NovelToon NovelToon
Damian: Jerat Sang Iblis

Damian: Jerat Sang Iblis

Status: sedang berlangsung
Genre:Iblis / Romansa Fantasi / Hantu
Popularitas:180
Nilai: 5
Nama Author: cinnamon girl

Jatuh cinta pada Hantu adalah sebuah kutukan. Kutukan takdir yang akan terus berputar pada keluarganya.

Ketika logika manusianya tertutupi oleh manipulasi gaib yang Damian lakukan. Membuat Cindy yang awalnya murni jatuh hati pada sikap dan ketampanan pria itu menjadi buta pada segala hal keanehan yang terjadi pada tubuhnya serta pada Damian. Namun setelah melahirkan anak pria itu perlahan ia sadar bahwa ia terlanjur jatuh pada jeratnya. Demi cinta ia mau jiwanya terjerat mati bersamanya selamanya....

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cinnamon girl, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 16

Aroma nasi goreng yang gurih mulai memenuhi seisi dapur, beradu dengan wangi maskulin khas mint dan semerbak bunga kenanga yang tampaknya sudah menjadi wangi permanen di tubuh Damian. Cindy masih mencoba mengatur napasnya yang sempat memburu akibat kecupan mendadak di lehernya tadi. Tangannya kembali memegang spatula, mengaduk nasi di atas wajan dengan gerakan yang sedikit terburu-buru demi menutupi rasa salah tingkahnya.

“Damian, lepas dulu… ini nasi gorengnya keburu gosong nanti,” rengek Cindy dengan nada manja, membiarkan punggungnya tetap menempel pada dada bidang Damian yang kaku dan sedingin es.

Damian tidak langsung menurut. Ia justru mempererat pelukannya selama beberapa detik, menghirup dalam-dalam aroma sampo stroberi dari rambut Cindy sebelum akhirnya melangkah mundur satu tapak. “Baiklah, saya tidak mau merusak sarapan pertama yang kamu buatkan untuk saya setelah… malam yang panjang itu,” bisik Damian dengan nada penuh arti, sebuah seringai tipis terukir di wajah tampan klasiknya.

Cindy mematikan kompor setelah memastikan nasi gorengnya matang dengan sempurna. Ia memindahkan makanan itu ke dua piring porselen putih yang sudah ia siapkan di atas konter dapur. “Nih, bawa ke meja depan. Tapi kamu beneran harus coba makan ya, walaupun sedikit. Aku mau tahu pendapatmu tentang masakan orang Indonesia asli.”

Damian menerima kedua piring itu dengan gerakan yang teramat halus, hampir tanpa suara, seolah berat piring-piring itu tidak ada artinya di tangan pucatnya. “Apapun yang kamu masak, pasti akan saya nikmati, Cindy. Selama kamu yang menyajikannya.”

Mereka berdua berjalan menuju meja makan kayu jati yang terletak di sudut ruang tengah. Cindy menarik kursi, duduk dengan helaan napas lega karena rasa pegal di pinggang dan pahanya akibat percintaan semalam masih sangat terasa. Damian duduk di seberangnya, meletakkan piring dengan rapi, lalu menatap makanan di depannya dengan pandangan yang sulit diartikan.

Cindy menyendok nasi gorengnya, mengunyahnya pelan, lalu menatap Damian yang masih bergeming. “Ayo dicoba, Damian. Keburu dingin nanti gak enak.”

Damian mengangguk pelan. Ia meraih sendok perak di samping piringnya. Jemari panjangnya yang sewarna porselen menggenggam sendok itu dengan cermat, lalu menyendok sedikit nasi goreng ke dalam mulutnya. Ia mengunyah dengan perlahan, menutup matanya sejenak untuk meresapi tekstur makanan manusia yang sebenarnya sudah berabad-abad tidak pernah menyentuh lidahnya.

“Bagaimana?” tanya Cindy antusias, matanya yang berbentuk seperti mata rubah berbinar penuh harap.

Damian membuka matanya, menatap Cindy dengan binar biru yang melembut. “Sangat kaya akan rempah. Berbeda dengan masakan di Eropa yang cenderung hambar dan mengandalkan mentega. Ini… hangat. Persis seperti dirimu.”

Cindy terkekeh geli mendengarnya. “Kamu ini, setiap hal pasti ujung-ujung disangkutpautkan sama aku. Tapi syukurlah kalau kamu cocok. Berarti lidah Belandamu itu sudah mulai melokal ya, hehehe.”

“Lidah saya hanya menyesuaikan dengan apa yang disukai oleh pemilik rumah ini,” sahut Damian datar namun sarat akan gombalan maut yang membuat jantung Cindy kembali berdegup kencang. Pria itu meletakkan sendoknya kembali, tampaknya satu suapan tadi sudah cukup untuk sekadar menghargai usaha Cindy. Tatapannya kembali mengunci wajah manis gadis di depannya. “Oh ya, Cindy. Hari ini agenda jurnalisme videomu itu apa? Bukankah kamu bilang hari ini jadwalmu kosong?”

“Iya, kosong kok. Palingan nanti sore aku cuma mau merapikan beberapa dokumen kontrak kerja sama di laptop. Sisanya… aku mau santai saja,” jawab Cindy sambil menyuap sendok kedua. “Kenapa? Kamu mau mengajakku jalan-jalan keluar? Ke bioskop, atau ke mall terdekat mungkin?”

Mendengar kata ‘keluar’ dan ‘mall’, rahang Damian seketika mengencang. Kilatan hitam yang pekat mendadak melintasi mata birunya yang jernih. Hawa sejuk di dalam ruang makan itu seketika drop satu derajat, membuat gorden jendela di dekat mereka bergoyang tipis padahal jendela tertutup rapat. Damian sangat membenci dunia luar yang bising, dan ia sama sekali tidak berniat membiarkan mahluk murni miliknya ini terekspos oleh pandangan manusia-manusia lain di luar sana.

“Tidak. Kita tidak perlu keluar, Cindy,” ucap Damian dengan suara yang mendadak berubah menjadi sangat dalam, berat, dan penuh wibawa yang mengintimidasi. “Dunia di luar sana terlalu kotor dan bising untukmu. Kamu sudah aman di dalam rumah ini, bersama saya. Mengapa harus mencari tempat lain?”

Cindy tertegun, sendoknya tertahan di udara. Ia menatap Damian dengan sedikit rasa heran akibat perubahan intonasi pria itu yang begitu protektif dan posesif dalam sekejap. Namun, alih-alih merasa takut atau terkekang, jiwa Cindy yang rapuh dan mendamba perlindungan mutlak sejak kematian orang tuanya justru merasa sangat dihargai. Ia merasa seolah-olah dirinya adalah permata paling berharga yang siap disembunyikan dari dunia oleh seorang pangeran.

“Iya juga sih… lagian di luar cuacanya juga lagi panas banget akhir-akhir ini,” gumam Cindy, menyerah pada dominasi gaib Damian dengan sukarela. Ia tersenyum kecil, meletakkan sendoknya lalu menjangkau tangan dingin Damian di atas meja, menggenggamnya erat. “Aku juga lebih suka menghabiskan waktu di sini, berdua bersamamu.”

Damian menatap jemari hangat Cindy yang membungkus tangan pucatnya. Seringai kemenangan yang begitu pekat terukir kembali di bibirnya. Ia membalikkan telapak tangannya, berganti mencengkeram jemari Cindy dengan erat, seolah sedang mengunci kesepakatan mati yang tidak akan pernah bisa dibatalkan oleh siapapun.

“Pilihan yang sangat tepat, mijn liefde,” bisik Damian, matanya berkilat penuh obsesi yang memabukkan. “Tetaplah di sini, di bawah pengawasan saya. Dan saya akan memastikan tidak akan ada satupun hal buruk yang bisa menyentuhmu lagi.”

»»»»

Waktu seolah melambat di dalam rumah kolonial itu. Sudah hampir tiga bulan semenjak kepindahan Mahen ke Jakarta, dan selama itu pula Cindy praktis mengurung diri di dalam rumah. Logika manusianya merasa nyaman karena ada Damian yang selalu mengisi hari-harinya, melingkupinya dengan afeksi yang begitu posesif dan memabukkan. Namun pagi ini, realita mendesaknya untuk kembali menapak bumi. Saat memeriksa lemari dapur dan kulkas, stok beras tinggal satu liter, sabun cuci habis, dan kopi hitam kesukaannya pun sudah tandas.

Cindy menatap daftar belanjaan di ponselnya sambil menghela napas. Mau tidak mau, ia harus pergi ke pasar swalayan di pusat kota hari ini.

Saat ia sedang bersiap-siap memakai tunik kasualnya, Damian muncul dari balik bayangan pintu kamar. Pria itu bertelanjang dada, menatap Cindy dengan pandangan tidak suka yang begitu pekat saat melihat gadis itu sudah rapi dan menyandang tas selempang.

“Kamu mau ke mana, Cindy?” tanya Damian, suaranya berat dan dingin, seolah-olah hawa musim dingin Eropa mendadak merayap masuk ke dalam kamar.

Cindy berbalik, lalu berjalan mendekat dan merapikan rambut hitam lebat Damian yang sedikit berantakan. “Aku harus ke kota sebentar, Damian. Belanja bulanan. Kebutuhan dapur kita sudah benar-benar menipis. Kamu gak mau kan kita kelaparan?”

Damian mencengkeram pergelangan tangan Cindy, tidak terlalu kencang namun suhunya yang sedingin es membuat Cindy sedikit tersentak. “Saya bisa menyuruh orang, atau... saya bisa menemanimu. Saya tidak suka kamu pergi sendirian ke tempat bising itu.”

Cindy tersenyum manis, mengusap rahang tegas Damian dengan tangan satunya. “Gak usah, sayang. Aku tahu kamu benci banget sama kebisingan kota dan klakson mobil. Lagipula aku cuma sebentar kok, naik ojek *online* juga sampai. Kamu tunggu di sini aja ya, jaga rumah.”

Mendengar perhatian Cindy yang tulus, cengkeraman Damian perlahan mengendur meskipun guratan obsesi di matanya tidak hilang. “Satu jam. Jika dalam satu jam kamu belum kembali, saya akan menjemputmu dengan cara saya sendiri,” ancam Damian lirih tepat di depan bibir Cindy, sebelum mengecupnya singkat namun penuh penekanan yang mutlak.

Suasana pasar swalayan di kota terasa begitu kontras dengan keheningan rumahnya. Suara bising musik dari *speaker*, tawa pengunjung, dan deru kendaraan di luar sempat membuat kepala Cindy sedikit pening. Setelah selesai membayar dua kantong besar belanjaan, Cindy berjalan menuju halte di depan swalayan untuk menunggu jemputan ojeknya.

Saat ia sedang sibuk mengecek aplikasi di ponsel, sebuah tepukan pelan dan bergetar mendarat di bahunya.

Cindy menoleh dan mendapati seorang nenek tua berpakaian kebaya lusuh dengan jarik batik kuno sedang berdiri di sampingnya. Wanita tua itu membawa bakul jamu kosong di punggungnya. Matanya yang sudah rabun dan keriput menatap Cindy dengan pandangan yang teramat sendu, bahkan cenderung ngeri.

“Astagfirullah, Cah Ayu…” bisik nenek itu, suaranya serak dan gemetar, khas orang tua yang sudah makan banyak asam garam kehidupan mistis Jawa.

“Eh, iya Nenek? Ada yang bisa saya bantu?” tanya Cindy sopan, menggeser posisi berdirinya agar si nenek bisa duduk di bangku halte.

Namun, nenek itu justru menggeleng pelan. Ia meraih tangan hangat Cindy dengan jemarinya yang keriput dan gemetar. Begitu kulit mereka bersentuhan, si nenek langsung tersentak, matanya membelalak menatap lurus ke dalam manik mata rubah Cindy.

“Ya Gusti… telat, Iki wis telat,” gumam si nenek dengan nada penuh duka. Air matanya tampak menggenang di sudut mata yang keriput. “Nenek turut prihatin ya, Nduk… Eman-eman tenan, cah ayu kok jiwanya sudah dikunci, sudah dimiliki seutuhnya oleh sosok besar dari masa lalu.”

Cindy mengernyitkan alisnya, jantungnya mendadak berdegup kencang karena merasa tidak nyaman. “Maksud Nenek apa ya? Sosok besar apa?”

“Hawa es… wangi kembang mati melingkar di lehermu, Nduk. Kamu tidak akan bisa lepas lagi. Jiwamu sudah bukan milikmu sendiri,” bisik nenek itu lagi, suaranya semakin lirih seolah ketakutan setengah mati. Sebelum Cindy sempat bertanya lebih jauh, nenek itu buru-buru melepas pegangannya dan berjalan cepat meninggalkan halte, menyelinap di antara kerumunan orang seolah takut diburu oleh sesuatu yang tak kasat mata.

Cindy berdiri terpaku di halte. Bulu kuduknya meremang hebat di bawah terik matahari siang yang menyengat. Ucapan nenek itu terus terngiang-ngiang di kepalanya, memicu secercah keraguan yang selama ini ia kubur dalam-dalam menggunakan rasa cintanya pada Damian.

Begitu sampai di rumah, Cindy langsung menurunkan belanjaannya di dapur dengan terburu-buru. Pikirannya masih kacau. Saat ia berbalik, Damian sudah berdiri di ambang pintu dapur, menatapnya dengan tatapan menyelidik.

“Kamu terlambat sepuluh menit, Cindy,” ucap Damian datar, namun hawa di dapur seketika drop beberapa derajat. Ia berjalan mendekat, menyadari perubahan raut wajah kekasihnya. “Ada apa? Mengapa wajahmu pucat sekali? Apakah ada manusia di luar sana yang mengganggumu?”

Cindy menatap dada bidang Damian yang kaku. Rasa cemasnya membuncah, membuat ia akhirnya memutuskan untuk bercerita. “Damian… tadi di pasar kota, ada nenek-nenek asing yang aneh banget. Dia tiba-tiba memegang tanganku dan bilang… dia prihatin sama aku.”

Damian menghentikan langkahnya, matanya menggelap seketika. “Prihatin? Kenapa?”

“Dia bilang… jiwaku sudah dimiliki dan dikunci sama sosok besar dari masa lalu. Dia juga bilang soal hawa es dan wangi bunga mati di leherku,” Cindy mendongak, menatap mata biru Damian dengan pandangan mencari jawaban. “Damian, apa maksud ucapan nenek itu? Kok dia bisa tahu soal hawa es?”

Damian menatap Cindy lekat-lekat selama beberapa detik. Amarah gaib sempat bergejolak di dalam dadanya mendengar ada manusia bumi yang berani mengusik miliknya, namun dengan sangat rapi, ia menekan aura hitamnya agar tidak menakuti Cindy. Pangeran Belanda itu melangkah maju, merengkuh tubuh mungil Cindy ke dalam dekapan dadanya yang dingin namun terasa begitu kokoh dan protektif.

“Sssttt… jangan didengarkan, mijn liefde,” bisik Damian lembut, suaranya yang berat mengalun tenang, seolah menghipnotis kesadaran Cindy agar kembali patuh. Ia mengelus rambut hitam Cindy dengan penuh kasih sayang yang posesif. “Manusia-manusia di luar sana sering kali bicara sembarangan hanya untuk menakut-nakuti orang kota seperti dirimu. Mereka iri melihat ketenangan yang kita miliki di sini.”

“Tapi dia beneran kelihatan sedih pas lihat aku, Damian…” gumam Cindy, menyandarkan kepalanya di dada kaku Damian, mulai merasa tenang karena pengaruh gaib dari dekapan sang kekasih.

“Itu hanya bualan, Cindy. Lupakan saja,” tekan Damian lagi, kali ini dengan nada yang lebih dalam dan mengikat. Ia menangkup wajah Cindy, mendesak gadis itu untuk menatap langsung ke matanya yang magis. “Satu-satunya hal yang nyata adalah saya di sini, menjaga dan mencintaimu. Kamu aman bersama saya. Tidak akan ada yang bisa memisahkan kita, mengerti?”

Cindy menatap mata biru yang menghanyutkan itu. Perlahan, rasa cemas dan kecurigaannya runtuh kembali, menguap bersama dengan wangi kenanga yang mendadak menyeruak pekat di dapur mereka. “Iya, Damian… maaf ya aku terlalu kepikiran,” lirih Cindy pasrah, kembali menyerahkan sisa logikanya pada sang Iblis Belanda yang tersenyum penuh kemenangan di atas kepalanya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!