Di lelang gelap, seorang gadis dijual kepada penawar tertinggi. Pembelinya adalah Hendra Wirakusuma, mafioso yang ditakuti seisi kota, dingin, berbahaya, dan terbiasa mendapatkan apa pun yang ia mau.
Sekar tak punya siapa-siapa lagi. Ia dikhianati keluarganya sendiri dan kini terkurung di rumah pria yang seharusnya paling ia takuti. Namun di balik tatapan dan tangan yang berlumur dosa itu, ada sisi Hendra yang tak pernah dilihat orang lain.
Antara bahaya, rahasia, dan perasaan yang tumbuh tanpa izin, mampukah Sekar bertahan? Dan sampai di mana seorang mafioso rela melangkah demi satu perempuan yang ia beli?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Valéria Bezerra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dia Punya Hati
POV Hendra
Aku mandi, lalu hanya dengan celana pendek aku berbaring sebentar sampai waktu makan malam. Beberapa jam kemudian aku turun. Meja sudah tertata, aku duduk dan makan. Selesai makan aku kembali ke kamar, berbaring lagi, menyalakan film, dan menontonnya.
POV Sekar
Begitu "sang raja" pergi, aku dan Bu Beti membereskan semuanya, makan malam, lalu ia pulang bersama suaminya. Setelah itu aku naik ke kamar, mandi, dan berbaring untuk istirahat.
Keesokan harinya...
POV Hendra
Aku bangun di jam yang sama seperti biasa, membersihkan diri, mandi, dan berpakaian untuk turun.
POV Sekar
"Menurut Ibu, dia punya hati, Bu Beti?"
POV Beti
"Ibu yakin, Nak, tapi dia sendiri tidak mau mengakui hatinya itu. Tahu apa yang Ibu temukan minggu ini? Anak-anak Ibu ternyata bukan penerima beasiswa seperti yang kami kira. Tuan Hendra yang membayar kuliah mereka. Bukan cuma itu, dia juga membiayai pengobatan kakak Ibu di rumah sakit. Ibu curiga dia membantu karyawan-karyawannya yang lain tanpa mereka tahu."
POV Sekar
"Bagaimana Ibu tahu?"
POV Beti
"Direktur kampus mereka diganti, dan direktur lama lupa menyampaikan rahasia itu ke penggantinya. Waktu ujian penerima beasiswa, yang diadakan setiap enam bulan, direktur baru memanggil para mahasiswa, tapi anak-anak Ibu tidak ada dalam daftar. Mereka heran dan bertanya apakah beasiswa mereka dicabut. Katanya mereka memang bukan penerima beasiswa. Mereka bertanya siapa yang membayar, dan di situ tertulis nama Hendra Wirakusuma. Waktu mereka cerita, Ibu langsung menghubungkan semuanya dan menyuruh mereka menyelidiki ke rumah sakit. Ternyata dia juga membayar pengobatan kakak Ibu. Kalau untuk Ibu dia begitu, pasti untuk yang lain juga, sebab beberapa orang di sini juga punya anak yang kuliah, keluarga yang sakit, dan kebutuhan lain."
POV Sekar
"Begitu rupanya. Apa dia tahu kalian sudah tahu?"
POV Darto
"Kami pikir lebih baik diam saja. Kami takut dia marah dan melampiaskannya pada direktur kampus itu, jadi kami berterima kasih dengan cara kami sendiri tanpa membuatnya curiga."
POV Hendra
"Selamat pagi." Aku masuk ke dapur setelah mendengar semuanya.
POV Beti
"Tuan, sudah berapa lama di situ? Kopinya segera dihidangkan, maaf terlambat."
POV Hendra
"Kamu tidak terlambat, aku yang kepagian. Sekar, ikut aku." Aku menuju ruang kerja.
POV Sekar
"Baik, Tuan." Aku mengikutinya.
POV Hendra
"Duduk. Nama lengkapmu?"
POV Sekar
"Sekar Ayuningtyas."
POV Hendra
"Umur?"
POV Sekar
"17 tahun."
POV Hendra
"Bagus sekali, ternyata masih di bawah umur." Aku kesal. "Kamu sekolah? Punya anak, pacar, keluarga?"
POV Sekar
"Aku di kelas 3 SMA sampai bibiku menjualku ke orang-orang itu. Aku tidak punya anak dan tidak pernah punya pacar. Keluarga cuma mereka."
POV Hendra
"Jadi bibimu yang menaruhmu di sana? Orang tuamu?"
POV Sekar
"Sudah meninggal."
POV Hendra
"Kamu sekolah jam berapa dan di mana?"
POV Beti
"Tuan, kopinya sudah siap."
POV Hendra
"Kita lanjutkan di meja." Kami menuju meja makan. "Jadi?"
POV Sekar
"Aku sekolah siang, di sekolah *******."
POV Hendra
"Begini. Pagi hari kamu bekerja di sini, siang kamu ke sekolah. Darto yang antar-jemput. Tahun ajaran tinggal sebentar lagi. Seperti karyawan lain, kamu akan menerima gaji untuk pekerjaanmu. Aku sudah menyuruh ibuku membawakan baju untukmu."
POV Sekar
"Terima kasih banyak sudah mengizinkan aku sekolah, Tuan." Karena senang, spontan aku memeluknya.