NovelToon NovelToon
ADX Florence

ADX Florence

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mafia / Perperangan
Popularitas:738
Nilai: 5
Nama Author: @_Mastura

Alesya Seraphina dijatuhi hukuman seumur hidup setelah dituduh membunuh sahabatnya secara brutal. Bukti video menunjukkan dirinya sebagai pelaku, tetapi Alesya sama sekali tidak mengingat kejadian itu.

Di ADX Florence, penjara paling mematikan, ia justru bertemu kembali dengan Kael Jendral Kanagara—sahabat masa lalunya yang kini menjadi ketua mafia paling ditakuti.

Kael tidak tahu sisi berbahaya Alesya. Alesya pun tidak tahu alasan Kael berada di sana.

Di balik dinding penjara, rahasia, pengkhianatan, dan cinta berbahaya mulai terungkap.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon @_Mastura, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

ADX: KELEMAHAN MEREKA

         Darren masih berdiri di depan Reana, Tatapannya dingin mengarah kepada Aldra. Namun berbeda dengan sebelumnya, kali ini Aldra tidak datang hanya bersama George dan Alex, Pria itu penuh persiapan.

Suara langkah kaki terdengar dari ujung koridor.

Satu.

Dua.

Lalu semakin banyak.

Suara sepatu menghantam lantai beton terdengar semakin jelas.

Reana perlahan menoleh.

Beberapa napi lain muncul dari balik tikungan. Jumlahnya sekitaran 10 orang. Dengan masing-masing memegang bisbol, kayu, besi tua atau apapun yang bisa mereka jadikan senjata.

Wajah Reana langsung berubah.

Aldra tersenyum.

“Dua minggu.”

Darren tetap diam.

“Dua minggu aku menunggu kesempatan ini.”

Aldra melangkah maju.

“Kau pikir setelah kejadian di toilet waktu itu, aku akan melupakannya?”

Reana menatap Darren, Ekspresi pria tersebut sama sekali tidak berubah.

Aldra menyentuh rahangnya sendiri.

“Dua minggu lalu, kau membuatku tidak bisa berdiri selama berhari-hari.”

Tatapannya berubah penuh kebencian.

“Sekarang aku ingin melihat apakah kau masih sehebat itu ketika menghadapi mereka semua.”

Darren hanya mengembuskan napas pelan.

“Banyak bicara.”

Aldra mengepalkan tangan.

“Habisi dia!”

Beberapa napi langsung berlari.

Darren mendorong Reana ke belakang.

“Jangan bergerak.”

Reana terkejut.

“Tapi—”

“Diam.”

Darren maju seorang diri.

Napi pertama melayangkan pukulan.

Darren menghindar.

Tangannya langsung menangkap pergelangan pria itu dan memutarnya hingga tubuhnya kehilangan keseimbangan. Dengan satu dorongan keras, pria itu terjatuh menghantam lantai.

Dua orang lainnya langsung menyerang dari sisi berbeda.

Darren menunduk menghindari pukulan pertama, kemudian menghantam perut salah satu dari mereka.

Pria itu terhuyung, Serangan kedua datang dari belakang.

Darren berbalik tepat waktu, Namun jumlah mereka terlalu banyak. Satu pukulan mengenai bahunya, Darren mundur satu langkah.

Aldra langsung tersenyum.

“Sekarang kau tahu rasanya dikeroyok.”

Darren mengangkat wajahnya, Tidak ada ketakutan, Tidak ada kepanikan, Hanya tatapan dingin.

“Sudah selesai?”

Aldra terdiam.

Darren mengusap sudut bibirnya yang terkena pukulan.

Kemudian—

ia maju, Gerakannya menjadi jauh lebih cepat. Satu demi satu anak buah Aldra tumbang. Ada yang terhempas ke dinding, Ada yang jatuh tersungkur setelah menerima pukulan telak.

Ada pula yang bahkan tidak sempat menyerang karena Darren sudah lebih dulu menjatuhkannya.

Reana hanya berdiri terpaku.

Matanya mengikuti setiap gerakan Darren, Pria itu berbeda.

Sangat berbeda, Tidak seperti orang lain yang pernah ia lihat bertarung. Darren tidak terlihat marah, Justru karena itulah ia terlihat semakin mengerikan.

Aldra mulai mundur.

“Tidak mungkin…”

Darren menatapnya.

“Masih takut?”

Aldra terdiam.

Darren berjalan mendekat.

“Aku kira dua minggu cukup untuk membuatmu belajar.”

Aldra menggertakkan gigi.

“Jangan sok hebat!”

Ia mengambil sebuah batang besi dari tangan anak buahnya.

Lalu berlari ke arah Darren.

“Darren!”

Reana spontan berteriak.

Darren menoleh sepersekian detik, Aldra memanfaatkan kesempatan itu. Batang besi di tangannya diayunkan, Darren mengangkat lengannya untuk menahan. Benturan keras terdengar. Namun sebelum Aldra sempat menyerang lagi, Darren menangkap batang besi tersebut.

Tatapan mereka bertemu.

“Kesalahanmu…”

Darren menarik batang besi itu dari tangan Aldra.

“…adalah membuatku kehilangan kesabaran.”

Darren mendorong Aldra hingga tubuhnya terjatuh. Beberapa anak buahnya yang masih sanggup berdiri langsung mundur. Tidak ada lagi yang berani maju. Darren berdiri di tengah koridor dengan napas sedikit berat.

Cowok itu berdiri beberapa langkah dari Reana. Napasnya sudah kembali teratur, sementara beberapa luka kecil terlihat di sudut bibirnya.

Reana menatapnya beberapa saat, lalu matanya turun memperhatikan luka-luka di tubuh pria itu.

"Kamu nggak apa-apa?"

Darren hanya mengusap sudut bibirnya dengan ibu jari.

"Nggak."

Reana mengangguk kecil.

"Terima kasih."

Darren menatapnya sekilas.

"Untuk apa?"

"Ya... tadi." Reana menunjuk samar ke arah lorong tempat pertarungan baru saja terjadi.

 "Kalau kamu nggak datang, mungkin aku sudah—"

"Jangan dipikirkan."

Reana terdiam, Darren berjalan melewatinya.

Reana buru-buru berbalik

"Tunggu."

Darren berhenti, tapi tidak menoleh.

"Kamu yakin benar-benar nggak apa-apa?"

"Sudah kubilang, nggak apa-apa."

Nada suaranya tetap datar, Reana mengangguk pelan

"Oke"

Darren kembali melangkah, Namun setelah beberapa langkah, ia berhenti sesaat. Tangannya mengepal di sisi tubuhnya. Entah sejak kapan keberadaan gadis itu mulai mengganggu pikirannya.

Terlalu sering.

Terlalu dalam.

Dan Darren tahu, di tempat seperti ini, perasaan semacam itu bukan sesuatu yang bisa dibiarkan tumbuh. Reana adalah kelemahan yang tidak boleh dia miliki.

Karena itu, semakin jauh perasaannya berjalan, semakin jauh pula Darren harus menarik dirinya.

Sementara Reana hanya berdiri di belakangnya, sama sekali tidak menyadari apa yang sedang terjadi di dalam diri pria itu.

Baginya, Darren memang selalu seperti itu.

Dingin.

Pendiam.

Dan sulit ditebak.

***

MALAM HARI

Blok- B 189

 Pintu sel tertutup rapat. Dante Dan Jessica, hanya mereka berdua yang berada di ruangan sempit itu. Jessica masih berada dekat dengannya, sementara Dante menatap gadis itu dengan sorot mata penuh nafsu. Jarak di antara mereka nyaris tidak ada.

Jessica menariknya kembali dan mencium Dante dengan penuh emosi. Ciuman mereka liar bahkan terdengar suara lengukan dan desahan dari Jessica,

"Emmm... Egh..."

kini dia sudah terbaring di atas ranjang besi yang ukurannya jauh lebih kecil. Dante menindih nya, dengan mulut yang tidak berhenti mencium, melumat bahkan menggigit pelan bibir Jessica.

Gadis itu mengalung kan tangannya pada leher dante. Membiarkan pria itu menguasai tubuhnya.

Ciuman dante turun keleher, dada, dan membuat beberapa jejak cupang di sana.Tangan nya langsung melepas kancing baju Jessica satu persatu sambil lumatan di bibir Jessica tidak ia lepas. Gerakan nya terburu-buru seperti sudah di ujung.

Jessica juga membantu melepaskan kancing baju dante, Dan kini mereka sama-sama telanjang bulat.

"Kau sudah sangat basah"

Ujar dante di sela-sela ciumannya.

"Emmm..." Jessica hanya mampu bergumam

"Aku masuk sekarang" Ucap dante dan hanya mendapat anggukan kepala dari gadis itu.

Dengan perlahan dante memasukan punyanya ke dalam Jessica. Membuat nya merasa tegang dan kenikmatan yang tiada tara. Dante berhenti sejenak, ia memejamkan matanya erat. punya Jessica cukup nikmat untuk dia nikmati. Padahal mereka sudah sering melakukannya, tapi tetap saja Dante menyukainya.

"Emmmm...." Dante mengerang dalam

"Ahhh..." Desahan pertama lolos dari mulut Jessica, mulut nya menganga. Dia juga ikut memejamkan matanya, lalu Dante kembali melumat bibirnya.

"Aku mulai" Ucap Dante berbisik di daun telinga Jessica

Cowok itu mulai memaju mundurkan bokongnya secara perlahan, melakukan ritme pelan. Namun membuat Jessica seakan-akan melayang ke udara.

"Ahhh..ohhh"

"Dante...emmm"

Jessica memejamkan mata nya, Menikmati setiap pergerakan dan sentuhan dari Dante. Pria itu pun mulai melakukan dengan cepat, membuat Jessica terhuyung-huyung.

Napas mereka semakin berat, bercampur dalam jarak yang begitu dekat. Dunia seakan menyempit menjadi ruangan kecil itu, menyisakan hanya kehangatan dan detak jantung yang berpacu.

"Ahhh iyaaa...emmm terusss Dante..."

lagi Desahan Jessica kembali terdengar nyaring dari dalam sel. tidak peduli jika ada para napi di luaran sana yang mungkin mendengarkan, mereka terlalu larut dalam kegiatan nya.

Waktu berlalu tanpa terasa, yang tersisa hanyalah nafas yang tidak beraturan. Detak jantung yang semakin cepat.

Napas Jessica semakin tidak beraturan. Tubuhnya menegang seiring sensasi yang terus meningkat, seolah seluruh indranya terpusat pada satu titik.

 Ia menggenggam erat apa pun yang bisa diraihnya, berusaha menahan gelombang perasaan yang semakin sulit dikendalikan.

Sesaat kemudian, ketegangan itu mencapai puncaknya. Jessica memejamkan mata, napasnya tercekat. Sebelum akhirnya Dante mengeluarkan punya nya dan menumpahkan semua di atas perut Jessica.

"Emmggg..."

Erangan Dante Sebelum berbaring di samping Jessica, kedua matanya terpejam. Napasnya perlahan mulai kembali teratur. Beberapa saat, tidak ada satu pun dari mereka yang berbicara.

Jessica menoleh ke arahnya.

"Kamu tidur?"

"Nggak."

"Terus kenapa matamu merem?"

"Karena aku mau."

Jessica terkekeh pelan.

"Kamu memang selalu begitu."

Dante membuka mata sebentar, menatapnya datar.

"Begitu bagaimana?"

"Nyebelin."

Dante kembali memejamkan mata.

"Kalau nyebelin, kenapa masih di sini?"

Jessica terdiam sesaat, lalu tersenyum kecil.

"Karena aku mau."

Dante tidak menjawab. Jessica kemudian mendekat sedikit dan menyandarkan kepalanya pada dada bidang pria itu.

"Dan..." Suara Jessica terdengar lirih.

"Hm?"

"Terima kasih."

Dante membuka sebelah matanya.

"Untuk?"

Jessica tersenyum.

"Ya... Untuk semuanya"

Dante hanya menghela napas pendek.

"Berisik."

Jessica tertawa kecil, Namun Dante tidak menyuruhnya pergi. Untuk pertama kalinya malam itu, keduanya hanya diam dalam sel sempit tersebut.

...***...

1
Tuan Tuan
💪😍😍😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!