Nick, usia 24 tahun. Memiliki wajah tampan, otak encer dan karir cemerlang. Namun semua itu tak membuat hidupnya bahagia. Hidupnya mulai terasa indah ketika bertemu dengan seorang gadis bernama Azizah.
Bersama Azizah dia merasakan artinya cinta. Namun sayang, orang tua Azizah tak merestui hubungan mereka. Demi bisa bersama, keduanya nekad melakukan hal terlarang yang berbuah petaka.
Nick dan Azizah berpisah dengan cara tak terduga. Kecelakaan tragis yang menimpa dirinya juga Azizah telah mengubah hidup pria itu seratus delapan puluh derajat.
Mampukah Nick menata hidupnya kembali? Apakah dia akan bersatu kembali dengan Azizah atau menemukan tambatan hati yang baru?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon D'Adrianz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Nikahi Aku
Nick memperhatikan Diah yang duduk melamun di sofa. Sejak dirinya pulang setelah memberi pelajaran pada Burhan, Diah masih bergeming di tempatnya. Dulu Nick selalu meminta sang mama untuk segera mengakhiri hubungan dengan para kekasih gelapnya. Tapi kini melihat mamanya bersedih, hati Nick tak tega juga.
Pria itu berjalan mendekati Diah, kemudian mendudukkan diri di sisi wanita yang begitu disayanginya. Menyadari kehadiran Nick, Diah memutar tubuhnya menghadap pada anak semata wayangnya.
“Mommy mikirin apa? Mommy menyesal?”
“Ngga sayang. Mommy ngga menyesal, harusnya sejak dulu mommy melakukan ini.”
“Terus kenapa mommy kelihatan sedih?”
“Mommy boleh jujur?”
Nick mengangguk pelan. Diah menyandarkan kepalanya di bahu tegap sang anak. Pikirannya menerawang mengingat sosok John, lelaki yang telah dikenalnya selama tujuh tahun.
“Mommy hanya sedang memikirkan John.”
“Uncle John?”
“Hmm... he is a good man (dia pria yang baik).”
“I know mom (aku tahu mom).”
“Dia selalu ada di saat terburuk mommy, menemani mommy, membuat mommy tertawa,” Diah mengusap airmata yang mengalir di pipinya. Nick masih bungkam demi mendengarkan isi hatinya.
“Sekarang saat dia pergi, seperti ada yang hilang dari dalam sini,” Diah menepuk-nepuk dadanya.
“Tadi saat pamit. Dia bilang kalau mencintai mommy.”
Nick merentangkan tangannya, merengkuh bahu Diah ke dalam pelukannya. Tangis Diah kembali pecah dalam dekapan anaknya. Nick mengusap lengan Diah pelan sambil menunggu ungkapan hati selanjutnya. Namun Diah tak meneruskannya.
“Apa mommy mencintai uncle John? Kalau uncle John serius sama mommy dan mau menikahi mommy, aku akan menjemput uncle John pulang ke sini.”
“Ngga sayang. Mommy hanya ingin menghabiskan hidup mommy bersamamu saja. Hanya denganmu, anak dan istrimu, kalau Iza mengizinkan.”
“Iza pasti mengijinkannya mom. Dia menyayangi mommy seperti aku menyayangi mommy.”
“Karena itu, kamu harus bisa mendapatkan Iza. Arnav sudah mengatakan pada mommy soal ayah Iza. Kamu harus kuat Nick, kamu harus berjuang untuk meluluhkan hati ayah Iza dan memperoleh restunya. Lalu menikahlah dengan Iza, bentuklah keluarga kecil bahagia yang sangat kamu impikan. Jadilah suami dan ayah yang baik nantinya. Jadikan pengalaman buruk mommy sebagai pelajaran agar tidak mengulangi kesalahan yang sama. Mommy akan melakukan apapun untuk membantumu mewujudkan semua impianmu.”
“Makasih mom, makasih. Tolong bantu aku juga dengan doa.”
Diah hanya mampu menganggukkan kepalanya saja. Nick semakin mengeratkan pelukannya. Cairan bening mulai menggenangi kedua bola matanya. Keduanya terus hanyut dalam keharuan yang begitu mendalam.
Setelah beberapa saat, pelukan mereka mengendur. Diah beringsut sedikit menjauh untuk meraih tasnya. Diambilnya dompet dari dalamnya kemudian mengeluarkan selembar foto dari balik foto dirinya bersama Nick. Diah memberikan foto usang tersebut pada Nick.
“Ini.. daddy-mu. Bukankah selama ini kamu ingin tahu seperti apa wajah daddy.”
Nick memandangi selembar foto yang sudah menguning warnanya. Tampak gambar Diah bersama seorang pria bule yang menurut Diah adalah Bryan, pria yang selama ini kerap dipanggilnya dengan sebutan daddy. Pria yang begitu menyayangi Nick seperti anak kandungnya sendiri. Pria yang tetap membiayai hidup dan sekolahnya sampai mencapai gelar master.
“Apa mommy tahu di mana daddy sekarang?”
“Ngga.”
“Selama ini mommy selalu membawa foto dad bersama mommy?”
“Iya.”
“Iza bilang, mungkin saja alasan mommy tidak pernah mau menceritakan daddy karena mommy masih mencintainya. Apa benar mom? Apa mommy masih mencintai daddy?”
“Hmm.. dia satu-satunya pria yang mommy cintai, melebihi cinta mommy untuk ayah kandungmu dan juga abimu. Dan bodohnya mommy masih mencintainya sampai sekarang.”
“Mommy ngga bodoh. Mommy hanya menjaga apa yang sudah daddy berikan. Dan mommy menjaganya dengan baik sampai sekarang. Apa perlu mom aku cari daddy?”
“Ngga perlu Nick. Dia sudah berbahagia dengan keluarganya, mommy ngga mau menjadi duri dalam keluarganya.”
“Iya mom. Lagi pula mommy punya aku, aku ngga akan pernah meninggalkan mommy,” Nick kembali memeluk Diah.
“Mom.. udah masuk waktu isya. Sholat yuk, aku mau jadi imam buat mommy untuk yang pertama kalinya.”
Diah mendongakkan kepalanya, menatap netra anak semata wayangnya yang kecoklatan. Wajah Nick menunjukkan keseriusan sekaligus pengharapan. Melihat itu, Diah menganggukkan kepalanya. Dengan senang Nick mengurai pelukannya kemudian membantu Diah berdiri. Keduanya bersiap untuk menunaikan ibadah shalat isya bersama.
Suara Nick terdengar bergetar ketika melantunkan ayat suci Al-Qur’an saat memimpin shalat isya. Hatinya mengharu biru dapat menjadi imam shalat mommy tercinta untuk pertama kalinya. Tak berbeda dengan Diah, hati wanita itu bergetar mendengar suara anaknya melantunkan ayat suci. Matanya nampak berembun, rasa haru dan bahagia bercampur menjadi satu.
Suasana ibadah shalat yang mengharu biru akhirnya selesai sudah. Nick membalikkan tubuhnya kemudian mencium punggung tangan Diah dengan takzim. Keduanya lanjut memanjatkan doa bersama. Dalam hati kecilnya, Diah berdoa agar keinginan sang anak dikabulkan dan diberikan kebahagian yang tak terhingga.
Usia shalat Diah bergegas menuju dapur untuk membuatkan makan malam. karena terlalu banyak memikirkan John, dia jadi lupa memasakkan sesuatu untuk sang anak. Nick menyusul Diah yang tengah melihat isi kulkas.
“Mom, mau ngapain?”
“Masak. Kamu kan harus makan, biar bisa minum obatnya.”
“Beli ajalah mom, atau kita makan di luar aja.”
“Hmm.. boleh juga.”
TING TONG
Suara bel terdengar, membuat ibu dan anak itu saling berpandangan. Diah bergegas menuju pintu, disusul Nick di belakangnya. Tanpa melihat siapa yang datang, Diah langsung membukakan pintu.
“Mommy!!!”
Teriakan Abe, Denis dan Fahrul langsung terdengar begitu pintu terbuka. Senyum Diah mengembang begitu melihat sahabat anaknya yang datang. Ketiganya memeluk Diah bergantian kemudian masuk ke dalam unit.
“Mom.. nih kita bawain makanan buat makan bareng,” Abe mengangkat bungkusan yang ada di tangan, demikian juga dengan Fahrul dan Denis.
“Arnav mana?”
“Di sini mom.”
Terdengar suara Arnav dari arah luar unit dan tak lama kemudian, pria berdarah Pakistan itu masuk. Dia langsung menghampiri Nick yang berdiri di samping Diah.
“Dan khusus buat elo bro, gue bela-belain bertemu dengan singa si raja hutan demi bisa membawa bidadari tak bersayap lo ke sini.”
“Heleh sok hero lo bang. Yang ada gue yang jadi tameng om Hadi keles.”
Rivan merangsek masuk, dengan bahunya dia menggeser Arnav kemudian menghampiri Diah dan mencium punggung tangannya. Di belakang pemuda itu, Iza dan Meta menyusul masuk. Kedua gadis cantik itu mencium punggung tangan Diah bergantian. Nick tersenyum senang melihat kehadiran kekasih hatinya.
“Yok ah makan dulu, lavaaaaarrrr,” seru Fahrul.
Dengan cepat Denis, Abe dan Fahrul menggeser sofa dan meja kemudian menggelar karpet. Mereka akan makan malam bersama dengan konsep lesehan. Sementara itu Diah, dibantu oleh Meta juga Iza menata makanan ke dalam piring. Rivan bantu membawakan makanan ke ruang depan. Setelah semua makanan dan peralatan tertata, acara makan malam pun dimulai.
Suasana makan malam penuh dengan keriuhan, ada saja yang mereka bicarakan. Sesekali terdengar tawa mereka ketika Arnav dan Rivan mulai berdebat. Senyum tak pernah lepas dari wajah cantik Diah, kedatangan para sahabat anaknya, membuat kesedihan yang sempat menggelayut dalam hatinya sedikit demi sedikit menghilang.
Nick dan Iza nampak berdiri di balkon sambil menikmati semilir angin malam usai acara makan malam mereka. Kedua tangan Nick memegang pagar balkon dengan pandangan lurus ke depan. Di sampingnya Iza berdiri sambil bersedekap. Nick melepaskan pegangannya kemudian membalikkan tubuhnya menghadap Iza. Kini punggungnya yang bersender di pagar balkon.
“Zi.. aku minta maaf soal kejadian tadi sore.”
“Ngga apa-apa Nick. Denis udah cerita tadi. Kamu baik-baik aja kan?”
“Hmm..”
“Tapi aku takut dia akan melaporkanmu ke polisi Nick.”
“Ngga usah khawatir Zi. Lagi pula dia ngga akan berani melakukannya. Kalau dia melapor, mommy pasti akan membongkar hubungan gelap mereka ke istrinya.”
“Iya juga sih. Mommy gimana Nick? Katanya om John pulang ke Perth.”
“Sedih pasti, tapi sekarang udah baik-baik aja. Mulai besok aku akan pulang ke apartemen sehabis kerja, biar mommy ngga kesepian.”
“Bagus itu Nick. Mommy pasti butuh teman.”
Suasana hening sejenak. Iza memperhatikan Nick yang tampak melamun. Terlihat ada sedikit kesedihan yang menggantung di kedua netranya.
“Nick.. ada apa?”
“Mommy sudah putus dengan semua kekasihnya Zi. Dulu aku selalu meminta bahkan sampai bertengkar agar mommy meninggalkan semua kekasihnya. Tapi setelah mommy melakukannya, aku merasa sedih melihat mommy juga bersedih. Kami banyak bicara tadi dan aku baru sadar kalau banyak pengorbanan yang mommy lakukan demi aku. Sedang aku... aku belum melakukan apa-apa untuknya.”
Nick menengadahkan kepalanya, mencoba menahan airmata yang sudah menggenang di pelupuk matanya. Begitu banyak peristiwa yang menerpanya hari ini dan membuat hatinya dihantam berbagai perasaan. Nick membalikkan tubuhnya membelakangi Iza. Beberapa kali terdengar pria itu menarik nafas untuk menetralkan perasaannya.
“Menangislah Nick kalau kamu mau menangis. Andai bisa, aku ingin meminjamkan bahuku atau memelukmu. Tapi untuk sekarang, aku hanya bisa berdiri di sampingmu.”
Nick menolehkan kepalanya ke arah Iza yang kini telah berdiri tepat di sampingnya. Mata keduanya bertemu dan saling mengunci. Untuk beberapa saat keduanya hanya saling memandang dalam kebisuan.
“Apa kamu serius ingin menikah denganku, Zi?”
“Aku sudah berjalan sejauh ini dan kamu masih bertanya? Segera lamar aku dan nikahi aku. Jadikan aku halal untukmu.”
“Kapan aku bisa melamarmu Zi?”
“Secepatnya lebih baik. Temui abiku dan minta diriku padanya.”
“Lusa.. aku akan menemui abimu.”
Iza terkejut mendengarnya, namun kemudian segurat senyum tercetak di wajah cantiknya. Dia menganggukkan kepala diiringi senyum manisnya. Nick menyambut persetujuan Iza dengan hati bahagia. Senyum lebarnya pun mengembang.
Sementara itu, Diah tengah berbicara serius dengan Fahrul. Kedua orang tersebut duduk di kursi makan yang letaknya berdekatan dengan dapur. Abe tadi sempat menceritakan perihal ketegangan yang terjadi antara Denis dengan Fahrul yang disebabkan oleh Maira, istri Fahrul.
“Rul.. mommy sudah dengar soal kamu dengan Maira juga Denis. Jujur Rul, mommy kecewa sama kamu. Maira itu istrimu, ngga sepantasnya kamu melakukan hal itu.”
“Aku ngga mencintainya mom. Lagi pula mommy sudah tahu kalau aku menjalin hubungan dengan Icha lebih dulu.”
“Lalu kenapa kamu menikahi Maira?”
Fahrul terdiam, jawaban apapun yang diberikan pasti akan tetap salah. Walaupun tak diakuinya namun jauh di lubuk hatinya, Fahrul juga menyesali telah bersikap tak adil pada Maira. Namun bayang-bayang Reisa dan rasa cintanya menutupi semua itu.
“Apa Reisa mencintaimu?”
“Iya mom. Dia bahkan rela berkorban perasaan melihat aku menikah dengan Mai.”
“Mau mendengar pendapat mommy dari sudut pandang mommy yang pernah menjadi wanita simpanan?”
Fahrul mengangkat kepalanya, menatap Diah yang tak ada sedikit pun rasa malu ketika mengatakan hal seperti itu. Diah memang sosok wanita yang apa adanya. Dia tak malu mengakui statusnya yang buruk di mata orang.
“Selain dengan mommy, om Sakurta juga menjalin hubungan dengan perempuan lain, selain istri sahnya. Tapi mommy tidak pernah mempermalahkannya, dia bebas berhubungan dengan siapa saja dan mommy tetap menerima kehadirannya. Kamu tahu alasannya?” Fahrul menggeleng.
“Karena mommy tidak mencintainya. Mommy hanya membutuhkan uang darinya sebagai bayaran atas kepuasan yang mommy berikan padanya. Begitu pula dengan Reisa. Kalau dia benar mencintaimu, dia tidak akan melepaskanmu menikah dengan perempuan lain, apapun alasannya, termasuk perjodohan. Dia pasti akan meminta berjuang bersama untuk memperoleh restu orang tuamu. Tapi nyatanya dengan mudah dia memberikanmu izin menikah. Benar begitu?”
Fahrul kembali terdiam. Ingatannya kembali saat dirinya mengatakan pada Reisa perihal perjodohan dengan Maira. Perempuan itu langsung setuju ketika mengatakan rencana menikahi Maira dan akan tetap menjalin hubungan dengannya.
“Tanya hatimu, apa benar kamu mencitai Reisa dan tidak memiliki perasaan apapun pada Mai. Apa yang menyebabkanmu marah pada Denis, apa karena dia menyembunyikan Mai atau karena kamu cemburu padanya. Lalu apa yang kamu rasakan sekarang setelah Mai tak ada bersamamu. Pikirkan itu semua, dan ambil langkah yang tidak akan membuatmu menyesal nantinya.”
Diah menepuk-nepuk punggung tangan Fahrul. Pria itu masih saja terdiam merenungi kata-katanya. Kemudian pandangan Fahrul beralih pada Denis yang tengah asik mengobrol dengan Abe.
🍂🍂🍂
**Mainya lagi gue kekepin Rul, cantik soalnya wakakakak...
Mohon maaf, kesibukan di dunyat bikin ogut ngga bisa up tiap hari. Tapi jangan kuatir, paling absen sehari doang kok😎**
padahal nabila cuman baca.padahal cuman crita.
sampek anakku nanya di sampingku.
emak nangisi apa.nangis kenapa??
ini baca crita online.
heheheheh
arnav kasik jodoh pasangan juga donk .
nbila nangis trus bacanya ini.
😭😭