Seorang gadis tanpa bakat.
Menjadi aib bagi sebuah keluarga sihir api yang berkuasa.
Sebuah pengkhianatan yang menjatuhkannya ke jurang maut.
Tapi di kegelapan jurang, takdir memilihnya.
Kontrak dengan naga kuno mengubahnya menjadi wadah dari seluruh elemen.
Dari sampah keluarga ... menjadi ancaman bagi dunia.
Dari yang dibuang ... menjadi yang ditakuti.
Ini kisah tentang kebangkitan.
Ini kisah tentang KONTRAK NAGA.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aisy hilyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
6 Badai Di Pegunungan
Dua minggu perjalanan menembus medan ekstrem mulai mengikis stamina. Eliya bertumpu pada sebuah tongkat kayu yang ia temukan di jalan. Napasnya tersengal, tapi ia tidak berhenti.
Pegunungan Stoneheart sama sekali bukan tempat yang ramah bagi petualang amatir. Jika bukan karena perpaduan fisik kuat yang terlatih dan perhitungan logika yang matang, Eliya mungkin sudah mati membeku atau terkubur hidup-hidup.
Jalur setapak yang ia lalui dikepung oleh ancaman konstan seperti longsoran batu tiba-tiba, badai salju atau debu yang membutakan mata, dan satu variabel yang paling menyebalkan di dunia luar yaitu para pencuri.
"Perlu istirahat?" bisik Zharvion setelah mengamati kondisi tubuh Eliya.
"Tidak perlu!" Eliya melanjutkan langkah.
Langkah kaki yang terasa berat di atas bebatuan yang terjal dan licin bila hujan, terhenti. Udara di sekitar terasa lebih menusuk, tetapi kali ini bukan karena suhu, melainkan akibat distorsi tekanan udara yang tidak wajar. Sebuah kekuatan sihir yang mendekat. Tidak hanya satu, ini lebih dari satu. Tiga? Lima?
"Ada yang mengikuti kita," bisik Zharvion lagi tepat di telinga Eliya.
Tubuhnya yang kecil bergerak pelan di pundak Eliya, memantau keadaan dan situasi sekitar. Udara dingin pegunungan membuat napasnya menguar seperti asap tebal. Ia menatap di kejauhan, sekelompok orang bergerak diam-diam mengikuti mereka. Dan tornado kecil di kaki mereka. Mereka para penyihir angin yang terlatih.
Eliya mengangguk pelan tanpa menoleh. Indra sensoriknya sudah memetakan area sekitar sejak beberapa menit lalu. Ia akan tahu jika diikuti dan siapa yang mengikuti.
"Lima orang. Menggunakan sihir angin untuk meringankan langkah kaki mereka. Di balik jubah bulu mereka, ada lambang burung yang terukir di pelat dada."
Eliya berkata dengan tegas dan yakin, ia tidak menoleh sama sekali. Baginya, sosok-sosok itu tidak penting. Tujuannya datang ke pegunungan Stonheart hanyalah untuk mendapatkan elemen tanah.
Kelima orang itu dari kerajaan Venthora. Mereka bukan bandit gunung biasa. Mereka adalah prajurit terlatih, atau lebih tepatnya, anak buah dari salah satu keluarga bangsawan tinggi di dunia Aethervan. Kerajaan angin.
Sebelum Eliya sempat mengubah formasi bertahan, lima bayangan melompat dari balik tebing batu, mengepung posisi mereka di jalan setapak yang sempit. Debu berterbangan akibat hempasan angin sihir yang sengaja mereka lepaskan untuk mengintimidasi.
Eliya bergeming, bersama Zharvion di pundaknya yang tetap bersikap tenang. Naga itu tidak merasakan ancaman yang terlalu besar. Eliya bisa mengatasi mereka sendiri.
"Kau Sang Penyihir Air dari Desa Elora?" tanya salah satu dari mereka.
Pemimpin mereka melangkah maju. Sosoknya mencolok di antara yang lain. Pemuda itu memiliki rambut putih yang kontras dengan mantel tebalnya, serta sepasang mata abu-abu yang tajam dan dipenuhi keangkuhan khas kaum aristokrat.
Dia menatap Eliya dari atas ke bawah, menilai, lalu tersenyum meremehkan.
"Aku Kael Venthora. Putra Jenius Angin. Dan aku di sini ingin menguji kemampuanmu," katanya dengan nada angkuh yang membuat Eliya merasa muak.
Sosoknya mengingatkan Eliya pada sang manajer yang selalu memberinya tumpukan tugas di jam pulang kerja. Ia muak sekali.
Tes?
Hati Eliya bergumam. Kerutan di dahinya muncul, belum mengerti apa yang diucapkan salah satu putra jenius sihir itu.
Otaknya langsung berputar cepat, menganalisis setiap detail dari interaksi singkat mereka. Satu dari empat Putra Jenius yang sering dirumorkan di dunia Aethervan. Tipikal penyihir muda berbakat dengan ego setinggi langit yang selalu haus akan validasi. Orang-orang seperti ini tidak bergerak atas perintah taktis, melainkan didorong oleh rasa bangga yang rapuh di dalam diri mereka sendiri.
"Kalau aku kalah, kau akan mengambil mahkota airku?" tanya Eliya dengan nada setenang mungkin, sengaja memancingnya. Ia tahu tujuan pemuda itu hanyalah untuk mendapatkan Mahkota Air milik Eliya.
Kael tampak terkejut. Langkah kakinya sedikit tertahan, dan matanya melebar sekejap. Tujuannya terbaca begitu cepat. Sungguh hal yang tak pernah ia duga. Padahal, dia sudah menyembunyikannya dengan sangat baik.
"Kau tahu soal mahkota?" tanyanya dengan sedikit kerutan di dahi.
"Tahu," jawab Eliya sambil menyunggingkan senyuman tipis. Senyum yang membuat Kael tersadar telah meremehkannya.
"Sayang sekali. Benda itu belum mau aku berikan kepada siapa pun. Terutama padamu." Eliya menunjuk wajah Kael dengan tongkat kayu di tangannya. Ia sengaja memprovokasi pemuda itu.
Provokasinya berhasil dengan sempurna. Wajah Kael mengeras, dipenuhi amarah karena merasa diremehkan oleh penyihir dari desa terpencil. Tanpa peringatan atau aba-aba kepada anak buahnya, dia menyerang duluan. Dia merentangkan tangannya, dan udara di sekitarnya berputar gila-gilaan. Membentuk tornado cukup besar dan mematikan.
"Benar-benar tidak sabaran," gumam Eliya sambil tertawa kecil melihat tindakan sembrono dari seorang pemuda yang digadang-gadang sebagai putra jenius itu.
"Mati kau!" teriaknya sembari melayangkan serangan.
Dua bilah angin berbentuk sabit besar melesat ke arah Eliya. Kecepatannya luar biasa, memotong butiran debu di udara dan menimbulkan suara berdenging yang memekakkan telinga. Serangan yang mematikan bagi penyihir biasa yang mengandalkan perisai magis lambat.
Namun, Eliya tidak berniat membuang energi sihirnya untuk menahan serangan itu secara langsung. Ia memilih menghindar menggunakan prinsip fisika dasar yang selalu bisa diandalkan. Yaitu, memanfaatkan momentum dan gravitasi.
Saat bilah angin itu berjarak beberapa senti dari wajahnya, ia menjatuhkan bobot tubuhnya ke belakang secara sengaja, membiarkan tubuh itu merosot ke dalam celah batu di bawah jalur setapak. Gravitasi menariknya turun dengan cepat, sementara momentum dari gerakan memutar membuat kedua kakinya mendarat dengan aman di ceruk yang lebih rendah.
Bilah angin Kael menghantam tebing batu di belakang Eliya, memicu ledakan tanah dan serpihan batu yang hancur berantakan. Menciptakan longsor kecil di sekitarnya.
Kael membelalak, sekali lagi dibuat terkejut oleh gadis kecil itu.
Dari posisi barunya di celah batu, Eliya mendongak dan membersihkan sisa debu yang menempel di bahunya.
'Oke. Dia memang kuat secara kapasitas sihir mentah. Tapi dia bodoh.' Eliya bergumam di dalam hati, tersenyum tipis bibirnya.
Keangkuhan pemuda itu membuatnya buta terhadap medan pertempuran di Pegunungan Stoneheart yang tidak stabil. Dia tidak sadar bahwa getaran dari sihir anginnya baru saja memicu retakan besar pada perbukitan raksasa di atas kepalanya sendiri.
"Kau menghindarinya dengan baik. Tapi, lain kali aku pastikan kau tidak akan mampu menghindar lagi," katanya dengan geram.
Setelah beberapa pertarungan melawan penyihir lain, itu adalah kegagalan serangannya yang pertama. Yang membuatnya geram adalah Eliya sama sekali tidak menggunakan sihir.
"Coba saja!" tantang Eliya sembari melirik bukit yang retak di atas kepala Kael. Dia menunggu kekalahan pemuda itu. Sang putra Jenius dari kerajaan Venthora.