Alethea adalah seorang kurator museum yang bekerja di museum national gallery art di Washington. Dia sudah dua tahun ditingga! suaminya yang meninggal akibat kecelakaan ski. Suatu hari, dia mendapatkan kiriman lukisan wajahnya. Pengirimnya tertanda dari kota kecil di Irlandia. Alethea diutus oleh bossnya untuk mencari pelukisnya. Tidak mudah untuk mencari hingga dia tiba di desa kecil bernama Cedliff. Di sebuah hotel desa dia bertemu dengan Satoru Shinoda yang terkejut melihatnya. Tanpa Alethea tahu, Satoru adalah pelukisnya. Satu pertanyaan. Mereka belum pernah bertemu sebelumnya tapi bagaimana Satoru bisa melukis wajah Alethea?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hana Reeves, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ke Cedliff
Satoru melajukan mobilnya ke hotel kecil yang sudah menjadi langganannya setiap dia kembali ke Cedliff. Dia sudah menghubungi pemiliknya, dan Susan sudah mempersiapkan semuanya. Satoru memarkirkan mobilnya dan turun. Pria itu merenggangkan kedua tangannya untuk meluruskan punggungnya.
“Ah Satoru! Sudah datang?” sapa Susan yang datang sambil membawa keranjang berisikan apel.
“Susan. Apa kabar?” senyum Satoru sambil mencium wanita paruh baya itu di pipi.
“Baik, darling. Ayo, kita masuk.” Susan mengedikkan dagunya sambil membuka pintu hotelnya.
Satoru melihat sekelilingnya dan dia merasa seperti kembali ke rumah. Suasana yang masih asri dengan banyaknya pepohonan dan tanaman lainnya. Irlandia dikenal negara yang sangat menjaga alam sekitarnya.
Pria itu membuka pintu belakang mobilnya dan menurunkan koper serta tas jinjingnya. Dia pun masuk dan mencium harum kopi serta Apple pie.
“Rasanya seperti pulang ke rumah,” ucap Satoru sambil menuju ke meja resepsionis.
“Aku sangat senang kamu kemari. Jujur, di musim gugur ini tidak banyak wisatawan yang datang. Jadi saat kamu bilang mau datang, aku sangat senang dan sudah membuatkan apple pie buat kamu,” senyum Susan sambil memberikan buku tamu hotel.
Satoru menuliskan namanya di buku tamu itu dan melihat lobby hotel dua lantai itu yang sepi. “Cedfliff memang dingin kalau musim begini.”
“Apakah kamu akan lama di sini Satoru?” tanya Susan.
“Mungkin. Aku sudah enam bulan keliling dunia untuk promo lukisan aku di berbagai galeri dan sudah waktunya aku berlibur bukan? Aku butuh energi baru untuk melukis lagi.” Satoru tidak berbohong karena dia sudah cukup lelah sudah kemana-mana untuk promosi lukisannya dari galeri ke galeri di banya negara.
Susan mengangguk. “Bagaimana dengan gadis dalam lukisan kamu? Apakah kamu menemukannya?”
Satoru menggelengkan kepalanya. “Mungkin aku tidak akan bisa menemukannya.”
“Memangnya kamu melihat di mana?” goda Susan.
“Aku melihat di ….” Satoru terdiam saat mendengar suara ban mobil di atas tanah kerikil. “Sepertinya ada yang datang.”
“Ini kunci kamarmu. Biar aku lihat siapa.” Susan memberikan kunci kamar Satoru dan pria itu menerimanya.
“Aku masuk dulu, Susan.” Satoru menarik kopernya dan menuju kamar tidurnya.
“Oke.”
Susan berjalan ke depan dan Satoru berjalan ke kamarnya yang berada di lantai satu.
Susan berjalan ke depan dan melihat sebuah mobil datang. Tak lama turun seorang wanita dan Susan terkejut saat melihat wajahnya.
“Ya Tuhan ….” bisiknya.
“Selamat siang … maaf aku datang tanpa reservasi. Apakah kamar hotelnya masih ada yang kosong?” tanya Alethea dengan wajah bingung.
“Ma … masih. Anda berapa orang?” balas Susan dengan nada tergagap.
Alethea menatap wajah Susan yang seperti kaget. “Apa ada yang salah?”
“Tidak. Hanya saja aku merasa kaget ada yang menginap di musim seperti ini,” kekeh Susan.
Alethea ikut tertawa. “Sebenarnya ini karena pekerjaan aku. Jadi, bolehkah aku menginap?”
“Ah tentu boleh. Maafkan manner aku. Silakan masuk nona ….”
“Alethea Ashford.”
“American?” tanya Susan.
“Benar. Bagaimana Anda tahu?” senyum Alethea.
“Aksen Anda. Mari masuk. Kita akan makan Apple pie dulu ya?” ajak Susan. “Namaku Susan by the way.”
Alethea masuk ke dalam hotel itu dan matanya tampak takjub dengan interior dan bangunan yang dipastikan sudah berabad-abad usianya.
“Berapa usianya bangunan ini?” tanya Alethea sambil mengelus temboknya.
“Hampir tiga abad. Paspor?”
Alethea memberikan paspornya dan Susan mencatat namanya.
“Nama Anda cantik. Alethea. Nama Yunani?” tanya Susan.
“Hu um. Kata Alethea atau Aletheia berasal dari bahasa Yunani Kuno (ἀλήθεια) yang berarti kebenaran, kejujuran, atau ketulusan. Secara harfiah, kata ini terbentuk dari gabungan huruf a- ( tidak ) dan lethe ( lupa atau tersembunyi ), yang bermakna "sesuatu yang tidak disembunyikan" atau "keadaan tidak lupa". Alethea tersenyum. “My late mother adalah pecinta mitologi Yunani jadi dia memberikan nama Alethea untukku.”
“Apa pekerjaan Anda?” Susan menatap minta maaf. “Sebagai tambahan administrasi.”
“Kurator museum. Aku bekerja disana.”
“Married?”
Alethea menggeleng. “Widow. Janda.”
“Divorce?”
Alethea menggeleng lagi. “Suamiku meninggal karena kecelakaan ski di Swiss.”
Susan terkesiap. “I'm so sorry.”
“Tidak apa-apa, Susan. Aku sudah berusaha menerimanya dua tahun ini.” Alethea tersenyum getir.
“Sungguh. Aku minta maaf karena sudah membuka luka lama,” ucap Susan.
“Tidak apa-apa. Kamu sendiri?” Alethea menatap Susan.
“Sama dengan kamu. Hanya bedanya, suamiku lebih memilih pergi dengan wanita j4lang yang ditemuinya di club malam. Sekarang dia sudah mati akibat alkohol,” jawab Susan dingin.
“I'm so sorry.” Alethea merasa dirinya tidak terlalu buruk nasibnya karena Toshiro sangat memuja dirinya.
“Ini kuncinya. Kamu tidak masalah kan jika berada di lantai dua?” tanya Susan sambil memberikan kunci kamar.
“Tidak masalah. Apakah pemandangannya indah?” tanya Alethea.
“Sangat. Jadinya harganya £30 per malam.”
“Cash atau kredit card?” tanya Alethea. Terlepas Susan masih menggunakan cara tradisional dicampur dengan canggihnya teknologi, tapi bagi Alethea, ini sangat menyenangkan.
“Apa saja diterima.”
Alethea mengambil dompetnya dan membayar dengan uang cash. “Aku berikan £90 untuk tiga hari sampai urusanku selesai.”
Susan berterima kasih dan dia memberi ancer-ancer kamar Alethea. Wanita itu pun berjalan menuju tangga bertepatan dengan Satoru yang membuka kamarnya. Mereka nyaris bertabrakan jika saja Satoru tidak mengerem langkahnya. Keduanya saling berpandangan.
Alethea melihat wajah Satoru dan pria itu menatap dengan tatapan horor.
“Halo ….” Alethea menyapa ramah.
“It's you,” bisik Satoru kaget.
***
Yuhuuu up Pagi Yaaaaa gaeeesss
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu
ayo kita ke pojokan Nin, kita ketawa bareng 🤣🤣🤣🤣
Duh moga kalian akan terus bersama hingga menua hingga ujung usia