Di dunia tempat kekuatan menentukan segalanya, Wang Dahu hanyalah seorang pecundang—pemuda bertubuh gemuk yang tak mampu berkultivasi, dihina orang lain, bahkan dipermalukan oleh wanita yang dicintainya.
Ketika semua harapannya hancur, ia mendatangi Danau Pengabul Keinginan, tempat terlarang yang konon menyimpan rahasia mengerikan. Di sana, ia membuat perjanjian dengan iblis kuno demi memperoleh kekuatan.
Namun, sesuatu yang mustahil terjadi.
Alih-alih kehilangan tubuh dan jiwanya, Wang Dahu justru menyerap kekuatan sang iblis!
Kini, rahasia yang terkubur selama ribuan tahun mulai terbangun. Seorang lelaki yang dahulu diinjak-injak perlahan melangkah menuju puncak dunia kultivasi.
Tetapi, jika iblis kuno pun ketakutan terhadap tubuhnya, sebenarnya siapa Wang Dahu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LanzT0k3, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24 — Harta di Balik Kabut Merah
Kabut merah yang pekat menggantung rendah, menyelimuti area terdalam Hutan Kabut Merah.
Wang Dahu berdiri mematung di balik batang pohon purba. Pandangannya lurus mengunci sepasang titik merah menyala yang berkelebat di antara tirai kabut.
Aura buas yang dipancarkan oleh entitas di hadapannya itu jauh melampaui level monster mana pun yang pernah ia hadapi sebelumnya.
“Beruang Kabut Merah,” suara si iblis mendadak terdengar tajam di dalam batinnya. “Kekuatan monster itu setara dengan kultivator Pembukaan Meridian tingkat keenam. Kau benar-benar hobi mencari penyakit, ya.”
Dahu mengamati sosok kolosal yang perlahan melangkah keluar dari pekatnya kabut.
Tinggi beruang itu hampir mencapai tiga meter. Seluruh tubuhnya dibalut bulu merah tua legam, sementara uap kabut beracun mengepul tipis dari pori-pori kulitnya. Sepasang cakar depannya melengkung tajam bagaikan bilah belati raksasa.
“Apa kau punya masukan bagus?” tanya Dahu tenang.
“Lari.”
Dahu menyunggingkan senyuman tipis. “Saran yang sangat solutif.”
“Bocah kurang ajar!”
Dahu tidak lagi menanggapi ocehan itu. Ia mengedarkan pandangan, memetakan kontur medan di sekitarnya: Di sisi kanan terhampar lereng tanah berbatu curam, sementara di belakang sang beruang tumbuh jalinan akar pohon raksasa yang mencuat ke permukaan tanah.
Dan yang paling penting—tepat di dekat sarang beruang itu, tumbuh subur rumpun tanaman Rumput Kabut Merah yang ia cari.
Jumlahnya jauh lebih melimpah ketimbang yang ia temukan di sepanjang perjalanan. Namun harga untuk memetiknya adalah harus berhadapan dengan monster penjaga yang mematikan.
Dahu menarik napas dalam-dalam, mengatur ritme sirkulasi Qi di dantiannya.
Kali ini, ia tidak berniat lagi menyembunyikan level kekuatannya.
“Kalau begitu... mari kita uji seberapa kuat batasanku sekarang.”
ROAAARRR!
Beruang Kabut Merah itu melontarkan raungan memekakkan telinga. Tubuh masifnya melesat beringas, merangsek maju dan merobohkan setiap pohon kecil yang menghalangi jalurnya.
Dahu tidak bergeming.
Ia mencurahkan seluruh energi spiritual dari tingkat keempat Pembukaan Meridian tanpa menahan diri sedikit pun. Mengambil posisi kuda-kuda kokoh yang dipelajarinya dari modul latihan Sekte Awan Surgawi—
Tinju Pemecah Batu!
Jurus dasar andalan sekte itu meluncur telak berpadu dengan kepalan tangannya.
DUUMMM!
Benturan keras antara kepalan Dahu dan cakar sang beruang menciptakan gelombang kejut angin yang menyapu dedaunan kering di tanah. Pijakan kaki Dahu amblas beberapa sentimeter ke dalam tanah, sementara tubuhnya terdorong mundur sejauh tiga langkah.
Sensasi ngilu menjalar hebat dari pergelangan tangan hingga bahunya.
Namun, ia berhasil menahan hantaman itu!
“Oh? Jurus sekte murahan itu lumayan juga di tanganmu,” puji si iblis di dalam batin.
Dahu mengabaikan pujian itu. Ia sigap memutar poros kakinya, mengalihkan aliran Qi menuju telapak tangannya, lalu melancarkan serangan balasan.
Telapak Gunung Runtuh!
BAM!
Telapak tangan Dahu mendarat telak di rusuk sang beruang. Sialnya, lapisan bulu tebal dan perisai Qi alami monster itu meredam sebagian besar daya hancur serangannya.
Beruang itu mendengus marah, lalu mengayunkan cakarnya secara horizontal.
Dahu telat sepersekian detik menghindar.
SRETT!
Cakar tajam itu menyambar bahunya, meninggalkan luka robek yang langsung mengucurkan darah segar. Dahu melompat mundur untuk menjaga jarak.
“Jurusmu memang tidak buruk,” cibir si iblis. “Tapi kulit monster itu terlalu tebal untuk kau lukai hanya dengan tektokan biasa.”
“Diam dan tonton saja.”
Dahu mengatur napasnya yang mulai memburu. Ia memanggil kembali ingatan saat menyimak gerakan para instruktur di lapangan latihan sekte: transisi perpindahan berat badan, cara mengalirkan Qi secara eksplosif, hingga momentum pelepasan tenaga.
Ia belum pernah menggunakan seluruh elemen itu secara simultan dalam pertarungan hidup-mati. Sekarang adalah momen pembuktiannya.
Beruang Kabut Merah kembali menerjang buas.
Dahu bergerak gesit menyamping, memanfaatkan batu karang di sisinya sebagai pijakan untuk melompat tinggi mengincar sisi kepala sang monster.
Tinju Pemecah Batu!
DUUMMM!
Pukulan telak menghantam pelipis beruang. Monster itu terhuyung pusing, namun balas mengibaskan ekor dan cakarnya membabi buta. Dahu terpental keras dan menubruk batang pohon di belakangnya.
Ugh! Darah segar menetes dari sudut bibirnya.
Aku tidak bisa terus-terusan adu tenaga mentah seperti ini, batin Dahu memutar otak. Ia harus menciptakan celah fatal.
Ia sengaja memancing amarah monster itu dengan berlari mundur ke arah lereng berbatu terjal, memastikan sang beruang terus mengejarnya dalam garis lurus.
Saat beruang itu mengangkat kedua cakar depannya untuk melancarkan pukulan pamungkas, Dahu mendadak menjatuhkan diri berguling ke samping.
BAM!
Cakar masif itu menghantam dinding lereng dengan kekuatan penuh.
KRAAAK!
Batuan besar runtuh berhamburan. Sesaat setelah menghantam tanah, beruang itu mengalami lag sesaat—keseimbangannya terganggu akibat beban tubuhnya sendiri.
Dan di detik itu juga, celah di bawah leher sang beruang tersingkap terbuka!
Dahu mengerahkan seluruh sisa tenaga Qi di tangan kanannya.
“Sekarang!”
Ia melesat bak kilat, menghantamkan telapak tangannya dengan jurus terkuat.
Telapak Gunung Runtuh!
BAM!
Hantaman bertenaga penuh itu sukses menghantam titik buta di leher monster. Lapisan pertahanan Qi beruang itu retak seketika!
Beruang Kabut Merah meraung kesakitan luar biasa. Ia mengamuk membabi buta, mengibaskan cakarnya hingga mengenai Dahu dan melemparnya ke tanah.
Namun Dahu bangkit seketika tanpa memedulikan rasa sakit di tubuhnya. Ia tidak memberi waktu bagi monster itu untuk memulihkan diri.
Tinju Pemecah Batu!
DUUMMM!
Hantaman penutup telak menghantam titik retakan yang sama.
KRAAAK!
Dinding pertahanan mutlak itu pecah berkeping-keping. Tubuh kolosal Beruang Kabut Merah bergetar hebat, sebelum akhirnya ambruk menubruk tanah dengan suara gemuruh yang menggetarkan seluruh hutan.
Keheningan kembali merayap.
Dahu berdiri terengah-engah beberapa meter dari bangkai monster tersebut. Pakaiannya compang-camping, bahunya bersimbah darah, dan sekujur ototnya terasa remuk.
Namun, binar kemenangan bersinar terang di matanya. Ia berhasil merobohkan musuh yang kelas kultivasinya jauh di atasnya menggunakan murni teknik bela diri sekte.
Si iblis terdiam cukup lama sebelum akhirnya berkomentar, “Tidak buruk... Kau membuktikan bahwa otak dan teknik bisa menutup jurang perbedaan kekuatan.”
Dahu menyeringai tipis. “Sudah kubilang, aku ini cepat belajar.”
“Jangan sombong dulu, bocah.”
Usai memulihkan sirkulasi pernapasan dan mengoleskan obat luar pada lukanya, Dahu mulai memutilasi bangkai beruang untuk mengambil inti monster, kulit tebalnya yang bernilai tinggi, serta bagian tulang bertuah.
Setelahnya, ia melangkah mendekati sarang sang monster.
Begitu ia menyingkirkan jalinan akar raksasa, pemandangan di hadapannya membuatnya terpukau.

Di dalam sebuah cekungan tanah yang terlindung, tumbuh subur puluhan batang Rumput Kabut Merah. Dan yang paling mencengangkan, di tengah-tengah rumpun itu terdapat satu tanaman unik dengan formasi sembilan helai daun berwarna merah darah, memancarkan pendaran energi spiritual yang sangat pekat.
“Itu... Rumput Kabut Merah Sembilan Daun?!” seru si iblis terperanjat. “Tanaman langka yang usianya ratusan tahun! Jangan sembarangan kau cabut akarnya!”
Dahu berjongkok, memanen seluruh tanaman obat itu dengan kehati-hatian tingkat tinggi, memisahkan yang biasa untuk misi sekte dan menyimpan varian sembilan daun untuk keperluan pribadinya.
Saat tangannya meraba bagian dasar sarang di balik tumpukan tulang belulang monster, jemarinya menyentuh sebuah benda keras bertekstur kain usang.
Sebuah kantong penyimpanan tua yang telah lama terkubur.
Dahu menarik kantong itu keluar. Meski kondisinya sudah lapuk, segel spiritual di dalamnya masih merespons saat disentuh.
Ia mengalirkan sedikit Qi untuk membuka kantong tersebut. Di dalamnya terdapat beberapa keping batu spiritual berkualitas menengah, beberapa botol kosong wadah obat, serta sebuah buku catatan kulit binatang yang memuat panduan dasar teknik alkimia kuno.
Mata Dahu berbinar terang. Rezeki nomplok!
“Keberuntunganmu ini sudah di luar batas kewarasan,” gerutu si iblis. “Kau membunuh penjaga sarang, memanen tanaman langka, lalu menemukan warisan alkemis tua di tempat sampah? Sialan.”
Dahu membuka-buka buku catatan alkimia itu. Isinya sangat praktis—mencakup manajemen suhu api spiritual, urutan presisi memasukkan bahan herbal, hingga teknik menetralisir racun bahan baku. Bagi pemula sepertinya, catatan itu bernilai setara harta karun sekte.
Ia menyimpan semuanya dengan rapi ke dalam cincin penyimpanannya.
Namun tepat ketika ia hendak berbalik meninggalkan area sarang, ekor matanya menangkap kejanggalan di balik pangkal akar pohon raksasa di sudut lembah.
Sebuah bidang batu rata tampak tertutup lumut tebal dan tanah tebal.
Dahu mendekat, mengikis lumut tersebut dengan sebelah tangannya.
Ternyata, itu bukanlah batu biasa, melainkan sebuah pintu gerbang batu kuno yang terukir dengan pola formasi rumit yang hampir aus tertelan zaman.
Dahu menyipitkan mata. Pintu rahasia?
Di dalam batinnya, si iblis yang tadinya sibuk mengomel mendadak tertegun. Suasana berubah hening seketika.
Beberapa detik kemudian, suara si iblis berbisik dengan nada yang jauh lebih berat dan serius ketimbang sebelumnya.
“Bocah... jangan sembarangan menyentuh ukiran formasi di pintu itu.”
Dahu melirik heran. “Kenapa? Ada bahaya di dalamnya?”
“Aku tidak tahu apa bahayanya,” jawab si iblis pelan. “Tapi instingku mengatakan... dibanding seluruh harta yang kau pungut hari ini, apa pun yang terkunci di balik pintu batu itu nilainya jauh melampaui imajinasimu.”
Dahu menatap lekat-lekat permukaan pintu batu tersebut.
Seulas senyum misterius merekah di bibirnya.
Sepertinya perjalanan hari ini masih jauh dari kata selesai.