Reno Alvarez (25 tahun) punya visual secakep Yeonjun TXT, tapi statusnya tragis: PEngangguran JAkarta BARat yang hobinya cuma rebahan.
Nasib Reno mendadak korslet setelah nekat membuang golok warisan kakeknya ke tong sampah. Bukannya hilang, golok penuh daki itu malah auto-summon balik ke bawah bantalnya.
Reno resmi terkena kutukan Mbah Golok Sakti! Jiwanya mulai disedot paksa masuk ke berbagai dimensi absurd setiap kali tidur. Mulai dari dikejar zombie modal kolor Doraemon, operasi tenggorokan singa di Afrika, sampai debut dadakan jadi member TXT gara-gara Yeonjun asli lagi diare di toilet!
Setiap misi emang dapet cuan, tapi kalau Reno harus pindah dimensi terus nyawa bisa jadi taruhannya. Mampukah sang beban negara ini bertahan?
Warning: Jangan baca sambil minum, rawan nyembur! 🤣🔥
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soobin Chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4. Ustaz Lele Kuning
"Kirain teh dapet ikan kakap piala presiden, eh... ternyata malah dapet Lele Kuning Tanpa Tulang yang nyangkut di kail. Siapa sih manusia biadab yang ngirim paket 'bom' organik sembarangan jam segini?!"
Di balik semak lamtoro, Reno mendadak mematung. Jantungnya berdegup kencang secara ekstrem, jauh lebih kencang daripada saat dirinya dikejar-kejar oleh debt collector aplikasi pinjol.
Reno menyadari satu kenyataan yang sangat fatal: "muatan" muatan ilegal yang baru saja ia lepaskan ke air beberapa detik lalu, ternyata hanyut dan sukses jadi sasaran pancingan orang di sebelah hilir.
Hengki, sang pemancing yang bernasib malang itu, langsung berdiri tegak di atas batu kali yang licin. Wajahnya berkilat tajam terkena pantulan sinar matahari pukul dua siang.
Bukannya langsung membuang kailnya yang telah ternoda noda suci itu, Hengki malah mengangkat joran pancingnya tinggi-tinggi ke angkasa dengan gerakan dramatis.
Ia memamerkan wujud "Lele Kuning" yang masih bergelayut manja di ujung kail ke arah hulu sungai.
Hengki menarik napas dalam-dalam hingga dadanya membusung, lalu dimulailah Khotbah Maut jilid pertama.
"Wahai hamba Allah yang saat ini sedang bersembunyi di balik semak-semak! Lihatlah benda ini dengan mata kepalamu sendiri!" teriak Hengki dengan suara bariton yang menggelegar dahsyat, mirip suara ustaz kondang yang sedang memberikan kultum di tengah badai tsunami.
Reno yang berada di balik semak hanya bisa menutup kedua matanya rapat-rapat sambil merutuki nasib. Aduh, Gusti... ini orang kenapa malah diangkat tinggi-tinggi terus dipamerin sih?! Berasa kayak dapet piala Oscar aja! batin Reno meronta-ronta menahan malu.
"Ketahuilah olehmu! Sungai ini adalah urat nadi kehidupan bagi warga desa! Tempat ikan-ikan mencari makan dan tempat manusia mencari ketenangan jiwa! Tapi apa yang telah kau berikan sebagai balasan pada sungai suci ini, hah?!"
Hengki mencak-mencak di atas batu, joran pancingnya digoyang-goyangkan ke atas dan ke bawah hingga si lele kuning kecokelatan itu meliuk-liuk menari dengan bebas di udara.
"Kau memberikan sebuah 'bom kimia' organik tanpa adanya surat izin analisis dampak lingkungan! Ini adalah sebuah bentuk kezaliman yang nyata terhadap ekosistem perairan! Kau telah mengangkangi dan melanggar hak asasi ikan-ikan yang hidup di sini!"
Hengki terus melanjutkan orasinya dengan kobaran semangat 45 yang membara. "Apakah kau pikir ikan-ikan di sungai ini bertugas sebagai petugas Cleaning Service? Apakah kau pikir kail pancingku ini adalah alat berat pengangkut tinja? ADAB, SAUDARA! ADAB ADALAH KUNCI! Bagaimana negara kita ini mau maju kalau urusan 'pembuangan akhir' saja masih dilarikan ke sungai secara ilegal?!"
Reno yang sedang berjongkok gemetar hanya bisa diam seribu bahasa tanpa berani mengeluarkan satu desah napas pun. Di dalam hatinya, ia bingung setengah mati antara ingin tertawa terpingkal-pingkal, menangis meratapi nasib, atau menghilang saja menjadi partikel atom kosmik.
Visual ketampanan Reno yang mirip Yeonjun TXT itu mendadak terasa harganya jauh lebih murah dan tidak berharga dibandingkan sepotong bakwan jagung buatan Mimih di hadapan khotbah maut Hengki.
Gila beneran ini orang... Kulit hitam, rambut keriting, tapi gaya bahasanya lebih Sunda daripada Apih sendiri! Dan dia sekarang lagi menceramahi kotoran gue secara live di pinggir kali?!
Reno membatin panik sambil berusaha memakai kembali celananya secepat kilat tanpa menimbulkan suara sekecil apa pun.
"Ingatlah!"
Hengki kembali berteriak dengan lantang. Jari telunjuk kirinya menunjuk lurus ke arah langit, sementara tangan kanannya masih setia memegang joran ber-lele kuning maut.
"Apa yang kau tanam, maka itulah yang akan kau tuai! Kau menanam ranjau darat di bagian hulu, maka kail pancing seorang Hengki yang harus menanggung dosanya di bagian hilir! Semoga kau segera bertaubat nasuha, dan besok-besok kalau perutmu mules, pakailah jamban yang layak! Bukan malah melakukan aksi gaya bebas di kali!"
Setelah merasa puas berkhotbah selama hampir lima menit—yang rasanya berjalan seperti lima abad bagi Reno—Hengki akhirnya mengibaskan joran pancingnya dengan satu gerakan putaran yang sangat dramatis. Benda lele kuning itu pun terlempar jauh dan jatuh ke tengah-tengah derasnya arus sungai.
Hengki kemudian duduk kembali di atas batu kali sambil mengembuskan napas terengah-engah. Ia merasa sangat bangga karena baru saja sukses menjalankan tugas suci sebagai aktivis lingkungan dadakan.
Reno, dengan kondisi kedua kaki yang lemas gemetar dan peluh keringat dingin sebesar biji jagung, mulai mengambil posisi merangkak mundur secara perlahan untuk menjauh dari area semak-semak tersebut. Ia bersumpah dengan sungguh-sungguh di dalam hatinya:
Mulai besok pagi, gue lebih baik rela mengantre nungguin Mama mandi selama satu tahun penuh, daripada harus berurusan lagi sama pancingan maut dan ustaz lele kuning itu!
Senyum bahagia di wajah Hengki seketika luntur tanpa sisa, digantikan oleh ekspresi cemberut yang warnanya jauh lebih gelap daripada aspal jalanan yang baru disiram solar.
Ia menggerutu penuh emosi dengan untaian kata-kata mutiara khas pedesaan, lalu terpaksa membuang joran pancing kesayangannya ke tengah sungai dengan satu gerakan memutar yang sangat dramatis.
Rasa jijiknya sudah naik sampai ke ubun-ubun kepala. Bayangkan saja, mata kail yang dibelinya dengan uang hasil keringat sendiri baru saja melakukan "kontak fisik" secara intim dengan sisa metabolisme manusia kota yang tidak berdosa.
Hengki akhirnya memutuskan untuk beralih memeriksa bubu (perangkap ikan tradisional dari bambu). Ia turun ke dalam sungai, menerjang derasnya arus sedada sambil mulutnya komat-kamit merapal doa—mungkin doa keselamatan agar objek yang nyasar masuk ke perangkapnya kali ini beneran makhluk yang punya sirip dan bernapas dengan insang, bukan kiriman dari "pabrik" tersembunyi milik Reno.
Namun, saat bubu kayu itu diangkat dengan susah payah, isinya nihil. Kosong melompong, persis seperti penampakan isi dompet Reno di akhir bulan tanggal tua.
Tiba-tiba, sebuah benda berwarna kuning kecokelatan mengapung dengan sangat estetik melewati celah kaki Hengki, menari-nari dengan riang gembira mengikuti arus air yang mengalir ke hilir.
"Siapa ini teh... manusia biadab yang buang paket 'bom' di sungai sembarangan! Meni jorok pisan, Gusti Nu Agung!" teriak Hengki frustrasi. Suaranya menggelegar membelah keheningan hutan, getarannya bahkan sampai membuat lumut-lumut yang menempel di batu kali rontok seketika.
Kesabaran Hengki resmi tamat hari itu. Niat awal ingin mencari lauk ikan segar buat digoreng sore hari, malah dikasih kejutan berupa "Lele Kuning Tanpa Tulang" yang sukses memberikan trauma psikis mendalam. Matanya yang tajam bak burung elang kelaparan langsung menangkap sosok siluet jangkung yang sedang berjongkok lemas di balik semak-semak pinggir sungai—sang tersangka utama kejahatan limbah perut.
Hengki langsung memburu ke tepi sungai dengan langkah sergap. Sang pelaku, alias Reno, kebetulan baru saja menyelesaikan "ritual sakralnya" dan saat itu sedang sibuk adu mekanik, tarik-menarik celana jogger-nya yang mendadak nyangkut di ranting pohon lamtoro.
"Woy!!" teriak Hengki menodongkan telunjuknya.
Reno langsung terlonjak kaget sampai melompat setinggi tiga puluh senti.
Jantungnya berasa mendadak log out dari dada dan pindah ke dengkul kaki. Ia gugup, malu, ngeri, dan gemetar—rasanya saat itu persis kayak maling jemuran daster yang kepergok oleh warga sekampung dalam kondisi ritsleting celana belum naik secara sempurna.
"Kamu yang barusan buang muatan ilegal di sungai ini, kan?!"