Maya menikah dengan Ryan yang berasal dari desa. Setelah menikah mereka tinggal di rumah Maya yang di beli sebelum dia menikah.
Awalnya adik Ryan dan istrinya datang, mereka bilang hanya menumpang sebentar sampai mendapatkan kontrakan baru di Jakarta. Namun sudah sampai sebulan mereka menginap, bukannya pergi malah ibunya Ryan yang dari kampung datang dan ikut tinggal di rumahnya.
Mereka tidak mau bekerja, mereka justru menjadikan Maya sebagai pembantu.
Puncaknya, adik Ryan menampar Maya, sementara Ryan hanya diam saja tanpa membelanya. Saat itu Maya sadar, ia bukan lagi seorang istri di rumah tangganya sendiri.
Maya yang marah akhirnya memilih menjual rumah itu, dan menggugat cerai suaminya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kikoaiko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 4
Suasana di ruang tamu masih terasa canggung ketika Lukman meletakkan tas besar terakhirnya di lantai. Sonya duduk di sofa dengan perut yang sudah membulat, sesekali mengelus perutnya pelan. Kayla berdiri di dekat kaki ibunya, memegang ujung gaun Mia sambil menatap dua orang asing itu dengan rasa ingin tahu.
Lukman mengusap tengkuknya, lalu memandang sekeliling rumah.
“Aku tidur di mana? Kamar di rumah ini cuma dua,” tanya Lukman. Suaranya terdengar sedikit ragu, seolah baru sadar bahwa kehadiran mereka akan mengubah banyak hal.
Rian terdiam sejenak. Pandangannya mencari ke arah istrinya yang masih berdiri di ambang dapur. Ada sedikit rasa bersalah di matanya, tapi lebih banyak ketegasan yang sudah ia putuskan sejak tadi malam.
“Sayang, tolong pindahkan barang-barang Kayla ke kamar kita. Biar kamar Kayla ditempati sama mereka,” perintah Rian. Nada suaranya tenang, tapi jelas tidak memberi ruang untuk diskusi.
Mia menatap suaminya dalam-dalam. Jantungnya berdegup lebih kencang. Ia bisa merasakan jari-jarinya dingin.
“Kayla sudah besar, dia harus tidur sendiri,” ucap Mia dengan alasan yang sudah dipikirkan sejak tadi. Suaranya pelan, tapi ada ketegangan yang tertahan di baliknya.
Rian menggeleng. Ia melangkah mendekati istrinya, lalu menepuk bahu Mia pelan seolah menenangkan.
“Kayla masih dua tahun, sayang. Biarkan dia tidur sama kita dulu. Nanti kalau sudah umur lima tahun, dia bisa tidur sendiri. Nanti kita bikin kamar baru buat dia,” ucap Rian. Senyumnya lembut, tapi matanya sudah memutuskan.
“Tapi…,” ucap Mia. Ia ingin bilang bahwa kamar Kayla sudah ditata dengan susah payah. Ada stiker dinding yang Mia tempel sendiri, ada rak buku kecil yang dibeli dari uang tabungan lama, ada lampu tidur berbentuk bulan yang Kayla sangat suka. Ia ingin bilang bahwa memindahkan anaknya hanya untuk memberi ruang kepada orang lain terasa tidak adil.
Tapi kalimatnya langsung dipotong oleh Rian.
“Mereka hanya sementara, sayang. Tidak terus tinggal di sini,” kata Rian cepat. Ia menoleh ke arah adiknya. “Kamu dengar sendiri, kan? Cuma sementara.”
Lukman dan Sonya saling tatap. Ada sesuatu yang tidak terucap di antara mereka. Sonya menunduk, mengelus kepala putranya, sementara Lukman menggigit bibir bawahnya. Keduanya terlihat tidak nyaman, tapi juga tidak menolak tawaran yang sudah diberikan.
“Biar kami tidur di ruang tamu saja, Kak. Nanti kami pakai kasur lipat aja, tidak apa-apa.” ucap Lukman akhirnya. Suaranya rendah, seolah mencoba mencari jalan tengah.
Rian langsung menggeleng keras.
“Jangan. Kasihan anakmu nanti masuk angin,” seru Rian tidak setuju. Ia menatap perut Sonya yang sudah cukup besar. “Tidur di ruang tamu dingin. Nanti bagaimana kalau Janu demam? Lagipula Kayla masih kecil, dia bisa tidur sama kami. Tidak masalah.”
Mia merasakan dada sesak. Ia menatap putrinya yang masih berdiri di dekatnya. Kayla memandang ke atas, seolah menunggu keputusan orang dewasa.
Mia menelan ludah. Ia Ingin bilang bahwa kamar itu milik Kayla. Ingin bilang bahwa ia keberatan. Tapi Rian sudah memutuskan di depan semua orang. Menolak sekarang hanya akan membuat suasana semakin tegang, dan mungkin membuat Lukman serta Sonya merasa tidak diterima.
Dengan suara yang hampir tidak terdengar, Mia akhirnya mengangguk pelan.
“Baiklah…”
Rian tersenyum lega. Ia langsung berbalik ke adiknya.“Sudah, kalian bawa barang ke kamar belakang saja. Nanti Mia bantu pindahkan barang Kayla.”
Mia berdiri diam di tempatnya. Ia merasakan tangan kecil Kayla menggenggam jari-jarinya lebih erat. Di dalam hati, ada rasa kecewa yang menggenang. Rumah yang dulu ia beli dengan keringat sendiri, kamar yang dulu ia siapkan untuk anaknya, kini harus digeser hanya dalam hitungan menit.
Sonya berdiri dengan hati-hati, lalu mendekati Mia.“Maaf ya, Kak Mia… kami merepotkan” bisiknya pelan.
Mia memaksakan senyum. “Tidak apa-apa. Kalian istirahat saja.”
Tapi ketika ia berbalik menuju kamar Kayla, langkahnya terasa berat. Di belakangnya, Rian sudah mulai membantu Lukman mengangkat koper. Suara tawa kecil Rian terdengar, seolah semuanya sudah beres.
Mia membuka pintu kamar putrinya. Bau bedak bayi dan detergen lembut masih tercium. Di sudut kamar, boneka kelinci kesayangan Kayla tergeletak di atas kasur. Mia mengangkat boneka itu, lalu menatap sekeliling.
“Maaf, sayang,” bisiknya pelan pada udara kosong. “Mama harus pindahkan semua barang-barang kamu dulu.”
Di luar, suara Rian masih terdengar sedang mengatur barang. Sementara di dalam kamar kecil itu, Mia mulai menurunkan gorden, membuka lemari, dan memindahkan satu per satu barang milik putrinya. Setiap gerakan terasa seperti melepaskan sesuatu yang seharusnya tidak perlu dilepaskan.
Dan di sudut hatinya yang paling dalam, Mia tahu… ini bukan hanya soal kamar.
ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ
Semua barang bawaan Lukman dan istrinya akhirnya selesai dimasukkan ke dalam kamar Kayla. Koper-koper besar berjajar di sudut ruangan. Beberapa kardus ditumpuk di dekat lemari, sementara pakaian dan barang-barang pribadi mereka mulai memenuhi kamar putri kecilnya itu.
Sejak pagi, Rian sudah membantu memindahkan barang-barang tersebut satu per satu. Meski wajahnya terlihat lelah, dia tidak banyak mengeluh. Sebagai kakak, Rian merasa sudah seharusnya membantu adiknya yang sedang membutuhkan tempat tinggal.
Namun, waktu terus berjalan. Dia harus berangkat ke kantor.
“Sayang, aku berangkat dulu. Kalau ada apa-apa, telepon saja ya"
Mia yang sedang berdiri di ruang tengah menoleh.“Kamu nggak bisa bantu beresin sedikit lagi?”
Rian tersenyum meminta pengertian.
“Aku sudah terlambat. Ada meeting pagi ini.”
Mia menghela napas."Ya sudah.”
Rian kemudian menghampiri Mia dan mengecup keningnya singkat. “Terima kasih sudah mengizinkan Lukman tinggal di sini.”
Mia hanya tersenyum tipis. "Kamu yang mengizinkannya" sindirnya.
Rian mengangguk.“Sebentar saja, kok. Sampai mereka punya tempat sendiri.”
Mia menatap suaminya. "Semoga saja sesuai"
Rian tidak menjawab. Ia hanya tersenyum, setelah itu dia keluar dari rumah.
Pintu depan tertutup.
Suara mobil Rian perlahan menjauh dari halaman rumah. Dan sejak saat itu, Mia harus menghadapi dua orang dewasa dan seorang balita di rumahnya seorang diri.
Mia kembali masuk ke ruang tengah. Matanya langsung tertuju pada kamar Kayla yang pintunya terbuka lebar. Kamar itu sudah hampir tidak terlihat seperti kamar putrinya.
Boneka-boneka Kayla dipindahkan ke satu sisi. Rak buku kecil milik Kayla bahkan terpaksa digeser agar koper Lukman bisa diletakkan di sana.
Mia sebenarnya merasa tidak nyaman.
Namun, ia berusaha menenangkan dirinya sendiri.
Lukman adalah adik kandung Rian. Dia tidak mungkin tega menolak ketika adik iparnya sedang membutuhkan tempat tinggal.
Begitu pula istrinya. Mia mencoba memahami keadaan mereka .Tetapi ada satu hal yang membuat Mia sedikit mengernyit.
Sejak datang pagi tadi, Lukman dan istrinya belum sekalipun membicarakan kapan mereka akan mencari rumah baru. Tidak ada pembicaraan tentang pekerjaan, dan tidak ada pembicaraan tentang biaya hidupnya. Seolah-olah mereka memang sudah berniat tinggal di rumah itu tanpa batas waktu.
Mia menggeleng pelan. “Sudahlah, sabar saja dulu"
Dia tidak ingin berpikir terlalu jauh. Bagaimanapun, Rian sudah memberikan izin.
Setelah semua barang dipindahkan, Lukman dan istrinya mulai membuka koper mereka.
Sementara Mia memilih kembali mengurus Kayla.
Mia yang sejak pagi belum sempat duduk akhirnya membawa Kayla masuk ke kamar mereka. Ia berniat menidurkan putrinya sebentar sampai makan siang nanti. Namun, belum sempat ia menarik selimut, terdengar suara dari luar.
“Kak Mia!”
Mia memejamkan mata sejenak. Namun suara itu kembali terdengar.
“Kak!”
Mia keluar dari kamar.
Lukman berdiri di ruang tengah sambil menggendong putranya, Janu. Bocah itu sudah mulai menangis keras.
Ia baru menyadari bahwa sejak pagi tidak ada satu pun dari mereka yang pergi membeli makanan.
Lukman berjalan mendekat. “Kak, ada makanan nggak? Kami lapar.”
Mia terdiam.
Lukman kemudian melanjutkan dengan santai.
“Sekalian aku minta susu Kayla buat Janu.”
Mata Mia langsung tertuju kepada Sonya.
“Susu Kayla?”
“Iya. Janu sudah lapar.”
Mia menarik napas panjang. Sebenarnya dia ingin mengatakan bahwa susu itu dibeli untuk Kayla, bukan untuk Janu. Namun, melihat bocah kecil yang terus menangis, Mia mencoba menahan emosinya.
“Di dapur,” jawabnya akhirnya.
Lukman tersenyum. "Wah, makasih, Kak.”
“Ambil sendiri aja.”
Senyum Lukman sedikit memudar.
“Oh…”
Mia tidak peduli. Dia sudah terlalu lelah. Sejak pagi, dirinya terus membantu mereka. Mengangkat barang, membereskan kamar, memastikan Kayla tidak mengganggu, bahkan memberikan ruang pribadi putrinya kepada keluarga Lukman.
Kini mereka bahkan meminta makanan dan susu tanpa sedikit pun merasa sungkan.
Mia menghela napas panjang. Kalau dia mengusir mereka sekarang, kemungkinan besar Rian akan marah. Dan Mia tidak ingin bertengkar dengan suaminya hanya karena masalah ini. Maka dia memilih diam.
Setelah berkata begitu, Mia berbalik. Dia menggenggam tangan Kayla dan membawanya kembali ke kamar.
Di luar, suara tangisan Janu masih terdengar.
Mia memejamkan mata. Ia berharap semuanya benar-benar hanya sementara. Ia berharap Lukman dan istrinya segera pergi dari rumahnya.
Lukman dan sang istri makan dengan lahap, mereka menghabiskan makanan milik Mia tanpa tersisa sedikit pun.
THOR BUAT YG HAJAR MIA DI JEBLOSKAN PENJARA TANPA ADA NEGOSIASI BIAR IPAR DAN MANTAN MERTUA TAU ARTINYA K.A.R.M.A😈😈😈😈😈😈😈😈😈😈😈😈😈😈😈😈😈😈😈😈😈😈
kl masih bertahan ya goblok saja jd wanita. dah di pukul juga kn, foto trus lapor kan polisi lo.