Sejak kecil Karina terbiasa melihat ibunya bekerja keras ditambah lagi setelah sang Ayah memilih pergi dengan wanita lain, oleh karena itu, Karina berjanji pada dirinya sendiri dimana dia ingin bebas dari kemiskinan, Sampai suatu hari, Karina bertemu dengan Adrian Mahardika pemuda Tampan. Berpendidikan. Pewaris keluarga konglomerat yang memiliki segalanya. Bagi Karina, Adrian bukan sekadar lelaki. Ia adalah jalan keluar dari kehidupan yang selama ini ia inginkan, yaitu kemewahan. Sejak saat itu, Adrian menjadi obsesinya. Akankah Karina mampu memenangkan Obsesinya atau malah membuat Hidupnya hancur dengan Obsesinya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pencari Cerita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
episode 4
Karina yang baru saja diterima bekerja akhirnya resmi menjadi pendamping Tuan Surya. Setelah memastikan semuanya beres, Tomy berpamitan untuk kembali ke kantor menemani Adrian. Sebagai asisten pribadi adrian dirinya tidak berani berada jauh dalam waktu lama, Adrian mungkin bisa saja memecatnya, wataknya keras seprti ayahnya, namun hatinya tetap memiliki kelembutan, sejak ibunya pergi meninggalkannya, Adrian mulai takut akan kehilangan sang ayah.
Sebelum kembali ke kantor, tomy memanggil seorang wanita paruh baya asisten pelayan yang mengepalai semua pekerja disana.
"mba Tri."
"Iya, Pak Tomy."
"Tolong kenalkan Mbak Karina dengan seluruh area rumah dan jelaskan tugas-tugasnya."
"Baik, Pak."
Karina mengangguk hormat.
"Terima kasih, Pak."
Sementara Tuan Surya hanya memperhatikan dari kejauhan. Tatapannya masih penuh keraguan. Ia belum sepenuhnya yakin Tomy telah memilih orang yang tepat.
mba Tri kemudian mengajak Karina berkeliling setelah meminta izin pada majikan nya
Rumah keluarga Mahardika jauh lebih megah daripada yang pernah dibayangkan Karina. Lorong-lorongnya dipenuhi lukisan mahal, lampu kristal menggantung di langit-langit, sementara setiap sudut rumah tampak bersih tanpa setitik debu.
Beberapa pembantu sibuk menjalankan tugas masing-masing, semuanya bekerja dengan disiplin.
Karina hanya bisa menelan ludah.
Mereka menaiki tangga menuju lantai dua.
mba Tri menunjuk beberapa ruangan.
"Itu kamar Tuan Surya."
Karina mengangguk.
Beberapa langkah kemudian, mba Tri kembali berhenti di depan sebuah pintu berwarna hitam dengan gagang berlapis emas.
"Nah kalau ini...kamar Tuan Muda Adrian, sudah kenal kan sama tuan muda Adrian?"
Jantung Karina langsung berdegup lebih kencang, tanpa sadar pandangannya terpaku pada pintu itu.
"Ingat ya, Mbak," lanjut mba Tri. "Tidak ada seorang pun yang boleh masuk ke kamar ini tanpa izin. Hanya Tuan Surya dan Pak Tomy yang diperbolehkan."
Karina segera mengangguk.
"Iya, mba"
Meski bibirnya menjawab singkat, pikirannya kembali dipenuhi bayangan Adrian dengan tatapan yang dilihatnya dilobby kantor. Setelah berkeliling, mba Tri tersenyum.
"Nah, Mbak Karina, Kita sudah selesai berkeliling, apa ada yang ingin ditanyakan?"
Karina berpikir sejenak "Kalau jam segini biasanya Pak Surya ada di mana, mba?"
"Biasanya beliau ada di kandang kuda. Hampir setiap siang menjelang sore beliau menghabiskan waktu di sana."
"Oo...gitu terima kasih mba, "
Karina segera menuju kandang kuda.
Dari kejauhan ia melihat Pak Surya duduk disana temani penjaga kandang kuda sambil memandangi seekor kuda cokelat yang sedang menikmati makanannya. Karina tidak berani mendekat, ia memilih berdiri sekitar satu meter di belakang Tuan Surya, Ia berharap dipanggil, Namun satu menit berlalu, Lima menit, bahkan sepuluh menit, pria itu sama sekali tidak menghiraukan nya, sementara teriknya matahari semakin menyengat, Keringat mulai membasahi pelipis Karina, Meski begitu, ia tetap berdiri tanpa mengeluh. Kakinya mulai pegal, tetapi setiap kali ingin melangkah pergi, diri nya sadar ini adalah jalan menuju obsesi nya, Karina menguatkan diri. Baginya, rasa lelah itu belum seberapa dibandingkan kehidupan yang selama ini dijalaninya. Sesekali pak Surya melirik ke belakang.
Ia tahu Karina masih menunggu.
Namun pria itu sengaja membiarkannya.
"Aku ingin tahu seberapa besar kesabarannya," dalam batinnya.
Hampir dua jam berlalu, Akhirnya pak Surya berdiri dan mulai berjalan meninggalkan kandang.
Karina langsung mengikuti dari belakang, tanpa diminta ia tetap menjaga jarak, tak disangka
Tiba-tiba langkah pak Surya terhenti
"Apa yang tadi kamu lakukan, dengan berdiri disana, bisa membuat hati saya kasihan sama kamu?"
Karina tersenyum tipis.
"Tidak, Pak. karna itu memang sudah menjadi tanggung jawab saya."
Untuk pertama kalinya, Tuan Surya menoleh cukup lama ke arah Karina
"Kalau begitu... ambilkan saya minum."
"Baik, Pak."
Karina sempat berhenti.
"Pak Surya ingin minum apa?"
Tuan Surya berpikir sejenak.
"Buatkan saya kopi yang bagus buat penderita jantung seperti saya."
Karina sedikit terkejut, dalam batinya dia berguman "Apa ini salah satu cara agar aku membuat kesalahan?"
Karina tetap berjalan, sebelum sampai dipantry, Karina melihat seorang dokter yang memang rutin datang untuk memeriksa kesehatan pak surya, sedang berjalan mendekat, tanpa berfikir panjang, karina pun akhirnya mendekat. Sang Dokter menyapa karina lebih dulu, setelah sebelum nya sempat diberitahu mba tri kalau tuan surya sudah ada yang menjaganya.
"Selamat datang mba Karina, saya dokter hans, yang merawat pak surya, saya senang sekali,semoga mba Karina bisa betah disini."
"Iya dok, ooo iya kebetulan banget, pak surya minta dibuatkan kopi, apa itu boleh dok?"
Sang dokter langsung memberikan jawaban yang detail pada karina
"Jadi kalau sekali boleh boleh saja, asal kopi hitam tanpa gula."
Setelah mendepat penjelasan, karina tanpa ragu membuat kan kopi untuk pak Surya, sesuai arahan dokter Hans.
Beberapa menit kemudian Karina menghampiri pak Surya yang masih bersama dokter hans di tsman belakang dengan secangkir kopi ditangan nya.
Dengan hati-hati ia menyodorkan cangkir itu kepada Tuan Surya. Namun baru saja cangkir itu hampir menyentuh tangan pak Surya...
Prang....!
Seseorang menepis cangkir itu hingga terjatuh ke lantai dan berserakan cangkir itu pecah berkeping-keping. Karina dan yang lainya tersentak kaget. Di hadapannya telah berdiri Adrian dengan wajah penuh amarah.
"Apa yang kamu berikan ke Ayah?"
Karina menelan ludah, dengan gugup tapi tetap tegas karina menjawab
"Maaf pak Adrian, tapi saya hanya membuatkan kopi arabica untuk Pak Surya."
"Apa ....Kopi?"
Nada suara Adrian meninggi.
"Apa kamu sengaja, biar Ayah ku sakit lagi!"
"Adrian....." Suara pak Surya menimpali "Ayah yang memintanya membuat kopi."
Suara Tuan Surya terdengar tenang.
"Tapi, Yah..."Kopi tidak baik untuk kesehatan Ayah." sahut Adrian suara nya sedikit lebih lembut
tiba - tiba Karina menyela
"Maaf, Pak Adrian. Sebelum saya membuat kan kopi, terlebih dulu saya sudah bertanya kepada Dokter Hans, dan beliau mengizin kan, lagi pula secangkir kopi hitam tanpa gula masih aman diminum selama tidak berlebihan."
Belum sempat Adrian menjawab, Dokter Hans yang masih berada di sana juga ikut menjelaskan
"Benar, Pak Adrian."
"Secangkir kopi arabika tanpa gula masih aman untuk kondisi pak Surya. Bahkan mengandung antioksidan yang bagus untuk tubuh dan dapat membantu menjaga konsentrasi, asal dikonsumsi nya tidak berlebihan."
Adrian terdiam, kali ini wajahnya berubah canggung.
Tomy yang berdiri di belakangnya pun hanya bisa mengembuskan napas lega.
Karina segera membungkukkan badan.
"Maaf, Pak. Saya bersihkan pecahan cangkir ini dulu, biar nanti saya buatkan yang baru."
Namun Tuan Surya langsung bersuara lantang
"Tidak usah Karina, biar yang lain saja, tugas kamu... cuma untuk menjaga saya"
Karina langsung terdiam sambil menundukkan kepalanya, Kalimat sederhana itu membuat hati Karina berbunga-bunga. Tanpa sadar senyum kecil menghiasi bibirnya.
"Ini baru permulaan Karina," gumamnya dalam hati.
Tak jauh dari sana, Tomy ikut tersenyum merasa puas, dia yakin karina pasti berhasil menaklukan tuanya. Sementara Adrian masih berdiri mematung disana, Untuk pertama kalinya, seorang gadis sederhana berhasil membuat sang ayah membela nya dihadapan banyk orang, dan Adrian masih belum bisa menerima Karina begitu saja, tatapan Adrian kini mengarah pada Karina beberapa detik
"Dengar Karina, kamu jangan terlalu senang dulu, tidak mudah bekerja disini." lata Adrian akhirnya setelah itu Adrian berbalik dan meninggalkan taman, dan semua orang yang masih disana.
Karina mengepalkan tanganya, kata - kata Adrian membuatnya merasa sulit untuk bisa mengambil hati pria idaman nya itu. Namun secerah harapan mulai terlihat didepan mata, setidaknya, hari ini ia berhasil mendapatkan sedikit kepercayaan dari pak Surya. Ia tak peduli sejauh apa Adrian membencinya, karina akan tetap bertahan selama sang Ayah berada dipihaknya.