NovelToon NovelToon
Gadis Cantik Di Arena Pertarungan

Gadis Cantik Di Arena Pertarungan

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Mengubah Takdir
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: R251Aje

Terjebak dalam utang dan tidak memiliki jalan keluar, dia terpaksa memasuki arena pertarungan ilegal demi mendapatkan hadiah uang yang cukup untuk bertahan hidup. Bagi orang lain, arena itu adalah tempat kematian. Tetapi bagi Aira, arena hanyalah tempat mencari nafkah. Selama ada uang dan masih bernafas, dia bersedia bertarung dan tidak menyerah.

Dia tidak mengenal kata cinta tapi tiga pria tampan tanpa sengaja menempel dan ingin memilikinya. Tapi Aira tidak mudah ditakhlukkan, hanya uang yang bisa membuatnya patuh walau cuma sebentar.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R251Aje, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20 Rumah Sakit Militer, Darah yang Tertinggal, dan Jawaban yang Ditunda

Petugas militer menatap Reza. Reza hanya bilang satu kalimat, “Tanggung jawab saya. Biarkan dia ikut.”

Mereka masuk lewat pintu darurat. Lampu neon putih menyilaukan. Bau antiseptik langsung menusuk. Aira masih semi-sadar, mata terbuka sempit, bibir pucat.

Raka berlari di samping brankar. “Aira. Buka mata. Jangan tidur.”

Aira menggerakkan bibir. Suaranya serak. “Raka… jok mobil… kotor. Nanti… diganti…”

Raka hampir tertawa, tapi yang keluar hanya suara pecah. “Saya ganti. Semua saya ganti. Kamu diam saja.”

Keenan memegang infus yang dipasang sambil berlari. “Tekanan darah turun. Cepat ke OK.”

Reza berjalan di belakang dengan wajah datar, tapi jari-jarinya mengepal sangat kuat. Dia mengeluarkan ponsel, mengetik cepat laporan singkat ke atasannya, lalu mematikan layar. Tidak ada telepon ke kakek. Belum.

Di depan pintu ruang operasi, perawat menghentikan mereka. “Hanya tim medis.”

Raka menolak melepas tangan Aira. “Saya ikut.”

“Tidak bisa, Pak.”

Keenan yang menenangkan. “Biarkan mereka kerja. Saya pantau dari luar.” Dia menatap Raka. “Percaya.”

Aira yang sempat membuka mata lagi, menarik jari Raka pelan. “Pergi. Kamu… berisik.”

Raka menunduk, kening menempel di punggung tangan Aira sebentar. “Saya tunggu di luar. Jangan mati.”

“Mahal… kalau mati.”

Pintu OK tertutup. Koridor langsung terasa terlalu sunyi. Raka bersandar ke dinding, kedua tangan penuh darah kering. Keenan duduk di kursi plastik, kepala ditundukkan, napas berat. Reza berdiri di dekat jendela, memandang gelap di luar.

Lima menit berlalu. Sepuluh. Lima belas. Raka yang pertama bicara. “Dia selalu bilang soal harga. Bahkan waktu darahnya habis.”

Keenan mengangguk pelan. “Itu caranya tidak takut. Kalau dia mulai diam soal uang, baru saya takut.”

Reza tidak menoleh. “Kakek saya tahu dia masih hidup. Dia akan menelepon lagi.”

Raka menajamkan suara. “Lalu kau akan bilang apa? ‘Saya sudah menetralkan target’?”

“Saya belum tahu.”

“Kamu harus tahu.” Raka melangkah mendekat. “Karena dia hampir mati tadi malam demi kita semua. Bukan cuma demi dirinya.”

Reza berbalik. Mata mereka bertemu. “Kamu pikir saya tidak sadar? Kamu pikir saya tidak ingin bilang pada kakek untuk membatalkan semua? Tapi itu bukan hanya soal saya. Ada nama keluarga. Ada janji lama. Ada konsekuensi yang tidak bisa kamu bayar dengan uangmu.”

Keenan mengangkat tangan. “Cukup. Sekarang bukan waktunya. Dia masih di dalam.”

Mereka terdiam lagi. Tiga puluh menit kemudian pintu OK terbuka. Dokter bedah militer keluar sambil melepas masker. Wajahnya lelah tapi tenang.

“Luka tembus berhasil diatasi. Tidak mengenai organ vital. Kehilangan darah cukup banyak, sudah ditransfusi. Fraktur iga sebelumnya agak bergeser, kami stabilkan. Dia beruntung.”

Raka menutup mata sesaat. Keenan berdiri. Reza hanya mengangguk pendek.

“Bisa dikunjungi?” tanya Keenan.

“Setelah di ruang pemulihan. Masih bius. Satu orang dulu.”

Raka melangkah, tapi Reza menahan bahunya. “Saya dulu. Ada yang harus saya pastikan.”

Raka menatapnya lama, lalu mengalah.

Reza masuk ke ruang pemulihan. Aira terbaring pucat dengan infus dan monitor. Napasnya teratur. Reza berdiri di sisi tempat tidur cukup lama sebelum berbicara pelan,

“Kakek menelepon tadi malam. Dia masih mengingatkan soal perjodohan. Dia juga bertanya tentangmu.”

Aira tidak menjawab. Masih tidak sadar.

Reza melanjutkan, lebih pelan, “Saya tidak bilang kamu di sini. Saya tidak bilang saya melindungi kamu. Saya hanya bilang pencarian masih berlangsung.” Dia menarik napas. “Saya tidak tahu sampai kapan bisa bohong. Tapi malam ini… saya pilih kamu tetap hidup.”

Dia berdiri diam sampai perawat masuk dan memberi isyarat waktu habis.

Di luar, Raka langsung masuk bergantian. Dia duduk di kursi, memegang jari Aira yang dingin. “Kamu menang. Lagi. Tapi lain kali jangan hitung biaya di tengah darah. Saya sudah muak.”

Keenan masuk terakhir. Dia memeriksa angka di monitor dengan profesional, lalu berkata pelan seolah Aira bisa mendengar, “Kamu membuat pekerjaan saya semakin sulit. Dan semakin pribadi.”

Pagi mulai terang ketika Aira membuka mata. Langit-langit putih. Bau antiseptik. Suara monitor yang stabil. Dia menggerakkan jari. Raka yang tertidur di kursi langsung bangun.

“Aira.”

“Raka… berapa… tagihan transfusi?”

Raka menundukkan kepala ke tepi tempat tidur dan tertawa pelan, suara basah. “Saya bunuh kamu sendiri kalau kamu tanya itu lagi.”

Keenan muncul di pintu. “Selamat pagi. Tekanan darah stabil. Kamu beruntung sekali.”

Reza berdiri di belakang Keenan. “Backup sudah ditingkatkan. Tidak ada yang masuk tanpa izin.”

Aira mengalihkan pandangan ke Reza. “Kakekmu… sudah telepon lagi?”

Reza terdiam sejenak. “Belum. Tapi akan segera.”

“Kalau dia tanya… bilang saja saya sudah tidak berbahaya. Atau bilang saya mati. Lebih mudah untukmu.”

Reza mendekat ke sisi tempat tidur. “Saya tidak akan bilang kamu mati. Saya juga belum siap bilang kamu hidup dan saya menjagamu. Jadi saya masih menunda jawaban.”

Aira menatapnya lama. “Menunda itu juga jawaban.”

Raka memegang tangan Aira lebih erat. “Biar dia tunda. Yang penting kamu di sini.”

Keenan memeriksa infus. “Yang penting kamu tidak bandel minimal tiga hari. Setelah itu kita bicara soal pindah lokasi lagi.”

Aira menghela napas pendek. “Tiga hari tanpa pemasukan. Saya akan bangkrut.”

Raka menatapnya. “Saya tidak akan biarkan.”

“Kamu tidak bisa bayar semua selamanya.”

“Bisa. Saya coba.”

Reza menambahkan, “Negara juga ikut. Untuk sementara.”

Keenan menutup catatan. “Dan saya akan pastikan tagihan medis seminimal mungkin.”

Aira menutup mata. “Tiga pria merepotkan. Satu tempat tidur. Satu gadis yang hanya ingin hidup.”

Di luar ruangan, di parkir rumah sakit militer yang ketat, seorang pria duduk di dalam mobil dengan plat palsu. Dia menatap jendela lantai tiga sambil menekan earpiece.

“Target hidup. Luka parah. Masih di dalam.”

Suara bos menjawab tenang,

“Bagus. Biarkan dia sembuh sedikit. Saya ingin berbicara langsung dengannya lain kali. Sampaikan pada tim… jangan ganggu dulu. Saya datang sendiri.”

Pagi di ruang rawat rumah sakit militer terasa terlalu tenang setelah malam yang berdarah.

Aira duduk bersandar di bantal dengan infus masih menempel. Wajahnya pucat, tapi matanya sudah lebih jernih. Raka duduk di kursi sebelah tempat tidur, memegang ponsel yang terus bergetar. Keenan berdiri di dekat jendela sambil memeriksa catatan medis untuk kesekian kali. Reza bersandar di dinding dekat pintu, senjata tersembunyi di balik jaket.

Ponsel Keenan berbunyi lebih dulu. Dia mengangkat, mendengarkan sebentar, lalu rahangnya mengeras. “Saya mengerti. Saya ke sana sekarang.”

Aira menoleh. “Ada apa?”

“Kondisi darurat di rumah sakit utama. Pasien post-op komplikasi. Mereka butuh saya.” Keenan menyimpan ponsel, lalu mendekat ke tempat tidur. “Saya harus pergi. Tapi saya akan kembali segera setelah stabil.”

1
falea sezi
lanjut
falea sezi
🤣🤣🤣🤣 raka cemburu
falea sezi
suka cwek Badas gini 🤣🤣 sat sett gk menye 🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!