Ye Xinyue, mahasiswa hukum tingkat akhir, meninggal karena kelelahan mengerjakan skripsi. Namun, bukannya masuk surga, ia justru terbangun sebagai Selir ke-20 Kaisar Tianyu dalam webtoon *** yang sering dibacanya. Mengetahui bahwa tokoh ini akan mati di tengah perebutan kekuasaan, Xinyue bertekad mengubah takdir. Ia memilih hidup tenang, menjauhi kaisar, politik istana, dan para selir. Sayangnya, rencananya gagal ketika Kaisar Tianyu mulai memperhatikannya. Lebih buruk lagi, alur cerita perlahan berubah: tokoh yang seharusnya mati masih hidup dan kejadian baru bermunculan. Kini Xinyue harus bertahan hidup sambil mencari alasan mengapa kedatangannya telah mengubah seluruh takdir Tianyu dan rahasia besar di balik semuanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fresh Tea, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
The Story Has Chosen Me
Asap tebal bermuatan bau mesiu melayang rendah di atas pualam putih Balai Agung Naga Kembar. Sorak-sorai prajurit Zirah Serigala yang menerobos barikade gerbang luar membahana, beradu dengan dentang pedang dan deru busur panah. Gelombang pasukan berkuda Faksi Utara menyapu barisan pengawal bayangan Matahari Hitam yang bertahan di pelataran utama.
Di tengah kekacauan tersebut, para menteri dan pejabat tinggi merayap panik mencari perlindungan di balik pilar-pilar batu raksasa. Istana yang selama puluhan tahun berdiri atas dasar ketakutan kini berubah menjadi medan pertempuran terbuka.
Zhao Fengting melangkah mundur dua langkah saat benteng pertahanannya jebol dari luar. Wajahnya yang semula diliputi keangkuhan kini tampak membeku. Binar matanya yang pekat berkilat liar—sebuah ekspresi ketidakpercayaan yang mendalam.
"Tidak... Ini tidak mungkin," bisik Zhao Fengting, suaranya parau menahan amarah yang meledak. "Dalam lima garis waktu sebelumnya, pasukan Zirah Serigala tidak pernah bergerak sebelum fajar berakhir! Aku sudah menghitung setiap pergerakan Faksi Utara! Siapa yang memberi mereka akses menerobos benteng selatan?!"
"Aku," sahut Xinyue tenang. Suaranya tidak melengking, namun berbobot dan sarat akan dominasi rasional.
Xinyue melangkah mendekat, mengabaikan serpihan batu dan anak panah yang melayang di sekitarnya. Jubah ungu Pengawas Hukum Kerajaan menyapu lantai dengan anggun.
"Seorang regressor selalu memiliki kelemahan yang sama," tutur Xinyue seraya menatap lurus ke dalam mata sang Kaisar. "Kau terjebak dalam ingatan masa lalumu. Kau berasumsi bahwa pola pergerakan manusia akan selalu sama karena kau menganggap kami sebagai pion statis di dalam papan caturmu. Kau lupa bahwa setiap tindakan baru yang kuambil menciptakan efek domino yang mengubah seluruh variabel taktik."
"Variabel?" Zhao Fengting melepaskan tawa getir, mencabut pedang pusaka kekaisaran yang berkilau dingin dari sarungnya. "Kau pikir kau bisa mengalahkan kekuasaanku hanya dengan kalkulasi dingin dan angka-angka medis, Xinyue?!"
"Bukan hanya kalkulasi, Zhao Fengting," potong Xinyue. Ia menunjuk ke arah barisan menteri Faksi Sipil yang kini berdiri di belakang Ibu Suri Agung, memegang dokumen-dokumen bukti pembunuhan Kaisar Terdahulu yang telah disebarkan oleh pengawal Pengawas Hukum. "Ini adalah kesadaran kolektif. Ketika tirai manipulasi dan ketakutan runtuh, hukum tidak lagi membutuhkan perlindungan dari sosok protagonis. Rakyat dan pejabatmu sendiri yang memutuskan untuk mengadili pembunuhnya."
"Aku adalah Kaisar Kekaisaran Great Yan! Aku yang menulis takdir di negeri ini!" teriak Zhao Fengting, matanya merah mendelik saat ia menerjang maju mengarahkan bilah pedangnya lurus ke dada Xinyue.
SLAAM!
Sebuah tongkat tembaga berukir kepala serigala menangkis bilah pedang Zhao Fengting dengan dentang nyaring yang memercikkan api. Ibu Suri Agung berdiri kokoh di samping Xinyue, matanya menyala penuh murka seorang penguasa sejati.
"Cukup, Zhao Fengting!" seru Ibu Suri Agung dengan suara menggelegar. "Kau telah memalukan nama baik leluhur dan menumpahkan darah saudaramu demi takhta yang membusuk ini. Hari ini, atas nama Faksi Utara dan seluruh hukum kekaisaran, hakmu atas takhta resmi dicabut!"
Pada saat yang sama, puluhan prajurit Zirah Serigala berhamburan masuk melalui pintu samping balai, mengelilingi Zhao Fengting dengan tombak-tombak panjang teracung. Pengawal bayangan Matahari Hitam yang tersisa satu per satu melucuti senjata mereka, menyadari bahwa sang Kaisar telah sepenuhnya terisolasi.
Zhao Fengting memegang dadanya yang kembang kempis. Pedang di tangannya terlepas, jatuh berdenting ke lantai pualam. Ia menatap Xinyue yang berdiri tegak di tengah kehancuran kediktatorannya sosok yang tidak pernah berlutut, tidak pernah memohon belas kasihan, dan tidak pernah bermain sesuai aturan webtoon yang ia ketahui.
"Dunia ini... cerita ini..." gumam Zhao Fengting dengan tawa pelan yang penuh kegetiran. "Cerita ini seharusnya berkisah tentang kekuasaanku yang abadi. Mengapa... mengapa alur ini memilihmu?"
Xinyue melangkah maju hingga berhenti tepat di hadapan Zhao Fengting yang kini berlutut terpukul oleh kenyataan. Ia merogoh saku jubahnya, menarik Segel Pengawas Hukum Kerajaan yang memancarkan pendar hijau murni di bawah sinar matahari yang menerobos kabut asap.
"Cerita ini tidak pernah memilihku, Zhao Fengting," ujar Xinyue, menatap sang Kaisar dengan keteguhan yang mutlak. "Aku yang memilih untuk menghentikan kejahatanmu. Ketika seorang penulis menciptakan dunia yang penuh dengan ketidakadilan, dan ketika seorang penguasa menyalahgunakan siklus waktu untuk menindas yang lemah... maka orang yang memegang fakta dan kebenaranlah yang akan menulis ulang akhir ceritanya."
Xinyue meletakkan Segel Pengawas Hukum di atas meja utama Balai Agung, membalikkan badannya membelakangi sang mantan Kaisar yang mulai diborgol oleh para prajurit.
"Tarik terdakwa Zhao Fengting ke Penjara Bawah Tanah Balai Keadilan," perintah Xinyue kepada Komandan Zirah Serigala. "Persiapkan sidang pidana terbuka untuk seluruh rakyat kekaisaran esok hari."
Di luar Balai Agung Naga Kembar, matahari pagi akhirnya menembus awan tebal, menyinari ribuan tangga pualam yang kini bersih dari bayangan kegelapan Matahari Hitam. Mingzhu berlari mendekat dengan mata berkaca-kaca, sementara Ibu Suri Agung memberikan penghormatan penuh dengan menundukkan kepalanya sedikit ke arah Xinyue.
Selir ke-20 yang dahulu ditakdirkan mati sia-sia di awal bab kini telah usai. Ye Xinyue tidak hanya melarikan diri dari takdir karakter sampingannya—ia telah meruntuhkan panggung cerita lama dan mendirikan era keadilan yang baru dengan tangannya sendiri.