Hawa Hasnawi gadis penjual kripik singkong, yang dipaksa menikah dengan pemuda sombong, dingin dan angkuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon harsupi fakihudin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hawa Ngantuk Gara Gara Fariz
Dishowroom
Hawa bangun dari tidurnya
"Papi kemana?" Tanyanya sambil mencari, diruangan yang biasa Anand duduk disana
Tiba tiba Anand membuka pintu, tapi wajahnya sudah berseri karena terkena wudhu
"Pih, papi habis sholat dzuhur?" Tanyanya asal
"Dzuhur?? Lihat jam"
Hawa menoleh pada penunjuk waktu yang nempel ditembok "APA !!!! yang bener pih. Jam 15:30 !!?" Hawa tidak percaya
"Lha emang. Kamu tidurnya aja yang kayak kebo. Ayo siap siap" Ajaknya sambil membenahi kemejanya lagi
"Ehehe papi"
"Apaan?"
"Hawa lapar"
"Itu nasi box ada dimeja pantry"
Hawa langsung berbinar dan menubruk makanan yang ia butuhkan
"Papi, apa papi sudah makan?"
"Sudah. Kalau nungguin kamu, papi pingsan"
-
Beberapa menit, Hawa sudah menyelesaikan makanannya "Piii..."
"Apa!?"
"Hari ini Hawa sudah dikasih duit sama abang" Maksud Hawa, agar Anand jangan memberinya uang
"Terus?"
"Papi nggak usah ngasih duit sama Hawa"
"Yang mau ngasih duit sama kamu siapa?"
"Ish papi, galaknya"
"La wong papi rugi kok. Kamu datang datang tidur. Kerjanya tidur kok mau digaji. Siapa yang mau menjadikanmu karyawan" Omel Anand
Hawa langsung memeluk Anand dari belakang kursi, yang diduduki oleh Anand
"Papi nggak mau kemakan rayuanmu ya?" Tangan Anand mau melepaskan Hawa. Karena Hawa sedikit mencekik
"Ya sudah, kalau nggak mau dirayu" Hawa berdiri, dan mulai mengurai. Hawa bergeser, agar duduk didepan Anand. Tak sengaja, Hawa melihat pengunjung yang datang diwaktu para karyawan siap siap akan pulang
"Papi, lihat" Hawa menunjuk pengunjung yang lihat lihat mobil yang berjajar didepan
"Ayo samperin" Ajak Anand
Setelah sampai disana, ternyata Haidar sudah berdiri mempersilahkan untuk memilih milih
Hawa dipersilahkan Anand untuk menangani pengunjung tersebut.
"Bagaimana pak, ada yang bisa saya bantu" Hawa
"Maaf mbak, begini mbak. Saya memiliki dana kira kira 100 jutaan. Tapi saya ingin mobil seken. Namun, mesinnya yang masih bagus, dan juga, masih enak dipakai. Kira kira yang mana ya mbak?" Pengunjung
"Oh silahkan pak. Sebelah sini pak. Disini ada produk dari Toyota. Ada Etios, Agya, Calya, Yaris, Avanza" Hawa menjelaskan type hingga tahun produksi
Pengunjung manggut manggut faham
"Jika bapak ingin produk dari Daihatsu, Nissan, disini juga ada. Disini pak" Hawa menunjukkan mobil yang berjajar rapih. Membuka kapnya, lalu tempat duduknya, dan menjelaskan yang bisa Hawa jelaskan
"Kalau ini mbak?" Pengunjung tertarik dengan Chevrolet
"Oh ini Chevrolet spin A/T 2013. Body masih bagus, mesin halus, kilometernya masih sedikit. Mungkin dulu, mobil ini hanya dipajang doang kali pak, sama pemiliknya hehe"
"Bisa aja mbaknya" Pengunjung
"Mau dicoba pak?" Hawa
"Boleh deh" Pengunjung
Hawa masuk, dan duduk dikursi kemudi. Ia menjalankan mesinnya setelah Haidar memberi kontak mobil tersebut.
"Wah, suaranya halus kan pak?"
Anand senyum senyum saja, dia hanya diam, tidak memberi bantuan apapun.
Setelah harga yang dibandrol dan sedikit nego dan nego, akhirnya deal
"Ok, saya ambil chevrolet yang ini mbak. Sekarang, pembayarannya sama siapa ya mbak?"
"Haidar, tolong urus bapaknya. Karena kami masih ada kepentingan lain. Hawa, ayo kita pulang. Haidar, tolong diurus ya? maaf ya pak, kami harus pulang dulu, karena ada kepentingan. Nanti, surat suratnya, akan diurus sama pegawai disini" Anand
"Baik pak" Ucap pengunjung dan Haidar
-
Didalam mobil, Anand senyum senyum
"Papi kenapa senyum senyum?" Hawa sedikit cemberut
"Itu, lihat kuda pony, berwarna rainbow" Anand melihat sesuatu diluar sana
"Oh, kirain papi lihat cewek"
"Hus"
"Maaf pih. Maaf ya pi" Hawa tidak enak. Hawa sudah menjewer telinganya dengan tangan yang bersilang. Tapi Anand hanya diam
"Papi.." Hawa melepas tangannya, lalu berpindah, bergelayut dilengan Anand
"Hmm"
"Maafin Hawa ya pih" Tulus Hawa
"Hmm"
"Papih... Ih menyebalkan" Hawa melepaskan tangannya pada lengan Anand "Memangnya Hawa tau, hmm itu artinya apa" Hawa cemberut
Anand tiba tiba "Ahahaha"
Hawa menoleh "Papi kenapa sih"
"Sudah fokus"
Hawapun langsung fokus, membelakangi Anand.
Anand mengeluarkan uang "Hawa.."
"Hmmm"
"Heh, sama orang tua kok begitu" Anand memberikan uang pecahan ratusan ribu berjumlah 5 lembar "Fee untukmu"
Hawa melihat duit didepannya, tapi belum mau menerima
"Ini untukmu. Nggak mau?" Anand menarik uangnya kembali
"Mau pih" Hawa diam, tidak jadi menerima uang itu, takut Anand bohong "Katanya papi, hari ini nggak mau ngasih uang"
"Ya sudah kalau nggak mau terima"
"Mau pih" Hawa merebut uang tersebut dan menghitungnya "Waw, ini bener untukku pih"
"Ya bener, memangnya papi bohong"
"Yes, aku sayaaang, papi" Hawa memeluk Anand dan mencium pipi Anand spontan "Eh maaf pih, Hawa terlalu senang"
"Kamu kalau terlalu senang, Nggak memikirkan martabat kamu ya.. Papi jadi curiga sama kamu"
"Curiga apa pih?"
"Kalau kamu dikasih duit pak Casbari, jangan jangan kamu langsung peluk dan mencium pak Casbari"
"Ish papi, ya nggaklah pih. Sama papa Ilham aja nggak berani. Malah belum pernah"
"Ahahaha"
-
Hawa pulang, langsung bersih bersih dan berganti kostum untuk kuliah.
"Papiiii, Hawa berangkat ya pi"
"Eh, iya hati hati"
-
Sementara dipabrik roti
Sorenya, Fariz sudah duduk lagi dimeja kerjanya. Para karyawan, ada yang sibuk bekerja, ada pula yang masih mengikuti lomba.
Tiba tiba Firad datang
"Riz, besok lomba joget jeruk, dan lomba meletuskan balon dengan pasangan" Firad duduk didepan Fariz, sekaligus membawa segepok undangan pesanan Fariz.
"Ah, nggak mikirin. Tanganku sakit. Nih" Tunjuknya pada tangan yang ngelupas
"Wkwkwk, tanganmu terlalu halus Riz. Lihat, punyaku enggak"
Fariz tidak menggubris omongan Firad. Fariz justru mengambil ponsel, dan malah menelpon Hawa
"Kau dimana?" Tanyanya pada Hawa
"Hawa dijalan bang, mau menuju Tangerang"
Fariz langsung mengganti videocall
Fariz tersenyum "Nanti malam abang jemput ya?"
"Iya bang"
Fariz tersenyum, Hawapun membalas "Abang"
"Hmmm"
"Hawa hari ini kaya bang" Pamernya
"Kaya?"
"Iya. Nih duit Hawa banyak" Hawa menunjukkan uang yang dari Fariz pagi hari, dan Anand sore tadi.
"Kenapa duitnya dibawa semua"
"Kan Hawa mau pamer sama abang"
Fariz tepuk jidat "Ya Tuhan..., kalau mau pamer keabang itu yang gepokan. Lembar lembaran begitu dipamerin"
"Jangan salah sangka bang. Jika abang nggak ngasih duit, kayak kemarin kemarin. Masih ada papi yang berani ngasih duit banyak. Gopek lagi tiap hari. Uh cepet kaya Hawa bang"
Fariz tersenyum "Hawa"
"Hmm"
"Hari ini abang mau menyebar undangan untuk resepsi kita minggu depan. Kau bersedia kan?"
"Hah minggu depan? cepet amat bang. Nggak nungguin Hawa wisuda bang"
"Keburu kamu hamil tua Hawa"
Hawa langsung memegang perutnya "Memangnya Hawa hamil?"
"Sstttt dengerin abang, kalau kita sering bikin anak, otomatis kamu akan hamillah"
"Tapi Hawa kan nggak respon weeeek"
"Mau respon ataupun nggak respon, kalau jadi anak, mau apa kamu"
"Abang... Secepat itukah Hawa hamil bang" Hawa sudah mewek
"Ada lakinya kok gitu sih. Abang kan tanggung jawab"
"Bukan masalah tanggung jawab... Kuliahku bagaimana abang.."
"Ahahaha. Kuliah ya kuliah, hamil ya hamil. Kenapa dicampur adukkan"
"Abang nggak malu?"
"Kenapa musti malu Hawaaaaaaa" Fariz tepuk jidat
BERSAMBUNG.......
trenyuh aku..... banyu moto gak bisa mandek....
trenyuh aku..... banyu moto gak bisa mandek....