Kaelen—seorang pendekar dengan pedang besi berkarat yang menyimpan misteri dimensi lain—bersama Lyra, seorang alkemis cerdas berdarah dingin, nekat menerobos reruntuhan kuil kuno peninggalan Mazhab Pedang Purba.
Diintai oleh bayangan mematikan dari Faksi Tengkorak Darah dan desakan ancaman dari pengkhianat faksi lokal bernama Vance, perjalanan mereka bukan sekadar pelarian, melainkan perburuan berbahaya demi menemukan Jiwa Artefak Reruntuhan Langit. Menghadapi entitas Qi gelap, formasi penjara kuno, dan bisikan purba yang menguji jiwa, Kaelen dan Lyra harus mempertaruhkan nyawa untuk mengungkap kebenaran di balik masa lalu yang terkubur, sebelum perangkap pengkhianatan merenggut nyawa mereka di ujung lorong yang sunyi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Liam Harrison, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16: Badai Petir di Atas Jurang Keabadian
Tekanan spiritual yang dipancarkan oleh Penatua Agung Xuan Ming bagaikan ombak raksasa yang menghantam dinding pertahanan mental Kaelen, Lyra, dan Mo Xingchen. Udara di dalam ruang kendali kuno itu mendadak terasa begitu padat, membuat tarikan napas terasa berat dan menyakitkan. Di ujung jembatan batu yang melayang di atas jurang tak berdasar, para tetua berjubah emas berdiri tegak laksana patung dewa kematian, menatap kelompok Kaelen dengan sorot mata penuh cemoohan dan nafsu kekuasaan yang menggebu-gebu.
Mo Xingchen terbatuk pelan, menyeka sisa darah di sudut bibirnya dengan punggung tangan yang gemetar. Pria tua itu menatap tajam ke arah sosok pria berambut putih panjang di seberang sana, sementara giginya bergemeletuk menahan amarah yang telah dipendam selama puluhan tahun.
"Xuan Ming... bajingan tua..." gerus Mo Xingchen dengan suara parau yang penuh kebencian mendalam. "Kau masih hidup dan menjadi pemimpin dari sekumpulan pengkhianat busuk ini!"
Xuan Ming tertawa kecil, suara tawa itu menggema di setiap sudut ruang marmer putih, menciptakan vibrasi aneh yang menggetarkan permukaan jembatan batu. Ia melangkah maju perlahan, jubah sutra putih bersulam benang perak miliknya berkibar anggun tertiup angin hampa dari Pusaran Kabut Abadi.
"Ah, lihat siapa yang datang," ucap Xuan Ming dengan nada meremehkan. "Kepala pustakawan yang dulu berhasil menyelamatkan diri dari lautan api Sekte Langit. Kupikir kau sudah mati ditiup angin di sudut-sudut lorong kotor bawah tanah, Mo Xingchen. Ternyata kau masih hidup, dan bahkan membawa tikus-tikus kecil untuk merusak altar suci kami."
Kaelen melangkah maju satu langkah, menempatkan dirinya di depan Mo Xingchen dan Lyra. Ia mengangkat dagunya, membalas tatapan elang Xuan Ming tanpa menunjukkan secercah pun rasa gentar. Pedang baja gelap di pinggangnya mulai berdenyut pelan, memancarkan resonansi biru keperakan yang langsung menetralisir sebagian tekanan spiritual yang dilepaskan oleh sang Penatua Agung.
"Bukan merusak, tapi membersihkan," suara Kaelen menggelegar tenang, memecah keheningan yang mencekam di antara kedua belah pihak. "Tempat ini sudah terlalu lama tercemar oleh darah orang-orang yang kalian jadikan tumbal demi ambisi keabadian yang semu. Hari ini, riwayat Faksi Sekte Kuno akan benar-benar tamat di sini."
Xuan Ming menyipitkan mata. Iris matanya yang berwarna kelabu terang mengamati postur tubuh Kaelen dari ujung kepala hingga kaki, menilai setiap aliran Qi yang berputar di dalam meridian pemuda tersebut. Senyum di bibir Xuan Ming perlahan memudar, digantikan oleh keseriusan yang dingin.
"Kau memiliki esensi artefak itu di dalam tubuhmu, anak muda," kata Xuan Ming, nadanya berubah menjadi lebih berat. "Kau pikir dengan mencuri kekuatan leluhur kami, kau bisa menandingi kultivasi tahap spiritual puncak yang telah kutempa selama ratusan tahun? Betapa naifnya. Kekuatan itu diciptakan oleh sekte kami, dan ia harus dikembalikan kepada pemilik sahnya."
Tanpa aba-aba, Xuan Ming mengibaskan lengan jubahnya. Semburan energi hitam pekat berukuran besar melesat bagai naga bayangan menyeberangi jembatan batu, mengarah langsung untuk meremukkan dada Kaelen dalam satu hantaman. Serangan itu jauh lebih cepat dan mematikan daripada jurus apa pun yang pernah dikeluarkan oleh Liliyana sebelumnya.
Kaelen tidak menghindar. Ia menghunus pedang baja gelapnya dengan kecepatan kilat, membiarkan bilah transparan itu menyerap cahaya di sekitarnya. Jurus Teknik Jiwa Pedang Hampa diaktifkannya hingga batas maksimal. Begitu naga bayangan itu mendekat, Kaelen mengayunkan pedangnya secara horizontal, memancarkan gelombang sabit energi hampa berwarna biru terang.
Bum!
Benturan dahsyat terjadi di tengah-tengah jembatan batu. Ledakan energi astral menciptakan gelombang kejut yang menyapu bersih kabut kelabu di sekitar jurang, memperlihatkan kedalaman ngarai yang gelap gulita di bawah sana. Kaelen terdorong mundur setengah langkah, sementara serangan Xuan Ming hancur berkeping-keping menjadi partikel asap hitam yang menguap di udara.
Wajah Xuan Ming sedikit berkedut kaget. Meskipun ia tahu Kaelen memiliki kekuatan artefak, ia tidak menyangka pemuda itu mampu menangkis tebasan langsungnya dengan begitu sempurna.
"Bagus... kau memang wadah yang layak," puji Xuan Ming dingin, lalu melambaikan tangan memberi aba-aba kepada para tetua di belakangnya. "Majulah kalian semua! Jangan beri mereka kesempatan bernapas. Hancurkan raga mereka, dan ambil esensi artefaknya dari dalam dantian anak itu!"
Seketika itu juga, lima orang Tetua Bayangan berjubah emas melesat secara bersamaan, menerjang menyeberangi jembatan batu dengan kecepatan yang sulit diikuti oleh mata telanjang. Masing-masing dari mereka mengeluarkan senjata pusaka yang memancarkan aura elemen berbeda: pedang api, belati racun es, rantai duri spiritual, tombak kilat, dan cakra kegelapan.
"Kaelen, biarkan aku menangani dua orang di sisi kiri!" seru Lyra dengan suara lantang. Gadis itu sudah berdiri tegak, tangannya memancarkan pijar hijau kebiruan dari Jurus Tangan Pemurni Racun Api. Beberapa botol ramuan khusus tersusun rapi di sela-sela sabuk pinggangnya, siap dilepaskan untuk membakar formasi musuh.
"Hati-hati, Lyra! Jangan paksakan lukamu!" balas Kaelen memperingatkan sesaat sebelum dua orang tetua dengan pedang api dan tombak kilat menerjang ke arahnya.
Pertempuran skala besar langsung meletus di atas jembatan sempit yang melayang di atas jurang keabadian. Suara dentingan logam yang beradu dengan energi spiritual menggema keras, menciptakan badai petir kecil di sekitar platform batu hitam tempat Pusaran Kabut Abadi berputar.
Kaelen bergerak bagai bayangan angin puyuh. Pedang baja gelap di tangannya menari-nari membelah ruang, menciptakan lingkaran pertahanan sekaligus serangan balik yang mematikan. Setiap kali pedang itu berbenturan dengan senjata musuh, resonansi hampa dari Jurus Teknik Jiwa Pedang Hampa mengikis sedikit demi sedikit lapisan pelindung Qi lawan. Salah seorang tetua yang memegang tombak kilat mencoba menusuk dada Kaelen dari sudut buta, namun Kaelen memutar tubuhnya dengan anggun, menepis ujung tombak tersebut menggunakan sisi bilah pedangnya, lalu melayangkan tendangan telak ke arah rusuk sang tetua hingga pria tua itu terpental jauh ke belakang dan hampir jatuh ke dalam jurang.
Di sisi lain, Lyra bertarung dengan gaya yang sama mematikannya. Ia melemparkan rentetan bola api beracun ke arah dua tetua yang menyerangnya. Asap hijau pekat berdesis hebat saat menyentuh perisai spiritual musuh, menggerogoti pertahanan mereka secara perlahan. Meskipun bahu kanannya masih terasa nyeri akibat sisa luka lamanya, tekad baja di dalam diri Lyra membuatnya tidak sedikit pun mengendurkan intensitas serangannya.
Mo Xingchen, meskipun tidak memiliki basis kultivasi bertarung yang tinggi di usia rentanya, memanfaatkan tongkat kayu berukir serigala miliknya untuk mengaktifkan mekanisme tersembunyi di sepanjang lantai jembatan. Dengan menekan beberapa ubin batu tertentu, ia berhasil memunculkan penghalang energi kuno yang memblokir serangan jarak jauh dari para pemanah bayangan yang berjaga di platform seberang.
"Anak muda, fokuslah pada Xuan Ming!" seru Mo Xingchen di tengah hiruk-pikuk suara pertempuran, sambil terus menghindari sabetan rantai duri spiritual dari salah satu musuh. "Pria tua itu sedang mencoba menyalurkan sisa energi inti Jantung Bayangan untuk memperkuat kultivasinya sendiri. Jika kau tidak menghentikannya sekarang, dia akan mencapai tingkat keabadian yang tidak bisa kita hancurkan lagi!"
Kaelen menoleh sekilas ke arah platform batu hitam di ujung jembatan. Benar apa yang dikatakan oleh Mo Xingchen. Di tengah pusaran kabut kelabu, Xuan Ming sudah duduk bersila dengan mata terpejam rapat. Di hadapannya, bola energi hitam kemerahan sebesar kepala manusia—yang merupakan esensi dari Jantung Bayangan—berdenyut liar, memancarkan gelombang cahaya yang perlahan-lahan terserap masuk ke dalam pori-pori kulit sang Penatua Agung. Rambut putih Xuan Ming yang tadinya panjang tergerai kini berubah menjadi hitam legam kembali, dan keriput di wajahnya berangsur-angsur lenyap, menandakan proses pemudaan paksa yang sangat mengerikan sedang berlangsung.
"Kubilang hentikan!" teriak Kaelen penuh amarah.
Ia melepaskan ledakan tenaga dalam dari dantian-nya, menciptakan gelombang kejut hampa yang langsung melemparkan kedua tetua yang melawannya ke sisi jembatan. Tanpa membuang waktu sedetik pun, Kaelen melesat bagai meteor menerobos kerumunan musuh, mengabaikan sabetan senjata yang mengarah ke punggungnya, berlari lurus menuju platform tempat Xuan Ming bersemedi.
Melihat Kaelen mendekat, Xuan Ming membuka matanya perlahan. Sepasang iris matanya kini tidak lagi berwarna manusia normal, melainkan menyala terang dengan warna merah darah yang penuh dengan kekejaman purba. Ia menyeringai lebar, menampakkan gigi-gigi yang tampak begitu tajam.
"Kau terlambat, bocah bodoh!" suara Xuan Ming berubah menjadi dua oktaf lebih berat, bergemuruh bagai guntur di dalam gua. "Jantung Bayangan telah mengenaliku sebagai tuan barunya. Dunia ini akan segera bersujud di bawah kakiku!"
Sebelum Kaelen sempat mengayunkan pedangnya, gelombang energi merah kehitaman meledak dari tubuh Xuan Ming, membentuk perisai tak kasat mata yang sangat tebal di sekeliling platform batu hitam. Kaelen menghujamkan pedang baja gelapnya tepat ke permukaan perisai tersebut, namun alih-alih menembusnya, tebasan itu justru memantulkan getaran balik yang sangat kuat hingga membuat tangan Kaelen mati rasa dan ia terhuyung mundur beberapa langkah.
"Kekuatan ini... tidak mungkin!" gumam Kaelen kaget, merasakan aliran Qi di dalam tubuhnya bergejolak hebat akibat benturan energi dengan Jantung Bayangan.
Xuan Ming bangkit berdiri dari posisinya. Tubuhnya kini tampak lebih tinggi, dipenuhi oleh otot-otot padat yang memancarkan kilau logam hitam. Ia mengangkat tangan kanannya ke udara, dan seketika itu juga, badai petir berwarna ungu mendadak terbentuk di langit-langit gua reruntuhan yang terbuka di atas jurang, menyambar-nyambar ganas seolah merestui kebangkitan sang penguasa baru.
"Rasakan ini! Jurus Pemusnah Langit: Petir Darah Purba!" pekik Xuan Ming penuh kemenangan.
Dari celah badai petir di atas, seberkas sinar ungu kemerahan berukuran sebesar batang pohon purba menyambar turun dengan kecepatan cahaya, langsung menghantam titik tempat Kaelen berdiri. Ledakan cahaya yang menyilaukan dan suara gelegar yang memekakkan telinga meruntuhkan sebagian besar jembatan batu, mengirimkan serpihan-serpihan batu raksasa jatuh meluncur ke dalam jurang kegelapan di bawah sana.
Lyra yang berada agak jauh berteriak histeris saat melihat cahaya petir itu menelan sosok Kaelen sepenuhnya. "Kaelen!" teriakannya tertelan oleh deru angin badai dan suara ledakan yang susul-menyusul.
Asap tebal dan bau belerang mengepul menutupi platform batu. Di tengah kepulan asap tersebut, keheningan mencekam merayap. Xuan Ming berdiri dengan angkuh, kedua tangannya bersidekap di dada, menatap ke arah titik jatuhnya petir dengan senyum kemenangan yang congkak. Ia yakin tidak ada manusia fana di daratan ini yang mampu bertahan hidup setelah menerima hantaman langsung dari Jurus Pemusnah Langit yang diperkuat oleh esensi Jantung Bayangan.
Namun, senyum di bibir Xuan Ming perlahan-lahan membeku ketika asap mulai menipis ditiup angin.
Di tengah kawah kecil yang tercipta akibat sambaran petir, sesosok bayangan berdiri tegak tanpa cacat sedikit pun. Cahaya biru keperakan yang menyelimuti tubuh Kaelen kini tampak jauh lebih terang dan pekat daripada sebelumnya. Pedang baja gelap di tangannya tidak lagi berdenyut, melainkan memancarkan pendaran cahaya kosmik yang membentuk sayap transparan di punggung pemuda itu. Esensi Jiwa Artefak di dalam dantian Kaelen telah mencapai tingkat keselarasan yang paling sempurna setelah menyerap tekanan dari serangan pamungkas musuh.
Kaelen mengangkat kepalanya. Matanya yang bersinar biru terang menatap tajam langsung ke mata merah darah Xuan Ming. Tidak ada rasa takut, tidak ada keraguan—yang ada hanyalah ketenangan mutlak dari seseorang yang telah melampaui batas hidup dan mati.
"Apakah hanya itu kemampuan dari tuan besar Sekte Kuno?" suara Kaelen terdengar tenang, namun setiap patah kata yang diucapkannya beresonansi dengan hukum alam di sekitar jurang, membuat para tetua bayangan yang tersisa tertegun ketakutan.
Xuan Ming menggertakkan giginya keras-keras, rasa amarah dan panik mulai bercampur aduk di dalam dadanya. "Keparat kau! Jangan sombong!" serunya, kembali mengalirkan seluruh sisa energi Jantung Bayangan ke kedua telapak tangannya, bersiap melancarkan serangan bunuh diri untuk menghancurkan Kaelen sekali dan untuk selamanya.
Pertarungan penentuan di atas jurang keabadian mencapai puncaknya. Badai petir semakin mengamuk, sementara takdir seluruh daratan kultivasi kini berada di ujung bilah pedang Kaelen.