Meloudy Tanuwirama, pemilik tato mencolok yang menutupi seluruh lengan kanan hingga pundak, adalah seorang gitaris metal dan kreator konten dengan 100 juta lebih pelanggan. Di balik kesuksesannya di dunia maya, ia berjuang keras menafkahi sekaligus membiayai pengobatan ibunya yang sakit — menjadi satu-satunya tulang punggung keluarga tanpa ayah. Namun penghasilannya belum cukup menutupi biaya yang terus menumpuk.
Sementara itu, Vano S. Viandra — pemilik perusahaan S Group yang berpengaruh di seluruh Benua Asia, berparas tampan luar biasa namun berhati sedingin es — terkejut luar biasa saat menyadari siapa wanita itu sebenarnya.
"Tato itu… Kau Loudy? Gitaris metal yang punya seratus juta lebih pelanggan? Kau?!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arni Arlinawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4 — Dua Nama, Satu Jiwa
Meloudy pulang, dan dalam perjalanan pulangnya langkahnya terasa masih gemetar, dadanya sesak seolah baru saja terlepas dari bahaya besar. Ia terus memeluk lengan kanannya erat-erat, seolah takut tato itu akan terlihat kembali meski sudah tertutup rapat di balik kain kemeja. Pikiran itu tak kunjung pergi — bayangan jika Vano sempat melihatnya, jika ia sempat menyadari apa yang tersembunyi di sana…
Langkah kakinya berbelok tanpa sadar ke kedai kecil di pinggir jalan, tempat yang selalu ia lewati setiap hari. Di sana, di bawah cahaya lampu kuning yang remang, ia berhenti sebentar.
"Pak… beli satu bungkus rokok," ucapnya pelan, suaranya masih terdengar bergetar.
Penjual itu mengangguk dan menyodorkannya. Meloudy membayarnya, lalu berdiri diam di pinggir trotoar, membiarkan rintik hujan membasahi sedikit bahunya. Tangannya masih gemetar saat membuka bungkus itu, mengambil satu batang, dan menyalakannya. Asap pertama terhembus panjang ke udara malam yang dingin — seolah ikut mengeluarkan ketegangan yang menumpuk di dadanya sejak tadi sore.
Ia menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan jantungnya yang masih berdegup tak beraturan. Bayangan wajah Vano terus muncul di benaknya — tatapan tajam itu, langkah tenangnya, dan kata-kata singkatnya yang begitu datar. Apakah ia benar-benar tidak melihat? Atau… ia melihat, tapi hanya diam saja?
Pertanyaan itu terus berputar di kepalanya, tak menemukan jawaban. Setiap kali ia teringat bagaimana ia buru-buru menarik lengan bajunya ke bawah tepat saat pintu terbuka, rasa lega itu bercampur dengan rasa bersalah yang mendalam. Ia menyembunyikan siapa dirinya. Ia menyembunyikan bagian dari dirinya sendiri. Dan hal itu terasa semakin berat untuk dibawa pulang.
Rokok di tangannya perlahan habis, namun kebingungannya belum juga berkurang. Ia menghela napas panjang sekali lagi, membuang puntung rokok ke tempat sampah, lalu melanjutkan langkahnya menuju rumah kontrakan kecil itu — tempat di mana ia bisa menjadi dirinya sendiri, tempat di mana Laudys bisa hidup tanpa takut dilihat siapa pun.
Namun di dalam hatinya, ia tahu satu hal dengan pasti: tabir itu semakin menipis. Dan suatu hari nanti, ia tak akan mampu menahannya lagi.
**
Langkah kaki Meloudy terasa berat menaiki tangga rumah kontrakan yang sempit itu — seolah setiap langkahnya memikul beban yang tak kasat mata, namun terasa seberat dunia. Pintu kayu tua itu terbuka, dan seketika ia disambut oleh kesunyian yang akrab namun kini terasa mencekam. Ia menyandarkan punggungnya di balik pintu yang tertutup rapat, memejamkan mata sejenak, dan baru saat itulah ia berani melepaskan napas panjang yang tertahan sejak sore tadi — napas yang terasa berat, penuh kepedihan yang tak pernah bisa ia ceritakan pada siapa pun.
Di sini, di ruangan kecil ini, tak ada Tuan Vano. Tak ada laporan keuangan, tak ada tatapan tajam, tak ada kemeja lengan panjang yang harus selalu rapi. Namun di sini pun, ia tak benar-benar sendirian dengan dirinya sendiri. Di setiap sudut ruangan ini, bayang-bayang beban itu selalu hadir — menanti, menekan, tak pernah melepaskannya sedetik pun.
Ia berjalan perlahan menuju meja kayu tua di sudut ruangan. Di sana, di samping gitar kesayangannya, tergeletak tumpukan amplop berwarna merah muda dan kertas tagihan yang sudah menumpuk tebal. Di laci meja, tersimpan rapi berkas-berkas rumah sakit — tumpukan biaya yang terus bertambah setiap hari, untuk ibunya yang kini terbaring lemah di ruang perawatan intensif, tak kunjung menunjukkan tanda pemulihan. Dan di bawah tempat tidurnya, tersimpan satu amplop tebal berisi surat peringatan pelunasan utang — utang yang ditinggalkan ayahnya yang pergi secara tiba-tiba dalam kecelakaan lalu lintas, tanpa sempat meninggalkan pesan, tanpa sempat melunasi kewajibannya. Semua itu kini jatuh ke pundaknya — satu-satunya anak, satu-satunya harapan.
Ia menarik napas panjang, berusaha menahan air mata yang mulai menggenang. Ia tidak boleh lemah. Jika ia menyerah, siapa yang akan merawat ibunya? Siapa yang akan melunasi utang itu?
Dengan tangan yang sedikit gemetar, ia duduk di depan kamera yang sudah terpasang. Gitar kesayangannya — satu-satunya peninggalan ayahnya yang masih utuh — kini menjadi satu-satunya pelipur lara di antara dua dunia yang ia jalani. Malam ini, jemarinya terasa berbeda saat menyentuh senar itu. Ada getaran halus, ada beban yang tak bisa diucapkan dengan kata-kata — beban seorang anak yang harus berjuang sendirian demi nyawa ibunya, demi nama baik ayahnya yang telah tiada. Hanya melalui melodi ini, ia bisa membiarkan rasa sakit itu keluar, mengalir, tanpa harus terlihat rapuh di mata siapa pun.
Lampu remang menyala, menciptakan bayangan lembut di dinding yang penuh foto kenangan — foto ayahnya yang tersenyum bangga, foto ibunya yang masih sehat dan tertawa bahagia. Ia menekan tombol rekam.
Begitu petikan pertama terdengar, seluruh ruangan itu berubah. Melodi yang ia mainkan malam ini bukan sekadar lagu — itu adalah suara hatinya yang hancur namun tetap berusaha berdiri. Kerinduan pada ayahnya yang telah tiada, ketakutan kehilangan ibunya, rasa bersalah karena tak mampu memberikan yang lebih baik, dan keputusasaan melihat utang yang terus menumpuk. Setiap jari yang menekan senar seolah menumpahkan segala beban yang ia pendam sendirian. Matanya berkaca-kaca, namun ia tak membiarkan air matanya jatuh. Ia membiarkan setiap rasa itu mengalir keluar, berubah menjadi suara yang merambat ke jutaan pendengar di luar sana — termasuk satu orang yang tak pernah ia sangka.
**
Sementara itu, di dalam kabin mobil mewah Rolls-Royce yang melaju tenang membelah jalanan kota yang mulai sepi, Vano duduk bersandar di kursi kulitnya yang empuk. Cahaya lampu jalan yang berkedip-kedip menyapu wajahnya, namun tatapannya tetap lurus ke depan, penuh kekhawatiran yang tak biasa. Hari itu terasa lebih panjang dari biasanya, dan pikirannya terus tertahan pada sosok yang baru saja ia temui di kantor — Nona Tanuwirama. Entah mengapa, pertemuan singkat itu meninggalkan kesan yang tak bisa ia hapus begitu saja.
Ponsel di saku jasanya bergetar pelan. Ia meraihnya, dan notifikasi yang muncul di layar membuat matanya membelalak seketika.
Tring…
Update: Laudys — Reaksi Melodi Gitar [Avenged Sevenfold: So Far Away]
Lagi…!!!
Hati Vano berdegup kencang, seketika itu juga seluruh perhatiannya tersedot pada notifikasi itu. Ia tak bisa menunggu, tak bisa menahan diri. Tanpa berpikir panjang, ia mencondongkan tubuh ke depan, suaranya terdengar tegas dan mendesak.
"Reino, tepikan mobil. Sekarang juga."
Pria di kursi pengemudi — sekretaris sekaligus pengemudi kepercayaannya — sedikit terkejut namun segera menuruti perintah itu.
"Baik, Tuan Vano."
Mobil perlahan berbelok ke bahu jalan yang sepi, berhenti di bawah naungan pohon besar di pinggir trotoar. Hujan di luar masih turun, rintiknya semakin jelas terdengar di keheningan malam.
"Turunlah dan tunggu aku di luar selama sepuluh menit," perintah Vano singkat, tanpa menoleh.
"Bawa payung. Jangan masuk ke dalam mobil sebelum waktu habis."
"Baik, Tuan." Reino membuka pintu, mengambil payung dari tempatnya, lalu melangkah keluar menuju rintik hujan, menutup pintu dengan rapat di belakangnya.
^^^Bersambung...^^^