NovelToon NovelToon
Dicerai Karena Mandul, Kini Aku Bunda Kembar Tiga Sang Jenderal

Dicerai Karena Mandul, Kini Aku Bunda Kembar Tiga Sang Jenderal

Status: sedang berlangsung
Genre:Menikahi tentara / Penyesalan Suami / Mandul
Popularitas:712
Nilai: 5
Nama Author: Laras Jingga

Lima tahun menikah tanpa keturunan, Sekar dicap "mandul" oleh keluarga Danuwijaya yang terpandang. Puncaknya, sang suami—Rendra—membawa pulang Kirana yang tengah hamil, lalu menjadikannya istri kedua dengan alasan, *"Kamu tak bisa memberi keturunan, Sekar."*

Dipaksa menandatangani izin poligami, difitnah, dipermalukan di grup keluarga, bahkan pelayan setianya disingkirkan—Sekar akhirnya memilih pergi. Ia menggugat cerai, membawa apa yang menjadi haknya, dan berbalik dari keluarga yang selama ini menginjaknya.

Takdir mempertemukannya dengan Mayjen Arka Prawiranegara—jenderal berdarah dingin di medan, namun seorang duda yang lembut pada kedua anak angkatnya. Pria yang menyelamatkannya, membelanya di depan umum, dan berjanji: *"Seumur hidup, hanya kamu. Tak akan ada istri kedua."*

Lalu takdir menampar semua yang pernah menghinanya—**Sekar hamil. Kembar tiga.** Dan hasil pemeriksaan medis membongkar kebenaran yang selama ini dikubur: **yang mandul bukan Sekar… tapi Rendra.**

Saat namanya bersinar sebagai nyonya jenderal dan bunda dari tiga bayi, Rendra datang berlutut, memohon kembali. Sekar hanya tersenyum dingin, mengelus perutnya, dan berkata pelan:

*"Kamu yang dulu tak menghargai. Sekarang… kamu sudah tak pantas lagi, Mas Rendra."*

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laras Jingga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 4

Bab 4

Perut yang Membuncit

Perempuan itu mengangkat wajah, dan Sekar mengenalinya.

Kirana Wardhani pernah beberapa kali hadir dalam acara yayasan keluarga Danuwijaya. Putri seorang tokoh politik, selalu berpakaian lembut dan berbicara seolah setiap kalimatnya telah disaring agar terdengar santun.

Hari ini, tubuhnya ditopang seorang perempuan muda bernama Yanti. Langkah Kirana pendek dan hati-hati. Perutnya yang besar mendahului setiap gerakannya.

Wida turun dua anak tangga untuk menyambutnya.

"Pelan-pelan, Kirana. Jangan sampai kelelahan."

Sekar belum pernah mendengar nada selembut itu ditujukan kepadanya.

"Terima kasih, Bu." Kirana tersenyum, lalu menatap Sekar. "Mbak Sekar. Maaf saya datang tanpa bicara lebih dulu."

Sapaan itu terdengar sopan, tetapi tatapan Kirana tidak menyimpan rasa bersalah.

"Masuklah," kata Eyang Sri dari belakang. "Kita tidak perlu membicarakan urusan keluarga di teras."

Urusan keluarga.

Dua kata itu membuat telapak Sekar dingin.

Di ruang utama, Wida menyuruh Yanti menumpuk dua bantal di belakang punggung Kirana. Teh hangat dan kurma sudah tersedia di meja. Semua disiapkan sebelum mobil perempuan itu datang.

Sekar duduk berhadapan dengannya. "Mengapa kamu ke sini?"

Kirana menunduk sambil mengusap perut. "Saya juga berharap Mas Rendra yang menjelaskannya."

Pintu samping terbuka.

Rendra masuk tanpa jas. Wajahnya tegang, tetapi tidak tampak terkejut melihat Kirana. Itu cukup untuk menjawab pertanyaan pertama Sekar.

"Sejak kapan kamu tahu dia akan datang?" tanya Sekar.

Rendra tidak langsung menjawab. "Sekar, duduk dulu. Kita bicarakan baik-baik."

"Aku sudah duduk. Jawab pertanyaanku."

"Jangan pakai nada seperti itu," tegur Wida.

Sekar tetap menatap suaminya. Rendra memilih kursi di samping Kirana, bukan kursi kosong di dekat Sekar.

Gerakan kecil itu mematahkan sesuatu yang belum sempat Sekar selamatkan.

Eyang Sri memberi isyarat kepada seorang pelayan untuk menutup pintu.

"Kirana sedang mengandung anak Rendra," ucapnya.

Ruangan menjadi sunyi. Pendingin udara berdengung di atas kepala, sedangkan dari taman terdengar burung kecil mematuk buah yang jatuh.

Sekar menunggu Rendra menyangkal.

Tidak ada suara.

"Berapa bulan?" tanyanya.

Kirana menjawab dengan lirih, "Sudah mendekati waktu melahirkan. Dokter meminta saya mengurangi kegiatan."

"Itu bukan jawaban untuk berapa lama kalian menyembunyikannya."

Kirana menggigit bibir. Yanti segera memegang bahunya.

"Mbak Kirana tidak boleh stres," kata Yanti. "Semua ini juga berat untuk beliau."

Sekar menoleh. "Aku tidak bertanya kepadamu."

Yanti terdiam, tetapi sudut bibirnya bergerak seperti menahan senyum.

Rendra mengusap wajah. "Aku akan menjelaskan."

"Jelaskan sekarang."

"Aku dan Kirana sudah menikah secara siri."

Untuk sesaat, Sekar tidak merasakan tubuhnya sendiri. Suara Rendra seperti datang dari ujung lorong yang sangat panjang.

"Kapan?"

"Beberapa bulan lalu."

"Sebelum atau sesudah kamu membatalkan pemeriksaan kita di rumah sakit?"

Rendra menghindari matanya. "Keadaannya rumit."

"Tidak. Keadaannya sangat sederhana. Kamu menikahi perempuan lain tanpa sepengetahuanku, lalu membiarkanku terus berobat sendirian."

Kirana mendadak terisak. "Mbak Sekar, jangan salahkan Mas Rendra. Saya yang memohon agar semuanya dirahasiakan. Saya tidak ingin menghancurkan rumah tangga kalian."

"Namun kamu tetap menikah dengannya."

"Saya mengandung anaknya. Saya hanya ingin anak ini memiliki ayah."

Tangannya bergerak melindungi perut. Yanti mengusap punggungnya, sementara Wida mengambilkan air. Dalam beberapa detik, Kirana telah berubah menjadi perempuan rapuh yang dikepung keadaan. Sekar, istri yang dikhianati, justru dibuat tampak seperti ancaman bagi seorang ibu hamil.

"Sudah," ujar Eyang Sri. "Tangisan tidak menyelesaikan masalah. Pernikahan siri itu harus ditertibkan. Rendra akan mengajukan izin poligami ke Pengadilan Agama agar Kirana tercatat sebagai istri kedua."

Sekar memandang perempuan tua itu. "Dan Eyang ingin saya datang untuk memberi restu?"

"Kami memerlukan persetujuan tertulismu."

Wida mengambil sebuah map cokelat dari meja samping. Ia mengeluarkan beberapa lembar kertas yang sudah diberi penanda pada bagian tanda tangan.

"Pengadilan perlu melihat bahwa istri pertama memahami keadaan," katanya. "Enam tahun tanpa anak menjadi dasar yang jelas. Dengan persetujuanmu, prosesnya akan lebih baik dan tidak menjadi skandal."

Sekar membaca judul surat itu.

`Surat Persetujuan Istri untuk Permohonan Izin Poligami.`

Nama lengkapnya sudah diketik. Nomor identitasnya tercantum. Bahkan alasan bahwa ia tidak dapat melahirkan keturunan telah ditulis seolah merupakan putusan medis.

"Siapa yang menyiapkan ini?"

"Pengacara keluarga," jawab Wida.

"Tanpa berbicara kepadaku?"

"Kalau dibicarakan lebih awal, kamu akan membuat semuanya sulit."

Sekar mengangkat laporan dari rumah sakit. "Tidak ada diagnosis yang menyatakan saya mandul."

"Enam tahun kosong adalah bukti yang cukup bagi keluarga," kata Eyang Sri.

"Bagi keluarga, mungkin. Bukan bagi dokter. Bukan pula otomatis bagi pengadilan."

Rendra akhirnya menatapnya. "Sekar, kita tidak perlu bertengkar soal kata-kata. Anak ini akan lahir."

"Jadi karena dia hamil, semua yang kalian lakukan menjadi benar?"

"Aku tidak bilang begitu."

"Kamu menikah diam-diam. Keluargamu menulis bahwa aku tidak mampu melahirkan tanpa dasar medis. Sekarang kalian menyodorkan surat dan meminta tandatanganku. Bagian mana yang tidak kamu benarkan?"

Rendra membuka mulut, tetapi Wida lebih dulu menyela.

"Jangan memutarbalikkan keadaan. Kami masih memberimu tempat sebagai istri pertama. Kirana tidak menuntut rumah ini. Dia hanya meminta hak anaknya."

"Hak yang diperoleh dengan menyembunyikan pernikahan dari istri sah?"

Kirana menekan satu tangan ke sisi perut dan meringis.

"Aduh."

Yanti langsung berdiri. "Mbak Kirana, sakit?"

Semua orang bergerak mendekatinya kecuali Sekar. Wida menyalahkan suara Sekar yang terlalu keras. Eyang Sri memerintahkan pelayan mengambil minyak hangat. Rendra berjongkok di depan Kirana, bertanya apakah mereka harus ke rumah sakit.

Kirana menggeleng lemah. "Tidak perlu. Bayinya hanya bergerak. Mungkin dia juga takut mendengar kami bertengkar."

Tatapannya jatuh kepada Sekar saat mengatakan kalimat terakhir.

"Saya tidak ingin merebut Mas Rendra," lanjutnya. "Kalau Mbak tidak mengizinkan, saya akan pergi. Biar anak ini lahir tanpa nama keluarga."

"Jangan bicara begitu," ujar Rendra cepat.

Kirana menangis semakin pelan. "Saya hanya tidak mau Mas Rendra kehilangan anak yang selama ini ditunggu keluarganya."

Kalimat itu bekerja tepat seperti yang diinginkannya. Eyang Sri kembali mendorong surat ke arah Sekar.

"Tandatangani. Tunjukkan bahwa kamu masih tahu kewajibanmu terhadap keluarga."

Sebuah pena diletakkan di atas kertas.

Sekar memandang wajah-wajah di sekelilingnya. Wida penuh tuntutan. Eyang Sri dingin. Kirana basah oleh air mata. Yanti menunggu seperti penonton yang sudah tahu akhir pertunjukan.

Hanya satu orang yang masih ingin ia percaya.

Sekar menoleh kepada suaminya.

"Mas..."

Satu kata itu bergetar di tenggorokannya. Ia tidak meminta Rendra mengusir Kirana. Ia bahkan tidak meminta lelaki itu memutar waktu. Cukup satu kalimat bahwa keputusan ini tidak boleh dipaksakan kepadanya.

Rendra menunduk.

Tatapannya terpaku pada lantai marmer, dan jakunnya bergerak tanpa melahirkan satu kata pun.

Diamnya menjawab lebih kejam daripada penolakan yang diteriakkan di depan semua orang.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!