SALAHKAN AKU MENCINTAIMU
Sinopsis
Pernikahan kedua orang tua mereka tidak hanya menyatukan dua kepala, tetapi juga menyematkan status baru bagi Devan dan Aluna: saudara tiri.
Tinggal di bawah satu atap yang sama membuat mereka tidak pernah benar-benar bisa saling menghindari. Di sekolah, mereka mengikat janji untuk bersikap layaknya kakak-adik biasa—canggung, berjarak, dan sewajarnya. Namun, di balik dinding rumah yang sunyi, perhatian-perhatian kecil Devan, tatapan mata yang tertahan, dan rasa nyaman yang tumbuh mendalam perlahan berubah menjadi perasaan yang tak seharusnya ada.
Di antara seragam putih-abu, riuk pikuk koridor sekolah, dan keheningan malam di dalam rumah, Devan dan Aluna terjebak dalam dilema cinta pertama yang paling rumit.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rhea Vey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 6: BUKU CATATAN DAN JANJI DI PERPUSTAKAAN
Matahari pagi menyusup dari balik jendela kamar, menyiramkan garis-garis cahaya keemasan di atas meja belajar Aluna. Setelah malam yang penuh dengan air mata dan pengakuan jujur di dapur, keesokan paginya suasana di antara mereka berubah menjadi jauh lebih tenang, tetapi penuh dengan riak manis yang tak kasat mata.
Di dalam mobil Avanza hitam milik Ayah Danu yang sengaja ditinggalkan untuk Devan gunakan selama orang tua mereka dinas, tak ada musik yang mengalun. Hanya ada suara deru mesin dan hembusan AC yang menyelimuti perjalanan mereka menuju sekolah.
Aluna duduk di kursi penumpang samping kemudi. Jarinya sibuk memainkan tali tas sekolahnya. Sesekali matanya melirik ke arah Devan yang fokus menatap jalanan. Jemari Devan yang kokoh mencengkeram kemudi, memamerkan urat-urat halus di punggung tangannya.
"Masih canggung?" tanya Devan tiba-tiba tanpa memindahkan pandangannya dari jalan.
Aluna tersentak kecil, pipinya mendadak menghangat. "E-enggak... cuma belum terbiasa aja."
Devan mengulurkan tangan kirinya dari kemudi. Tanpa ragu, jemarinya yang hangat mengacak pelan rambut Aluna, lalu turun mengusap pipi perempuan itu sejenak sebelum kembali menahan setir.
"Nggak ada yang perlu ditakutin, Na. Di luar rumah, kita tetap kakak dan adik tiri yang baik. Di rumah... kamu milik aku. Paham?" bisik Devan dengan nada tegas namun penuh kelembutan.
Aluna menunduk, mencoba menyembunyikan senyum lebar yang merekah di bibirnya. "Iya, Kak..."
Kehidupan sekolah berjalan seperti biasa, namun kini ada dinamika rahasia yang membuat hari-hari Aluna terasa jauh lebih berwarna.
Setiap kali mereka berselisih jalan di koridor utama, Devan tidak lagi berpura-pura tidak melihatnya. Pria itu memang tidak menyapa secara verbal demi menjaga janji rahasia mereka, tetapi tatapan matanya yang teduh selalu terkunci pada Aluna selama beberapa detik—sebuah sinyal rahasia yang hanya dimengerti oleh mereka berdua.
Saat jam istirahat kedua, Aluna berjalan menuju perpustakaan sekolah yang sepi. Di tangannya, ia menggenggam sebuah buku binder bersampul cokelat polos. Buku itu bukan buku biasa, melainkan buku komunikasi rahasia yang disepakati Devan semalam untuk saling bertukar pesan jika mereka tidak bisa bicara langsung di sekolah.
Aluna berjalan menyusuri rak bagian Kesusastraan Indonesia di sudut paling belakang. Di selipan antara buku roman klasik karya Pramoedya Ananta Toer dan Abdul Muis, Aluna menyelipkan buku binder cokelat tersebut.
Baru saja ia hendak menarik tangannya, sebuah tangan tegap menyusup dari samping rak, menahan jemari Aluna di dalam selipan buku.
Aluna menahan napasnya. Ia menoleh pelan. Devan sudah berdiri di lorong sebelah rak, menatapnya melalui celah kosong di antara tumpukan buku tebal.
"Kak Devan? Kok tahu aku ke sini jam segini?" bisik Aluna pelan, dadanya berdebar liar.
"Aku selalu tahu jadwalmu, Na," jawab Devan rendah melalui celah rak buku. Tangannya menggenggam jemari Aluna yang hangat, mengusap punggung tangannya dengan penuh kasih sayang. "Udah nulis pesan di bindernya?"
"Udah... aku tulis minta diajarin bab kalkulus buat persiapan ulangan besok lusa," aku Aluna jujur.
Devan tersenyum manis—sebuah senyuman yang sanggup meluluhkan seluruh kelelahan Aluna. Ia menarik binder cokelat itu keluar dari selipan rak, lalu menggantinya dengan sebuah kotak susu cokelat dingin dan sebungkus roti isi keju favorit Aluna.
"Makan dulu. Kamu tadi cuma makan sedikit pas sarapan," perintah Devan lembut.
"Makasih, Kak Devan..." gumam Aluna, menerima susu dan roti itu dengan binar bahagia. "Nanti malam kita belajar bareng di kamar Kakak?"
Devan menatap Aluna dalam-dalam lewat celah rak, matanya berkilat penuh tekad dan rasa protektif. "Iya. Nanti malam aku kuncikan pintunya, biar nggak ada yang ganggu kita belajar. Kamu fokus aja sama ujianmu, sisanya biar aku yang urus."
Di antara deretan buku-buku tua dan keheningan perpustakaan sekolah, janji-janji manis itu terikat makin kuat. Mereka tahu jalan di depan mereka akan penuh dengan kerikil dan badai jika rahasia ini terbongkar, tetapi saat ini, genggaman tangan Devan di balik rak buku sudah cukup untuk membuat Aluna merasa sanggup menghadapi dunia.