Revano, seorang penulis, tiba-tiba terbangun dalam tubuh Vian-tokoh yang ia ciptakan sendiri.
Sialnya, tubuh itu rapuh, keluarganya berantakan, dan hidupnya jauh berbeda dengan apa yang ia tulis.
Revano mencoba memperbaiki semuanya. Namun semakin lama ia hidup sebagai Vian, semakin banyak rahasia yang terkuak.
Hingga perlahan, satu kebenaran menghantamnya:
Vian bukan sekadar karakter.
Dan mungkin... ia bahkan tidak benar-benar memasuki raga Vian.
Apa yang sebenarnya terjadi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dopamine girl's, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
4
Vian menatap ruangan serba putih tempat ia terbaring. Hanya dirinya di sana-sunyi, dingin, dan begitu asing. Penasaran dalam diri Revano yang kini menghuni tubuh Vian semakin kuat; ia mencoba bangkit, menelusuri setiap sudut ruangan yang terasa steril dan tak berjiwa.
Tiba-tiba suara pintu terbuka. Vian tersentak kecil. Di ambang pintu berdiri Bi Inah, diikuti sepasang suami istri paruh baya yang menatapnya dengan campuran rindu dan kerumitan emosi yang sulit dilukiskan.
"Vian, sini," panggil Bi Inah lembut.
Vian melangkah pelan menghampiri mereka. Tatapannya bertemu mata pasangan itu-orang tua asli pemilik tubuh ini. Mereka tidak mengatakan apa-apa, hanya berdiri mematung dengan mata berkaca-kaca. Hawa haru memenuhi ruangan.
Vian menunduk. Ia tak sanggup menatap mereka yang lebih lama.
"Mommy... Daddy... maafin Vian," bisiknya lirih.
Mereka langsung merendahkan tubuh, mensejajarkan posisi dengan Vian yang jauh lebih kecil dan kurus untuk ukuran anak seusianya.
"Nggak apa-apa, Nak... justru kami yang minta maaf," ucap Diana pelan sebelum merengkuh tubuh ringkih itu dalam pelukan hangat.
Rangga berdiri memandang dalam diam-melihat si bungsu yang dua tahun ini terpisah dari mereka. Tubuh kecil itu terlihat terlalu tipis, kulitnya pucat, bibirnya pecah-pecah. Tapi wajah Vian... wajah itu tetap memesona, seolah boneka hidup yang rapuh sekaligus menggemaskan.
"Vian nggak kangen Daddy?" suara Rangga pecah tanpa sadar, menghentikan pelukan Diana.
Vian menoleh, menatap pria yang dalam cerita selalu ia dengar sebagai sosok dingin dan tak berperasaan. Namun kenyataannya berbeda: suara Rangga lembut, tatapannya teduh-dan gambaran tentang sosok "kejam" itu hancur begitu saja.
"Daddy..." Vian memanggil pelan.
Rangga merenggangkan kedua tangannya. "Come on, baby."
Vian menghampirinya, masuk ke dalam dekapan hangat itu.
"Terima kasih sudah bertahan, baby," bisik Rangga di telinganya.
Vian terdiam. Ada rasa hangat yang perlahan mengisi dadanya-perasaan yang belum pernah ia rasakan sebagai Revano. Di kehidupan lamanya, keluarganya tercerai-berai; ia lebih memilih hidup sendiri daripada menjadi bayangan dalam keluarga baru ayah dan ibunya.
"Terima kasih, Mommy... Daddy. Maaf Vian merepotkan," ucapnya.
Diana mengecup keningnya. "Jangan bilang begitu, sayang. Kamu sama sekali nggak merepotkan."
---
Sementara itu, di Mansion Dharmawangsa, seorang pemuda bertubuh tinggi memasuki rumah. Ia mengerutkan kening. Mansion yang biasanya penuh suara tawa dan obrolan hangat kini teramat sunyi.
"Bi Maya?" panggilnya.
Wanita itu menoleh dan segera mendekat, menunduk hormat.
"Ada apa, Den Vano?"
Revano mengedarkan pandang. "Mommy sama As di mana?"
"Nona kecil ada di kamarnya. Nyonya Diana dan Tuan Rangga pergi menjemput Tuan Muda Vian."
"Apa-Vian?!" seru Revano, terkejut sampai Bi Maya ikut kaget.
"Mom dan Dad pulang kapan?"
"Perkiraan besok siang, Den."
Revano mengangguk singkat, matanya naik ke arah tangga-kamar Ashilia.
"Terima kasih, Bi."
Ia segera menaiki tangga dan mengetuk pintu.
Tok. Tok.
Pintu terbuka memperlihatkan Ashilia dalam keadaan berantakan; mata sembab, rambut acak, jelas habis menangis lama karena ditinggal orang tuanya.
"Kenapa, Hem?" Revano menyentuh mata adiknya yang merah. Ashilia menggeleng kecil lalu memeluknya erat.
"Sudah... nanti Mommy sama Daddy juga pulang," ucap Revano menenangkan sambil mengelus rambut pirang Ashilia.
"Bang Vano... Ashilia mau ikut Mommy..." gumamnya pelan, hampir tak terdengar, tapi jelas di telinga Revano.
Ia mengangkat tubuh adiknya dengan mudah, menggendongnya.
"Kenapa? Kan ada Abang di sini. Mommy dan Daddy pergi untuk jemput Vian."
Ashilia terdiam di gendongannya. Pikirannya mulai liar-ketakutan muncul entah dari mana. Ada rasa tak nyaman yang ia sendiri belum mengerti.
"Kalau Vian pulang... Mommy, Daddy, dan Abang masih sayang sama As kan?" tanyanya tiba-tiba.