"Apa itu mahabbah?"
Ketika mendapat pertanyaan itu Khalisa tidak bisa mendapat jawabannya hanya dengan berpikir satu atau dua hari, meski telah menghabiskan sebagian besar waktunya untuk memahami apa itu mahabbah ia tak akan bisa betul-betul mengerti.
Namun ada satu orang yang membuat Khalisa merasa jika dekat dengannya maka ia juga dekat dengan sang pencipta—dekat pula pada arti dari mahabbah.
Suatu hari di pertengahan bulan suci ramadhan, ia mengungkapkan perasaannya berharap mereka memiliki rasa yang sama dan mau menjalani ibadah paling lama yakni pernikahan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mirna Samsiyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
29
Basemen apartemen Casey Avenue lengang, puluhan mobil mewah milik penghuni apartemen terparkir rapi di ruang bawah tanah tersebut tapi tidak ada satu pun orang disana. Khalisa melangkah pelan menuju mobilnya berusaha tidak menimbulkan suara sedikitpun. Ia mengambil alat setrum yang berada di dalam mobilnya. Sejak kejadian beberapa Minggu yang lalu Khalisa selalu menyimpan alat setrum itu di dalam mobilnya untuk berjaga-jaga.
Di ujung basemen terdapat sebuah ruangan yang merupakan gudang tempat menyimpan barang-barang yang sudah tidak digunakan milik staf apartemen. Khalisa menatap pintu gudang yang tertutup itu dari dalam mobil. Apakah Rindang berada disana? Baru saja Rindang kembali mengirim pesan bahwa ia juga telah memanggil polisi untuk datang ke tempat itu. Khalisa bisa sedikit lebih tenang karena jika Rindang bisa mengirim pesan itu artinya si peneror tidak berbuat sesuatu yang berbahaya pada Rindang.
Khalisa keluar dari mobil setelah mendapatkan alat setrum dan menyimpannya di dalam saku gamis. Ia berjalan berjingkat agar tidak menimbulkan suara di dalam basemen yang lengang itu karena suara sedikit saja pasti akan menggema ke seluruh penjuru.
Khalisa menoleh ke belakang ketika merasa ada orang yang melangkah di belakangnya. Tidak ada. Mungkin itu hanya perasaannya saja. Khalisa memutar kenop pintu dengan hati-hati.
Hah? nggak dikunci?
Khalisa hendak menoleh untuk kedua kalinya memastikan tidak ada orang disana tapi dalam sepersekian detik seseorang yang berpakaian setelan jas lengkap mendorong tubuh Khalisa hingga jatuh tersungkur masuk ke dalam gudang itu.
Khalisa menahan pekikan nya, ia mengangkat wajah demi melihat sekitar. Meski dengan tubuh gemetar Khalisa memberanikan diri melihat orang yang telah mendorongnya. Tunggu dulu, ruangan ini tidak terlihat seperti gudang. Tulisan happy birthday di tengah ruangan membuat Khalisa heran. Di tengah ketakutannya, Khalisa berharap ini adalah kejutan dari Rindang dihari ulang tahunnya meski Rindang tak pernah melakukan hal seperti itu sebelumnya. Namun Khalisa tetap berpikir positif di tengah pikirannya yang sedang kalut.
Terdengar suara pintu ditutup lalu suara langkah kaki yang menggema ke seluruh ruangan. Khalisa terkesiap melihat laki-laki yang mendorongnya barusan. Itu adalah Revan, menyapa Revan melakukan ini semua dan dimana Rindang.
"Dimana Rindang?" Tanya Khalisa setelah mengumpulkan keberanian, ia berusaha bangkit dari lantai.
"Nggak ada, cuma ada aku dan kamu disini." Revan tersenyum miring, ia tidak terlihat seperti Revan biasanya yang selalu bersikap ramah sejak pertama bertemu dan berkenalan dengan Khalisa. "Selamat ulang tahun Khalisa, ini kejutan untuk kamu." Revan melangkah mendekati Khalisa.
"Apa yang kamu inginkan?" Khalisa to the point, ia tidak mau mempercayai ini semua adalah ulah Revan karena hubungannya dengan orangtua Revan sangat baik. Namun semuanya terlihat jelas, Revan pasti telah merencanakan ini semua. Khalisa dan Rindang sempat menduga bahwa pelakunya adalah penghuni apartemen ini tapi Khalisa tak pernah menduga bahwa itu Revan.
"Ternyata kamu cukup cerdas buat memahami ini semua, aku cuma mau bikin pesta ulang tahun buat kamu."
"Aku nggak pernah merayakan pesta ulang tahun."
"Maka ini akan jadi yang pertama." Revan melangkah menuju meja yang terletak di tengah ruangan. Terdapat sebuah kue berbentuk bulat dan satu buah lilin serta dua gelas anggur.
"Revan kenapa kamu ngelakuin ini semua, kenapa kamu gedor pintu apartemen Rindang, sekarang dimana dia?" Khalisa tidak mau lagi bermain-main dengan Revan, ia ingin tahu dimana Rindang sekarang.
"Rindang, aku nggak tahu." Revan mengeluarkan sebuah benda tipis dari dalam saku jasnya, "cuma ada hp nya."
Khalisa terkejut untuk kesekian kalinya, jadi itu adalah pesan dari Revan yang menggunakan ponsel Rindang. Harusnya Khalisa menyadari ini dari awal karena dari kemarin ia tidak melihat Rindang bermain ponselnya. Namun mereka sama sekali tidak membahas soal ponsel itu karena sibuk dengan hal lain. Mungkin Rindang juga lupa memberitahu Khalisa karena fokus pada tulisan H-1 yang tiba-tiba ada di apartemennya.
Jadi Revan menunggu hingga hari ulang tahun Khalisa untuk melakukan kejahatan ini.
"Ayo duduk." Revan menarik kursi meminta Khalisa duduk.
Khalisa melangkah, ia harus menuruti kemauan Revan karena jika membantahnya ia yakin Revan akan melakukan hal gila yang tak bisa ia bayangkan.
"Ternyata kamu penurut, nggak salah aku suka sama kamu sejak pertama kali kita ketemu." Revan duduk di hadapan Khalisa, ia mengeluarkan pemantik api dan menyalakan lilin di tengah kue berwarna merah muda itu. "Pakai topi ulang tahun dulu." Revan mengulurkan tangannya hendak memakaikan topi kertas berbentuk kerucut pada Khalisa.
"Tolong jangan sentuh aku." Khalisa menghindar agar Revan tidak menyentuhnya.
Senyum di wajah Revan seketika luntur, ia telah menunggu lama untuk bisa berdua dengan Khalisa. Revan tidak terima jika ia tak boleh menyentuh Khalisa.
"Kenapa kamu pakai sesuatu yang begitu tertutup, aku cuma bisa lihat muka kamu." Revan melihat Khalisa dengan tatapan memuja dari atas sampai bawah yang sayangnya tertutup gamis membuangnya ingin merobek kain itu.
"Kamu cantik Khalisa, tapi sayang kamu menutup semuanya." Revan bergerak mendekat pada Khalisa.
"Jangan sentuh!" Khalisa mendorong Revan sekuat tenaga ketika pria itu hendak menyentuh pipinya. Namun itu tidak ada apa-apanya bagi Revan.
"Berani kamu ya!" Teriak Revan, ia mendorong kursi Khalisa dengan kakinya hingga membuat Khalisa jatuh tersungkur membentur tumpukan kardus di belakang sana. Revan tertawa puas karena Khalisa yang membuatnya jadi seperti ini. Jika Khalisa menuruti kemauannya maka Revan juga akan memperlakukan Khalisa dengan baik.
"Ahhh!" Khalisa meringis merasakan perih di punggungnya.
"Biar aku melakukan ini dengan cepat, tadinya aku mau pelan-pelan tapi kamu yang bikin aku jadi nggak sabar." Revan melangkah berjongkok menyentuh kepala Khalisa.
Khalisa mengeluarkan alat setrum yang dari tadi berada di dalam saku gamisnya. Ia mengarahkan alat tersebut ke lengan Revan.
"Ahh, ngapain kamu!" Revan terkejut merasakan aliran listrik di lengannya, ia mendelik melihat alat setrum di tangan Khalisa. Revan tertawa merebut alat tersebut dan melemparnya ke sembarang arah. Tentu saja alat itu hanya memiliki tegangan rendah.
Dengan gerakan asal Khalisa menghidupkan ponsel di dalam saku gamisnya yang lain. Biasanya ia juga bermain ponsel dan mengetik pesan tanpa melihat. Khalisa berharap ia bisa menghubungi siapapun yang ada di history call terakhirnya.
"Jangan-jangan, aku mohon jangan!" Khalisa mundur ketika Revan mulai membelai pipinya. Tubuh Khalisa gemetar ketakutan.
"Kamu lebih cantik tanpa kain ini." Revan menarik jilbab Khalisa hingga terdengar sobekan kain dari jilbab tersebut. Revan juga menarik tali rambut Khalisa dan melemparnya tepat ke atas lilin yang sedang menyala.
Air mata Khalisa mengucur deras melihat jilbabnya terbakar, ia tidak boleh lemah meski sedang takut. Tidak boleh.
Pandangan Revan membara melihat rambut hitam legam Khalisa untuk pertama kalinya.
Khalisa menahan isakan nya dan menutup kepalanya sebisa mungkin. Walaupun peluangnya untuk terbebas dari Revan sangat kecil tapi Khalisa enggan menyerah.
"Ternyata benar dugaan ku, kamu cantik." Revan menyentuh sehelai rambut Khalisa dan menghirup aromanya.
Ya Allah, tolong aku.
Khalisa berdoa siapapun yang mengangkat teleponnya saat ini bisa segera menemukan dan menolongnya. Khalisa tak henti merapalkan doa kepada Allah agar pertolongan segera datang padanya
*****
Azfan turun dari panggung setelah selesai membaca QS Hud ayat 6, ia lantas bergabung bersama peserta lain di ruang kelas tepat di belakang panggung.
"Masya Allah, ternyata selama ini kamu punya bakat yang selalu kamu pendam baru sekarang muncul ke permukaan." Hasan menepuk bahu Azfan bangga setelah melihat penampilan Azfan baru saja.
"Aku nggak yakin bisa dapat nilai yang baik karena peserta lain juga banyak yang jauh lebih bagus." Azfan menunduk mengusap tengkuknya.
"Jangan khawatir soal itu yang penting kamu sudah menampilkan yang terbaik." Hasan menyodorkan sebotol air mineral pada Azfan.
"Terimakasih Kak." Azfan duduk di salah satu kursi kosong di ruangan itu untuk minum. Ia merogoh saku merasakan ponselnya bergetar panjang tanda ada telepon masuk.
"Azfan good job malam ini, penampilan kamu bagus banget." Levin juga menghampiri Azfan, ia bangga karena tadinya Azfan begitu grogi beberapa jam sebelum lomba dimulai tapi ternyata penampilan Azfan cukup bagus.
"Makasih Kak Levin, ini semua berkat kamu juga." Balas Azfan dengan senyum lebar. Ia bersyukur karena kakak tingkatnya sesama anggota HAWASI memperlakukannya dengan baik bahkan meluangkan waktu untuk melatihnya.
Azfan melihat nama Khalisa pada layar ponselnya, dengan satu kali gerakan ia menjawab telepon tersebut. Azfan menempelkan ponsel di telinganya dan mengucapkan salam tapi tak ada jawaban dari Khalisa. Azfan melangkah keluar kelas menuju tempat yang lebih sepi agar bisa mendengar suara Khalisa.
"Jangan-jangan aku mohon jangan!"
Azfan membelalak mendengar suara teriakan Khalisa yang tidak terlalu jelas karena sepertinya ponsel gadis itu berada di dalam saku. Azfan menempelkan ponselnya lebih dekat lagi. Azfan mendengar suara lelaki lalu disusul teriakan dan tangisan Khalisa. Ada apa ini?
Azfan berlari melewati koridor yang temaram menuju tempat parkir, ia tidak tahu dimana keberadaan Khalisa tapi ia harus segera menemukannya. Suara Khalisa terdengar menggema itu artinya mereka berada di ruangan kosong dan luas.
"Rindang!" Azfan setengah berteriak memanggil Rindang meski ia tidak yakin Rindang yang berada di dalam mobil itu akan mendengarnya. Ia mempercepat laju motornya menyusul mobil Rindang yang hendak keluar dari gerbang utama kampus. Ia membunyikan klakson berkali-kali untuk menarik perhatian Rindang.
"Rindang." Azfan mengentikan motornya tepat di samping mobil Rindang yang berhenti setelah mendengar klakson darinya.
"Azfan." Rindang menurunkan kaca jendelanya. "Kayaknya aku butuh bantuan kamu deh—"
"Khalisa telepon aku." Azfan menunjukkan ponsel yang masih tersambung dengan Khalisa.
"Kalau gitu kita cari Khalisa bareng-bareng, aku yakin dia ada di apartemen, mending kamu naik mobil ku aja deh."
"Iya." Azfan memarkirkan motornya di antara motor yang lain lalu masuk ke mobil Rindang agar mereka lebih cepat menemukan Khalisa.
makasih jg udah kasih kita bacaan yg positif bgt.. aku tunggu karyamu yg lain kak.. sukses terus kaka sayang...😘😘
q bakal kangen ma mereka pasti..😥