NovelToon NovelToon
Sang Konglomerat Berlutut di Hadapannya

Sang Konglomerat Berlutut di Hadapannya

Status: sedang berlangsung
Genre:Asmara / CEO
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Mutiara Putri

Enam bulan menjadi "burung kenari" konglomerat paling berkuasa di Jakarta, Keira Salim menyelesaikan misinya -- membalas dendam untuk kakaknya yang koma akibat perundungan -- lalu pergi tanpa jejak.
Rayhan Hartono terbangun di apartemen kosong. Cincin berlian merah yang dipesan khusus dari Jerman masih di sakunya. Surat perpisahan Keira hanya berisi satu kalimat: *"Terima kasih. Kita impas."*
Baru saat kehilangan, sang pewaris Hartono Group menyadari -- dia bukan yang menyelamatkan Keira malam itu. Keira-lah yang merancang segalanya sejak awal.
Dan sekarang, pria yang tidak pernah berlutut di hadapan siapa pun... bersedia merangkak ke ujung dunia demi membawanya pulang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mutiara Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 4

Bab 4: File Rahasia

“Kalau aku memang sama dengan mereka,” katanya, “aku sudah mengurungmu seumur hidup di kamar tidur.”

Kalimat itu menggantung di mobil seperti asap yang tidak menemukan jendela.

Keira menatap Rayhan lama. Di luar kaca, lampu sirkuit masih menyala, putih dan dingin. Di dalam mobil, jarak mereka hanya beberapa senti, tetapi untuk pertama kalinya malam itu, Keira merasa tidak sedang duduk di samping seorang pelindung.

Ia sedang duduk di samping pintu besi.

“Kamu dengar sendiri, kan?” suara Keira pelan. “Itu bukan pembelaan.”

Rahang Rayhan bergerak. Matanya yang gelap menahan sesuatu, mungkin marah, mungkin takut kehilangan kendali.

“Aku tidak akan menyakitimu.”

“Aku tidak bilang kamu akan.”

“Tapi kamu berpikir begitu.”

Keira memalingkan wajah ke jendela. “Aku berpikir kamu terlalu terbiasa memiliki.”

Untuk beberapa detik, tidak ada suara selain mesin mobil. Rayhan akhirnya menarik tangannya dari sandaran kursi, lalu duduk kembali. Tekanan di ruang sempit itu sedikit turun, tetapi tidak hilang.

“Pulang ke Estate,” katanya pada sopir.

Tidak ada yang membahas Jessica lagi selama perjalanan.

Hartono Estate berdiri di balik pagar tinggi dan pohon besar, terlalu luas untuk disebut rumah. Lampu taman menyala lembut di sepanjang jalan masuk. Air mancur di halaman depan memantulkan cahaya seperti perhiasan yang tidak pernah disentuh debu.

Rayhan menggandeng tangan Keira ketika mereka masuk. Genggamannya tidak keras, tetapi tidak memberi ruang untuk lepas.

Di kamar utama lantai atas, keheningan berubah bentuk.

Rayhan tidak meminta maaf dengan kata-kata. Ia melepaskan sepatu Keira, menyentuh pergelangan kakinya yang dingin, lalu menaruh segelas air hangat di meja samping tempat tidur. Saat Keira tetap diam, ia duduk di tepi ranjang, wajahnya menghadap ke bawah.

“Aku tidak suka melihatmu takut padaku,” katanya.

Keira menatap punggung tangannya sendiri. “Aku tidak takut.”

“Kamu marah.”

“Itu lebih sehat.”

Rayhan tertawa pelan, pendek dan serak. “Kamu selalu punya jawaban.”

“Karena kamu selalu punya perintah.”

Malam itu tidak benar-benar selesai dengan damai. Namun panas di antara mereka perlahan berubah menjadi sesuatu yang lebih sunyi. Rayhan mencium ujung mata Keira, lama sekali, seolah ingin menghapus bayangan yang ia sendiri tinggalkan. Keira tidak mendorongnya pergi.

Beberapa jam kemudian, kamar itu hanya diterangi lampu tidur.

Seprai putih kusut. Jas Rayhan tergeletak di sofa. Aroma kulit, teh putih, dan sisa hujan dari rambut Keira bercampur di udara.

Rayhan mencium bahu Keira sekali sebelum bangkit. “Aku mandi dulu.”

Keira membuka mata. “Hm.”

Pintu kamar mandi tertutup. Suara air menyala.

Dalam satu tarikan napas, seluruh kelembutan di wajah Keira lenyap.

Ia duduk, mengambil jubah sutra dari sisi ranjang, lalu berjalan tanpa suara ke ruang kerja kecil yang terhubung dengan kamar. Laptop Rayhan berada di meja kayu gelap, terbuka setengah, layar terkunci.

Keira berhenti tepat di depan meja.

Tanggal lahirnya.

Itu bukan tebakan pertama yang masuk akal untuk password seorang CEO. Justru karena itu, Rayhan memakainya. Pria itu terlalu sombong untuk membayangkan seseorang akan mengerti cara ia menyimpan perasaan.

Jari Keira bergerak cepat.

Layar terbuka.

Tidak ada ekspresi puas di wajahnya. Ia mencolokkan flash drive tipis dari lipatan jubah, membuka folder yang sudah ia tandai sejak minggu lalu, lalu menyalin beberapa dokumen kontrak, laporan audit internal, dan korespondensi proyek keluarga Oei.

Ia tidak mengambil semuanya. Terlalu rakus berarti meninggalkan pola.

Di luar, air kamar mandi masih mengalir.

Keira membuka email virtual yang tidak memakai namanya. Satu per satu file masuk ke draft terenkripsi, lalu terkirim ke alamat lain yang hanya ia hafal di kepala. Setelah itu, ia menghapus log akses, membersihkan riwayat perangkat eksternal, menutup kembali folder terakhir, dan mengembalikan posisi kursor seperti semula.

Seluruh proses selesai sebelum uap air dari kamar mandi menyentuh kaca.

Ia mencabut flash drive, menyelipkannya kembali, lalu menutup laptop pada sudut yang sama.

Ketika Rayhan keluar dengan handuk di pinggang dan rambut basah, Keira sudah duduk di ranjang, meminum air hangat.

Rayhan menatapnya. “Belum tidur?”

“Kamu berisik.”

“Air mandi juga salah?”

“Semuanya salah kalau lewat tengah malam.”

Rayhan berjalan mendekat, mengambil gelas dari tangan Keira, lalu meletakkannya di meja. Ia mengecup bibir Keira singkat.

“Besok aku ajak kamu keluar.”

“Ke mana?”

“Tempat yang tidak ada Jessica.”

“Itu luas sekali pilihannya.”

“Arena berkuda.”

Keira mengangkat alis. “Kamu naik kuda?”

“Aku bisa naik apa saja.”

“Tentu.”

Rayhan tersenyum, lalu menariknya kembali ke bawah selimut.

Keesokan paginya, suara ponsel Rayhan membangunkan mereka.

Nama Steven muncul di layar.

Rayhan menjawab dengan mata masih setengah tertutup. “Apa?”

Suara Steven terdengar cepat dari seberang. “Ray, lo sudah lihat berita pasar pagi ini?”

“Langsung ke inti.”

“Oei Group kena skandal audit. Dokumen kontrak proyek pelabuhan bocor ke media bisnis. Saham mereka anjlok sejak pembukaan. Brandon panik, keluarganya rapat darurat.”

Keira duduk di sisi ranjang, membelakangi Rayhan, rambutnya jatuh menutupi leher. Tangannya sedang mengancingkan kemeja, stabil seperti tidak mendengar apa pun.

Rayhan membuka mata penuh.

“Sumber?”

“Belum jelas. Tapi bocorannya rapi. Bukan kerja amatir.”

Tatapan Rayhan bergerak ke punggung Keira.

Keira menoleh. “Ada apa?”

Rayhan tidak langsung menjawab.

Steven masih bicara, “Gue cuma kasih tahu. Keluarga Oei pasti cari siapa yang punya akses.”

Rayhan bangkit dari ranjang. “Nanti aku hubungi lagi.”

Panggilan ditutup.

Ia berjalan ke ruang kerja. Keira mengikuti dari ambang pintu, wajahnya tenang, bahkan sedikit mengantuk.

Rayhan membuka laptop, memeriksa riwayat, folder terakhir, perangkat yang tersambung, lalu log keamanan internal. Tidak ada apa-apa.

Terlalu bersih.

Ia menoleh ke Keira.

“Semalam kamu masuk ruang kerja?”

Keira bersandar di kusen. “Untuk apa?”

“Aku bertanya.”

“Aku minum air, lalu tidur.”

Mata mereka bertemu.

Rayhan tahu timing itu terlalu kebetulan. Ia juga tahu Keira cukup cerdas untuk melakukan sesuatu yang tidak bisa ia temukan. Namun di antara curiga dan percaya, ada sesuatu yang lebih keras kepala di dadanya.

Perempuan ini menolak rumah, mobil, kartu tambahan.

Perempuan ini memandangnya seperti ia bukan seluruh dunia.

Justru karena itu, Rayhan ingin percaya.

Ia menutup laptop.

“Tidak apa-apa.”

Keira tidak bertanya lagi.

Rayhan mengambil jaket. “Bersiap. Kita ke arena berkuda.”

“Sekarang?”

“Sebelum aku berubah pikiran dan membatalkan semua jadwalmu.”

Keira menatapnya datar.

Rayhan tersenyum kecil. “Bercanda.”

“Bercandamu tetap buruk.”

“Aku tahu.”

Ponsel Keira bergetar di meja. Notifikasi berita muncul sekilas.

Vanessa Tanujaya kembali ke Jakarta setelah syuting di luar negeri. Rumor pertunangan dengan pewaris Hartono kembali memanas.

Keira membaca satu baris itu tanpa mengubah wajah.

Di dalam matanya, sesuatu yang dingin perlahan bangun.

1
kitty ❤
lanjut Thor 😍🔥
kitty ❤
Semangat Thor 😍🔥
kitty ❤
lanjut Thor 🔥🔥
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!