Dian meninggal dengan sangat menyedihkan: dikhianati tunangannya sendiri dan saudara tirinya, dihina sebagai wanita miskin pengemis cinta, lalu tewas dalam kecelakaan yang "disengaja". Namun saat membuka mata, ia kembali ke masa 3 tahun lalu—tepat saat ayahnya menawarkan pernikahan kontrak dengan pria paling dingin, misterius, dan ditakuti di kota: Erlan Pratama.
Di kehidupan dulu, Dian menolak tawaran itu dan memilih setia pada tunangannya yang brengsek. Kali ini, Dian tersenyum dingin dan menyetujuinya. Ia pikir ini hanya langkah untuk selamat dari nasib buruk—sampai ia perlahan sadar: pria yang terlihat tidak peduli itu diam-diam melindunginya, menyembunyikan rasa sakit yang sama, dan ternyata sudah mencintainya sejak lama... bahkan di kehidupan sebelumnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ristika Rachma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4: Kabar Bohong dan Bukti yang Tak Terbantahkan
Perjalanan pulang dari pesta berjalan dalam keheningan, namun kali ini bukan keheningan yang kaku atau penuh kecurigaan. Erlan memegang setir dengan tangan yang sedikit mengencang, rahangnya terkatup rapat menahan amarah yang sedang meluap. Sesekali dia melirikku dari sudut mata, seolah takut aku akan hancur atau menangis mendengar berita bohong yang baru saja menyebar. Tapi aku hanya menatap ke luar jendela, membiarkan cahaya lampu jalan melintas di wajahku, sambil menyusun rencana di dalam kepala.
"Apa kamu tidak takut?" tanyanya akhirnya memecah keheningan, suaranya terdengar lebih lembut dari biasanya. "Berita ini sangat buruk. Bisa merusak nama baikmu, bahkan nama baik keluargaku. Rian dan Sari tahu persis tombol mana yang harus mereka tekan untuk membuat kita terdesak."
Aku berbalik menatapnya, lalu tersenyum tipis sambil menyisir rambut panjangku yang sedikit berantakan terkena angin tadi. "Takut? Dulu aku mungkin takut. Dulu aku akan bersembunyi di sudut kamar dan menangis seharian karena orang-orang menuduhku hal yang tidak benar. Tapi itu Dian yang dulu. Dian yang sekarang sudah pernah melihat kematian, Mas. Tuduhan bohong seperti ini tidak ada apa-apanya dibandingkan rasa sakit saat dikhianati dan ditinggal mati sendirian."
Erlan menatapku lama sekali, matanya menyiratkan rasa bangga yang bercampur rasa sedih. Dia mengulurkan tangan, menyentuh ujung rambutku dengan lembut seolah takut aku akan hilang. "Kamu hebat. Lebih hebat dari yang aku bayangkan. Tapi jangan khawatir, aku tidak akan membiarkan mereka lolos begitu saja. Aku punya tim khusus yang sedang melacak siapa yang menyebarkan berita itu, dan..."
"Biarkan mereka menyebarkannya dulu," potongku tenang. "Semakin luas berita itu menyebar, semakin hebat guncangannya saat kebenaran terungkap nanti. Saat semua orang sudah menilai aku buruk, saat itulah kita tunjukkan siapa sebenarnya yang berniat jahat. Kekecewaan publik pada pelaku akan jauh lebih besar daripada sekadar tuduhan kosong ini."
Erlan mengangguk pelan, seolah baru menyadari bahwa aku bukan lagi gadis yang perlu dia lindungi sepenuhnya—kini kami berjuang berdampingan. "Baik. Aku ikuti caramu. Tapi beri tahu aku apa yang kamu butuhkan. Apa pun itu, aku akan siapkan."
"Satu hal saja," jawabku tegas. "Bantu aku mendapatkan rekaman CCTV di ruang ganti dan lorong belakang gedung pesta malam ini. Aku yakin mereka tidak hanya menyebarkan berita di media sosial, tapi juga meninggalkan jejak saat mereka berbicara dengan wartawan."
Sesampainya di rumah, suasana di dalam sudah tidak setenang biasanya. Bu Ratih tampak gelisah menunggu di ruang tengah, ponsel di tangannya terus bergetar hebat.
"Nyonya Dian, Tuan Erlan..." sapa Bu Ratih dengan wajah cemas. "Telepon masuk terus-menerus. Banyak wartawan yang ingin bertanya, bahkan kerabat jauh Nyonya Dian juga menelpon dengan nada menuduh. Dan di luar sudah ada beberapa orang yang mengambil foto rumah ini."
Erlan mengerutkan kening. "Jangan buka pintu untuk siapa pun. Matikan semua panggilan yang tidak penting. Aku akan urus pagar dan keamanan tambahan besok pagi." Dia berbalik menatapku. "Istirahatlah dulu. Aku akan berikan kabar soal rekaman itu besok pagi."
Aku naik ke kamarku, tapi tidak bisa langsung tidur. Aku membuka ponsel lama yang masih kugunakan, dan melihat betapa hebatnya kecepatan berita itu menyebar. Ribuan komentar memenuhi unggahan media sosial: ada yang menghina, ada yang menebak-nebak, ada yang kasihan pada Erlan karena "terpaksa" menikah denganku, dan tentu saja ada akun palsu yang menyebarkan fitnah tambahan seolah-olah aku adalah wanita yang licik dan haus harta.
Namun di tengah semua kebencian itu, ada satu komentar yang menarik perhatianku. Akun tanpa nama yang hanya menulis: "Tunggu buktinya. Jangan menilai sebelum tahu kebenaran." Entah mengapa, rasanya tulisan itu begitu familier.
Pagi harinya, aku terbangun karena ketukan di pintu. Erlan sudah berdiri di sana dengan berkas berita dan sebuah perangkat memori di tangannya. Matanya tampak sedikit lelah, tapi tatapannya tajam dan penuh harap.
"Aku mendapatkan semuanya," ucapnya singkat sambil masuk ke kamar. Dia menyambungkan perangkat itu ke layar televisi di sudut ruangan. Di sana terlihat jelas rekaman CCTV dari lorong belakang pesta.
Tampak Rian dan Sari berdiri di pojok gelap, berbicara dengan seorang pria yang mengenakan jaket pers. Wajah mereka penuh kemenangan.
"Pastikan berita ini sampai ke semua media besar," ucap Rian sambil menyerahkan amplop tebal kepada pria itu. "Kalau bisa tambahkan sedikit detail yang membuatnya terlihat nyata. Orang seperti Dian pasti melakukan hal kotor demi bisa naik derajat."
"Tenang saja," jawab Sari dengan nada licik. "Nanti semua orang akan menjauhinya. Erlan pasti malu dan akan menceraikannya secepatnya. Saat itu tiba, perusahaan Erlan akan mudah kita kuasai."
Aku tersenyum dingin melihat rekaman itu. "Sempurna. Ini bukti yang tidak bisa mereka sangkal lagi."
"Masih ada satu lagi," tambah Erlan. Dia menekan tombol lain. Kali ini rekaman dari ruang ganti wanita. Terlihat Sari diam-diam memasukkan baju bayi palsu ke dalam tas tanganku saat aku sedang membantu pelayan mengambil barang yang jatuh.
"Mereka benar-benar merencanakan semuanya dengan matang," gumamku. "Sayang sekali, mereka lupa bahwa di tempat sebesar itu, tidak ada sudut yang luput dari kamera."
Siang itu, Erlan mengundang awak media ke ruang kerjanya di kantor pusat. Aku ikut bersamanya, mengenakan pakaian sederhana namun berwibawa, rambutku terurai rapi di bahu. Saat kami masuk ruangan, ratusan kamera berkedip menyorot kami, dan banyak pertanyaan yang dilontarkan dengan nada menekan.
"Benarkah kabar bahwa Anda memaksa Tuan Erlan menikah dengan Anda karena Anda sedang hamil?"
"Apakah Anda menggunakan cara kotor untuk mendapatkan kekayaan?"
"Apakah pernikahan ini hanya sandiwara untuk menutupi aib?"
Aku membiarkan mereka bertanya sampai puas, lalu mengangkat tangan pelan untuk meminta ketenangan. Erlan berdiri di sampingku, tangannya menggenggam tanganku erat seolah memberi kekuatan.
"Terima kasih atas semua pertanyaan kalian," ucapku lantang dan tenang, suaranya terdengar jelas di seluruh ruangan. "Sebelum kalian menghakimi, ada baiknya kalian melihat bukti yang kami siapkan hari ini."
Layar besar di belakang kami menyala, memutar rekaman percakapan Rian dan Sari, serta rekaman saat Sari memasukkan barang ke tasku. Seluruh ruangan hening seketika. Wajah para wartawan berubah dari penasaran menjadi terkejut, lalu malu.
"Selain itu," tambah Erlan dengan suara berat yang berwibawa, "Saya sudah memeriksa catatan kesehatan istri saya selama setahun terakhir. Tidak ada satu pun dokter yang menyatakan dia pernah hamil. Tuduhan ini adalah fitnah keji yang direncanakan dengan sengaja untuk merusak nama baik istri saya dan perusahaan kami. Saya sudah menugaskan pengacara untuk melaporkan Rian dan Sari ke pihak berwajib atas tuduhan pencemaran nama baik dan percobaan pemerasan."
Saat itu juga suasana berbalik seratus delapan puluh derajat. Pertanyaan kini berubah menjadi permintaan maaf dan pertanyaan tentang langkah hukum selanjutnya. Aku tidak menjawab banyak hal, cukup berdiri tegak di samping Erlan, membiarkan kebenaran berbicara dengan sendirinya.
Setelah semua selesai dan kami kembali ke mobil, Erlan menatapku dengan kekaguman yang tak bisa disembunyikan. "Kamu luar biasa. Aku tidak menyangka kamu bisa tetap tenang dan sekuat itu di depan semua orang tadi."
"Ini baru permulaan," jawabku sambil menatap jalanan kota yang mulai ramai. "Mereka baru kalah satu pertandingan. Masih banyak rahasia lain yang mereka sembunyikan, termasuk rahasia tentang kebangkrutan perusahaan ayahku dulu."
Erlan mengangguk pelan, lalu tangannya kembali menyentuh rambutku dengan lembut. "Apa pun yang terjadi, aku ada di sini. Kita akan bongkar semuanya, satu per satu. Dan aku janji, tidak ada satu pun orang yang berani menyakitimu lagi."
Malam itu, saat aku melihat ke luar jendela kamarku, aku menyadari satu hal penting. Kekuatan terbesarku bukan hanya karena aku tahu masa depan, tapi karena kini aku tidak lagi berjuang sendirian. Di sampingku ada orang yang sudah lama menjagaku, orang yang siap berbagi beban dan membuktikan bahwa cinta sejati selalu datang di waktu yang tepat.