Amelia Kusumawardhani, seorang dokter forensik yang blak-blakan dengan kehidupan sederhana yang dipenuhi novel, anime, dan kerajinan tangan, tidak pernah menyangka kematiannya akan membawanya ke dalam novel favoritnya.
Lebih buruk lagi, ia terlahir sebagai anak pungut keluarga penjahat dalam cerita asli yang ditakdirkan untuk menghancurkan kerajaan.
Dan dia sendiri?
Ia hanya memiliki satu akhir dalam novel.
Yaitu mati.
Berlatar di sebuah Kerajaan Fantasi bergaya Eropa, akankah Amelia mampu bertahan, menemukan kebenaran, dan mengubah takdir yang seharusnya menjadi miliknya. Bagaimanakah kelanjutan kisahnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sinnox, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sumber Kehidupan
Keesokan harinya, kehidupan Eve kembali berjalan seperti biasa, seolah kejadian di ruang bawah tanah tidak pernah terjadi. Setelah bangun, dia sarapan, berganti pakaian, lalu kembali ke rutinitasnya.
Cecil memang beberapa kali memperhatikannya dengan tatapan khawatir, terutama ketika Eve sedang makan atau duduk sendirian. Sepertinya perempuan muda tersebut masih mengingat kejadian kemarin dan menunggu tanda-tanda Eve mengalami mimpi buruk atau ketakutan. Namun Eve bersikap sama seperti biasanya. Dia tetap cerewet, tetap meminta camilan, bahkan sempat mengeluh karena rambutnya terlalu lama disisir. Melihat Eve tidak menunjukkan perubahan aneh, Cecil akhirnya memilih tidak membahas kejadian kemarin.
Menjelang waktu belajar, Eve kembali menuju perpustakaan. Hari ini Elyndor sudah kembali mengajar, jadi Eve duduk di kursi kecilnya sambil menunggu kedatangan pria Elf tersebut. Beberapa buku sudah tersusun di atas meja, membuat Eve sempat membuka salah satunya untuk menghabiskan waktu. Lima menit berlalu. Sepuluh menit. Dua puluh menit.
Setelah hampir tiga puluh menit, Eve mulai menopang dagu dengan kedua tangan.
'Jangan-jangan dia lupa.'
Baru saja Eve hendak mengambil buku lain, pintu perpustakaan terbuka. Elyndor akhirnya muncul dengan langkah yang lebih lambat dari biasanya. Wajahnya terlihat lelah, rambutnya sedikit berantakan, dan lingkaran samar tampak di bawah matanya.
'Gue bisa nebak sih kenapa penampilan dia kek gitu.' Eve mengangkat alis.
Mengingat kejadian kemarin, Eve tidak heran kalau pekerjaan Elyndor bertambah. Pria tersebut merupakan seorang Elf sekaligus salah satu orang yang cukup dipercaya Lucien. Kalau ada penyusup yang menggunakan bahasa Elf dan mengaku sebagai bagian dari gerakan pemberontak, kemungkinan besar Elyndor pasti ikut dipanggil untuk membantu penyelidikan.
"Maaf membuat Nona menunggu," ujar Elyndor sambil menarik kursi di hadapan Eve.
Eve menggeleng kecil. "Dak apa-apa."
Elyndor tersenyum tipis sebelum membuka buku yang dibawanya. "Kalau begitu, mari kita mulai pelajarannya."
Pelajaran membaca berlangsung seperti biasa. Eve sudah menghafal sebagian besar huruf dan mulai mampu membaca kata-kata sederhana, meskipun masih terbata-bata pada beberapa bagian. Karena perkembangan Eve cukup baik, Elyndor akhirnya menutup buku bacaan setelah beberapa saat.
"Nona sudah cukup menguasai dasar-dasarnya," ujar Elyndor sambil merapikan halaman buku. "Saya pikir kita bisa menambahkan materi baru."
Eve langsung menatapnya.
"Matei baru?"
"Sejarah Kekaisaran."
Senyum Eve perlahan menghilang.
'Sejarah?'
Elyndor mengambil sebuah buku yang jauh lebih tebal daripada buku bacaan Eve sebelumnya. Dia meletakkannya di atas meja dengan bunyi pelan.
"Sebelum kita mulai, ada alasan kenapa saya ingin Nona mempelajari sejarah," jelas Elyndor. "Mengetahui sejarah berarti memahami bagaimana suatu negeri terbentuk, bagaimana kekuasaan berpindah, dan kenapa hubungan antarkeluarga maupun antarras bisa menjadi seperti sekarang. Tanpa mengetahui masa lalu, banyak hal yang terjadi di masa sekarang akan sulit dipahami."
Eve menatap buku tersebut.
Kemudian menguap.
'Males banget ya tuhan.'
Sejak kehidupan sebelumnya, Eve memang tidak pernah punya hubungan baik dengan pelajaran sejarah. Bukan karena tidak penting. Dia hanya tidak pernah menemukan alasan mengapa otaknya harus mengingat nama orang, perang, tahun pemerintahan, dan silsilah yang terasa tidak ada habisnya.
Sekarang setelah menjadi anak kecil, dia malah harus mempelajarinya lagi.
'Kayaknya gue bakal mati ketiduran.'
Elyndor tidak menyadari perjuangan batin Eve. Dia membuka halaman pertama dan mulai membaca bagian yang berkaitan dengan sejarah awal Kekaisaran Elarion.
"Jauh sebelum zaman sekarang, Elarion belum memiliki bentuk pemerintahan seperti yang kita kenal," jelas Elyndor. "Wilayahnya terdiri dari beberapa daerah yang dipimpin oleh bangsawan dan penguasa lokal. Konflik antardaerah cukup sering terjadi, sampai akhirnya muncul seorang penguasa yang berhasil menyatukan wilayah-wilayah tersebut di bawah satu pemerintahan."
Eve yang semula menopang pipi perlahan menurunkan tangannya.
"Penguasa tersebut kemudian menjadi Kaisar pertama yang memiliki kekuatan yang sangat berbeda dari manusia biasa. Kekuatan tersebut dikenal sebagai Imperial Authority."
Eve mengedip.
'Imperial Authority?'
Elyndor melanjutkan dengan nada tenang.
"Imperial Authority memungkinkan penggunanya memaksakan kehendak sihir terhadap lingkungan maupun target di sekitarnya. Seorang Kaisar yang mampu menggunakannya dengan baik dapat menciptakan tekanan sihir yang sangat besar, memperkuat tubuhnya, bahkan menghancurkan atau menekan pengaruh sihir lain."
Mata Eve yang tadi mulai berat kini sedikit terbuka lebih lebar.
'Jadi Kaisar punya kemampuan kayak begitu? GG kali wak'
"Namun, kekuatan sebesar itu memiliki harga," lanjut Elyndor. "Setiap kali digunakan dalam jumlah besar, tubuh sang Kaisar menerima beban yang semakin berat. Pada awalnya, dampaknya mungkin hanya berupa kelelahan. Tetapi penggunaan berulang dalam skala besar akhirnya menimbulkan sebuah kutukan yang perlahan merusak tubuh."
Eve berhenti memainkan ujung lengan bajunya.
"Semakin sering Imperial Authority digunakan dengan kekuatan penuh, semakin kuat pula kutukan tersebut."
Elyndor membalik halaman.
"Pada suatu masa, sang Kaisar mengetahui bahwa bangsa Elf memiliki kemampuan alami untuk menetralisasi dan menghilangkan pengaruh kutukan sihir. Kemampuan tersebut sudah menjadi bagian dari sifat magis bangsa Elf sejak dahulu. Karena alasan tersebut, sang Kaisar kemudian menikahi seorang Elf."
Eve sekarang benar-benar memperhatikan.
"Dari pernikahan mereka lahirlah beberapa anak yang membawa perpaduan darah Kekaisaran dan Elf. Anak-anak tersebut kemudian dikenal sebagai anak-anak ajaib. Mereka mewarisi kekuatan besar dari garis Kaisar sekaligus kemampuan alami bangsa Elf dalam menetralisasi pengaruh sihir."
Elyndor berhenti sebentar untuk memastikan Eve masih mengikuti.
Namun gadis kecil tersebut tidak lagi menguap. Tatapannya justru tertuju pada buku sejarah di hadapan Elyndor.
'Anak-anak ajaib...'
Eve bersandar sedikit ke depan.
Selama membaca The Rose and Crown, dia memang mengetahui kalau bangsa Elf memiliki kemampuan sihir yang berbeda dari manusia. Namun novel tersebut tidak pernah menjelaskan secara mendalam bagaimana hubungan mereka dengan Kekaisaran terbentuk. Apalagi soal garis keturunan Kaisar dan Elf.
Bahkan asal-usul kekuatan Imperial Authority nyaris tidak pernah dibahas.
'Jadi sejarah Kekaisaran ternyata kayak begini?'
Rasa kantuk Eve menghilang entah ke mana.
Kalau cerita yang dia baca selama ini hanya memperlihatkan bagian yang sudah terjadi ketika tokoh utama mulai terlibat dalam konflik, sejarah dunia ini ternyata menyimpan jauh lebih banyak hal di baliknya.
Eve menatap Elyndor penuh perhatian.
"Telus," katanya tiba-tiba.
Elyndor mengerutkan kening. "Terus?"
Eve yang sejak tadi menahan dagu dengan kedua tangan akhirnya mengangkat wajah. Ada satu bagian dari penjelasan Elyndor yang membuatnya berhenti memikirkan betapa menyebalkannya pelajaran sejarah.
Dia menatap pria Elf di hadapannya beberapa detik, lalu menunjuknya dengan jari kecil.
"Elyndol juga puna kekuatan cama?"
Elyndor tampak sedikit terkejut dengan pertanyaan tersebut. Dia kemudian tersenyum tipis dan menggeleng.
"Tidak, Nona. Saya hanya Elf biasa."
Eve mengerutkan kening.
"Bukan cemua Elf puna kekuatan itu?"
"Bangsa Elf memang memiliki kemampuan alami untuk menetralisasi pengaruh sihir tertentu," jelas Elyndor sambil menutup buku sebentar.
"Namun kemampuan setiap Elf berbeda. Saya tidak memiliki kemampuan seperti keturunan Kaisar dan Elf yang tadi saya ceritakan."
Eve mengangguk pelan, tetapi rasa penasarannya justru semakin besar.
"Lalu tenapa Elf yang nikah cama Kaisal bica puna kekuatan?"
Elyndor terdiam sejenak sebelum menjawab.
"Karena dia bukan Elf biasa. Dia berasal dari garis darah murni."
"Elf dalah mulnii?"
"Elf berdarah murni," ulang Elyndor. "Di antara bangsa kami, ada Elf yang memiliki hubungan lebih kuat dengan sumber kehidupan bangsa Elf. Mereka dipercaya mendapat perhatian khusus dari Pohon Kehidupan."
Eve langsung menangkap satu kata yang terdengar jauh lebih menarik daripada sejarah perang dan pergantian Kaisar.
"Pohon kehitupan?"
Elyndor mengangguk.
"Pohon Kehidupan merupakan bagian yang sangat penting dalam kepercayaan bangsa Elf. Kami menganggapnya sebagai bentuk kesucian tertinggi."
Eve memiringkan kepala.
"Memangnya pohon bica hitup?"
Elyndor tersenyum kecil.
"Pohon tersebut memang hidup, Nona. Namun bukan sekadar pohon biasa."
Dia kembali membuka buku, tetapi kali ini tidak langsung membaca. Tangannya justru berhenti di atas halaman seolah sedang memilih kata yang mudah dipahami anak kecil.
"Pohon Kehidupan dipercaya sebagai sumber yang menjaga keseimbangan kehidupan bangsa Elf. Dari sana berasal banyak kepercayaan, ritual, dan tradisi yang diwariskan dari generasi ke generasi."
Eve mendengarkan tanpa berkedip.
"Bangsa Elf percaya bahwa Pohon Kehidupan memiliki kesadaran. Ia tidak berbicara seperti manusia, tetapi mampu mengenali dan memberikan berkah kepada Elf tertentu."
"Kayak dewa?"
Pertanyaan Eve membuat Elyndor terdiam sesaat. Kemudian dia mengangguk pelan.
"Kurang lebih seperti itu."
"Jadi Pohon Kehidupan itu dewa?" Eve mengusap dagunya.
"Bagi sebagian besar bangsa Elf, ya," jawab Elyndor. "Lebih tepatnya, kami memandang Pohon Kehidupan sebagai sesuatu yang mendekati kedudukan dewa. Ia adalah simbol kehidupan, asal-usul, sekaligus kesucian yang tidak boleh diperlakukan sembarangan."
Eve menatap Elyndor dengan mata membulat.
'Jadi ada pohon yang dianggap dewa di dunia ini.'
Kalau benar Pohon Kehidupan dapat memberikan berkah kepada Elf tertentu, berarti Elf berdarah murni yang dinikahi Kaisar bukan sekadar memiliki garis keturunan khusus. Dia mungkin benar-benar mendapat perhatian langsung dari sesuatu yang dianggap suci oleh seluruh bangsa Elf.
Eve mengangkat wajah lagi.
"Kalau Pohon Kehitupan cuka cama Elf teltentu, belalti Elf itu hebat?"
"Ya," jawab Elyndor. "Sangat istimewa."
"Telus Elyndol pelnah lihat?"
Elyndor terdiam. Pertanyaan sederhana tersebut justru membuat ekspresinya berubah sedikit lebih serius.
"Saya belum pernah melihat Pohon Kehidupan secara langsung, Nona."
Eve berkedip.
"Tenapa?"
"Karena tidak semua Elf boleh mendekatinya."
Eve perlahan menurunkan tangannya, pelajaran sejarah yang tadinya dia kira akan membosankan mulai terasa jauh lebih menarik. Ada Kaisar dengan kekuatan yang bisa menekan sihir lain, Elf berdarah murni yang mendapat perhatian Pohon Kehidupan, lalu keturunan mereka yang dianggap sebagai anak-anak ajaib.
Dan semua kisah tersebut terjadi jauh sebelum cerita utama The Rose and Crown dimulai.
Eve menatap Elyndor lagi.
"Telus Pohon Kehitupan macih ada campai cekalang?"