Hari pernikahan yang seharusnya menjadi momen terindah berubah menjadi bencana bagi keluarga Abraham. Kakak kandung Alice Sabrina Catrine (Cesa) mendadak kabur tepat di hari H pernikahan demi menghindari perjodohan sepihak. Demi menjaga martabat keluarga, Cesa tidak punya pilihan lain. Menggunakan gaun pengantin yang bukan miliknya, Cesa terpaksa melangkah ke pelaminan untuk menggantikan posisi sang kakak.
Cesa sama sekali tidak mengenal siapa laki-laki yang menjabat tangan ayahnya di depan penghulu. Detik berikutnya, dunia seolah runtuh saat ia mengetahui identitas sang suami: Devano Alvian Mahendra.
Devan adalah paket lengkap dari definisi masalah: terkenal galak, tengil, nakal, dan punya hobi kelayapan malam yang mendarah daging. Sialnya, Cesa bukanlah gadis penurut yang lemah lembut. Cesa adalah gadis cantik berkulit mulus dengan sumbu pendek alias emosi yang mudah meledak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon manggiskaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
si bar bar
mr. Tanaka kemudian berdiri dari kursinya, membungkuk hormat ke arah Cesa, lalu berbalik menatap Devan dengan tatapan penuh rasa kagum yang baru. "Mr. Mahardika. You are a truly unique leader. To prepare yourself with such a traditional, high-energy holy food before presenting to us... it shows your extreme seriousness and respect toward our partnership. In Japan, we highly value spirit and dedication. And your wife... she is a visionary! A very brave and passionate woman!"
Devan yang masih dalam kondisi syok budaya langsung buru-buru membetulkan posisi jasnya, berdehem kencang untuk menguasai diri. "Ah... yes, Mr. Tanaka. Thank you. We always strive to give our maximum... spirit for our partners." Devan melirik Cesa dengan tatapan yang berarti, “Awas lo ya setelah ini.” Namun Cesa hanya membalasnya dengan kedipan mata centil yang menyebalkan.
Mr. Tanaka berbalik ke arah asistennya, memberikan instruksi cepat dalam bahasa Jepang. Sang asisten dengan sigap membuka koper dokumen dan mengeluarkan map berisi draf kontrak kerja sama bernilai ratusan miliar rupiah yang awalnya dijadwalkan baru akan ditandatangani minggu depan setelah melalui proses review yang panjang.
Mr. Tanaka mengambil pulpennya, lalu menandatangani dokumen tersebut di atas meja rapat dengan mantap. Ia menyodorkan dokumen itu kepada Devan dengan senyuman hangat. "We don't need to wait until next week, Mr. Mahardika. A company led by a man with the spirit of the 'Jengkol Warrior' and supported by a brilliant wife like her, will undoubtedly succeed. Let's sign the contract now."
Ruang rapat itu mendadak hening selama dua detik sebelum akhirnya Sekretaris Andi mulai bertepuk tangan dengan air mata haru yang hampir menetes. Devan, dengan perasaan yang masih terasa sangat surealis, melangkah maju dan membubuhkan tanda tangannya di samping tanda tangan Mr. Tanaka. Kerja sama terbesar tahun ini resmi disepakati hanya dalam waktu kurang dari satu jam.
Setelah prosesi bersalaman dan foto bersama selesai, Mr. Tanaka dan delegasinya berpamitan untuk kembali ke hotel. Sebelum keluar dari pintu ruang rapat, Mr. Tanaka sempat berbalik dan menatap Cesa dengan penuh harap. "Madam Cesa... next time I come to Indonesia, could you please arrange a special dinner with this Jengkol Balado for me?"
Cesa langsung mengacungkan jempolnya dengan gaya barbar yang tidak berkurang sedikit pun. "Beres, Mr. Tanaka! Nanti gue suruh koki mertua gue bikin satu kuali besar khusus buat lo! Plus petai mentahnya sekalian biar makin jos!"
Begitu pintu ruang rapat tertutup rapat dan para investor Jepang itu sudah tidak terlihat lagi di koridor lift, Devan langsung melepaskan remote presentasinya ke atas meja. Ia bersandar pada dinding ruang rapat, mengembuskan napas panjang seolah seluruh bebannya baru saja diangkat dari pundaknya.
Ia menatap Cesa yang sedang sibuk memasukkan kembali stoples kacang atomnya ke dalam tas Hermes dengan wajah tanpa dosa.
"Alice Sabrina Catrine," panggil Devan dengan nada suara yang rendah namun bergetar.
Cesa menoleh, menaikkan kacamata hatinya lagi. "Apa? Mau bilang makasih ya karena istri lo yang cerdas, cantik, dan barbar ini baru saja menyelamatkan kerja sama ratusan miliar lo? Gak usah sungkan, cukup tambahkan limit kartu kredit gue aja, beres."
Devan melangkah mendekati Cesa, berdiri tepat di depan gadis itu. Ia menatap mata Cesa dengan lekat. Ada rasa kesal, gemas, marah, tapi di atas semua itu, ada rasa tidak percaya yang sangat besar. "Lo... lo bener-bener cewek paling aneh, paling barbar, dan paling gak waras yang pernah gue temui seumur hidup gue. Bisa-bisanya lo jualan jengkol ke investor Jepang?!"
"Heh, Devan kampret! Di dunia bisnis itu yang penting hasil akhir, tahu gak! Gak peduli caranya gimana, yang penting mereka tanda tangan! Lagian daripada lo, dari tadi tegang banget kayak mau dihukum mati. Untung ada gue, sang penyelamat!" balas Cesa sambil menunjuk dirinya sendiri dengan bangga.
Devan tidak bisa menahan dirinya lagi. Sebuah senyuman tipis—senyuman tulus pertama yang ia tunjukkan sejak pernikahan kacau mereka—akhirnya terukir di sudut bibirnya, meskipun ia segera menghapusnya agar gengsinya tetap terjaga. "Terserah lo deh. Tapi bau jengkol ini tetap salah lo ya! Sekarang, bersihkan meja ini, kita balik ke ruangan gue sebelum karyawan lain masuk dan pingsan karena bau ruangan ini!"
"Siap, Pak Direktur Jengkol! Jangan lupa potong gaji Andi kalau dia berani bocorin rahasia kesuksesan kita hari ini!" seru Cesa heboh sambil menyambar rantang pink-nya, lalu berjalan mendahului Devan keluar dari ruang rapat dengan langkah petantang-petenteng bak pahlawan yang baru saja memenangkan pertempuran besar di dunia korporat. Devan hanya bisa menggelengkan kepala, pasrah mengikuti langkah sang istri sultan yang kebarbarannya benar-benar membawa keberuntungan yang tak masuk akal.