Melinda Seorang gadis berusia 20 tahun terpaksa menikahi Pria lumpuh akibat ulah Ayahnya sendiri, Memiliki saudara tiri dan ibu tiri yang jahat.
Sikap sang ayah yang pilih kasih membuat Melinda sedih, ia ingin sang ayah kembali seperti dulu lagi.
Sampai hari itu terjadi, niat untuk memohon agar sang ayah tidak dipenjara membuat dirinya harus menerima persyaratan agar sang ayah terbebas dengan cara menikahi Raka Arafat pria yang kini tengah lumpuh.
Akankah kehidupan Melinda berakhir bahagia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon muliyana setia reza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31
Beberapa hari kemudian.
Melinda semakin hari semakin tak nyaman dengan yang dilakukan Indri padanya. Setiap hari, Indri selalu menghampirinya dan memberikan hal-hal yang tidak seharusnya Indri lakukan.
“Melinda, apakah kamu ada di dalam?” tanya Indri yang berada tepat di depan pintu kamar.
Melinda yang ingin beristirahat sejenak, akhirnya mengurungkan niatnya dan bergegas membuka pintu untuk Indri yang entah apalagi yang dibawa oleh Indri untuknya.
“Selamat siang, apakah aku mengganggu kamu?” tanya Indri.
Melinda hanya tersenyum mendapat pertanyaan dari Indri.
“Kedatanganku kesini cuma mau memberikan kamu buah mangga, kamu habiskan ya. Buah mangga ini tentunya sangat sehat, higienis dan yang pasti mahal,” terang Indri dan memberikan sepiring buah mangga yang telah dikupas kulitnya.
Melinda dengan ragu menerima sepiring buah mangga pemberian Indri.
“Jangan lupa dihabiskan, aku mau ke bawah,” ucap Indri.
Melinda tersenyum dan menutup kembali pintu kamar ketika Indri melenggang pergi menjauh darinya.
“Mbak Indri membuatku agak takut. Bagaimana kalau Mas Raka tahu mengenai ini? Yang kemarin saja, Mas Raka mengomeli aku berjam-jam karena ayam goreng pemberian Mbak Indri,” tutur Melinda bermonolog.
Indri tersenyum picik dan membayangkan bagaimana reaksi tubuh Melinda ketika menikmati buah mangga tersebut.
Aku hanya memberikan obat pencuci perut untuknya, tentu saja tidak akan berbahaya. Dia pikir aku benar-benar baik? Ahh, wanita kampungan itu terlalu naif. (Batin Indri)
🌷
Sudah 2 jam lebih, Melinda belum juga mencicipi buah mangga tersebut. Entah kenapa, Melinda memiliki firasat yang tidak baik dengan buah mangga pemberian Indri.
“Sepertinya buah mangga ini sudah tidak baik dikonsumsi karena terkena debu. Sebaiknya aku buang saja,” ucap Melinda dan akhirnya membuang buah mangga yang sudah diiris tersebut ke kotak sampah yang berada dekat dengan kamar mandi.
Melinda akhirnya membuang mangga tersebut dan bergegas untuk keluar dari kamar. Ketika Melinda hendak membuka pintu kamar, Sang suami tiba-tiba muncul dihadapannya bersama dengan asisten pribadinya, Reza.
“Astaga.” Melinda hampir saja kehilangan keseimbangannya ketika melihat suaminya.
“Ada apa? Apakah aku terlihat seperti hantu?” tanya Raka berteriak.
“Mas Raka tidak perlu berteriak seperti ini. Saya begini karena terkejut,” jawab Melinda.
“Suami pulang bukannya disambut dengan senyuman, ini malah disambut dengan wajah terkejut,” ucap Raka yang protes dengan reaksi Melinda.
Melinda hanya diam tanpa membela diri. Bagaimanapun, tetap saja dirinya yang akan menjadi kambing hitam suaminya.
Raka ingin sekali menarik rambut Melinda dan melempar tubuhnya sejauh mungkin. Melihat Melinda yang seperti itu, membuat Raka sangat kesal dan hampir mati.
“Pergilah ke dapur dan buatkan aku kopi!” perintah Raka.
Melinda mengiyakan dan melesat pergi secepat mungkin menuju dapur.
“Tua Muda, apakah anda terus melakukan hal ini terjadi Nona Muda? Tidak bisakah Tuan Muda bersikap lembut terhadap seorang wanita, terlebih lagi wanita itu adalah Nona Muda?” Reza tak bisa diam begitu saja ketika Raka terus-menerus memarahi Melinda.
“Bukankah sudah berulang kali aku katakan untuk tidak mencampuri urusan rumah tangga ku? Kamu mau aku pecat?” Raka kembali mengancam asisten pribadinya.
Reza menghela napasnya dan menutup mulutnya rapat-rapat setelah mendengar ancaman dari Raka yang akan membuat dirinya kehilangan pekerjaan.
“Kenapa diam?” tanya Raka tersenyum sinis.
“Tuan Muda, saya permisi.” Sang asisten pribadi tersendiri dan setengah membungkus ketika akan meninggalkan Tuan Mudanya.
Dengan cara seperti itu, Reza aman dari pertanyaan-pertanyaan yang terus berdatangan dari mulut Tuan Mudanya.
Raka menoleh sekilas dan mengangguk dengan senyum penuh kemenangan.
Melinda menghela napasnya ketika kopi yang diinginkan oleh suaminya telah siap.
“Bagaimana?” tanya Indri yang tiba-tiba datang ketika Melinda akan berbalik badan.
“Aaaww.” Melinda yang terkejut membuat tangannya terkena kopi dan untungnya cangkir kopi tersebut tidak tumpah begitu saja.
“Ya ampun, apa aku membuatmu terkejut? Aku tidak sengaja,” ucap Indri panik. Padahal dalam batinnya ia tertawa puas melihat ekspresi wajah kesakitan dari Melinda.
Melinda meletakkan kembali secangkir kopi tersebut dan buru-buru membasuh kedua tangannya dengan air mengalir agar tak melepuh.
“Melinda, kenapa diam saja? Aku bertanya, apakah kamu sudah menghabiskan mangga yang aku berikan beberapa jam yang lalu?” tanya Indri penasaran.
Pertanyaan Indri membuat Melinda akhirnya sadar bahwa mangga tersebut sudah diberi sesuatu yang tentunya akan mencelakakan dirinya.
“Mbak Indri, saya sudah memakannya sampai habis. Lihatlah, itu piring yang sebelumnya berisi buah mangga. Sekarang, boleh saya pergi ke kamar? Mas Raka pasti telah menunggu saya,” terang Melinda.
“Tunggu!” Indri mencoba menghentikan langkah Melinda.
Melinda menoleh ke arah Indri tanpa berbalik badan.
“Bisakah kamu mengucapkan terima kasih atas kebaikanku?” tanya Indri sembari mengibaskan rambut pendeknya.
“Sepertinya saya tidak perlu mengucapkan kalimat tersebut. Lagipula apa yang Mbak Indri lakukan atas kemauan Mbak Indri sendiri,” balas Melinda.
Melinda tersenyum tipis dan berjalan menuju kamar karena tak ingin kopi buatannya menjadi dingin.
Indri terperangah mendengar apa yang dikatakan oleh Melinda.
“What? Kenapa wanita kampungan itu berbicara seperti itu?” tanya Indri seakan-akan perkataan Melinda menjatuhkannya begitu saja.
Kalau sudah kampungan ya tetap saja kampungan. (Batin Indri)
Melinda telah masuk ke dalam kamar dan mempersilakan suaminya untuk menikmati kopi hitam buatannya.
“Mas Raka, ini kopinya,” ucap Melinda.
“Kenapa lama?” tanya Raka kesal.
“Maaf, Mas Raka. Tadi di dapur ada Mbak Indri,” jawab Melinda.
“Apa? Apakah kamu sekarang sudah sangat dengan dengan wanita licik itu? Sudah berapa kali aku katakan, kamu harus jaga jarak dengannya,” tegas Raka geram.
Melinda tersenyum canggung dan mengiyakan perkataan suaminya.
“Sudahlah, pikiranku hari ini sedang kacau. Sekarang bantulah aku untuk turun dari tempat tidur!” perintah Raka.
“Mas Raka tidak ganti baju?” tanya Melinda sembari membantu suaminya duduk di kursi roda.
Ketika Melinda tengah membantu suaminya untuk duduk di kursi roda, tiba-tiba suara ketukan pintu terdengar.
“Coba kamu lihat, siapa yang mengetuk pintu!” perintah Raka dan sebelum itu, Melinda lebih dulu mendorong kursi roda suaminya menuju meja tempat dimana kopi hitam tersebut diletakkan.
Melinda berlari kecil dan membuka pintu kamar tersebut.
“Maafkan saya Nona Muda,” ucap pelayan wanita karena telah mengganggu istirahat kedua majikannya.
“Ada apa, Mbak?” tanya Melinda penasaran.
“Didepan ada seorangpun wanita, kalau tidak salah wanita itu mengatakan bahwa dirinya adalah sahabat Nona Muda,” terang si pelayan.
Melinda terkejut bercampurnya senang karena sahabat satu-satunya datang untuk menemuinya.
“Mbak tolong katakan kepadanya untuk menunggu sebentar,” balas Melinda dengan sangat bahagia.
Melinda menutup pintu kamar rapat-rapat dan meminta izin kepada suaminya untuk menemui sahabat tercinta.
“Mas Raka, boleh saya keluar sebentar untuk menemukan sahabat saya?” tanya Melinda.
“Pria atau wanita?” tanya Raka dingin.
“Tentu saja wanita, Mas Raka.”
“Baiklah, aku beri waktu 20 menit dan tidak boleh lebih dari itu,” tegas Raka.
“Mas Raka, 20 menit terlalu singkat,” balas Melinda berharap suaminya memberikan tambahan waktu.
“Mau atau tidak?” tanya Raka sembari mengangkat sebelah alisnya.
*Tuhan Kita Berbeda* Kry. S.T.As syifa