I love U Paman ( Area bacaan 25 tahun ke atas)
Ingat! Sebuah seni tidak punya ruang batas, imajinasi dalam sebuah karya sangat luas. Andalah sebagai pembaca yang harus membatasi bacaan anda, mana yang baik dan tidak, untuk kalian baca.
******
Ayah Mira meninggal ketika ia berumur 5 tahun. Tujuh tahun kemudian ibunya bertemu dengan seorang pria lajang, dan mereka salin mencintai.
akan tetapi, sebuah musibah muncul ketika mereka hendak menikah. Di acara akad, sang calon Ayah mengalami kecelakaan ketika menuju resepsi, dan meninggal dunia menuju rumah sakit.
Atas wasiat Almarhum, sang Kakak almarhum mengambil tanggung jawab untuk merawat Mira.
Seiring berjalannya waktu, Mira tumbuh besar menjadi gadis yang ceria. Namun, semakin bertambah usianya, Barno yang selama ini dipanggilnya Paman, bukan lagi sosok figur ayah dimatanya, melainkan sosok pria yang sangat dikaguminya sebagai seorang wanita.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Uncle Jo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 31
Maaf ya kalau up nya dikit dikit.
jangan lupa buat dukung terus.
®®®®®®®®®®®®®®®®
"Ayo, jangan pura-pura bodoh, deh. Ini kita lakukan demi mendapatkan feel yang bagus buat ceritamu. Jangan pikir-pikir lagi, lebih baik segera kita lakukan semua adegan yang mendukung ceritamu itu."
Merenggangkan kedua tangan dan menarik napas sejenak, Barno melangkah dan naik ke atas tubuh Tiara dengan kaku. Namun, tiba-tiba Tiara menahan tubuh Barno dengan meletakkan telapak tangannya di dada pria itu.
"Tunggu! Ada yang kelupaan," cegah Tiara.
Walau bingung dan tidak tau apa maksud dari Tiara menghentikan gerakannya, Barno tetap turun dari atas tubuh wanita itu. Segera Tiara pun duduk dan mengambil tas, lalu mengeluarkan ponselnya. Setelah itu Kembali Tiara berbaring dan menyuruh Barno untuk segera naik kembali ke atas tubuhnya.
"Loh, loh. Kok pake kamera segala?" tanya Barno setelah ia menimpa tubuh Tiara dan melihat kamera ponsel mengarah ke arah mereka.
"Buat bahan. Mana tau kamu lupa posisi adegannya, kau bisa lihat nanti lewat foto atau vidio kita ini," jawab Tiara santai.
"Emang harus kayak gini?" tanya Barno lagi.
"Sebuah mahakarya yang bagus, pasti membutuhkan sebuah pengorbanan. Anggap saja apa yang kita lakukan adalah pengorbanan untuk mendapat karya yang bagus." Tiara menarik kerah baju Barno, sehingga tubuh mereka bersatu.
Lain halnya di kantin kampus, dimana Mira duduk termenung dengan bertopang dagu. Bosan dan jenuh membuat Mira seperti tidak punya semangat hidup. Dua hari tidak saling menyapa dengan Barno, Mira menjadi frustasi sendiri.
"Kalau memang tidak sanggup lagi, tidak ada salahnya mengalah. Tidak peduli siapa yang salah siapa yang benar, kalian harus segera berbaikan. Apalagi kau tau sendiri, Ayah itu orangnya pemaaf." Anggi yang duduk di samping Mira mengelus kepala gadis itu.
Tanpa diduga Mira langsung bangkit dari duduknya, matanya menatap tajam. Sejenak menarik napas berat, lalu beranjak meninggalkan tempat duduknya.
"Kau mau kemana?" tanya Anggi bingung melihat sikap Mira yang tiba-tuba berubah, dari manusia yang patah semangat, menjadi manusi yang memiliki sebuah ambisi besar.
"Rumah!" jawab Mira tegas.
"Kau mau bolos kuliah?" tanya Anggi lagi.
Sedikitpun Mira tidak menoleh ketika Anggi memanggil dirinya. Hari ini semua masalahnya dengan Barno ingin diselesaikannya. Perasaan sudah tidak bisa dikendalikan lagi, perang dingin yang dijalaninya harus segera diakhiri.
Sedangkan perang panas yang dilakoni Barno dan Tiara di dalam rumah, masih belum menemukan titik terang. Setiap adegan yang mereka lakukan, terasa kaku dan tidak memberikan titik kepuasan bagi Tiara. Semua itu karena kekakuan yang dialami Barno, apalagi ketika Tiara terus merekam adegan yang mereka lakukan, benar-benar telah membuatnya semakin demam panggung.
"Apa yang kau lakukan. Jangan terus melihat ke kamera." Tiara begitu geram karena Barno terus saja melihat ke kamera, ia terlalu pasif, sehingga feel yang mereka cari, tidak bisa didapatkan secara sempurna.
Putus asa dengan apa yang dilakukannya, Barno kembali duduk dengan wajah lesu.
"Apa kau bodoh. Aku tidak mau dituntut karena melakukan pelecehan. Kita harus sama-sama agresif. Aku cuman membantumu karena kau ayahnya Anggi. Kalau nggak, mana mungkin aku melakukan hal seperti ini." Tiara terlihat begitu kesal dengan sikap Barno.
Walau sudah ngoceh panjang lebar, Barno masih saja diam dalam kekakuannya. Hal itu membuat Tiara semakin jengkel, jalan satunya-satunya yang bisa dilakukan oleh Tiara, hanya melepaskan rasa malunya sejauh mungkin, agar apa yang ia cari bisa didapatkan dengan sempurna.
Setelah menekan rasa malunya, Tiara bangkit dan merangkul leher Barno, lalu naik ke pangkuan pria itu.
"Oke, selanjutnya, letakkan kedua tanganmu di p4n-t4tku. Lalu cengkram dengan kuat. Cepat lakukan." bentak Tiara, wajahnya langsung berubah galak.
Seperti terkena hipnotis, kedua tangan Barno bergerak turun meraih p4n-t4t Tiara, dan mere-mas-nya dengan kuat, membuat Tiara mendongak merasakan sensasi yang dulu pernah hilang.
"Coba ganti dengan cara lembut." Suara Tiara mulai terdengar serak.
"Seperti ini?" Barno memperlembut rem-asa-n tangannya.
"Hmmm … shhh…. Lebih lembut lagi, Bar. Lebih ke arah mer484." Mata Tiara sudah mulai menyipit akibat nikmat yang tiba-tiba muncul.
Begitu juga dengan Barno, jantungnya sudah berdetak tidak karuan, napasnya juga mulai memburu ketika pin99ul Tiara bergerak kesana-kemari, dan perlahan merasakan sesuatu yang hangat bergesekan dengan batang paralonnya yang mulai membubung kaku.
"Waw, Itu punya kamu, ya? Besar juga!" Dengan wajah merona, Tiara tersenyum simpul ketika merasakan batang ubi Barno mengganjal di belahan v -nya.
Segera Tiara mengarahkan kamera ponselnya ke ping gulnya, untuk mengabadikan setiap sentuhan Barno.
"Bar, tarik rokku ke atas," pinta Tiara.
"Seperti ini?" tanya Barno sok lugu ketika tangannya sudah menarik rok Tiara, sehingga kamera ponsel yang di pegang Tiara, dengan mudah merekam kain putih segitiga bergambar patrick, yang membalut daerah sen-su-alnya itu.
"Bagus! Sekarang angkat wajahmu, biar kita bisa c1um4n,"
.
.
.
.
.
.
hahahhahaja..gw bukannya kecewa dan kesel eh sedikit doang tapi gw lega gak baca teratur bahkan lebih sering lompat" karena ceritanya yang terlalu monoton
ok gw skip ,masihada chapter selanjutnya. cuman gak mau menjadi.lebih bodoh dengan melanjutkan ceritanya.
sorry n bye🙏😪
gw menyimpulkannya waktu Barno mengatakan kalau diya mencintai Mira pd Tiara dan disitu dikatakan ...BARNO MENGINJAK DIMALAM PENGANYIN MEREKA. MAKSUDNYA PENGAKUAN BARNO KAN?
gak masuk akal dan aneh banget. kalau Tiara jadi ibunya Anggi trus Tiara mati, Mira jadi ibu selanjutnya Anggi. jadi judulnya.
SAUDARA TIRIKU ADALAH IBUKU?🤦
mending gak usah nikahin Tiara kalau Tiara bakal mati...bodoh banget si lu Thor dari kemarin lu masalhnya dibuat rumit sekali pdhl inti ceritanya gak perlu yg rumit.. hadeuwwww.
segitu rumit hanya untuk membuat Mira menikah dengan Baron .sampai" hubungan keluarga berubah seperti yang gw katakan. saudara TIRIKU calon ibuku atau ibu sambungku.
bumi Daha kotak ya?😪
gak nyambung bangettttt 🤭😄🤦😪
genre selingkuhan saja kok ribet minta mpun ceritanya dibuat gini😪
Sekalian rekomen buat yang kesusahan nyari novel yang seru dan bagus, mending coba baca yang judulnya (Siapa) Aku Tanpamu wajib searchnya pakek tanda kurung dan satu novel lagi judulnya Caraku Menemukanmu
ni nivel tersomplakkk😀😀😀
nyimak ...