketua OSIS SMA Angkasa Raya itu hanya mampu tersenyum simpul. "Gak papa."

Raina sudah siap dengan kalimat yang akan dia lontarkan. Mulutnya sudah terbuka. Tapi, lagi-lagi terhenti karena suara berat disertai derap langkah keras di belakang punggungnya.

"Gue perlu ngomong sama lo, Ta."

Aleta dan Raina serentak menoleh ke sumber suara. Laki-laki itu datang dengan tampilan awut-awutan, sepertinya dia baru saja selesai bermain voli.

Aleta melengos. Wajahnya terlihat begitu malas menghadapi cowok itu.

"Sombong lo. Gue di sini bener-bener butuh ngomong sama lo."

Pedas. Kata yang diucapkan cowok itu terdengar begitu mengganggu. Sombong katanya. Padahal dia hanya mengekspresikan betapa kecewanya dia.

"Gue gak butuh apapun. Bahkan dari mulut lo, Vin," ucap Aleta begitu enggan.

Gavin terkekeh pelan. Dia bahkan melupakan fakta bahwa Aleta adalah anak perempuan yang disukai sahabatnya, dua sekaligus malah.

"Lo beneran gak mau ikut? Perlu gue ngomong di sini?" tanya Gavin sambil memastikan orang-orang di sekitarnya.

Ya, semua berhenti melakukan aktivitasnya. Menatap Gavin dan Aleta begitu penasaran.

Jangan-jangan mereka ngomongin soal taruhan?

Mungkin itu yang terlintas di kepala mereka.

Aleta yang ikut melihat keadaan sekitar langsung berdiri. Kakinya melangkah melewati Gavin begitu saja. Tepat lima langkah Gavin ada di belakangnya, Aleta bersuara dengan begitu dingin, "Gue gak ada banyak waktu. 10 menit."

Gavin yang mendengar langsung tersenyum simpul. Cewek itu masih punya harga diri. Syukurlah.

......

Gavin dan Aleta akhirnya sampai di rooftop sekolah. Tadinya, Aleta ingin mengajak Gavin ke bekas lapangan voli. Tapi ... dengan keras cowok itu menolak.

"Apa?" tanya Aleta begitu ambingu saat mereka telah berdiri berhadapan.

Angin yang cukup kencang berhasil membuat terbang beberapa helah rambut Aleta. Suara sedikit bergemuruh saat angin bertabrakan dengan dinding pun terdengar jelas.

"Elvan." Hanya itu yang diucapkan oleh Gavin. Wajahnya begitu tenang, tetapi matanya berkata lain. Ada kecemasan, kebencian, harapan, dan kemarahan. Semuanya menjadi satu di dalam mata itu.

"Bukan urusan gue," balas Aleta dingin, wajah cewek itu sudah begitu datar. Kebencian terlihat jelas di sana.

Gavin terkekeh pelan. Sudut bibir cowok itu terangkat. "Dia kacau."

Bolehkah Aleta melempar cowok ini ke bawah sana? Kenapa hanya sepatah kata yang dia ucapkan? Intinya saja bisa kan?

Aleta memandang Gavin begitu sendu. Gavin pikir hanya Elvan yang kacau? Lalu apa kabar dengan Aleta? Tidak adakah yang memikirkan posisinya? Namun beberapa detik kemudian Aleta menormalkan ekspresinya. Cewek itu lebih memilih membuang mukanya agar tak bersitatap dengan Gavin.

"Gue lebih."

Gavin tertawa, tawa yang begitu miris. "Setelah lo tolak Aksa, lo juga tolak Elvan."

Aleta refleks menatap Gavin dengan sorot mata tajam. "Lo-"

"Gue tau. Lo, Aksa, Elvan," kata Gavin penuh dengan penekanan.

Gavin melangkah mendekati Aleta yang jaraknya sekitar dua meter darinya. "Gue bisa aja bikin kalian hancur bersamaan."

Gavin menghentikan langkahnya, kini tersisa satu meter jarak mereka. "Tapi, gue gak sebodoh itu khianatin sahabat gue."

Dalam hati, Aleta selalu bersumpah serapan. Apa mau cowok di depannya ini? Bagaimana mungkin rahasia mereka bisa diketahuinya?

"Terus, apa mau lo?" tanya Aleta sedikit bergetar. Jujur saja dia benci keadaan ini. Keadaan di mana dia harus kecewa dan jatuh cinta serta harus mengecewakan sahabatnya.

Gavin menatap Aleta intens, wajah cowok itu terlihat mengerikan. Berbeda sekali dengan Gavin yang biasanya.

" Whahaha!" sontak Aleta terkejut saat tiba-tiba Gavin tertawa begitu keras dengan wajah memerah.

"Vin! Vin, lo kenapa?!" tanya Aleta panik.

Gavin masih saja tertawa. Cowok itu sekarang memegang perutnya dengan badan sedikit menunduk.

"Vin! Astaga, lo kesurupan?" kata Aleta panik sambil menatap keadaan di sekelilingnya.

"Gila. Horor juga di sini," gumamnya sambil bergerak mundur menjauhi Gavin.

"Haha, haduh-haduh," kata Gavin masih dengan sedikit tawanya. "Lucu lo, Ta!" kata Gavin sambil berjalan mendekati Aleta.

Aleta mengajukan kepalan tangannya kepada Gavin, "Jangan deket-deket! Gue tonjok ni?" jeritnya heboh.

Gavin makin tertawa terpingkal-pingkal. Aleta takut, dia dikira kesurupan!

"Gue waras, Ta. Suer," katanya meyakinkan. Namun tawanya tak kunjung berhenti.

"Hah ... Gue ke sini cuma mau ngomong," kata Gavin mulai meredakan tawanya. "Jangan dengerin kata mereka. Lo gak seburuk itu."

Aleta terdiam membeku. Lo gak seburuk itu. Tapi memang benar adanya, semua yang mereka bilang benar. Aleta yang bodoh. Aleta bahan taruhan.

"Elvan beneran sayang sama lo, Ta," kata Gavin lagi, matanya menatap Aleta yang kini sibuk memalingkan wajahnya.

"Tapi Aksa juga sayang elo," lanjut Gavin terkekeh pelan.

Aleta menatap Gavin tak percaya. Maksud dari perkataan Gavin itu apa? Cowok ini membela Elvan atau Aksa? Dan ... dari mana dia tau tentang Aksa? Bukankah ini rahasia?

"Lo sayangnya sama Aksa,"

Deg

Apa maksudnya? Jantung Aleta berdetak begitu cepat. Tidak. Dia hanya menyukai Elvan. Astaga! Lupakan.

"Dan cinta lo cuma buat Elvan."

Bagus.

Perkataan tenang dan hati-hati dari Gavin berhasil membuat jantungnya berdebar lebih kencang dari sebelumnya. Serasa habis selesai lari maraton.

"Iya." Hanya kata itu yang Aleta ucapkan. Tidak ada penyangkalan ataupun sejenisnya. Untuk apa juga dia menghabiskan tenaga hanya demi menutupi kebenaran, sedangkan cowok di depannya ini sudah tahu semuanya.

Gavin bertepuk tangan heboh. Kepalanya menggeleng ke kiri dan kanan. "Ternyata lo jujur."

"Intinya. Lo mau apa?" tanya Aleta mulai geram. Kenapa? Ini semua tidak penting!

Gavin kembali diam. Tatapannya berubah sendu. "Elvan emang salah. Seharusnya taruhan itu gak ada. Tapi-"

"Cukup, Vin. Apapun yang mau lo jelasin ternyata gak guna. Gak penting!" maki Aleta dengan nafas yang memburu.

Taruhan, taruhan, dan taruhan! Kenapa harus itu yang dibahas? Tidak cukupkah dia mendengar kata itu dari seluruh siswa Angkasa?

"Ta, Elvan bolos."

"Bukan urusan gue."

Gavin menampilkan wajah yang lebih memelas. "Dia beneran sedih, Ta. Dia nyesel."

Aleta tetap pada pendiriannnya. Tidak akan luluh untuk kedua kalinya.

"Ta, lo-"

"Gue rasa cukup. Gue ke kelas. Thanks buat omong kosong yang lo berikan. Gak perlu belain Elvan. Cih, bahkan rasanya nyebut nama dia bikin gue males. Waktu lo habis. Gue pergi," kata Aleta begitu dingin dengan diiringi kekehan yang terdengar mengerikan.

Gavin telah siap dengan beribu penyangkalan. Mulutnya sudah terbuka hendak memaparkan semuanya. Tidak peduli cewek itu akan percaya atau tidak. Yang penting dia sudah berusaha membantu Elvan.

Tapi sayang. Aleta lebih dulu pergi. Aleta lebih dulu meninggalkan Gavin di rooftop sendirian.

......

Malam begitu sunyi. Bulan, bintang dan awan menemani Aleta yang sedang sendiri. Cewek yang hanya menggunakan baju tidur bergambar panda itu termenung duduk di balkon. Aksa seharian tadi tidak muncul di depannya. Cowok itu hilang. Padahal dua hari yang lalu selalu di sampingnya. Menemani Aleta yang merasa begitu hancur. Aksa, sebenarnya Aleta juga marah, bahkan kecewa dengan sahabatnya itu. Cowok itu tau bahwa dirinya hanya dijadikan taruhan, tapi kenapa tidak memberi tahunya?

"Ta!" panggilan yang berhasil mengagetkan Aleta itu berasal dari Aksa. Cowok itu telah berdiri di ujung balkon milik Aleta. Senyum manis mengembang di sudut bibir cowok itu.

"Aksa?" tanya Aleta pelan, "dari mana?"

Aksa kembali tersenyum, kakinya melangkah pelan mendekati Aleta. "Ada urusan. Kangen?" gurau cowok itu yang berhasil mendapatkan cubitan kecil di betisnya.

"Awh!"

"Aku serius, dari mana?" tanya Aleta lagi.

Aksa memilih duduk terlebih dahulu. Cowok keturunan Indonesia itu menatap langit malam dengan begitu serius. "Habis ketemu sama bulan."

Bulan? Bulan mana yang dimaksud? Perempuan? Mungkinkah-

"Jangan mikir aneh-aneh!" peringat Aksa menoyor kepala Aleta lembut.

Aleta memberengut malas. "Memang bisa ketemu bulan?"

"Bisa," kata Aksa pelan. Matanya semakin menatap langit malam penuh bintang dengan tatapan sendu, "bintang selalu kalah sama bulan. Dan bintang baru aja bertemu bulan."

Aleta mengernyit semakin bingung. "Sa, jangan aneh deh, lo kenapa sih?"

"Bulan hancur karena langit malam nolak dia. Bulan gak muncul. Persis seperti saat ini," kata Aksa lagi. Tatapan mata cowok itu kini tepat pada manik mata Aleta.

"Maaf." Sepatah kata yang tiba-tiba Aksa ucapkan semakin membuat Aleta semakin bingung.

Aleta menggelengkan kepalanya pelan, "Setahu gue, lo gak ada salah ke gue, Sa."

Aksa tersenyum sendu. "Andai waktu itu gue jelasin yang sebenarnya, Ta. Andai waktu lo nuduh gue yang mulai duluan, gue berani bilang yang sebenarnya. Mungkin, lo gak akan sesakit sekarang karena lo udah bener-bener sayang sama Elvan. Atau bahkan cinta?" ucap Aksa pelan diiringi kekehan ringan di akhir kalimatnya.

Aleta menggelengkan kepalanya pelan."Bukan salah lo kok, Sa."

Cewek itu berdiri, wajahnya begitu tenang. Tapi air matanya telah menetes. "Semua salah gue. Gue yang gampang percaya sama dia cuma karena gue jatuh cinta. Lo gak salah, Sa."

Aksa memandang Aleta dengan perasaan tak tentu. Ingin rasanya memeluk gadis yang terlihat begitu rapuh ini. Bolehkah? Aksa rasa setelah apa yang mereka lalui semuanya telah tidak sama.

Aksa berdiri, laki-laki itu menatap wajah Aleta dari samping kiri. Wajahnya terlihat tenang namun sorotan matanya tak bisa menutupi betapa menyesal dan terlukanya dia.

"Apapun itu, kita semua di sini salah, Ta. Gue, Elo, Elvan, Gavin, semua. Semua salah. Kita semua tau apa yang Elvan lakuin salah, tapi kita gak sanggup buat berhenti," jelas Aksa begitu pelan.

Air mata Aleta semakin deras. Suara sesegukan tak mampu dia tahan."Gue yang bodoh," katanya dengan suara serak.

"Gue yang *****! Malu- maunya gue sama tu cowok!" katanya lagi sambil memukul kepalanya sendiri menunjukkan begitu frustrasinya cewek itu.

Aksa yang tak tega langsung mendekat. Diaraihnya tangan halus milik Aleta dengan begitu lembut. "Lo gak boleh kayak gini, Ta," bisiknya tepat di samping telinga Aleta.

"Sebelum ada dia lo kuat. Sebelum ada dia lo bisa. Apapun masalahnya lo selalu bisa lewatin. Aleta yang gue kenal itu cewek yang kuat."

Aleta menangis semakin kencang. Suaranya terdengar memilukan. Aksa yang tidak tega langsung memeluk perempuan rapuh di depannya. Sahabatnya, sahabat yang dia cintai terluka Karena sahabatnya yang lain.

"Jangan sedih, Ta. Ada gue. Gue selalu ada buat elo. Apapun yang terjadi," bisik Aksa menenangkan. Kedua tangannya memeluk Aleta erat, memberikan kenyamanan yang selama beberapa bulan ini Aleta lupakan.

"PENGHIANAT!" teriakan dari bawah sana terdengar dengan begitu jelas. Membuat keduanya menoleh bersamaan.

Elvan.

.......

1
shimaizha
lanjutt dong Thor.. nanggung in critanya
Dinda
Luar biasa
Nurmalasari
ku kira nyium ahahaha
Nur Hayati
aku mampir thor 🥰
Ipulgita Ipul
ipul
Muna Maulina Maulina Muna
lnjut dong thorrrt
Neno
tukang bw besi kuningan😂😂😂
astaga thor,2X aku ngulang bc dialog ini baru ngeh maksudnya apa...
Lola banget kyknya aku😂😂😂😂
Agus Purnama
up up up up up up up
Agus Purnama
up upup up up
Nurwana
lnjut....
Elvandraa
mana lanjutanya
Tina Chu
like
Kirana
oke sipp
Naa
like
Naa
like
Biruuuu
Up terus thor.
Semangatt..
Jangan lupa mampir juga dicerita ku yaa🙏😉
Biruuuu
Semangat
Biruuuu
Hadir thor
Biruuuu
😍
Maryati Subur
ayah nya kok jahat banget sih
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!