NovelToon NovelToon
Gadis Cantik Di Arena Pertarungan

Gadis Cantik Di Arena Pertarungan

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Mengubah Takdir
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: R251Aje

Terjebak dalam utang dan tidak memiliki jalan keluar, dia terpaksa memasuki arena pertarungan ilegal demi mendapatkan hadiah uang yang cukup untuk bertahan hidup. Bagi orang lain, arena itu adalah tempat kematian. Tetapi bagi Aira, arena hanyalah tempat mencari nafkah. Selama ada uang dan masih bernafas, dia bersedia bertarung dan tidak menyerah.

Dia tidak mengenal kata cinta tapi tiga pria tampan tanpa sengaja menempel dan ingin memilikinya. Tapi Aira tidak mudah ditakhlukkan, hanya uang yang bisa membuatnya patuh walau cuma sebentar.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R251Aje, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 28 Rumah di Balik Bukit Lain

Aira turun pelan dengan bantuan Raka. Kaki menyentuh tanah yang lebih kokoh dibanding lereng pinus sebelumnya. Di depannya berdiri rumah besar bergaya kolonial yang dicat putih, dengan jendela-jendela tinggi dan beranda lebar. Bukan rumah yang mencolok, tapi jelas dibangun untuk bertahan lama dan menyembunyikan banyak hal.

Reza berbicara singkat dengan kepala pengamanan. Keenan langsung memeriksa kondisi Aira di bawah sinar matahari yang masih lemah. Raka tidak melepaskan pegangan di siku Aira sampai mereka masuk ke dalam.

Ruang tamu rumah itu luas, lantai kayu mengilap, perabot tua tapi terawat. Bau kayu jati dan sedikit kapur barus menyambut mereka. Aira duduk di sofa pertama yang dia lihat, tubuhnya tiba-tiba terasa jauh lebih berat setelah adrenalin turun.

Keenan berlutut di depan, membuka jaket yang dipinjamkan Raka, lalu memeriksa perban. “Luka tidak terbuka. Tapi kamu pucat sekali. Harus makan dan istirahat.”

Aira hanya mengangguk. Matanya menatap sekeliling ruangan seolah mencari celah untuk kabur, meski dia tahu tidak ada gunanya.

Reza masuk beberapa menit kemudian, menutup pintu dengan hati-hati. “Pengamanan diperkuat. Empat orang di luar, dua di atap, satu di menara pengawas belakang. Kakek sudah mengatur semuanya sebelum kita tiba.”

Raka menyandarkan tubuh di dinding dengan lengan tersilang. “Dia sangat takut pada pria itu.”

“Lebih dari takut,” kata Reza pelan. Dia duduk di kursi berhadapan dengan Aira. “Kakek bilang Arya adalah alasan ayahmu dibunuh. Bukan sekadar rekan bisnis yang berkhianat. Ada utang darah yang belum selesai. Dan Arya tidak akan berhenti sampai mendapatkan apa yang dia inginkan… atau sampai kamu tidak lagi menjadi ancaman.”

Aira menatap tangannya sendiri. “Dia bilang saya kunci. Bahwa ada aset yang hanya bisa dibuka oleh saya. Tapi saya tidak ingat apa-apa. Tidak ada kode. Tidak ada lokasi. Tidak ada wajah ayah saya selain foto kemarin.”

Keenan menutup kembali perban dengan gerakan rapi. “Trauma yang diatur dan obat penghapus ingatan bisa sangat efektif. Apalagi jika dilakukan bertahun-tahun. Tubuhmu mungkin menyimpan sesuatu, tapi otakmu sudah dilatih untuk menutupnya.”

Raka berjalan mendekat, lalu duduk di tepi meja kopi. “Kalau Arya bilang ingatan bisa dikembalikan, berarti dia punya caranya. Kita tidak boleh biarkan dia dekat lagi.”

Aira mengangkat wajah. “Kalau suatu hari saya ingin mengingat? Bukan karena dia. Karena saya sendiri.”

Ketiga pria itu terdiam sejenak. Reza yang menjawab. “Kalau kamu ingin mengingat, kita cari cara yang aman. Bukan cara Arya. Kakek pasti tahu seseorang yang bisa dipercaya. Tapi tidak sekarang. Sekarang kamu harus pulih dulu.”

Aira tersenyum tipis. “Pulih. Lalu apa? Menjadi Aira Hadi yang menikah demi warisan? Atau tetap menjadi Aira yang menghitung harga mi instan di kepala?”

“Kamu boleh menjadi keduanya,” kata Raka. “Atau tidak sama sekali. Pilihan itu milikmu. Bukan milik wasiat, kakek Reza atau Arya.”

Aira menatapnya lama. “Uang yang kamu transfer masih di rekening saya. Jumlahnya membuat saya tidak bisa berpikir lurus. Saya terbiasa dengan angka yang kecil. Yang bisa saya genggam dan hitung sebelum tidur.”

“Pakailah,” jawab Raka sederhana. “Atau biarkan. Tapi jangan kembalikan dulu. Biarkan saja di sana sebagai jaring pengaman. Kalau suatu hari kamu memutuskan lari dari semua ini, kamu punya bekal.”

Keenan berdiri, merapikan alat-alat medisnya. “Saya akan tinggal di sini beberapa hari. Jadwal di rumah sakit sudah saya atur. Kalau ada tanda infeksi atau demam, saya ingin tahu lebih dulu.”

Reza mengangguk. “Kamar sudah disiapkan. Aira di lantai dua, sayap timur. Kita bertiga di kamar sampingnya.”

Aira menarik napas dalam, lalu menyesali karena rusuknya masih protes. “Saya mau mandi. Dan tidur. Kepala saya penuh dengan nama yang tidak saya minta.”

Raka langsung berdiri. “Saya antar ke kamar.”

“Saya bisa sendiri.”

“Lantai dua. Tangga panjang. Rusukmu belum sembuh.” Raka tidak memberi ruang untuk debat. Dia hanya mengulurkan tangan.

Aira menatap tangan itu beberapa detik sebelum akhirnya menerimanya. Jari kapalan Raka terasa hangat dan kasar, familiar dengan cara yang merepotkan. Mereka naik tangga pelan. Di belakang... Keenan dan Reza berbicara dengan suara rendah tentang jadwal jaga dan kemungkinan Arya menemukan lokasi.

Kamar di sayap timur lebih besar dari yang Aira bayangkan. Tempat tidur lebar, jendela menghadap ke lembah yang masih diselimuti kabut tipis. Raka meletakkan tas kecil berisi pakaian ganti di kursi, lalu berdiri di dekat pintu.

“Kalau butuh apa-apa, ketuk tembok. Kamar saya di sebelah.”

Aira duduk di tepi tempat tidur. “Raka.”

“Ya.”

“Kalau suatu hari saya benar-benar mengingat semuanya… dan ternyata saya bukan orang baik atau korban. Tapi bagian dari sesuatu yang lebih jelek. Apa kamu masih mau mengirim uang hadiah balapan ke rekening saya?”

Raka tersenyum kecil, tapi matanya serius. “Saya mengirim uang itu ke Aira yang menolong saya di parkir arena. Gadis yang menolak makanan mahal karena terlalu boros. Bilang terima kasih dengan cara menagih. Bukan ke nama Hadi, kunci brankas atau kamu.”

Aira memalingkan wajah ke jendela. “Pergi. Saya mau tidur.”

Raka mengangguk, lalu keluar sambil menutup pintu sampai terbuka selebar telapak tangan, sesuai kebiasaan yang sudah terbentuk.

Di bawah, di ruang tamu, Reza berdiri di dekat jendela besar sambil menatap lembah. Keenan menyiapkan kopi di dapur yang terlalu lengkap untuk rumah aman.

“Kakek sangat takut,” kata Reza pelan. “Saya jarang melihatnya marah seperti itu. Bahkan saat ibu saya meninggal, dia lebih tenang.”

Keenan menuang air panas. “Ketakutan orang tua kadang lebih dalam dari yang bisa dijelaskan. Apalagi jika melibatkan utang darah.”

Reza mengangguk. “Saya harus bicara lagi dengannya. Ada yang belum dia ceritakan tentang Arya. Dan tentang ayah Aira.”

Di lantai dua, Aira berbaring menatap langit-langit. Foto anak kecil itu masih berada di dalam saku jaket yang digantung di kursi. Dia tidak mengeluarkannya. Tapi dia tahu foto itu ada di sana, menekan pelan seperti luka yang belum menutup.

Di luar rumah, jauh di balik barisan pohon yang dijaga ketat, seorang pria berdiri diam mengamati koordinat baru di layar tablet. Kabut sudah mulai surut.

Arya tersenyum tipis. “Rumah lama keluarga itu,” gumamnya pada diri sendiri. “Mereka membawa Aira ke tempat yang saya kenal sangat baik. Bahkan lebih baik dari mereka.”

Dia mematikan layar, lalu menoleh pada bayangan di belakangnya. “Siapkan tim kecil. Jangan serang dulu. Saya ingin mereka merasa aman minimal satu malam. Besok… kita ambil kunci itu dengan cara yang lebih personal.”

1
falea sezi
lanjut
falea sezi
🤣🤣🤣🤣 raka cemburu
falea sezi
suka cwek Badas gini 🤣🤣 sat sett gk menye 🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!