Ratna mengira pernikahan 28 tahunnya hanya sedang lelah. Sampai ia melihat Hendra, suaminya, memeluk sekretaris muda di rumah sakit, bersama anak laki-laki yang memanggilnya Papa.
Selama ini Ratna bekerja diam-diam, mengurus mertua, anak, menantu, dan cucu, sementara uang keluarga mengalir ke apartemen perempuan lain.
Saat semua orang mengira Ratna terlalu tua untuk melawan, ia justru bangkit. Dengan bantuan Arga Wijaya, CEO dingin yang tak pernah banyak bicara, Ratna mulai merebut kembali harga dirinya.
Tapi semakin jauh ia melangkah, semakin banyak rahasia keluarga yang terbongkar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anindita Kirana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 19
Bab 19 - Pria yang Terlalu Muda
Niko Mahendra ternyata tidak mudah diusir.
Dua hari setelah kemunculannya di kafe, satu buket bunga matahari sampai di meja Ratna. Tidak terlalu romantis, tapi cukup mencolok untuk membuat seluruh lantai eksekutif menoleh.
Di kartu kecil tertulis:
"Untuk Bu Ratna yang galaknya elegan. - Niko"
Dita membaca kartu itu dan langsung menutup mulut.
"Bu..."
Ratna memijat pelipis.
"Tolong jangan dibahas."
Rendi lewat sambil membawa dokumen.
"Wah, Bu Ratna punya penggemar."
"Mas Rendi, file Makassar sudah benar kali ini?"
Rendi langsung mengangkat kedua tangan.
"Ampun, Bu. Saya mundur."
Tawa kecil terdengar di sekitar meja. Tidak mengejek. Lebih seperti candaan kantor biasa. Ratna mencoba tenang, tapi wajahnya terasa panas.
Masalahnya, bunga itu datang lima menit sebelum Arga keluar dari ruangannya.
Pria itu berhenti.
Tatapannya jatuh pada bunga.
Lalu pada kartu.
Lalu pada Ratna.
"Dari siapa?"
Ratna belum menjawab, Dita yang terlalu panik berkata, "Pak Niko, Pak."
Setelah itu Dita tampak ingin menghilang.
Arga diam.
Ratna berdiri.
"Saya tidak tahu dia akan mengirim ini."
"Saya tidak bertanya itu."
"Tapi wajah Bapak seperti menuduh."
Rendi pura-pura menjatuhkan pulpen agar bisa menunduk. Dita menatap layar komputer kosong.
Arga menatap Ratna beberapa detik. Lalu ia berkata, "Masukkan ke pantry. Jangan di meja kerja. Mengganggu."
Ratna mengangkat alis.
"Mengganggu pekerjaan atau mengganggu Bapak?"
Suasana lantai eksekutif membeku.
Hanif yang baru datang hampir berbalik masuk lift lagi.
Arga tidak menjawab langsung.
Ia hanya berkata, "Rapat lima menit lagi."
Lalu masuk kembali ke ruangannya.
Begitu pintu tertutup, Rendi berbisik, "Bu, Ibu pemberani sekali."
Ratna duduk kembali, jantungnya berdebar.
"Saya juga baru sadar."
Siang itu Niko datang sendiri ke kantor. Kali ini membawa kopi.
Ratna melihatnya dari jauh dan langsung ingin bersembunyi.
Niko melambaikan tangan.
"Bu Ratna!"
"Pak Niko, ini kantor."
"Saya tahu. Saya juga punya urusan kantor. Kebetulan melewati meja Ibu."
"Kebetulan dari lift ke ruang meeting harus melewati sini?"
"Kalau rutenya dibuat begitu, iya."
Ratna menatapnya datar.
Niko tertawa.
"Baiklah, aku mengaku. Aku memang ingin mengajak Ibu makan siang."
Beberapa staf langsung pura-pura tidak mendengar dengan cara yang sangat jelas.
Ratna menarik napas.
"Pak Niko, usia saya lima puluh."
"Saya bisa berhitung."
"Saya baru bercerai."
"Saya dengar."
"Saya punya anak dewasa dan cucu."
"Saya suka anak kecil."
"Pak Niko."
"Bu Ratna."
Ratna kehilangan kata-kata beberapa detik.
Niko menurunkan nada. Kali ini lebih serius.
"Saya tidak sedang mengejek. Saya tahu Ibu mungkin tidak nyaman. Tapi saya juga tidak terbiasa pura-pura tidak tertarik hanya karena orang lain menganggap umur harus menentukan segalanya."
Ratna menatapnya.
Ada sesuatu yang tulus di balik gaya main-main itu. Namun justru itu yang membuatnya waspada.
"Tertarik pada apa? Saya bukan perempuan muda yang bisa diajak bermain-main."
"Saya juga bukan anak kecil, Bu."
"Dibanding saya, Bapak masih terlalu muda."
"Dibanding Arga, saya lebih menyenangkan."
Ratna langsung menatap tajam.
"Jangan bawa Pak Arga."
Niko tersenyum, seperti mendapat jawaban yang ia tunggu.
"Oh."
"Oh apa?"
"Tidak apa-apa."
Sebelum Ratna bisa membalas, suara Arga terdengar dari belakang.
"Niko, rapatmu di ruang tiga. Bukan di meja Bu Ratna."
Niko menoleh.
"Aku mengajak makan siang."
"Dia bekerja."
"Jam istirahat."
"Dia sudah ada jadwal."
Ratna menoleh pada Arga.
"Saya ada jadwal?"
Arga diam sepersekian detik.
Hanif yang berdiri di belakangnya langsung berkata, "Ada, Bu. Review dokumen gala amal dengan Pak Arga."
Ratna menatap Hanif.
Hanif menatap lantai.
Niko tertawa lebar.
"Kalian berdua buruk sekali berbohong."
Arga menatapnya dingin.
"Ruang tiga."
"Baik, Pak CEO."
Niko berjalan pergi, tapi sempat berbalik.
"Bu Ratna, tawaran makan siang masih berlaku. Kapan saja."
Ratna menghela napas panjang setelah Niko hilang.
"Pak Arga, saya bisa menolak sendiri."
"Saya tahu."
"Tapi Bapak tetap..."
"Saya tidak suka dia mengganggu karyawan saya."
Ratna menatapnya.
"Semua karyawan atau saya saja?"
Pertanyaan itu keluar terlalu cepat.
Arga diam.
Ratna juga diam.
Dita yang berada di meja sebelah tampak seperti berhenti bernapas.
Arga akhirnya berkata, "Dokumen gala amal. Ruang saya."
Lalu ia pergi.
Ratna menutup mata.
Apa yang ia lakukan?
Ia perempuan lima puluh tahun yang baru saja bercerai. Ia seharusnya fokus pada pekerjaan, sidang harta bersama, Maya dan Bima, bukan pada dua pria yang membuat kantor mendadak seperti panggung.
Namun saat ia masuk ke ruang Arga membawa dokumen, pria itu tidak langsung membahas pekerjaan.
Ia berdiri di dekat jendela.
"Niko memang seperti itu. Tapi dia bukan orang jahat."
"Saya tahu."
"Kalau Ibu merasa terganggu, bilang pada Hanif."
"Kalau saya tidak terganggu?"
Arga menoleh.
Ratna sendiri terkejut dengan ucapannya. Bukan karena ia ingin menerima Niko. Tapi karena ia lelah diperlakukan seolah tidak boleh memilih.
Ia melanjutkan dengan suara lebih pelan.
"Pak Arga, saya sudah lama hidup dengan orang-orang yang memutuskan untuk saya. Saya tahu Bapak berniat baik. Tapi biarkan saya mengatakan tidak atau iya sendiri."
Arga menatapnya lama.
Lalu ia mengangguk.
"Baik."
Hanya itu.
Namun bagi Ratna, satu kata itu berarti banyak.
Ia membuka map.
"Sekarang dokumen gala amal?"
Arga mengambil tempat duduk.
"Ya."
Mereka bekerja hampir satu jam. Tidak ada pembicaraan tentang Niko lagi. Tidak ada komentar pribadi. Justru karena itu, Ratna merasa lebih tenang.
Saat ia hendak keluar, Arga berkata, "Bu Ratna."
"Ya?"
"Saya tidak bermaksud memutuskan untuk Ibu."
Ratna menatapnya.
"Saya tahu."
"Tapi saya tetap tidak suka bunga itu di meja Ibu."
Ratna hampir tertawa.
"Baik. Saya taruh di pantry."
"Terima kasih."
Di luar ruangan, Ratna akhirnya tersenyum sendiri.
Ia belum siap untuk cinta. Belum siap untuk pria mana pun.
Tapi ia mulai menyadari satu hal.
Dunia tidak berakhir hanya karena Hendra tidak menginginkannya lagi.
Bahkan mungkin, dunia baru saja mulai memperhatikannya.
Sore itu bunga matahari benar-benar dipindahkan ke pantry. Anehnya, bunga itu membuat ruangan kecil tersebut lebih cerah. Beberapa staf yang mengambil kopi tersenyum saat melihatnya.
Ratna menaruh kartu dari Niko di laci, bukan karena ingin menyimpannya sebagai kenangan, tapi karena ia belum tahu harus membuangnya atau tidak. Hidup barunya penuh hal yang belum ia tahu.
Saat jam pulang, Arga keluar bersamaan dengannya.
"Diantar sopir?"
"Saya naik transportasi online."
"Sudah malam."
"Baru jam enam."
"Jakarta jam enam tetap tidak menyenangkan."
Ratna menatapnya.
"Pak Arga, kalau Bapak menawarkan tumpangan, bilang saja."
Arga diam.
"Saya menawarkan tumpangan."
Ratna menahan senyum.
"Terima kasih. Tapi hari ini saya ingin pulang sendiri."
Arga mengangguk, walau jelas tidak terlalu suka.
"Kabari kalau sudah sampai."
Ratna hendak menolak, lalu melihat wajahnya. Tidak memerintah. Hanya khawatir dengan cara kaku.
"Baik."
Di mobil online, Ratna melihat gedung Wijaya menjauh dari kaca belakang. Ponselnya bergetar.
Pesan dari Arga:
"Jangan lupa kabari."
Ratna tersenyum kecil.
Perhatian yang tidak memaksa ternyata bisa terasa sangat berbeda.
Ia benar-benar mengabari ketika sampai.
"Saya sudah di apartemen. Terima kasih."
Arga membalas, "Baik. Istirahat."
Tidak ada pertanyaan tambahan. Tidak ada "dengan siapa", "kenapa lama", atau "kirim foto". Hanya istirahat.
Ratna meletakkan ponsel dan duduk di sofa kecil. Ia baru menyadari betapa melelahkannya dulu hidup dengan laporan tak terlihat. Hendra jarang peduli ia di mana, tapi jika sedang ingin mengontrol, pertanyaannya terasa seperti pemeriksaan.
Arga berbeda.
Justru karena itu Ratna harus hati-hati. Bukan hati-hati dari Arga saja, tapi dari dirinya sendiri. Hati yang lama kelaparan mudah mengira segelas air sebagai janji surga.
Ia membuka buku catatan dan menulis:
"Jangan terburu-buru. Tapi jangan menutup pintu hanya karena pernah dikunci."
Setelah itu ia baru mandi, mengganti baju, dan tidur dengan ponsel menghadap ke bawah.
Malam itu Hendra tidak masuk ke pikirannya sebelum ia terlelap.
Pagi berikutnya, Ratna menemukan satu pesan dari Niko.
"Bunganya jangan dibuang, ya. Kalau tidak suka aku, setidaknya kasihan bunganya."
Ratna tertawa sendiri sebelum sadar ia tertawa.
Ia tidak membalas panjang.
"Bunganya di pantry. Banyak yang menikmati."
Niko menjawab cepat.
"Termasuk Arga?"
Ratna menatap layar, lalu mengetik, "Terutama bukan Pak Arga."
Setelah mengirim itu, ia baru sadar godaan kecil seperti ini tidak membuatnya takut.
Ia masih bisa menentukan batas.
Dan batas itu miliknya.
Klo sudah tiada
Baru terasa,,,,,, 💃