NovelToon NovelToon
Adik Tunanganku yang Nakal dan Liar

Adik Tunanganku yang Nakal dan Liar

Status: sedang berlangsung
Genre:Selingkuh / Cinta Terlarang / Menikah dengan Kerabat Mantan
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: Kirana Hati

Malam pesta pertunangan yang seharusnya jadi malam paling membahagiakan, **Laras Wirasena**—pianis muda dari keluarga terpandang—malah memergoki tunangannya sendiri, **Radithya Adiwangsa**, pewaris Grup Adiwangsa, sedang bermain api dengan asistennya di balik pintu yang terbuka sedikit.

Belum sempat Laras mengamankan bukti, ponselnya direbut dan videonya dihapus—oleh **Bramantya**, adik kandung Radit yang terkenal nakal, urakan, dan tak kenal aturan. Bukannya membela, cowok itu malah menyeringai menantang:

> *"Menggodaku buat balas dendam ke abangku?"*

Laras cuma menginginkan satu hal: membatalkan tunangan dan lepas dari keluarga yang menjualnya demi sebuah proyek bisnis raksasa. Tapi malam itu mengubah segalanya. Sekali, dua kali... lalu malam-malam rahasia yang tak terhitung lagi jumlahnya.

Yang tak Laras sadari: di balik topeng *bad boy* itu, Bram menyimpan sebuah bekas luka di pinggang, sebuah tato Latin di jarinya, dan satu rahasia yang telah ia pendam bertahun-tahun. Pria yang katanya cuma cari senang ini ternyata pernah menahan sebuah peluru demi menyelamatkan nyawanya di sebuah gedung konser di luar negeri—dan telah mencintainya diam-diam, jauh sebelum takdir "mempertemukan" mereka.

Ketika perselingkuhan sang tunangan meledak di depan seluruh undangan, ketika kembang api pecah di atas panggung juaranya, ketika satu ciuman viral mengguncang seluruh negeri—Laras akhirnya harus memilih: terus berpura-pura, atau mengakui bahwa satu-satunya pria yang benar-benar mencintainya justru adik dari pria yang mengkhianatinya.

Tapi Bram tak datang hanya untuk mencintainya. Ia datang untuk merebut kembali segalanya—dan menjatuhkan abangnya sendiri, sampai ke titik terdalam.

> *"Sekarang dia mantan tunanganmu, pacarku, dan calon adik iparmu. Kenapa, Mas?"*

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kirana Hati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 27

Bab 27

Perjanjian Kekasih Gelap

Kaki Laras masih menggantung setengah langkah ketika tawa Bram terdengar dari ujung bar.

Ia menurunkannya perlahan, lalu menoleh.

Bram duduk santai dengan kemeja linen putih dan celana pendek gelap, seolah ia bukan lelaki yang baru melintasi dua negara untuk mengejar orang yang memblokirnya. Segelas air soda berada di depan, bukan alkohol.

"Selamat malam," katanya.

"Tidak."

Laras berbalik menuju jalan pasir. Bram menyusul dan menggenggam tangannya.

"Lepas."

"Tidak mau."

"Saya akan berteriak."

"Silakan. Semua orang sudah tahu aku datang karena bikin pacarku marah."

Seorang pelayan yang lewat tersenyum kepada mereka. "Semoga cepat berdamai, Pak."

Laras menatap Bram tidak percaya. "Kamu bilang apa kepada mereka?"

"Kebenaran versi singkat."

"Saya bukan pacarmu."

"Makanya aku datang memperbaiki status."

Ia tidak melepaskan jemari Laras sampai mereka tiba di depan rumah pasir. Laras membuka pintu dan berusaha menutupnya, tetapi Bram menyelipkan kaki.

"Kamar kamu di mana?"

"Dekat."

"Pergi ke sana."

Bram berjongkok seolah hendak membetulkan sandal Laras. Sebelum ia sempat mundur, lelaki itu melingkarkan tangan pada pinggangnya dan menempelkan wajah ke perutnya.

"Peluk sebentar, ya."

"Tidak."

"Sudah terlanjur."

Laras mendorong kepalanya, tetapi Bram hanya tertawa. Setelah benar-benar melepaskan, ia mundur dari pintu tanpa mencoba masuk.

"Kamu dapat kamar dari mana? Pulau ini penuh."

"Ada orang batal datang."

"Kebetulan sekali."

"Uang membuat banyak kebetulan."

Laras mendengus lalu menutup pintu. Dari balik kaca, ia melihat Bram berdiri sampai kunci benar-benar terpasang. Baru setelah Laras mematikan lampu teras, lelaki itu berjalan pergi menyusuri pasir.

Ia seharusnya marah karena dikejar. Yang membuatnya lebih marah adalah rasa aman bodoh yang muncul ketika siluet Bram hilang di antara pohon.

"Tidur yang nyenyak, Ras. Besok kita ketemu lagi."

"Tidak akan."

Prediksi Laras gagal sejak sarapan.

Ketika ia berjalan menuju restoran, staf pertama menyerahkan satu mawar putih. Katanya dari tamu bernama Bagas yang sedang meminta maaf kepada kekasih. Staf kedua memberi mawar lain. Begitu tiba di restoran, ia sudah membawa sepuluh tangkai dan seluruh pekerja di sepanjang jalur tersenyum mendukung.

Bram menunggu di pintu dengan tangkai kesebelas.

"Norak." Laras melempar seluruh bunga ke dadanya.

Bram menangkap buket berantakan itu. "Berarti kamu terima."

"Saya lempar."

"Tetap pindah tangan."

Saat kegiatan menganyam daun kelapa siang harinya, Bram muncul sebagai peserta terlambat. Ia memakai nama Bagas dan duduk tepat di samping Laras. Lima menit kemudian, ujung daun menggores jarinya.

"Sakit, Sayang," katanya dalam bahasa Indonesia, khusus untuk Laras.

Instruktur asing mengira nada itu romantis. Laras mengambil plester dari meja dan menempelkannya terlalu keras.

"Semoga tambah sakit."

"Kalau kamu yang rawat, nggak apa-apa."

Sepanjang hari, ke mana pun Laras pergi, seseorang telah mendengar cerita tentang Bagas yang terbang jauh demi meminta maaf. Bahkan pasangan asing di jalur kayu memberi ruang dan mengacungkan jempol kepada Bram.

Di restoran, pelayan menaruh dua piring sarapan dalam satu meja meski Laras meminta tempat sendiri. Di pantai, petugas menyisakan dua kursi panjang di bawah payung yang sama. Saat Laras mencoba mengikuti kelas meditasi, instrukturnya tersenyum kepada Bram dan berkata pasangan yang bertengkar sebaiknya belajar bernapas bersama.

"Berapa banyak kamu memberi tip?" tanya Laras setelah kelas.

"Cukup untuk mendukung ekonomi lokal."

"Kamu membeli satu pulau untuk mempermalukan saya."

"Kalau pulau ini dijual, mungkin aku pertimbangkan."

Laras mempercepat langkah di jembatan kayu. Bram mengikuti sambil membawa topinya, botol minum, serta sebelas mawar yang tidak mau ia tinggalkan. Ia tidak menyentuh Laras lagi di depan orang, tetapi kehadirannya cukup dekat hingga semua orang tetap menganggap mereka pasangan.

Ketika Laras berhenti di tepi laguna, Bram menawarkan aktivitas perahu. Laras menolak. Ia tidak menjelaskan bahwa air dalam membuat telapak tangannya dingin. Bram hanya melihat cara matanya menjauhi laut, lalu mengganti usul menjadi jalan kaki di pasir dangkal tanpa bertanya alasan.

Laras kembali ke rumah pasir, melempar mawar ke sofa, lalu menuang sedikit minuman dari minibar agar bisa tidur siang. Ponselnya bergetar.

Kirana: Hari ini ketemu orang?

Laras: Kamu tahu dia datang.

Kirana: Aku mau jujur, tapi masih sayang hidup.

Laras: Kamu memberi tahu lokasinya?

Kirana: Setelah aku suruh dia keliling Singapura dua hari. Maaf.

Malamnya, Bram masih berada di depan restoran ketika Laras keluar. Ia tersenyum kepada koki, petugas kebersihan, dan tamu lain seperti calon menantu seluruh pulau.

Laras kehilangan kesabaran. Ia mencengkeram lengannya dan menyeretnya kembali ke rumah pasir.

"Sebenarnya kamu mau apa?"

"Kamu."

"Berapa lama?"

Bram berhenti tersenyum. "Maksudnya?"

"Berapa lama kamu masih mau melakukan ini? Sampai kapan?"

Pertanyaan itu praktis, tetapi terdengar seperti Laras sedang menghitung masa berlaku dirinya. Tatapan Bram mengeras.

"Kamu terbang sejauh ini hanya karena diblokir?" lanjut Laras. "Kamu punya perusahaan, keluarga, dan masalah Batam."

"Semuanya masih ada kalau aku pulang seminggu lagi."

"Dan kalau saya tetap tidak mau?"

"Aku tunggu sampai kamu bilang itu di depan wajahku, bukan lewat pesan."

"Sekarang saya sudah bilang."

"Kamu belum. Kamu cuma tanya berapa lama."

Laras membenci ketepatan jawabannya. Ia memang tidak meminta Bram pergi. Ia hanya meminta jaminan bahwa hubungan ini akan berakhir sebelum menjadi sesuatu yang mampu menghancurkannya lagi.

"Sampai aku bosan sama kamu."

Jawaban itu seharusnya menenangkan. Lelaki seperti Bram mungkin bosan dalam hitungan minggu. Laras bisa menerima hubungan yang memiliki pintu keluar jelas. Ia tidak perlu mempercayakan masa depan, hanya menyetujui apa yang sudah mereka lakukan sekarang.

Namun bagian lain dirinya tahu Bram tidak mudah bosan. Ia menyimpan piano bertahun-tahun, membaca novel setebal batu bata, mengingat alerginya dari wawancara lama, dan mencari dirinya melewati Singapura sampai ke pulau kecil ini. Justru ketekunan itulah yang menakutkan.

Jika hubungan ini punya batas, Laras bisa berpura-pura tetap mengendalikan akhir.

"Baik," katanya. "Tapi ada syarat."

Bram bersandar di meja makan. "Sebutkan."

"Pertama, tidak boleh ada yang tahu siapa kita. Kedua, jangan panggil saya Sayang atau istri di depan orang. Ketiga, kalau ada orang lain, jaga jarak."

"Tiga aturan untuk hubungan gelap?"

"Kalau kamu tidak setuju, pintunya di sana."

Bram berjalan mendekat. "Jadi kita nggak selingkuh lagi?"

"Saya sudah tidak bertunangan."

"Berarti pacaran?"

"Hubungan gelap."

"Pintar juga main begini."

Laras hendak membalas, tetapi Bram mengangkat wajahnya dengan kedua tangan. Ciuman yang datang tidak liar atau menuntut. Bibirnya hanya menyentuh Laras perlahan, seolah kesepakatan aneh itu adalah sesuatu yang pantas diperlakukan suci.

Ketika menjauh, Bram tetap menatapnya dari jarak dekat.

"Kenapa lihat begitu?"

"Aku punya pacar."

"Kekasih gelap."

"Tetap ada kata kekasih."

Panas naik ke wajah Laras. Ia mendorong dada Bram. "Pulang ke kamarmu."

"Aku sudah batalin."

"Apa?"

"Kamar ini besar. Kamu berani tidur sendiri? Aku sih takut."

Bel pintu berbunyi. Manajer vila berdiri di luar bersama dua koper Bram.

Di belakangnya ada satu kotak panjang berisi mawar yang tadi dilempar Laras. Bram rupanya meminta staf menyusun kembali bunga itu dan menambahkan kartu bertuliskan, Untuk pacar gelap yang semua orang sudah tahu.

Laras merobek kartu tersebut menjadi empat bagian.

"Aturan kedua berlaku mulai sekarang."

"Belum tanda tangan."

"Tidak ada tanda tangan."

"Berarti perjanjiannya bisa dinegosiasi setiap hari."

"Pak Bagas mengatakan Ibu sudah menyetujui kepindahan," katanya.

Laras menatap lelaki yang sama sekali tidak tahu malu itu. Bram tersenyum dan mengambil koper.

"Saya tidak pernah setuju."

"Kamu juga nggak bilang tidak waktu aku tanya tadi."

"Kamu tidak bertanya."

"Sekarang aku tanya. Boleh tinggal?"

Laras ingin menolak. Namun membawa koper kembali akan menciptakan tontonan baru, dan bagian bodoh dalam dirinya sudah lega melihat Bram ada di dekatnya.

Ia berjalan masuk tanpa menjawab.

Bram menganggap itu izin.

Ia memilih sofa ruang tamu untuk menaruh barang, bukan langsung memenuhi lemari Laras. Ia juga menunjukkan kartu kamarnya yang lama sudah dinonaktifkan, lalu memesan satu tempat tidur tambahan. Ketika staf menawarkan memasangnya, Laras menatap ukuran ranjang utama dan mengatakan tidak perlu.

Bram tidak berkomentar, tetapi senyum kecilnya membuat Laras ingin menarik kembali jawaban.

Makan malam dikirim ke teras. Untuk pertama kalinya sejak ia tiba, Laras makan lebih dari setengah porsi. Bram tidak menyebutnya, hanya menggeser hidangan ikan tanpa cabai ke dekat tangannya. Sikap kecil itu membuat kesepakatan sementara terasa terlalu mirip kehidupan bersama.

Sesudah koper dipindahkan, Laras kembali membuka percakapan dengan Kirana. Temannya mengaku pernah berbohong soal Singapura, tetapi menolak menjelaskan ancaman apa yang membuatnya akhirnya membocorkan pulau.

"Kamu punya apa tentang Kirana?" tanya Laras.

"Nggak ada."

"Dia takut padamu."

"Semua orang takut pesonaku."

"Menjijikkan."

Bram menyimpan rahasia Rakai dengan wajah tanpa dosa.

Malam itu, mereka berbaring di satu ranjang. Laras mengingatkan ketiga aturan sekali lagi. Bram menambahkan aturan keempat: dilarang memblokir tanpa penjelasan.

"Tidak disetujui," kata Laras.

"Tetap berlaku."

"Tidur."

Ia mematikan lampu dan membelakangi Bram. Selama beberapa detik, lelaki itu diam.

Kemudian satu lengan menangkap pinggang Laras dan menariknya, bersama selimut, sampai menempel pada dada Bram.

"Kamu sebaiknya benar-benar bisa tidur," bisiknya di belakang telinga.

Di dalam gelap, Laras menggigit bibir agar Bram tidak mendengar napasnya sendiri menjadi begitu cepat malam itu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!