Sejak ibunya menikah lagi, Aria terpaksa tinggal serumah dengan kakak tirinya, Lucien Ashford, pria yang nyaris sempurna di mata semua orang. Tampan, sopan, dan selalu hadir saat Aria membutuhkan bantuan.
Awalnya, Aria mengira Lucien hanya menjalankan perannya sebagai seorang kakak.
Sampai ia menyadari satu hal.
Lucien selalu tahu ke mana ia pergi.
Selalu muncul di waktu yang tepat.
Dan perlahan, semua orang yang mencoba mendekatinya mulai menghilang dari hidupnya.
Saat Aria berusaha mencari jawaban, ia justru menemukan rahasia yang jauh lebih mengerikan.
Lucien ternyata telah mengenalnya jauh sebelum mereka menjadi keluarga.
Kini Aria harus memilih, tetap tinggal di rumah yang perlahan berubah menjadi sangkar, atau melarikan diri dari seseorang yang tidak pernah berniat melepaskannya.
"Di rumah ini, tidak ada yang lebih berbahaya daripada seseorang yang mengaku ingin melindungimu."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fatimah Azzahra Al-aini Sarabiti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4
Genggaman jemari Clara pada flashdisk milik Julian terasa begitu dingin hingga membuat telapak tangannya mati rasa. Di dalam mobil yang melaju membelah jalanan kota, keheningan terasa mencekik. Kenzo fokus mengemudi dengan satu tangan, seolah baru saja menyelesaikan urusan bisnis biasa, bukan baru saja mencelakai seseorang.
Clara mengatupkan bibirnya rapat-rapat. Rasa marah bergejolak hebat di dadanya, namun ingatan akan kondisi Julian yang cedera menahannya untuk tidak meledak di tempat. Jika ia mengamuk sekarang, Kenzo hanya akan makin memperketat pengawasannya atau lebih buruk lagi mengirim Julian ke rumah sakit dengan luka yang lebih parah.
Aku harus tenang, batin Clara berulang kali, mencoba menenangkan detak jantungnya yang liar. Jika ingin keluar dari sini, aku harus membuat Kenzo percaya bahwa dia sudah menang.
"Kau tenang sekali, Clara,"
ujar Kenzo tiba-tiba. Suaranya memecah keheningan, matanya melirik singkat melalui kaca spion tengah.
"Aku mengira kau akan berteriak atau menangis seperti biasanya."
Clara menarik napas panjang, memalingkan wajah menatap jalanan di luar jendela.
"Untuk apa? Kau selalu menang, Kenzo. Aku cuma lelah."
Sudut bibir Kenzo terangkat tipis. Nada kepasrahan dalam suara Clara memberikan kepuasan tersendiri bagi ego pria itu.
"Bagus kalau kau akhirnya sadar. Semua yang kulakukan adalah untuk kebaikanmu. Pria seperti Julian tidak akan pernah bisa melindungimu."
Sesampainya di rumah, Kenzo mengantar Clara kembali ke kamar lantai tiga. Namun kali ini, alih-alih menguncinya sepanjang hari, Kenzo membiarkan pintu kamar tidak terkunci saat ia berada di rumah. Pria itu merasa telah berhasil mematahkan semangat Clara.
Dan itulah kesalahan terbesar Kenzo.
Malam harinya, sekitar pukul satu pagi, keheningan merayap di seluruh penjuru rumah. Clara berdiri di balik pintu kamar barunya, memasang telinga baik-baik. Setelah memastikan tidak ada suara langkah kaki di koridor lantai tiga, ia mulai melancarkan rencana rahasianya.
Clara tidak lagi menggunakan ponsel atau laptop pribadinya yang telah disadap. Sebaliknya, dua hari lalu, sebelum ponselnya disita Clara telah menyembunyikan sebuah ponsel pintar bekas berukuran kecil dan kartu SIM perdana di dalam lipatan selimut ekstra di dasar lemari pakaian. Ponsel itu dibelinya secara tunai menggunakan uang tabungan darurat yang sengaja ia simpan di dalam kaos kaki.
Dengan tangan yang gemetar pelan, Clara merogoh dasar lemari, mengambil ponsel rahasia itu, dan menyalakannya di bawah kegelapan selimut. Layarnya yang redup menerangi wajahnya yang pucat.
Ia langsung membuka peramban incognito dan mengakses email rahasia yang tidak pernah ia gunakan di perangkat lain. Clara harus memeriksa status pendaftaran beasiswanya secara mandiri tanpa bantuan Julian.
Mata Clara menyipit, menatap layar kecil itu dengan penuh ketegangan.
Satu pesan masuk baru terlihat di kotak masuknya. Pesan itu datang langsung dari pihak Komite Beasiswa Universitas Frankfurt.
...> Subjek: Status Verifikasi Dokumen dan Panggilan Wawancara Daring...
...> Kepada Clara,...
...> Dokumen pendaftaran Anda telah lengkap dan diverifikasi. Wawancara tahap akhir akan dilaksanakan secara daring pada hari Jumat pukul 10.00 WIB. Tautan akses ruang virtual terlampir......
Jantung Clara berdesir hebat. Harapan yang sempat padam kini membara kembali di dalam dadanya. Hari Jumat, itu berarti tiga hari dari sekarang. Jika ia berhasil melewati wawancara daring ini dan mendapatkan surat kelulusan resmi, ia bisa langsung meminta bantuan pihak kedutaan untuk memproses visa darurat.
Namun, bagaimana cara melakukan wawancara daring selama satu jam tanpa diketahui Kenzo? Hari Jumat adalah hari kerja, tapi Kenzo kerap kali mendadak pulang ke rumah atau memeriksa kamera pengawas.
Clara mulai berpikir cepat. Ia memanfaatkan celah kecil dalam rutinitas Kenzo. Setiap hari Jumat pukul sembilan hingga sebelas pagi, Kenzo selalu memimpin rapat evaluasi mingguan di kantor pusatnya, sebuah rapat penting yang tidak pernah bisa ia tinggalkan atau potong begitu saja. Itu adalah window waktu satu-satunya bagi Clara.
Clara jemarinya dengan lincah mengetik balasan email, mengonfirmasi kesediaannya untuk mengikuti wawancara di jam tersebut.
Setelah mengirimkan balasan, Clara segera mencatat tautan wawancara dan menyimpan ponsel rahasia itu kembali ke dalam tempat persembunyiannya di lemari. Ia memeluk dirinya sendiri di atas kasur, merasakan kombinasi antara rasa takut yang amat sangat dan dorongan kebebasan yang membakar. Ini adalah taruhan terbesarnya. Jika Kenzo menemukan ponsel ini atau mengetahui tentang wawancara hari Jumat, kehidupannya akan berakhir sepenuhnya.
Keesokan harinya, Clara mulai menjalankan bagian kedua dari rencananya, bertindak sebagai adik tiri yang penurut.
Saat sarapan pagi di meja makan lantai dasar, Clara tidak lagi menunjukkan raut wajah bermusuhan. Ia duduk dengan tenang, meraih cangkir tehnya, dan bahkan menatap Kenzo saat pria itu duduk di seberang mejanya.
Kenzo memperhatikan perubahan sikap itu dengan mata tajamnya yang analitis.
"Kau kelihatan lebih tenang pagi ini,"
komentar Kenzo seraya menyesap kopi hitamnya.
"Aku cuma memikirkan kata-katamu kemarin," jawab Clara dengan nada suara yang sengaja diproduksi agar terdengar lemah dan pasrah.
"Aku tidak mau membuat situasi semakin sulit. Aku akan menuruti aturanmu, asal kau tidak melukai teman-temanku lagi."
Kenzo meletakkan cangkirnya. Tatapannya meneliti raut wajah Clara, mencari ketidakjujuran dalam setiap lekuk ekspresinya. Namun, Clara sudah melatih mimik wajahnya semalaman di depan cermin.
"Aku senang kau akhirnya mengerti, Clara,"
kata Kenzo pelan.
Pria itu berdiri, berjalan mengitari meja makan, lalu berhenti tepat di belakang kursi Clara. Ia membungkuk, menyandarkan dagunya di bahu Clara dan melingkarkan tangannya di dada gadis itu dari belakang.
Clara menahan napas, menahan rasa geli dan jijik yang merayapi kulitnya akibat sentuhan itu. Ia memaksa dirinya untuk tetap diam, tidak memberontak.
"Jadilah anak yang baik,"
bisik Kenzo hangat di telinga Clara, jarinya mengelus dagu Clara dengan lembut.
"Jika kau terus seperti ini, aku bahkan mungkin akan mengizinkanmu berjalan-jalan di luar akhir pekan nanti. Bersamaku, tentu saja."
"Terima kasih, Kenzo,"
balas Clara pelan, pura-pura menerima tawaran itu.
Kenzo tersenyum puas, melepaskan pelukannya, lalu meraih tas kerjanya dan melangkah pergi menuju pintu depan.
Begitu deru mesin mobil Kenzo menghilang di kejauhan, Clara langsung menghela napas lega. Sandiwara pertamanya berhasil. Kenzo mulai menurunkan kewaspadaannya.
Clara kembali ke lantai atas untuk mempersiapkan materi wawancara hari Jumat. Namun, saat ia melangkah melewati ruang kerja Kenzo di lantai dua, ruangan yang biasanya selalu terkunci rapat, ia mendapati pintu kayu itu sedikit renggang. Rupanya Kenzo lupa menguncinya saat terburu-buru berangkat kerja pagi ini.
Didorong rasa ingin tahu yang kuat membuat langkah kaki Clara berhenti. Ia melirik ke sekeliling koridor yang sepi, lalu menyusup masuk ke dalam ruang kerja Kenzo yang megah dan beraroma kayu cendana.
Tujuannya adalah mencari kunci cadangan atau dokumen pribadi yang mungkin berguna untuk pelariannya nanti. Clara membuka laci meja kerja Kenzo satu per satu dengan hati-hati.
Di laci paling bawah yang tersembunyi di balik tumpukan berkas perusahaan, Clara menemukan sebuah buku agenda tebal bersampul kulit hitam tanpa label.
Clara membuka lembaran buku tersebut. Bukannya berisi catatan bisnis atau jadwal rapat, lembaran demi lembaran buku itu dipenuhi oleh tulisan tangan Kenzo yang rapi dan ribuan foto.
Foto-foto dirinya.
Clara terperanjat mundur, menutup mulutnya agar tidak menjerit. Foto-foto itu diambil dari berbagai sudut dan jarak saat ia sedang membaca di perpustakaan, saat ia tertawa bersama teman-temannya di kantin, bahkan foto saat ia sedang tidur di kamar lamanya, diambil dari celah pintu yang terbuka sedikit. Setiap foto dilengkapi dengan tanggal, waktu, dan catatan detail mengenai kegiatan Clara hari itu.
Yang membuat darah Clara benar-benar membeku adalah halaman terakhir buku agenda tersebut. Di sana, tertempel cetakan tiket pesawat atas nama Kenzo dan Clara dengan tujuan penerbangan ke sebuah pulau pribadi di luar negeri, terhitung mulai sabtu ini.
Tepat sehari setelah jadwal wawancara beasiswanya. Di bawah tiket tersebut, Kenzo menuliskan satu kalimat pendek dengan tinta hitam.
Setelah hari Sabtu, dunia luar tidak akan pernah melihatmu lagi, Clara.