Cinta yang tulus terkadang harus rela melepaskan, meski hati tak pernah benar- benar siap.
Tiga tahun menjalani pernikahan, Elma akhirnya menyadari jika Maxime tidak pernah tulus mencintainya. Perjodohan dua keluarga itu nyatanya harus hancur karena bedanya prinsip, kerasnya ego dan kesalahpahaman yang dipendam.
Akankah Elma sanggup bertahan atau justru memilih melepaskan pria tersebut. Lantas bagaimana dengan Maxime! Akankah pria itu menyadari perasaannya.
#cintabutuhperjuangan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chayahuda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KEHANGATAN KELUARGA SINCLAIR
Malam ini pesta perayaan berlangsung begitu meriah, acara berlangsung di kediaman utama keluarga sinclair. Para tamu yang hadir berasal dari berbagai kalangan, mulai dari pengusaha ternama, tokoh penting, hingga rekan bisnis keluarga Sinclair yang selama ini memiliki hubungan erat dengan perusahaan mereka.
Keluarga Sinclair selalu menjadi salah satu pusat perhatian dalam setiap acara besar. Bukan semata-mata karena kekayaan yang mereka miliki, melainkan karena pengaruh besar yang telah dibangun keluarga tersebut selama beberapa generasi.
Di antara para tamu yang hadir, keluarga Sinclair memiliki tempat tersendiri. Nama mereka dikenal luas dalam berbagai bidang, mulai dari industri, investasi, teknologi, hingga hiburan. Tidak mengherankan jika kehadiran mereka selalu menarik perhatian.
Elma berdiri di samping Maxime dengan penampilan anggun. Gaun yang dikenakannya terlihat sederhana tetapi elegan, sementara rambutnya ditata rapi. Sejak memasuki kediaman beberapa orang telah menyapanya, terutama mereka yang mengenal keluarga Laurent.
Namun, perhatian Elma malam itu lebih banyak tertuju pada keluarga suaminya.
Di salah satu sudut ballroom, ia melihat Alexander dan Vivienne Sinclair sedang berbincang dengan Richard Sinclair dan Margaret Sinclair, Kakek dan oma Maxime. Senyum Elma langsung mengembang kala itu.
"Oma!" Sapanya dengan manja.
Margaret menoleh. Begitu melihat Elma, perempuan lanjut usia itu segera mengembangkan senyumnya. "Ah, akhirnya cucu perempuan kesayangan Oma datang juga."
Elma mendekat lalu mencium pipi Margaret dengan penuh kehangatan. "Oma sudah menunggu lama?"
"Sudah cukup lama. Oma bahkan hampir mengira cucu Oma yang satu ini sengaja menghindar."
Elma tertawa kecil. "Mana mungkin, Oma. Elma justru sudah mencari Oma sejak tadi."
"Benarkah? Kalau begitu, kenapa kamu tidak langsung datang?"
"Saya harus memastikan Oma tidak sedang membicarakan keburukan saya dengan Kakek."
Richard yang berdiri di samping Margaret langsung tertawa. "Sayangnya, kamu terlambat. Istriku sudah menceritakan banyak hal tentangmu."
Elma memasang wajah terkejut. "Kakek!"
Margaret tertawa puas. "Lihat, Richard? Dia sudah mulai membela diri sebelum kita mengatakan apa pun."
Maxime yang berdiri di belakang Elma hanya menggeleng pelan. "Kalian bertiga sepertinya sudah memiliki kelompok sendiri."
Margaret menoleh kepada cucunya. "Memangnya kenapa? Kamu iri karena tidak diajak?"
"Tidak, Oma. Saya hanya heran bagaimana Elma bisa begitu mudah memenangkan hati Oma."
"Karena istrimu jauh lebih menyenangkan daripada cucuku sendiri."
Richard kembali tertawa, sementara Alexander dan Vivienne hanya saling bertukar pandang dengan senyum geli.
Maxime menghela napas pendek. "Sepertinya saya memang tidak punya kesempatan untuk menang."
"Setidaknya kamu menyadari itu," sahut Margaret santai.
Elma tidak mampu menahan tawanya.
Di hadapan keluarga Sinclair, ia tidak pernah merasa harus menjaga sikap secara berlebihan. Mereka memperlakukannya dengan hangat, bukan hanya sebagai istri Maxime, melainkan sebagai bagian dari keluarga. Terutama Margaret, Oma Maxime itu selalu memiliki cara tersendiri untuk membuat Elma merasa diterima. Hubungan mereka bahkan terkadang lebih menyerupai dua sahabat yang gemar bertukar lelucon daripada seorang nenek dan cucu perempuan.
"Bagaimana kabarmu, Elma?" tanya Vivienne sambil menyentuh lembut lengannya.
"Saya baik, Mama. Bagaimana dengan Mama dan Papa?"
"Kami juga baik. Hanya saja, sepertinya akhir-akhir ini Maxime terlalu sibuk dengan pekerjaannya." Alexander melirik putranya.
"Sepertinya itu sudah menjadi kebiasaan." Maxime tidak membantah.
"Perusahaan sedang memiliki beberapa agenda penting, Papa."
"Selalu ada alasan untuk pekerjaan," sahut Alexander. "Kamu harus ingat bahwa kehidupan tidak hanya tentang perusahaan."
Elma melirik Maxime sekilas. Ia tahu betul bagaimana padatnya jadwal pria itu.
Margaret tiba-tiba menyela.
"Benar sekali. Bahkan Oma sudah beberapa kali meminta Maxime datang berkunjung, tetapi cucuku itu selalu punya alasan."
"Oma, saya datang ketika ada waktu."
"Kapan? Saat perusahaanmu libur selama tiga hari?"
Maxime terdiam sejenak.
Elma menunduk, menyembunyikan tawanya.
Vivienne kemudian mengalihkan pembicaraan dengan menanyakan pekerjaan Elma. Ia memang mengetahui bahwa menantunya bekerja sebagai seorang pengacara dan memiliki reputasi yang cukup baik.
"Bagaimana dengan pekerjaanmu, Elma? Apakah semuanya berjalan lancar?"
"Sejauh ini cukup baik, Mama. Ada beberapa perkara yang sedang saya tangani, tetapi masih bisa dikendalikan."
"Jangan terlalu memaksakan diri. Kesehatanmu tetap harus menjadi prioritas."
"Baik, Mama."
Margaret mengangguk setuju. "Dan kalau kamu merasa terlalu lelah, datanglah ke rumah Oma. Kita bisa menghabiskan waktu bersama. Oma punya banyak cerita yang belum pernah kamu dengar."
"Termasuk cerita tentang Kakek?" tanya Elma menggoda.
Richard langsung menoleh. "Jangan dengarkan semua cerita Oma. Sebagian besar sudah dilebih-lebihkan."
Margaret mengangkat alis. "Richard, apakah kamu sedang menuduh Oma berbohong?"
"Tentu saja tidak, Sayang."
"Bagus. Karena Oma masih punya banyak cerita tentang masa mudamu."
Alexander tertawa mendengar percakapan kedua orang tuanya. Elma semakin merasa nyaman. Ada sesuatu yang selalu membuatnya bahagia ketika berada di tengah keluarga itu. Kehangatan mereka terasa begitu tulus, jauh dari kesan keluarga berpengaruh yang selalu menjaga jarak dengan orang lain.
Tidak lama kemudian, Celeste Sinclair datang menghampiri mereka bersama suaminya.
"Kak!"
Maxime menoleh. "Celeste."
Perempuan itu tersenyum lebar sebelum memeluk kakaknya. Setelah itu, ia beralih kepada Elma. "Kak Elma!"
Elma menyambutnya dengan hangat. "Celeste, akhirnya datang juga."
"Maaf, tadi kami harus menyapa beberapa orang. Aku juga sempat berbincang dengan salah satu teman Papa."
Celeste kemudian memperkenalkan suaminya kepada Elma, meskipun mereka sebenarnya sudah beberapa kali bertemu sebelumnya.
"Bagaimana kabarmu?" tanya Elma.
"Baik. Sangat baik, terutama karena akhirnya kami bisa pulang dan berkumpul bersama keluarga."
Suami Celeste tersenyum ramah. "Senang bisa bertemu denganmu lagi, Elma."
"Kalian sudah berapa lama berada di sini?" tanya Maxime.
"Baru beberapa jam. Kami sebenarnya ingin datang lebih awal, tetapi ada beberapa urusan yang harus diselesaikan," jawab Celeste.
Suaminya merupakan seorang ilmuwan yang bekerja dalam bidang penelitian dan pengembangan teknologi. Kesibukan pekerjaannya membuat mereka lebih banyak menghabiskan waktu di luar negeri. Berbeda dengan Maxime yang mengelola berbagai lini bisnis keluarga, suami Celeste memiliki kehidupan profesional yang jauh dari dunia korporasi. Meski demikian, keluarga Sinclair selalu menghargai pilihan dan pencapaiannya.
"Bagaimana penelitianmu?" tanya Alexander kepada menantunya.
"Masih berjalan, Ayah. Kami sedang mengembangkan beberapa proyek baru. Sepertinya saya masih harus kembali dalam beberapa minggu."
Margaret menghela napas. "Baru saja datang, sudah membicarakan kepulangan."
Celeste tertawa. "Jangan khawatir, Oma. Kali ini kami akan tinggal lebih lama."
"Bagus. Oma ingin menghabiskan waktu bersama kalian. Sudah terlalu lama rumah itu hanya dipenuhi Richard yang sibuk membaca koran dan Alexander yang sibuk dengan teleponnya"
Celeste kemudian merangkul lengan Elma.
"Kak Elma, lain kali kita harus menghabiskan waktu bersama. Aku punya banyak cerita yang ingin kusampaikan."
"Tentu. Aku juga ingin mendengar ceritamu selama tinggal di luar negeri."
"Kalau begitu, jangan biarkan Kak Maxime membawa Kak Elma pulang terlalu cepat."
Maxime melirik adiknya. "Celeste."
"Apa? Aku hanya mengajak Kak Elma menghabiskan waktu."
Margaret langsung mendukung cucu perempuannya. "Biarkan saja. Sekali-kali Maxime harus belajar menunggu."
Elma hanya tersenyum. Malam itu, ia benar-benar menikmati kebersamaan mereka.
Di sisi lain, keluarga Laurent juga telah tiba.
Adrian dan Isabella Laurent datang bersama Evelyn. Mereka sempat berbincang dengan beberapa tamu sebelum akhirnya menghampiri keluarga Sinclair. Adrian menyapa Alexander dan Richard dengan ramah. Kedua keluarga tersebut memang telah lama memiliki hubungan bisnis yang erat. Sementara itu, Isabella berbincang dengan Vivienne dan Margaret. Evelyn yang berdiri tidak jauh dari mereka memperhatikan Elma. Ada sedikit keraguan sebelum akhirnya ia memutuskan untuk mendekat.
"Elma."
Elma menoleh. "Ya Evelyn."
Perempuan itu tersenyum tipis. "Aku sebenarnya ingin mengucapkan terima kasih kepadamu."
Elma sedikit mengernyit. "Untuk apa?"
"Tentang masalah agensiku. Aku dengar semuanya sudah selesai."
Elma mengangguk. "Ya. Pihak agensi sudah membatalkan tuntutan mereka. Jadi, kamu tidak perlu mengkhawatirkan masalah itu lagi."
Evelyn menghela napas lega. "Syukurlah. Aku benar-benar tidak menyangka semuanya bisa selesai secepat itu."
Ia kemudian menatap Elma dengan ekspresi yang lebih serius. "Kamu memang hebat, Elma."
Ucapan itu terdengar tulus, tetapi Elma hanya menanggapinya dengan senyum tipis. "Aku hanya melakukan pekerjaanku."
"Tetap saja. Tidak semua orang bisa menyelesaikan masalah seperti itu."
Elma tidak ingin membahas perkara tersebut lebih jauh. Baginya, kasus itu sudah selesai dan tidak ada alasan untuk mengungkitnya kembali di tengah acara keluarga.
"Yang terpenting sekarang semuanya sudah baik-baik saja. Semoga ke depannya kamu lebih berhati-hati."
Evelyn mengangguk. "Ya. Aku akan mengingatnya."
Setelah berbincang sebentar, Evelyn kembali bergabung dengan keluarganya.
Maxime yang sejak tadi berada di samping Elma memperhatikan percakapan tersebut.
"Kalian sudah berdamai?" tanyanya.
Elma mengangguk. "Sepertinya begitu."
"Bagus." Maxime tidak mengatakan apa-apa lagi.
Elma tidak perlu tahu jika ia ikut terlibat dalam penyelesaian kasus Evelyn, mereka baru berbaikan dan Maxie tidak ingin hubungannya dengan Elma kembali merenggang karena masalah ini.
☆