NovelToon NovelToon
Rumah Tusuk Sate

Rumah Tusuk Sate

Status: sedang berlangsung
Genre:Hamil di luar nikah / Slice of Life / Rumah Tangga
Popularitas:700
Nilai: 5
Nama Author: PqxxyZ

Menikah karena keadaan bukanlah akhir dari segalanya. Bagi Arkana Najendra dan Hanifah Shafiqa, itu justru menjadi awal dari kehidupan yang tak pernah mereka bayangkan.

Dengan kondisi ekonomi yang pas-pasan, mereka membeli sebuah rumah tua di ujung jalan. Rumah tusuk sate. Murah, tetapi dipenuhi cerita yang membuat orang enggan mendekat.

Saat kehilangan terbesar menghancurkan keluarga kecil mereka, satu per satu masalah mulai berdatangan. Tekanan keluarga, luka yang belum sembuh, hadirnya orang ketiga, hingga berbagai kejadian ganjil yang membuat mereka bertanya...

Benarkah rumah itu membawa kutukan?

Ataukah, kutukan sesungguhnya adalah ketika dua hati yang saling mencintai perlahan berubah menjadi asing di bawah atap yang sama?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PqxxyZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4 - Persiapan

​Pagi itu, rumah Hanifah mulai sedikit lebih ramai dari biasanya. Beberapa kerabat dekat datang untuk membantu menyiapkan keperluan akad. Meski begitu, tidak ada tawa yang terdengar. Semua orang berbicara seperlunya saja.

​Di ruang tamu, kedua keluarga kembali duduk bersama. Kali ini suasananya tidak setegang pertemuan sebelumnya. Namun, rasa canggung masih terasa di antara mereka. Segelas teh hangat dan piring berisi pisang goreng yang disajikan ibu Hanifah bahkan belum tersentuh sejak sepuluh menit yang lalu.

​Ayah Hanifah membuka pembicaraan, mendehem pelan memecah keheningan. "Kita tidak perlu membuat pesta besar."

​Ayah Arkana mengangguk pelan, menyetujui. "Kami juga berpikir begitu. Yang terpenting mereka segera menikah."

​"Iya, Pak," timpal ibu Arkana dengan nada sungkan. "Lagipula, dalam situasi seperti ini, yang paling utama adalah sah secara agama dan negara. Untuk konsumsi kerabat yang datang membantu, biar kami yang ikut menyiapkan dari rumah."

​"Tidak perlu repot-repot, Bu. Urusan dapur di sini sudah ditangani oleh bibinya Hanifah," sahut ibu Hanifah mencoba mencairkan suasana, meski senyumnya masih terasa getir.

​Semua yang hadir di ruangan itu menyetujui keputusan tersebut.

​"Kalau begitu," lanjut ayah Hanifah, "terkait berkas ke KUA sudah diurus oleh paman Hanifah kemarin karena kebetulan dia kenal dengan orang kecamatan. Akad kita laksanakan hari Minggu."

​Ayah Arkana menoleh kepada putranya. "Bagaimana, Arkana?"

​"Saya ikut keputusan Bapak," jawab Arkana.

​Hanifah yang duduk di samping ibunya hanya mengangguk pelan. Baginya, semua keputusan kini berada di tangan kedua orang tuanya.

......................

​Menjelang siang, ibu Hanifah pergi ke pasar untuk membeli beberapa kebutuhan akad. Hanifah ikut menemaninya. Saat mereka melewati gang kecil, beberapa ibu-ibu yang sedang duduk di depan rumah langsung menghentikan obrolannya. Suasana yang tadinya bising oleh tawa mendadak senyap begitu sendal jepit Hanifah dan ibunya melewati jalan setapak itu.

​"Itu Hanifah, kan?" bisik salah seorang dari mereka, cukup keras hingga bisa didengar.

​"Iya."

​"Cepat sekali mau menikah."

​"Katanya calon suaminya sudah kerja."

​"Iya, tapi kenapa mendadak begitu? Bulan lalu perasaan tidak ada kabar lamaran sama sekali, tahu-tahu minggu depan sudah akad saja. Ada apa ya?" sindir yang lain dengan tatapan penuh selidik.

​Hanifah mendengar semua ucapan itu. Langkahnya perlahan melambat dan dadanya mendadak sesak. Ia menundukkan kepala semakin dalam.

​Ibu Hanifah menggenggam tangan putrinya erat-erat, seolah menyalurkan kekuatan.

"Jangan didengar," bisik ibunya pelan. "Ayo."

​Mereka tetap berjalan tanpa menoleh sedikit pun. Setelah cukup jauh dari para tetangga, Hanifah akhirnya berhenti.

​"Bu..." panggil Hanifah, suaranya tercekat.

​"Iya?"

​"Hanifah sudah membuat Ibu malu. Harusnya Ibu tidak usah mengajak Hanifah keluar tadi, biar Ibu tidak ikut ditatap seperti itu." Ucapan itu membuat ibu Hanifah ikut menghentikan langkahnya. Beliau menatap putrinya beberapa saat.

​"Ibu memang kecewa," aku sang ibu jujur. Hanifah menahan napas, bersiap mendengar kalimat berikutnya. "Tapi..." Beliau mengusap pelan kepala Hanifah. "...kamu tetap anak Ibu."

​Air mata Hanifah langsung jatuh membasahi pipinya. "Maafkan Hanifah."

​"Kesalahanmu memang besar. Tapi setelah ini, jangan buat kesalahan yang sama lagi. Jaga dirimu baik-baik setelah menjadi seorang istri nanti."

​Hanifah mengangguk berkali-kali sambil mengusap air matanya. "Iya, Bu."

......................

​Di rumah Arkana, suasana tidak jauh berbeda. Ayah Arkana sedang duduk di teras sambil menikmati secangkir kopi. Arkana menghampiri dan ikut duduk di sampingnya.

​"Kopinya masih panas, Yah?" tanya Arkana, mencoba membuka obrolan basa-basi untuk mengurangi ketegangan di antara mereka.

​"Masih," jawab ayahnya pendek tanpa menoleh. "Ibumu baru menyeduhnya tadi."

​Arkana terdiam sejenak, memandangi jalanan depan rumah yang sepi. "Kana," panggil sang ayah kemudian.

​"Iya, Yah."

​"Kamu gugup?"

​Arkana tersenyum tipis. "Sedikit."

Ayahnya ikut tersenyum. "Wajar. Laki-laki mana pun yang mau memikul tanggung jawab besar pasti akan merasa gugup." BeLiau kemudian melepas jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. Jam tangan kuno dengan tali kulit yang sudah agak aus di bagian pinggirnya. "Ini."

​Arkana mengernyit heran. "Buat saya?"

​Ayahnya mengangguk. "Dulu Ayah memakai jam ini saat menikahi ibumu."

​Arkana langsung menggeleng. "Jangan, Yah. Ini kan jam kesayangan Ayah."

​"Pakailah."

​"Tapi..."

​"Anggap saja ini pengingat."

​Arkana menerima jam tangan itu dengan kedua tangannya penuh rasa hormat. Logam dingin jam itu menyentuh kulitnya, namun terasa menghangatkan hatinya.

​Ayahnya menatap putranya lekat-lekat. "Mulai beberapa hari lagi... kamu bukan hanya anak Ayah. Kamu juga akan menjadi kepala keluarga."

​Arkana mengangguk pelan. "Saya akan berusaha menjadi suami yang baik."

​"Jangan hanya berusaha." Ayahnya menepuk bahu Arkana dengan tegas. "Buktikan."

​"Iya, Yah."

......................

​Malam harinya, suasana berganti malam yang sunyi. Hanya terdengar suara jangkrik dari pekarangan samping rumah.

Hanifah sedang merapikan pakaian yang akan dikenakan saat akad di dalam kamarnya yang remang. Ponselnya tiba-tiba bergetar di atas kasur.

Di layar tertulis nama Arkana. Hanifah ragu beberapa saat sebelum akhirnya mengangkat panggilan itu.

​"Halo," ucap Hanifah lirih.

​"Halo..." Suara Arkana terdengar pelan di seberang sana. "Sudah tidur?"

​"Belum. Masih merapikan jilbab untuk besok," jawab Hanifah pelan. "Mas sendiri kenapa belum tidur? Besok harus bangun pagi-pagi, kan?"

​"Belum bisa tidur. Pikiranku agak ramai," kata Arkana jujur. "Apa kabarmu?"

​Hanifah tersenyum pahit. "Baik." Padahal keduanya tahu, jawaban itu hanyalah kebohongan kecil untuk menenangkan satu sama lain.

​"Aku minta maaf." Arkana kembali mengucapkan kalimat yang sama.

​"Sudah terlalu banyak kamu meminta maaf."

​"Karena aku memang bersalah."

​Hanifah memejamkan mata. Ia menyandarkan punggungnya ke dinding kamar yang terasa dingin. "Mas..."

​"Iya?"

​"Aku takut."

​Di seberang telepon, Arkana terdiam cukup lama, menyisakan suara deru napas yang berat. "Jujur... aku juga takut. Aku takut tidak bisa menjadi apa yang diharapkan orang tuamu." Jawaban itu membuat Hanifah sedikit terkejut. "Tapi kita tidak bisa terus hidup dalam ketakutan. Kita harus memperbaiki semuanya."

​Hanifah mengusap air matanya. "Iya."

​"Aku janji. Aku akan menjaga kamu. Dan anak kita."

​Percakapan mereka tidak berlangsung lama. Sebelum telepon ditutup, Arkana berkata pelan, "Terima kasih karena masih mau percaya sama aku."

​Hanifah tidak langsung menjawab. Beberapa detik kemudian, ia berkata lirih, "Jangan sia-siakan kepercayaan itu."

​Telepon pun terputus.

​Hanifah meletakkan ponselnya di atas meja. Di sampingnya telah tergantung pakaian putih yang akan ia kenakan saat akad. Ia menatap pakaian itu cukup lama.

​Besok hidupnya akan berubah untuk selamanya. Ia menarik napas panjang, lalu memejamkan mata.

Semoga keputusan ini menjadi awal yang baik bagi mereka berdua.

1
Anime aikō-kā
4
Ris Ris.25
wah menantang sekali nih
Mustafa
resmi rumah sendiri
Putri Ayu/PqxxyZ: iya, beli rumah demi Hanifah nih
total 1 replies
Mustafa
Mitos pasti sihn
Putri Ayu/PqxxyZ: betul banget nih kak
total 1 replies
Mustafa
yeaay udah sah
Putri Ayu/PqxxyZ: iya nih... syukur banget🤭
total 1 replies
Ris Ris.25
syukurlah diterima dengan baik😊
Putri Ayu/PqxxyZ: betul sekali😊
total 1 replies
Mustafa
Ayo kamu pasti bisa Arkana
Putri Ayu/PqxxyZ: yuk bisa yuk
total 1 replies
Mustafa
Berani melakukan, berani bertanggungjawab💪
Putri Ayu/PqxxyZ: wajib sih itu
total 1 replies
Ris Ris.25
cerita baru🤭😊😊
Putri Ayu/PqxxyZ: Iya nih.. mampir ya dan dukung kek kemarin lagi ya🙏😊🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!