Asisten Duda CEO Tajir Melintir
Grizella Madeline Dealova, seorang anak magang yang ambisius dan berani, tidak pernah menyangka akan terlibat dengan Galaxy Adelion Wesley, CEO kaya raya yang dingin dan terluka karena pengkhianatan masa lalu.
Pertemuan mereka dipenuhi pertengkaran, tetapi perlahan rasa benci berubah menjadi ketertarikan. Saat Galaxy memintanya menjadi asisten pribadi dan tinggal bersamanya, keduanya mulai menghadapi perasaan yang tidak bisa mereka hindari.
Namun, ketika cinta mulai tumbuh, mantan istri Galaxy kembali membawa rahasia lama yang mengancam hubungan mereka.
Akankah Grizella menjadi alasan Galaxy kembali percaya pada cinta, atau justru menjadi luka baru dalam hidup sang CEO?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Flaura Charisma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Surat dari masa lalu
Keheningan menyelimuti ruang bawah tanah kuno.
Galaxy menggenggam amplop tua yang ditemukan di dalam peti besi.
Kertasnya telah menguning dimakan usia.
Namun segel lilin bergambar lambang gabungan keluarga Wesley dan Hart masih utuh.
Grizella berdiri di sampingnya.
Tatapannya tidak lepas dari surat itu.
"Bukalah."
bisiknya pelan.
Galaxy mengangguk.
Dengan hati-hati, ia membuka segel tersebut.
Di dalamnya terdapat beberapa lembar surat yang ditulis dengan tangan Elena Hart.
Galaxy mulai membacanya dengan suara pelan.
"Untuk Galaxy dan Grizella."
"Jika surat ini berada di tangan kalian, berarti semua rencanaku gagal berjalan sesuai harapan."
Grizella menggigit bibirnya.
Suara ibunya seolah terdengar kembali melalui setiap kalimat.
"Aku minta maaf karena membiarkan kalian tumbuh di tengah kebohongan."
"Tetapi hanya itu satu-satunya cara agar kalian tetap hidup."
Galaxy melanjutkan membaca.
"Victor Wesley tidak pernah bekerja sendirian."
"Di dalam keluarga Wesley masih ada seseorang yang selama ini menjadi mata dan telinga The Black Crown."
Galaxy langsung berhenti membaca.
Grizella menatapnya.
"Ada pengkhianat lain?"
Galaxy mengangguk pelan.
Alexander dan Aaron yang masih berada di atas belum mengetahui kenyataan itu.
Jika isi surat ini benar...
Berarti bahaya belum berakhir.
Galaxy membuka lembar berikutnya.
Di dalamnya terdapat sebuah foto lama.
Foto itu memperlihatkan Elena, ayah Galaxy, dan seorang pria yang wajahnya disobek hingga tidak bisa dikenali.
Di belakang foto terdapat tulisan tangan.
"Jangan percaya orang yang selalu datang paling akhir."
Grizella mengernyit.
"Maksudnya apa?"
Galaxy menggeleng.
"Entahlah."
"Tapi ini pasti petunjuk."
Di sisi lain markas...
Victor menerima laporan dari salah seorang anak buahnya.
"Tuan."
"Peti besi sudah terbuka."
Victor tersenyum puas.
"Bagus."
Selena memperhatikan ekspresinya.
"Kenapa kau justru senang?"
Victor menatap lorong bawah tanah.
"Karena sekarang mereka akan menemukan bagian pertama."
"Dan tanpa sadar menuju bagian terakhir."
Selena mengangkat alis.
"Jadi surat itu juga bagian dari rencanamu?"
Victor tertawa kecil.
"Bukan."
"Itu bagian dari rencana Elena."
"Dan aku ingin melihat apakah mereka cukup pintar untuk memahaminya."
Kembali ke ruang bawah tanah...
Grizella mengambil kotak logam kecil yang berada di samping surat.
Kotak itu jauh lebih berat daripada ukurannya.
"Tidak ada kunci."
gumamnya.
Galaxy memperhatikan permukaannya.
Di bagian atas terdapat ukiran berbentuk sidik jari.
Grizella mencoba menyentuhnya.
Tidak terjadi apa-apa.
Galaxy ikut mencoba.
Tetap tidak terbuka.
Namun ketika mereka berdua meletakkan tangan secara bersamaan...
Kotak itu mengeluarkan cahaya biru lembut.
Akses diterima.
Keduanya saling berpandangan.
Kotak itu perlahan terbuka sendiri.
Di dalamnya hanya ada sebuah kartu memori berlapis emas.
Serta secarik kertas bertuliskan:
"Kebenaran tidak tersimpan di masa lalu... melainkan di masa depan."
Sebelum mereka sempat memahami maksud kalimat itu...
Terdengar suara langkah kaki dari lorong belakang.
Galaxy segera berdiri di depan Grizella.
Seseorang perlahan keluar dari balik kegelapan.
Namun sosok itu bukan Victor.
Bukan pula Selena.
Melainkan seorang wanita muda yang wajahnya sangat mirip Elena Hart saat masih muda.
Wanita itu menatap Grizella dengan mata berkaca-kaca.
Lalu berkata pelan,
"Syukurlah..."
"Akhirnya aku menemukanmu."
Galaxy segera berdiri di depan Grizella.
Satu tangannya meraih kartu memori emas, sementara tangan lainnya bersiap melindungi Grizella jika terjadi sesuatu.
"Siapa Anda?"
tanyanya tegas.
Wanita muda itu mengangkat kedua tangannya perlahan.
"Aku tidak datang untuk menyakiti kalian."
Grizella menatap wajah wanita itu dengan saksama.
Garis wajahnya...
Sorot matanya...
Senyumnya...
Semuanya mengingatkannya pada Elena.
Wanita itu menarik napas panjang.
"Namaku..."
"Clara Hart."
Mata Grizella membelalak.
"Hart?"
Clara mengangguk.
"Aku adik Elena."
Ruangan mendadak sunyi.
Grizella menoleh kepada Galaxy.
"Ibu tidak pernah bercerita kalau saya punya bibi."
Clara tersenyum pahit.
"Itu karena Elena sengaja menghapus jejak keberadaanku."
Galaxy masih belum menurunkan kewaspadaannya.
"Kalau benar begitu..."
"Buktikan."
Clara mengeluarkan sebuah kalung perak dari balik jaketnya.
Liontinnya berbentuk bulan sabit.
"Kalung ini adalah pasangannya."
Grizella melihat liontin miliknya.
Bentuknya memang saling melengkapi.
Saat kedua liontin didekatkan...
Keduanya memancarkan cahaya lembut.
Galaxy memperhatikan kejadian itu dengan saksama.
Tampaknya Clara memang mengatakan yang sebenarnya.
Clara menatap Grizella dengan mata berkaca-kaca.
"Aku sudah mencarimu selama bertahun-tahun."
"Maaf..."
"Aku tidak bisa datang lebih cepat."
Grizella masih sulit memercayai semuanya.
"Tante..."
"Kenapa baru sekarang?"
Clara menundukkan kepala.
"Karena selama ini aku juga diburu."
"Victor tidak pernah berhenti mencari keluarga Hart."
Galaxy bertanya,
"Kau tahu jalan keluar dari tempat ini?"
Clara mengangguk.
"Ada."
"Tapi kita harus bergerak sekarang."
"Victor pasti sudah tahu peti besi itu terbuka."
Ia menunjuk kartu memori emas di tangan Galaxy.
"Itu lebih berharga daripada seluruh kekayaan keluarga Wesley."
Galaxy mengernyit.
"Isinya apa?"
Clara menjawab pelan,
"Seluruh bukti kejahatan The Black Crown."
"Nama para anggotanya."
"Rekening rahasia."
"Dan identitas orang-orang yang selama ini membantu mereka."
Sementara itu...
Di ruang pusat energi, Victor menerima laporan dari anak buahnya.
"Tuan."
"Clara Hart telah muncul."
Victor tersenyum tipis.
"Akhirnya."
Selena menatapnya heran.
"Jadi kau sengaja membiarkannya hidup?"
Victor mengangguk.
"Dia akan membawa Galaxy menuju tujuan terakhir."
"Tepat seperti yang kuinginkan."
Di lorong bawah tanah...
Clara memimpin Galaxy dan Grizella menuju sebuah terowongan sempit.
Namun ketika mereka hampir mencapai pintu keluar...
Mereka menemukan sebuah ruangan bundar.
Di tengah ruangan berdiri patung besar bergambar lambang Wesley dan Hart.
Pada bagian bawah patung tertulis:
"Persatuan melahirkan harapan. Perpecahan melahirkan kehancuran."
Grizella membaca kalimat itu perlahan.
Clara tersenyum sedih.
"Itulah sumpah yang dibuat dua keluarga puluhan tahun lalu."
Galaxy menatap ukiran tersebut.
Kini ia semakin yakin...
Musuh terbesar mereka bukan sekadar The Black Crown.
Melainkan luka lama yang memecah dua keluarga.
Namun sebelum mereka melangkah lebih jauh...
Suara tepuk tangan terdengar dari balik lorong.
Tep... Tep... Tep...
Victor Wesley muncul bersama beberapa pengawal elite.
Tatapannya tertuju pada kartu memori emas di tangan Galaxy.
"Akhirnya..."
"Benda itu kembali muncul."
Victor mengangkat pistolnya perlahan.
"Lemparkan kartu itu kepadaku."
"Atau seseorang yang kalian sayangi akan mati."
Lorong bawah tanah mendadak sunyi.
Victor Wesley berdiri dengan pistol terarah ke Galaxy.
Di belakangnya, beberapa pengawal elite mengokang senjata.
Tatapan Victor hanya tertuju pada kartu memori emas di tangan Galaxy.
"Lemparkan."
katanya dingin.
Galaxy menggenggam kartu memori itu semakin erat.
"Tidak."
Victor tersenyum tipis.
"Jawaban yang sudah kuduga."
Tanpa mengalihkan pandangan, Galaxy berbisik kepada Grizella.
"Apa pun yang terjadi..."
"Jangan biarkan kartu ini jatuh ke tangan mereka."
Grizella mengangguk pelan.
"Saya mengerti."
Diam-diam Galaxy menyelipkan kartu memori itu ke dalam liontin Grizella.
Ternyata, di balik liontin tersebut terdapat ruang penyimpanan kecil yang selama ini tidak pernah mereka sadari.
Clara melihat tindakan itu dan tersenyum tipis.
"Elena benar."
"Dia memang memperkirakan semuanya."
Victor memperhatikan mereka.
"Kalian selesai?"
Galaxy melangkah maju.
"Kalau yang kau inginkan adalah kartu itu..."
"Ambil sendiri."
Victor memberi isyarat kecil.
Empat pengawal elite langsung menyerbu.
Aaron tidak ada di sana.
Alexander juga belum berhasil menyusul.
Kini hanya Galaxy, Grizella, Clara, dan Elena yang menghadapi mereka.
Galaxy bergerak cepat menghadang dua penyerang pertama.
Sementara Clara menarik Elena menjauh dari pusat pertempuran.
Grizella mengambil tongkat logam yang tergeletak di lantai.
Meski bukan petarung, ia tidak mau hanya menjadi beban.
Salah satu pengawal mencoba merebut liontinnya.
Grizella menangkis serangan itu sekuat tenaga.
"Jangan sentuh!"
teriaknya.
Galaxy yang mendengar suara itu langsung berbalik dan melumpuhkan penyerang tersebut.
Victor menghela napas panjang.
"Sayang sekali."
"Kau memang selalu memilih jalan yang sulit, Galaxy."
Galaxy menatapnya tajam.
"Aku memilih jalan yang benar."
Victor tertawa kecil.
"Benar dan salah hanya ditentukan oleh pemenang."
Galaxy menggeleng.
"Tidak."
"Ditentukan oleh hati nurani."
Tiba-tiba suara tembakan memecah keheningan.
Dor!
Semua orang refleks menoleh.
Peluru itu bukan diarahkan ke Galaxy.
Melainkan ke Grizella.
"Grizella!"
Galaxy berlari sekuat tenaga.
Dalam hitungan detik, ia mendorong Grizella hingga keduanya terjatuh ke lantai.
Peluru itu hanya menggores lengan Galaxy.
Darah mulai mengalir dari luka tersebut.
Grizella langsung panik.
"Galaxy!"
"Saya... saya minta maaf..."
Galaxy tersenyum tipis meski menahan sakit.
"Aku tidak apa-apa."
"Asal kau selamat."
Melihat kejadian itu, Elena menitikkan air mata.
Ia akhirnya mengerti.
Galaxy benar-benar mencintai putrinya tanpa syarat.
Clara menggenggam tangan Elena.
"Dia akan menjaganya."
Elena mengangguk perlahan.
"Aku percaya."
Tiba-tiba terdengar ledakan keras dari arah lorong belakang.
BOOM!
Debu memenuhi udara.
Beberapa pengawal Victor terpental.
Dari balik asap muncul Aaron, Alexander, Adrian, dan Komandan Ethan Ward bersama pasukannya.
"Kami datang!"
teriak Aaron.
Galaxy tersenyum lega.
"Akhirnya."
Kini keadaan berbalik.
Victor dan Selena mulai terkepung dari dua arah.
Namun Victor sama sekali tidak terlihat panik.
Ia justru mengeluarkan sebuah alat kecil berbentuk kendali jarak jauh.
Senyumnya kembali muncul.
"Kalian memang menang dalam pertempuran ini."
"Tapi belum tentu dalam perang."
Ia menekan tombol pada alat itu.
Di saat yang sama, ponsel Galaxy bergetar.
Di layar muncul sebuah pesan otomatis:
"Wesley Corporation telah diambil alih secara ilegal."
Disusul pesan kedua:
"Seluruh aset keluarga Hart diblokir."
Dan pesan terakhir:
"Permainan baru dimulai."
Victor melemparkan alat itu ke lantai hingga hancur, lalu menghilang melalui lorong rahasia yang kembali tertutup.
Galaxy mengepalkan tangannya.
Ia sadar...
Meski berhasil menyelamatkan Elena dan mempertahankan kartu memori...
Victor telah memulai serangan yang jauh lebih besar.
Perang kini tidak lagi hanya terjadi di Black Haven.
Tetapi juga di dunia bisnis, hukum, dan kekuasaan.