Dibesarkan di sebuah rumah bordil, ia tak pernah membayangkan dirinya akan terpilih sebagai Saintess yang ditakdirkan menyelamatkan dunia. Baginya, takdir itu terasa mustahil. Ia lahir sebagai rakyat jelata yang selalu dipandang rendah, tetapi setelah menjadi Saintess, orang-orang mulai memujanya tanpa benar-benar mengenalnya.
Di tengah kehidupan yang penuh pertentangan itu, ia bertemu seorang ksatria yang tidak menghakimi masa lalunya maupun memuja statusnya. Pria itu tidak pernah menjanjikan keselamatan, tetapi selalu berada di sisinya, menghadapi setiap cobaan bersama, bahkan rela mempertaruhkan nyawanya.
Di balik sikapnya yang dingin, tersembunyi ketulusan yang perlahan mengubah hidupnya. Bersama ksatria itu, ia belajar menerima dirinya sendiri dan menemukan harapan di dunia yang selama ini hanya memberinya penghinaan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon flowy_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ilmu Pedang
“Cedric.”
Begitu mendengar suara Marquis, Violet terkejut dan hendak membungkuk memberi salam. Namun, Marquis lebih dulu mengangkat tangan untuk menghentikannya.
“Dia adalah Saintess. Segera beri salam.”
“Apa?!”
Anak laki-laki itu langsung melompat berdiri. Ia menatap wajah Violet lekat-lekat dengan ekspresi tak percaya.
Tatapannya bahkan menunjukkan permusuhan.
“Itu tidak sopan, Cedric.”
Seorang anak laki-laki di sampingnya bangkit dengan suara tenang.
Rambutnya pirang muda, sementara matanya berwarna biru tua seperti milik Marquis. Tubuhnya juga lebih tinggi daripada Cedric dan tampaknya hanya dua atau tiga tahun lebih tua dari Violet.
Anak laki-laki berambut pirang itu menghampiri Violet tanpa ragu.
“Senang bertemu denganmu, Saintess. Aku Ledian Rivera. Merupakan kehormatan bagiku dapat melayani Saintess.”
Dengan tata krama yang sempurna, Ledian berlutut di hadapan Violet.
Violet hanya bisa terdiam. Ia belum pernah melihat anak laki-laki dengan penampilan serapi dan setampan dirinya. Kedua pipinya pun memerah.
“Seharusnya Anda menyuruhnya berdiri.”
Violet mengulang perkataan yang pernah diajarkan kepadanya dengan terbata-bata.
“Si-silakan berdiri.”
Ledian bangkit dan menatap matanya, lalu tersenyum ramah.
Untuk sesaat, ketegangan Violet mulai mereda.
“Bukankah dia benar-benar bodoh?”
Suara tidak senang terdengar dari samping.
Anak laki-laki tadi sedang menyilangkan tangan sambil menatap Violet dengan wajah kesal.
Violet langsung menundukkan kepala.
Ia tidak bisa mengatakan bahwa perkataan itu sepenuhnya salah. Nenek Ruth juga sering menyebutnya seperti itu.
Sepertinya para tuan muda bangsawan memang tidak menyukainya.
“Cedric!”
Ledian dan Marquis menegurnya bersamaan.
“Cepat beri salam.”
Cedric menjulurkan lidah.
“Lagipula katanya dia adikku. Kenapa aku harus berlutut di depan adikku sendiri?”
Mendengar bantahannya, Marquis hendak memperingatkannya. Namun Cedric lebih dulu berseru,
“Bagaimana bisa Ayah menyuruhku berlutut di depan rakyat jelata?”
Violet tersentak. Ia menundukkan kepala dengan lesu.
“Cedric!”
Suara Marquis mengandung kemarahan yang tertahan. Untuk beberapa saat, tidak ada seorang pun yang berani berbicara. Namun, setelah melihat wajah Cedric yang tetap keras kepala, Marquis hanya bisa menghela napas.
Tanpa berkata apa-apa, ia menarik Violet dan mendudukkannya di meja makan.
“Carlisle belum datang?”
Marquis bertanya kepada kepala pelayan yang berdiri di sampingnya.
“Tuan muda sudah pergi lebih dulu.”
Marquis mengernyit.
“Padahal aku sudah menyuruhnya datang makan hari ini.”
“Anda sendiri tahu seperti apa sifat Tuan Muda.”
Marquis tidak menjawab. Ia hanya menghela napas dengan berat.
Carlisle?
Siapa dia? Tuan muda juga?
Kenapa ada begitu banyak tuan muda di rumah ini?
Violet hanya bisa mengeluh dalam hati.
Ketika Marquis mengangkat pisaunya, makan pun dimulai.
Violet menatap potongan ayam besar yang tersaji di hadapannya. Ia tidak tahu harus memulai dari mana, sehingga hanya memandanginya dengan bingung.
Cedric kembali menatapnya.
“Bahkan makan saja tidak bisa. Memangnya kapan kau pernah makan makanan seperti ini?”
Violet terdiam. Perkataan itu memang benar. Ia bahkan tidak tahu bagaimana cara menyantap makanan seperti itu.
Melihat reaksinya, Cedric justru merasa terkejut.
Jangan-jangan dia benar-benar belum pernah memakannya?
“Cedric, hentikan sekarang.”
“Kakak.”
“Hanya karena kau lebih tahu soal tata krama, bukan berarti kau berhak mengatakan hal itu.”
Ucap Ledian tegas.
Cedric hanya memanyunkan bibirnya, tetapi tatapannya masih tertuju pada Violet.
Melihatnya kesulitan, Seina akhirnya berbisik dari samping.
“Saintess, gunakan sendok yang paling kanan. Begini.”
Makan ternyata jauh lebih sulit daripada yang dibayangkan.
Ia harus mengingat begitu banyak aturan hanya untuk makan. Memikirkannya saja sudah membuat kepalanya pusing.
Violet berusaha menelan makanan itu meski rasanya begitu sulit. Sambil makan, ia terus memperhatikan reaksi orang-orang di sekitarnya.
Setiap kali ia melakukan kesalahan, Cedric sengaja tertawa mengejek.
Jika makan terlalu banyak, ia pasti akan ditegur. Namun, jika makan terlalu sedikit, itu pun pasti akan menjadi masalah.
Para bangsawan memang selalu bertindak sesuka hati.
Setelah mereka memandangnya dengan buruk, apa pun yang dilakukannya pasti akan menjadi bahan ejekan.
Namun, Violet tetap harus makan.
Akhirnya Marquis yang sejak tadi memperhatikan segera angkat bicara.
“Sepertinya dia perlu belajar tata krama dari seorang guru.”
Mendengar nada lelah dalam suara Marquis, Violet semakin malu dan tidak berani mengangkat kepala.
Setelah makan selesai, Ledian menghampirinya dengan tatapan hangat.
“Cedric memang sedikit nakal.”
“Ya…”
Violet menjawab lirih.
Ledian mengangkat tangan dan menepuk bahunya. Terkejut oleh sentuhan hangat itu, Violet segera menoleh.
“Tenang saja. Semuanya akan membaik seiring waktu.”
Meski terdengar seperti ucapan yang baik, sebenarnya Ledian sedang menyiratkan bahwa tata krama makan Violet sangat buruk.
Apa dirinya benar-benar bisa berubah? Violet sendiri tidak yakin.
Perutnya yang sudah terasa penuh dan tidak nyaman kembali bergolak. Bahkan sebelum Ledian sempat mengatakan apa-apa, Violet mundur lalu berlari masuk ke kamar terdekat.
Sesaat kemudian, ia langsung muntah.
Seina terkejut dan memanggilnya. Ada nada marah dan kecewa dalam suaranya, tetapi Violet yang sudah berlutut di lantai tidak menyadarinya.
“Saintess!”
Beberapa pelayan perempuan menyusul Seina masuk ke dalam kamar. Mereka berbisik-bisik sambil memperhatikan Violet yang terus muntah.
Seolah-olah tubuhnya menolak makanan yang tidak pernah bisa ia nikmati sepanjang hidupnya.
Roti putih lembut yang selama ini hanya bisa ia impikan, sup gurih, hingga ayam lezat yang dibumbui dengan sempurna—semuanya keluar kembali dari perutnya.
Seina kebingungan harus berbuat apa. Ia segera mengambilkan air bersih untuk Violet.
Violet harus membersihkan muntahan yang menempel di tubuhnya. Saat hendak mandi, beberapa pelayan datang untuk membantunya.
Untuk pertama kalinya, Violet menggeleng dengan tegas dan menolak bantuan mereka.
Ia memang tidak terbiasa dilayani orang lain. Namun, bukan itu saja alasannya. Berada di dekat orang-orang di tempat ini membuatnya merasa tidak nyaman.
Sebelum masuk ke kamar mandi, Violet sempat melihat dirinya di cermin.
Seorang gadis dengan penampilan asing menatap balik dari sana.
Rambutnya yang dahulu cokelat kini berubah menjadi perak. Mata yang dulu berwarna ungu seperti bunga violet kini berubah menjadi biru.
Bahkan melihat dirinya sendiri dalam keadaan seperti ini terasa menakutkan, dan membuatnya semakin tidak nyaman.
Violet terbatuk-batuk.
Rasa pahit dari asam lambung masih tertinggal di dalam mulutnya.
......................
Di dalam kereta, Violet hanya menundukkan kepala tanpa berkata apa-apa.
Marquis yang duduk di seberangnya juga terdiam sambil menatap ke luar jendela.
Marquis memang dikenal pendiam, sementara Violet terbiasa memilih diam dalam situasi seperti ini. Dari pengalaman pahitnya, ia belajar bahwa menjaga ucapan di hadapan orang yang sulit dihadapi adalah cara terbaik untuk menghindari kesalahan.
Sejak merasa mual kemarin, kepalanya masih terasa pusing. Ia sebenarnya ingin beristirahat sejenak, tetapi keadaan membuatnya tidak bisa bersantai.
Melihat Violet yang tampak gelisah, Marquis akhirnya angkat bicara.
“Saintess, saat menghadap Yang Mulia Raja atau berhadapan dengan anggota keluarga kerajaan, Anda harus sangat berhati-hati.”
“Ya, saya mengerti.”
Violet menjawab dengan sopan. Ia takut jika terus diam, justru akan dianggap tidak sopan. Bahkan bernapas pun rasanya harus berhati-hati, tetapi Marquis tampaknya tidak menyadarinya.
“Terutama saat bertemu para pendeta, kau harus segera menjauh dari mereka.”
“Pendeta?”
Marquis mengangguk.
“Mereka sedang mencari kesempatan untuk membawamu pergi. Selama ada orang di sisimu, mereka tidak akan bisa berbuat apa-apa. Namun, jika suatu saat kau bertemu seorang pendeta ketika sedang sendirian, hindarilah dia.”
Violet mengangguk.
Wajah para pendeta yang berlutut dengan tatapan aneh itu masih tertanam jelas di ingatannya. Orang-orang yang semalam memukuli Aster tanpa ampun, kini justru melemparkan senyum rendah hati yang terasa menjijikkan.
Violet memang belum memahami banyak hal. Namun, ada satu hal yang sudah ia putuskan dengan tegas: ia tidak ingin pergi ke kuil, apa pun yang terjadi.
Melihat Violet menurut tanpa membantah, ekspresi Marquis sedikit melunak.
Tak lama kemudian, kereta berhenti dan istana kerajaan terlihat di hadapan mereka.
Alih-alih mengagumi kemegahan istana, Violet justru menundukkan kepala dalam-dalam. Bahunya menciut, seolah-olah ia telah datang ke tempat yang seharusnya tidak ia datangi.
Para pengawal yang datang menyambut mereka kemudian mengantar Violet dan Marquis menuju ruang pertemuan Raja.
Ruang pertemuan itu tidak seluas aula tempat audiensi. Ukurannya relatif kecil, dengan suasana yang lebih tenang. Mereka berdiri menunggu kedatangan Raja, lalu segera berlutut begitu beliau memasuki ruangan.
“Bangunlah.”
Atas perintah Raja, mereka pun berdiri. Ujung gaun Violet yang panjang sempat membuatnya tersandung, tetapi ia berhasil menjaga keseimbangan. Setelah mendapat izin, ia perlahan mengangkat kepala.
Namun begitu mata mereka bertemu, Violet langsung menundukkan kepalanya lagi.
Sampai sekarang, Violet masih sulit percaya bahwa dirinya benar-benar sedang berhadapan langsung dengan seorang raja.
“Apakah ada sesuatu yang membuatmu tidak nyaman?”
Mendengar nada bicara Raja yang tegas dan kaku, Violet langsung menjawab, “Ti-tidak ada.”
Tatapan Raja terus mengamati Violet dari ujung kepala hingga kaki.
“Sepertinya dia perlu belajar tata krama terlebih dahulu, Marquis.”
“Saya sudah mencari guru untuknya.”
“Latar belakangnya memang tidak bisa diubah.”
Raja menghela napas lalu duduk di kursi yang berada di depan meja. Setelah ia memberi isyarat, Marquis dan Violet pun duduk dengan hati-hati.
“Siapa namamu?”
Violet menjawab dengan gugup, “Vi-Violet.”
“Bahkan namamu diambil dari nama bunga.”
Violet mulai bertanya-tanya apakah ada yang salah dengan namanya.
Melihat Raja yang tidak menyukai namanya, ia semakin merasa tidak nyaman berada di sana. Sejak awal, tempat ini memang bukan untuknya.
“Marquis, kau tahu soal ini?”
“Tidak.”
“Begitu rupanya. Katanya kau menjadikannya putri angkat, tetapi namanya saja kau tidak tahu.”
Mendengar ucapan Raja, Marquis melirik gadis yang duduk di sampingnya.
Wajah Violet pucat dan tubuhnya gemetar. Marquis pun berpikir bahwa mereka sebaiknya meninggalkan istana secepat mungkin.
“Jika nanti waktunya tiba untuk mengajarinya tentang kuil, saya berniat menyerahkannya kepada seorang ahli teologi, bukan kepada pendeta.”
“Itu keputusan yang baik.”
Raja menyesap teh yang telah disiapkan. Cangkir teh juga diletakkan di depan Violet, tetapi ia bahkan tidak berani menyentuhnya. Ia takut jika minum, dirinya akan kembali melakukan kesalahan.
“Setelah mendapatkan pendidikan yang cukup, saya rasa ia juga perlu dilatih untuk menghadapi Abyss.”
“Dilatih?”
“Saya ingin mengajarinya ilmu pedang.”
“Ilmu pedang?”
Violet terkejut dan menatap Marquis. Raja pun menunjukkan reaksi serupa.
“Menurutku, sudah cukup sulit baginya untuk sekadar mengangkat pedang.”
“Jika dia mau berusaha, bukan berarti itu mustahil. Saya tidak tahu bagaimana Saintess dididik oleh pihak kuil seratus dua puluh tahun lalu, atau bahkan sebelumnya. Namun, jika kita ingin menghadapi dan memusnahkan sesuatu, kemampuan bertarung tetap diperlukan. Setidaknya, dia harus siap jika terjadi sesuatu.”
“Aku percaya padamu, Marquis. Namun, aku tetap sulit membayangkan dia sanggup menjalani semua itu.”
Ilmu pedang.
Violet masih terpaku, bahkan tanpa sadar bergumam sendiri.
Baru saja ia harus belajar tata krama, sekarang sudah ditambah ilmu pedang. Semuanya terasa begitu jauh dari jangkauannya.
Melihat Violet yang mulai gelisah karena memikirkan semua itu, Raja memandangnya dengan iba.
“Sepertinya Saintess perlu beristirahat, Marquis.”
Violet segera memperbaiki ekspresinya.
Ia baru sadar bahwa dirinya berdiri di hadapan Raja dengan wajah kelelahan. Itu pasti sangat tidak sopan.
“Saya juga baru saja berpikir demikian.”
Marquis memberi isyarat kepada salah satu pelayan untuk membantunya berdiri.
“Silakan ikuti saya.”
Violet mengangguk lalu mengikuti pelayan itu. Ia bisa merasakan tatapan Raja dan Marquis masih mengikutinya dari belakang.
Violet berusaha berjalan setegap mungkin, tetapi rok gaunnya yang terlalu lebar membuat langkahnya sulit. Melihat langkahnya yang begitu terbatas, sang pelayan akhirnya menyesuaikan kecepatannya.
Begitu keluar dari istana, aroma bunga langsung memenuhi udara.
Melihat taman yang tertata begitu indah, Violet merasa seolah-olah telah memasuki sebuah tempat di luar dunia. Beban yang sejak tadi menekan dirinya sedikit menghilang. Dengan berani, ia mulai memperhatikan bunga-bunga berwarna cerah yang bermekaran di sepanjang taman.
“Kita harus kembali ke kediaman.”
“Baik.”
Meski menjawab, Violet masih sulit mengalihkan pandangan dari taman yang indah itu. Kalau dipikir-pikir, kediaman keluarga Marquis juga memiliki taman yang sama indahnya.
Tiba-tiba terdengar kicauan burung.
Violet seketika menoleh. Seekor burung biru bertengger tak jauh darinya sambil berkicau, seolah sedang menyapanya.
Wajah Violet yang sejak tadi tegang perlahan mencair.
Senyum cerah pun menghiasi wajahnya.
Gadis yang selama ini hanya mampu menundukkan kepala dengan sikap takut dan patuh itu akhirnya mengangkat wajahnya dan tersenyum. Senyumnya begitu indah, bahkan tak kalah dari putri-putri bangsawan mana pun.
“Kenapa Anda tersenyum?”
Pelayan itu bertanya, heran melihat perubahan Violet yang tiba-tiba.
“Dia sedang menyapaku.”
Violet menunjuk burung biru yang bertengger di sana.
Pelayan itu menatapnya dengan ekspresi aneh.
“Saintess bisa memahami ucapan burung?”
“Ya. Entah kenapa, aku bisa memahaminya.”
“Itu karena semua makhluk ciptaan Tuhan menyayangi Saintess.”
Mendengar ucapan itu, Violet memiringkan kepala. Bukankah manusia juga termasuk ciptaan Tuhan? Namun, selain ibu, ayah, dan beberapa kakaknya, ia tidak pernah merasa dicintai oleh orang lain.
Saat Violet mengulurkan tangan, burung itu langsung terbang menghampirinya. Tubuhnya yang bulat dan menggemaskan tampak semakin lucu ketika bulu-bulunya mengembang. Kicauannya pun terdengar lebih seperti celotehan riang daripada nyanyian yang anggun.
Rambut perak Violet berkilauan diterpa cahaya matahari. Dengan mata sebening langit biru, ia tersenyum sambil memandangi burung di tangannya. Sosoknya benar-benar tampak seperti makhluk yang dianugerahkan Tuhan, seolah bukan berasal dari dunia nyata.
Pelayan itu terpaku melihat Violet yang sibuk mendengarkan kicauan burung. Saat itu, gadis tersebut tampak lebih suci daripada apa pun yang pernah dilihatnya.
"Astaga, ternyata Saintess ada di sini!"
Saat mereka berhenti memperhatikan burung tersebut, seorang lelaki tua segera menghampiri. Jubah putih yang dikenakannya menandakan bahwa ia seorang pendeta. Begitu lelaki itu mendekat, burung tadi mengeluarkan kicauan tajam lalu terbang menjauh.
Lelaki tua itu segera berlutut di hadapan Violet.
"Salam, Saintess. Saya Luth, Hamba Tuhan."
Violet hanya menatap pria itu dengan gelisah, ia tidak tahu harus menjawab apa.
"Apakah ada sesuatu yang membuatmu tidak nyaman, Saintess?"
"T-tidak."
"Namun, menurut pengamatan saya, wajah Anda terlihat jauh lebih pucat hanya dalam sehari. Seharusnya sejak awal saya mencegah Marquis Rivera menggunakan cara licik untuk membawa Saintess pergi."
"....."
"Saintess, masih belum terlambat. Anda masih bisa ikut bersama kami."
Pendeta yang berlutut itu bangkit, lalu tiba-tiba meraih tangan Violet.
"Anda harus segera pergi ke kuil. Kardinal sudah menunggu."
"Kurang ajar! Apa yang Anda lakukan terhadap Saintess?"
Pelayan yang berada di samping Violet langsung menegur.
"Beraninya pelayan rendahan bersikap kurang ajar pada hamba Tuhan sepertiku! Apa kau tahu apa yang sedang kau lakukan? Kau bisa mendatangkan murka dari Tuhan!"
Bentakan keras itu membuat sang pelayan tersentak.
Namun, tangan pendeta yang mencengkeram Violet justru semakin kuat dan sama sekali tidak mau melepaskannya. Tatapan dan sikapnya yang begitu angkuh membuat Violet ketakutan.
Kalau terus begini, ia akan dibawa ke kuil!
Violet tidak ingin berpindah tempat. Bagaimana jika para pendeta itu berubah sikap setelah membawanya ke kuil, seperti ketika mereka memperlakukan Aster dengan buruk? Ia tidak ingin berakhir seperti kakak-kakaknya yang pernah terjatuh dalam keadaan babak belur sambil menangis setelah para pendeta pergi.
Namun, pelayan yang berdiri di sampingnya jelas tidak mungkin mampu melawan seorang pendeta.
Tanpa sadar, Violet menggigit kuat tangan pendeta itu.
"Aaakh!"
Cengkeramannya langsung mengendur karena rasa sakit yang tak terduga.
Violet pun berlari sekuat tenaga.
“Terutama saat bertemu para pendeta, kau harus segera menjauh dari mereka.”
Suara sang Marquis terus terngiang di kepala Violet.
Ia berlari sekuat tenaga. Tak lama kemudian, terdengar suara seseorang memanggilnya dari belakang. Namun, karena tubuhnya yang kecil berhasil menyelinap ke jalan setapak yang sempit, suara orang-orang yang mencarinya perlahan semakin jauh.
Beberapa saat kemudian, Violet baru menyadari bahwa dirinya telah tersesat.
Di sekitarnya, taman itu tampak seperti labirin. Bunga-bunga besar bermekaran di berbagai sudut, sementara pepohonan dipangkas dengan bentuk yang seragam sehingga tidak ada yang bisa dijadikan penanda arah.
Seharusnya tadi ia menuju ke arah istana, satu-satunya tempat yang masih dikenalnya.
Jika terus berdiam di sini, pendeta itu mungkin akan menemukannya dan membawanya ke kuil.
Ketakutan itu membuat Violet berjalan dengan hati-hati, berusaha tidak menimbulkan suara sedikit pun.
"Apa yang harus kulakukan?" Violet bergumam pelan.
Saat itulah terdengar kicauan burung.
Ciit ciit!
Violet menoleh ke arah suara itu. Burung biru yang tadi dilihatnya sedang berkicau di suatu tempat.
Burung itu kembali berkicau seolah menyuruhnya mengikuti, lalu terbang dan hinggap di pohon terdekat.
"Ke sana?"
Violet bertanya.
Burung itu menjawab dengan satu kicauan lagi.
Violet pun mengikutinya.
Sesekali burung itu menoleh untuk memastikan Violet masih mengikutinya. Setiap kali langkah Violet tertinggal, burung itu akan berkicau lagi seolah mendesaknya untuk segera menyusul.
Violet begitu terpaku pada burung itu hingga tidak menyadari seseorang mendekat dari belakang.
Tiba-tiba sebuah tangan meraih tubuhnya.
"Ah!"
Violet menjerit kaget.
Sebuah lengan melingkari tubuhnya dari belakang. Tanpa berpikir panjang, ia langsung menggigit pergelangan tangan orang itu sekuat tenaga.
Namun, lengan tersebut tetap mencengkeramnya dengan kuat.
Burung biru itu entah kapan sudah terbang meninggalkannya.
Violet segera menyadari bahwa lengan yang melingkari pinggangnya bukan milik pendeta tua tadi. Cengkeramannya jauh lebih kuat. Karena itu, Violet semakin panik dan berusaha melepaskan diri sekuat tenaga.
"Tenanglah."
Suara rendah terdengar dari belakangnya.
Violet tersentak dan menoleh.
Seorang pemuda berambut hitam berdiri di belakangnya.
Atau tepatnya, ia lebih mirip seorang anak laki-laki. Tubuhnya tinggi dan tegap seperti pemuda dewasa, tetapi wajahnya masih menyisakan kesan kekanak-kanakan.
Ia mengenakan seragam hitam dengan sulaman benang emas dan pola-pola mewah. Dalam pemahaman Violet yang masih sederhana, hanya ada satu jenis orang yang mengenakan pakaian semewah itu.
Ia pernah mendengar Aster dan Rose membicarakannya. Katanya, seorang pangeran tinggal di istana.
Jadi, pria ini pasti seorang pangeran.
Begitu tahu siapa yang berdiri di hadapannya, Violet sontak ketakutan. Ia baru saja menggigit lengan seorang pangeran.
Air mata langsung menggenang di matanya. Ia telah melakukan kesalahan yang begitu besar.
Sepasang mata biru jernih seperti lautan menatap Violet dengan tajam.
Baru sekarang Violet menyadari bahwa rambutnya bukan hitam, melainkan biru yang sangat gelap.
Entah mengapa, warna itu terasa begitu akrab.