Kaira Luna adalah seorang wanita yang hampir memasuki usia seperempat abad itu pun selalu disuruh menikah oleh ibu tirinya karena dia ingin memanfaatkan Kaira agar memiliki kehidupan yang mewah.
Tak disangka dia bertemu dengan seorang pria dengan cara yang tidak mengenakkan bahkan membuatnya kesal. Namun, siapa sangka dia akan terlibat dengan pria itu seumur hidupnya?
Dia adalah Eren William, Seorang tuan muda sekaligus CEO dari perusahaan William yang terkenal dingin dan kejam, serta memiliki kekuasaan tiada tara bahkan tak seorang pun bisa melawannya. Namun, siapa sangka dia adalah pria playboy kelas kakap?
Akankah pernikahan Kaira dan Eren bertahan hingga akhir hayat mereka? Atau pernikahan kontrak ini berakhir ditengah jalan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ajeng Rizqita Bukowski, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Berulah
Beberapa hari wanita itu disini, beberapa hari pula Kaira merasakan kurangnya kasih sayang dari suaminya padanya. Dia adalah istri sahnya, namun dia bagaikan wanita simpanan ataupun tamu tak diundang yang selalu berada ditengah mereka. Bahkan Eren akan selalu lebih membela Clara melebihi dia membela Kaira tak peduli siapapun itu yang salah. Kaira hanya bisa pasrah sambil mencoba untuk merebut kembali cinta suaminya
Hari ini adalah jadwal untuk kaira kontrol ke dokter
"Mas... Sekarang waktunya aku kontrol. Anterin aku ya?" Kaira merayu suaminya
"Manja banget sih jadi cewek." Eren menarik tangannya kasar hingga Kaira hampir terjatuh
"Kamu itu kan bisa kontrol ditemani bibi. Hari ini, aku mau anterin Clara beli kebutuhannya di supermarket."
"Apa? Kamu bahkan lebih memilih untuk menemani wanita itu belanja dibandingkan menemaniku kontrol? Apa kamu ga menginginkan untuk melihat anakmu?" Tanya Kaira
"Mas, aku ini istri kamu. Aku mengandung anak kamu. Jika kamu tidak menginginkanku, setidaknya tengoklah anakmu ini"
"Ahh sudahlah. Kamu semakin lama semakin cerewet saja. Pokoknya,kamu kontrol ditemani oleh bibi." Eren meninggalkan kaira yang diam mematung sendirian
Clara lewat dihadapannya sambil menjulurkan lidahnya
"Wlee, Tetap saja kan aku yang menang"
Ya, ya. Kamu memang wanita penggoda sejati. Aku tidak bisa membandingkan diriku dengan dirimu dalam hal ini
Kaira memutuskan untuk memulai hidupnya dengan mandiri. Dia ingin membiasakan hidupnya tanpa Eren layaknya dulu kala. Dia harus bisa, dia harus kuat dan dia harus sabar menghadapi segalanya. Namun, saat diatas...
Kaira melihat Clara sedang memberikan minyak didepan pintu kamarnya
"Clara, apa yang kamu lakukan?!!" Clara kaget dan panik saat mengetahui Kaira sedang memergoki dirinya. Clara mendorongnya dengan kuat hingga membuat Kaira hampir terjatuh
"Ahhh" Teriak Kaira. Eren yang mendengarkan teriakan Kaira sesegera mungkin menuju keatas. Namun, Clara lebih cerdik dari perkiraannya
Gawat, jika Eren mengetahuinya, tamatlah riwayatku. Nak, maafin mama ya. Batinnya dalam hati.
Clara berpura-pura akan menolong Kaira hingga Kaira bisa berdiri kembali dan dia menjatuhkan dirinya sendiri seakan kaira yang melakukan hal tersebut padanya.
"Ahhh... Eren, tolong aku...."Teriak Clara.
Kaira mengulurkan tangannya untuk membantu wanita itu
PLAKKK
Tangannya ditampel oleh Eren
"Ga nyangka ya aku menikahi wanita keji sepertimu. Jika terjadi sesuatu padanya dan bayinya, aku tidak akan pernah memaafkanmu" Celetuk Eren
"Mas, ini tidak seperti yang kamu lihat. Dia, dialah yang menginginkan untuk mencelakaiku. Aku hanya berusaha untuk.membantunya, namun aku tidak tahu mengapa dia terjatuh" Kaira mencoba tuk menjelaskan
Darah segar mengalir dari kaki Clara dan Eren melihat minyak yang ada dibawah kakinya.
"KAIRA, APA KAMU YANG MELAKUKAN INI?" Eren marah besar kali ini.
Kaira menjawabnya dengan gelengan. Mata Eren tertuju pada botol minyak yang berada disaku Kaira
"Lalu, apa ini?" Tanya Eren sambil menunjukkan sebuah botol yang ada ditangannya
"A-aku juga tidak tahu mengenai ini. Clara yang melakukannya mas bukan aku. Percayalah" Eren membungkam mulutnya. Dia membawa Clara yang telah dipenuhi oleh darah dan membawanya ke rumah sakit. Kali ini, Kaira mengikuti suaminya dengan menggunakan mobil pribadi miliknya.
..............
Sesampainya disana...
"Clara, kamu harus kuat. Jika tidak, aku akan menghukummu" Eren terlihat sangat panik saat itu. Berbeda saat Kaira yang terluka dan dilarikan kerumah sakit beberapa waktu yang lalu. Dia bahkan tidak benar-benar peduli pada istrinya. Entah ini hanyalah obsesi Eren
"Ahh, auhhh ahhh" Kaira merasakan perutnya yang sakit luar biasa. Tak lama kemudian, Kaira pingsan disana. Untung saja ada seorang suster yang kebetulan lewat
Eren acuh tak acuh terhadapnya. Dia tidak peduli dengan apapun mengenai Kaira saat ini walau beberapa orang telah memanggilnya untuk datang. Eren sungguh kecewa dengan istrinya kali ini.
Beberapa menit kemudian, dokter yang menangani Clara keluar dari ruangan itu
"Dok, gimana kondisi teman saya?"
"Apakah keluarganya tidak datang kemari?" Tanya dokter itu. Eren menjawabnya dengan gelengan kepala samar-samar.
"Ibu Clara tidak apa-apa. Tapi..."
"Tapi kenapa dok?"
"Tapi, bayinya tidak bisa diselamatkan" Jawab dokter tersebut. Setelah itu, dia berlalu pergi.
Eren masuk kedalam ruang IGD tersebut dan melihat kondisi Clara yang lemah. Dia telah sadar. Clara awalnya biasa-biasa saja. Dia memang sedari awal tidak menginginkan bayi tersebut.
Saat Clara melihat Eren memasuki ruangan, Clara berpura-pura depresi dan stress akibat anaknya yang meninggal sebelum lahir kedunia tersebut.
"Huhu, anakku!!! Kemana anakku? Anakku ga mungkin mati kan? Eren, mana bayiku?" Ucap Clara yang mengacak-acak rambutnya itu. Dia mirip sekali dengan orang yang berada di rumah sakit jiwa saat ini.. Namun, dia tak peduli selama tujuannya dapat tercapai, yaitu mendapatkan tuan muda William kembali menjadi miliknya.
"Sabar ya, Clara. Aku turt bersedih untukmu" Eren memeluknya dan menguatkannya
"Enggak. Aku ga terima anakku dibunuh oleh wanita itu. Kamu harus memberikan keadilan untukku. Dia sudah merenggut nyawa anakku" Clara memprovokasi Eren. Eren tersulut oleh ucapan Clara layaknya sebuah kertas yang berada ditengah-tengah kobaran api
Eren langsung mencari keberadaan Kaira saat ini. Eren membuka pintu kamar Kaira yang sedang dilakukan pemeriksaan oleh dokter.
"KAIRA!!!" Kaira dan dokter itu melihat kearah datangnya suara tersebut. Eren sudah tak peduli dengan keberadaan dokter disana. Urat malunya mungkin sudah putus saat menahan emosi tadi.
"Pak, baik-baik sama istrinya. Istri bapak tadi mengalami benturan yang cukup keras, untungnya bayinya tidak kenapa-kenapa."
Pasalnya, tadi saat Clara mendorongnya, Kaira sempat terbentur oleh dinding namun itu tidak terlalu parah hanya menyisakan rasa sakit yang bahkan dia sendiri tidak bisa merasakan itu. Dia telah mati rasa.
Eren hanya melirik dengan tatapan tajam ke dokter tersebut. Dokter itu seketika bungkam dan tak berani mengucap sepatah kata pun. Eren dengan kasarnya menarik Kaira seperti waktu itu. Matanya memerah, entah apalagi yang akan dia lakukan untuk menghukum istrinya.
"Mas, sakit mas..." Kaira meneteskan air mata.
"DIAM!!!" Bentaknya
...............
Sesampainya dirumah....
Eren melemparkan Kaira ke ranjang kamarnya. Untung saja Kaira mendarat dengan aman.
"Sekarang, kamu beresin baju-baju kamu dan pergi dari sini. Aku muak melihat wajahmu" Ucap Eren
"Apa? Kau mengusirku demi perempuan murahan itu? Tapi kenapa?" Protes Kaira.
PLAKKK
"Jaga ucapanmu itu. Siapa yang lebih rendahan dari wanita licik sepertimu? Ingat baik-baik. Aku tidak akan mencintai seseorang yang membunuh anak orang lain secara sengaja" Kata-kata Kramat itu keluar dari mulutnya. Dia seakan telah melupakan semua yang terjadi diantara dia dan Kaira beberapa bulan lalu. Kaira hanya bisa menangis dan mengemasi barangnya. Dia benar-benar tidak mengetahui kemanakah dia harus pulang sekarang. Ketakutannya beberapa hari ini akhirnya terjadi juga.
"Kamu pria yang kejam. Kamu tahu bahkan anakmu sendiri hampir dibunuh olehnya. Lalu, kenapa aku yang harus pergi bukan dia?" Ucap Kaira dengan nada meninggi
"Bisa jadi kan dia memang tidak menginginkan anak itu, namun dia memperalat anaknya sendiri demi mendapatkanmu?"
"Jangan coba-coba memfitnah seseorang. Mana ada ibu yang menginginkan anaknya mati dan sengsara?" Jawab Eren
"Kamu perlu tahu, mas. Aku sama sekali tidak pernah memiliki pemikiran jahat untuk mencelakai seseorang. Aku tahu kau orang yang cerdas dan kita sudah hidup selama hampir satu tahun bersama. Aku yakin dalam hatimu pasti tahu jika seorang wanita baik-baik tidak akan meninggalkan seseorang yang tulus mencintainya hanya demi harta, pekerjaan dan jabatan. Ingat itu" Ucap Kaira.
Kaira pergi melewati Eren. Eren diam terpaku. Perkataan Kaira sekali lagi mengingatkannya terhadap masa lalunya yang kelam bahkan selalu dalam kesedihan dan kegalauan hingga Kaira hadir dalam hidupnya. Namun, gengsinya terlalu besar untuk mencegah istrinya pergi dari rumahnya. Dia membiarkan Kaira yang tengah hamil anaknya pergi begitu saja.
Kaira terdiam sejenak didepan pintu kamar mereka.
"Suatu hari nanti kebenaran akan terungkap. Yang benar akan selalu menang." Kaira berlalu pergi setelah mengucapkannya. Eren menunduk dan merenungkan apa yang telah Kaira katakan. Dia merasakan Dimata kaira terdapat kekecewaan yang sangat besar
DONE YA