Harap bijak memilih bacaan.
riview bintang ⭐ - ⭐⭐⭐ = langsung BLOK.!
Barra D. Bagaskara, laki-laki berusia 31 tahun itu terpaksa menikah lagi untuk kedua kalinya.
Karena ingin mempertahankan istri pertamanya yang tidak bisa memliki seorang anak, Barra membuat kontrak pernikahan dengan Yuna.
Barra menjadikan Yuna sebagai istri kedua untuk mengandung darah dagingnya.
Akibat kecerobohan Yuna yang tidak membaca keseluruhan poin perjanjian itu, Yuna tidak tau bahwa tujuan Barra menikahinya hanya untuk mendapatkan anak, setelah itu akan menceraikannya dan membawa pergi anak mereka.
Namun karena hadirnya baby twins di dalam rahim Yuna, Barra terjebak dengan permainannya sendiri. Dia mengurungkan niatnya untuk menceraikan Yuna. Tapi disisi lain Yuna yang telah mengetahui niat jahat Barra, bersikeras untuk bercerai setelah melahirkan dan masing-masing akan membawa 1 anak untuk dirawat.
Mampukah Barra menyakinkan Yuna untuk tetap berada di sampingnya.?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Clarissa icha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31
Yuna menoleh ke sisi kanan tempat tidurnya. Mungkin Barra sudah terlelap 1 jam yang lalu. Laki-laki dewasa itu terlihat tenang, sedikitpun tidak ada kecemasan yang dia perlihatkan. Barra bisa tidur dengan mudahnya, setelah mengajak Yuna mengobrol karna Yuna tak kunjung bisa memejamkan mata.
Sudah hampir pukul 12 malam, mata Yuna tidak menunjukkan tanda-tanda mengantuk. Mungkin karna tadi sore dia tidur cukup lama. Sekarang malah sulit untuk memejamkan mata.
Tidur dalam jarak yang lumayan jauh, Yuna terus menatap Barra seolah ingin menggapainya. Ingin menarik Barra lebih dekat ke sisinya, berharap bisa merasakan tidur dalam pelukan laki-laki yang telah menjadi suami 3 bulan lalu.
Surat perjanjian membuat segalanya begitu sulit untuk di jalani. Statusnya memang sebagai seorang istri, namun Yuna merasa tidak memiliki suami karna Barra memperlakukan dirinya layaknya bukan seorang istri.
Mendekat jika ingin meminta haknya saja. Yuna bahkan tidak yakin Barra melakukan itu karna keinginan hatinya.
Laki-laki itu bahkan tidak berani menyentuh bibirnya, apalagi menciumnya.
Turun dari ranjang, Yuna membawa selimut yang di balutkan pada bahunya. Dia membuka pintu balkon dan menutupnya perlahan.
Kesunyian di luar seolah menarik Yuna untuk duduk di balkon.
Dia bersender, menatap hamparan langit hitam yang berhias bintang.
Tenang dan menyejukkan mata. Yuna melepaskan semua beban yang ada di pikirannya. Dia ingin merasakan ketenangan walau hanya sesaat.
Tidak ada kegelisahan, tidak ada rasa takut yang berlebihan. Dia ingin melepaskan semua itu agar psikisnya tidak terganggu.
"Aku tidak menginginkan apapun selain kebahagiaan mereka kelak." Yuna mengusap perutnya penuh cinta dan perasaan sedih yang mendalam. Matanya sudah berkaca-kaca karna menahan tangis.
Dia hanya ingin kedua anaknya bisa hidup bersama dengan orang tua yang utuh, tidak peduli meski tanpa cinta dari Barra. Asal kedua anaknya tidak mengalami hal serupa seperti dirinya.
Meski Barra sudah berjanji akan membatalkan perjanjian itu, Yuna tak lantas percaya begitu saja. Dia justru menaruh curiga pada Barra, kecurigaan yang sebelumnya tidak pernah dia di rasakan.
Lama duduk di balkon, merasakan dinginnya angin malam yang perlahan mulai menyusup kedalam tubuhnya meski sudah berbalut selimut. Namun rasa dingin itu justru mendatangkan kantuk.
Mungkin karna hatinya mulai tentang, Yuna jadi bisa memejamkan matanya dengan sisa - sisa air mata yang masih menggenang di pelupuk matanya.
Yuna bukan wanita yang lemah, tapi kehamilan membuatnya begitu rapuh. Dia bak daun kering, akan hancur dalam genggaman.
Tidak ada kekuatan dan tenaga untuk mempertahankan dirinya sendiri.
"Yuna.!!" Seru Barra. Dia terkejut bukan main saat membuka mata dan tidak mendapati Yuna ada di atas ranjang. Jam menunjukkan pukul 1 dini hari.
Turun dari ranjang dengan cepat, Barra terlihat seperti melompat. Dia bergegas mencari Yuna di kamar mandi, namun tidak menemukan dia di sana.
Wajahnya semakin panik, entah kenapa Barra berfikir Yuna pergi jauh darinya dan membawa pergi kedua anak yang masih ada di dalam kandungan.
Mungkin karna baru mengalami mimpi buruk, pikiran Barra jadi kacau.
Kepanikan Barra semakin menjadi setelah dia mencari Yuna di semua sudut kamar namun tidak menemukan keberadaan Yuna. Barra hampir saja keluar kamar hotel untuk melihat rekaman cctv hotel, namun begitu melihat pintu balkon yang tidak tertutup rapat, kepanikan yang dia rasakan sedikit mereda. Barra berjalan cepat menuju balkon. Dia menghembuskan nafas lega melihat Yuna ada di sana.
"Aku akan gila kalau kamu membawa mereka pergi." Gumam Barra lirih. Tanpa berfikir panjang, Barra langsung mengangkat tubuh Yuna dan membawanya masuk. Dia merebahkan Yuna di atas ranjang. Ikut tidur di sampingnya dengan memeluk erat perut Yuna dari belakang.
Sinar matahari yang menembus tirai, membuat Yuna terpaksa membuka matanya. Dia terkejut melihat tangan besar milik Barra melingkar erat di perutnya. Menoleh perlahan, hidung Yuna hampir saja bersentuhan dengan wajah Barra.
Ada perasaan hangat yang perlahan masuk kedalam hati. Yuna bahagia melihat Barra begitu sayang dan peduli pada kedua anaknya.
Tidak peduli meski Barra memeluknya demi kedua anaknya saja, itu sudah cukup membuat Yuna merasa tenang.
"Mas,,," Yuna menggoncang pelan tangan Barra yang melingkar di perutnya.
"Hemm,," Barra menyahuti panggilan Yuna dengan kedua mata yang masih rapat terpejam.
"Bangun Mas, sudah siang. Aku mau pulang sekarang." Yuna kembali menggoncang tangan Barra.
"Sekarang jam berapa.?" Tanya Barra dengan suaranya yang serak.
"Sudah jam 8. Ini awas dulu tangannya, aku mau bangun." Yuna kesulitan menyingkirkan tangan Barra yang terlalu erat memeluknya.
"Iya,," Barra dengan malas melepaskan pelukannya.
"Sarapan dulu sebelum pulang." Ujar Barra sembari menatap Yuna yang berjalan ke kamar mandi.
"Makan rumah saja, aku mau cepat - cepat mandi." Balas Yuna sedikit berteriak, dia lantas masuk ke kamar mandi dan menutupnya.
Keluar dari kamar mandi setelah mencuci muka, Yuna melongo melihat Barra yang kembali memejamkan mata. Yuna pikir Barra akan bangun setelah di tinggal ke kamar mandi, tapi yang ada malah melanjutkan tidurnya.
"Mas, aku mau pulang." Ujar Yuna setelah berdiri di samping ranjang.
Barra membuka mata, kali ini langsung bangun dan duduk di sisi ranjang.
"Sarapan dulu Yuna." Ucap Barra sedikit menekankan kalimatnya.
"Aku belum ganti baju dari kemarin, pengen mandi juga, udah nggak betah." Yuna sudah tidak nyaman karna sejak kemarin tidak mengganti baju.
"Bukannya kamu ingin menonton.?"
"Sarapan saja disini, setelah itu kita ke mall. Aku pesankan baju ganti untuk kamu sekarang." Barra meraih ponselnya di atas nakas untuk membeli baju ganti Yuna dan dirinya.
Yuna menurut perkataan Barra, mereka sarapan lebih dulu di dalam kamar karna Yuna tidak mau makan di restoran lantaran belum mandi. Sarapan yang kesiangan sudah jam 9.
Begitu baju gantinya datang, Yuna bergegas mandi, di lanjut oleh Barra setelahnya.
Keduanya meninggalkan kamar hotel dan pergi ke mall untuk menonton.
Barra menepati permintaan Yuna yang kemarin ingin menonton. Sepertinya Yuna memang butuh refreshing untuk menenangkan pikirannya.
Barra mengakui selama ini memang tidak pernah mengajak Yuna pergi berdua. Karna sebelumnya memang tidak berfikir untuk sering menghabiskan waktu bersama Yuna. Yang ada di pikiran Barra sejak awal hanya sebuah tujuan yang harus dia capai.
Senyum Yuna merekah saat memasuki pusat perbelanjaan. Raut wajahnya seketika berbinar. Seperti sudah bertahun-tahun tidak memasuki pusat perbelanjaan.
Tanpa sadar, Barra ikut mengulas senyum. Senyum yang sangat tipis seolah enggan untuk di lihat Yuna.
"Langsung nonton.?" Tanya Barra.
Yuna mengangguk antusias. Keduanya langsung menuju bioskop. Aroma khas saat memasuki pintu bioskop membuat Yuna semakin terlihat bahagia. 3 bulan hanya di rumah saja, keluar hanya untuk urusan bisnisnya, tentu saja Yuna sangat bahagia begitu Barra bersedia pergi menonton.
Rasanya seperti baru keluar dari penjara, penjara pernikahannya kontrak.
"Boleh beli popcorn sama soda.?" Tanya Yuna dengan mata berbinar. Aroma popcorn yang tercium begitu menggoda.
"Kecuali soda." Sahut Barra tegas.
"Dokter bilang, kamu harus menghindari soda selama hamil." Jelasnya menginginkan.
"Tapi aku ingin minum soda, sedikit saja,," Yuna memasang wajah memelas.
Barra menolak keras dengan gelengan kepala.
"Aku pesankan minuman lain." Ucap Barra tak mau di bantah.
Yuna seketika diam, tidak berani lagi untuk meminta.
setelah membeli tiket dan makanan yang Yuna minta, keduanya langsung menonton film romantis yang di pilih oleh Yuna.
Apa yang sedang mereka lakukan sudah seperti sepasang kekasih yang baru saja menjalani hubungan.