NovelToon NovelToon
Menjadi Antagonis, Tapi Suamiku Terlalu Protektif

Menjadi Antagonis, Tapi Suamiku Terlalu Protektif

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: ayu gerimis

Aku terbangun dan menyadari dirinya telah berpindah menjadi Freya, tokoh antagonis yang kejam, sombong, dan ditakdirkan berakhir tragis — dibenci semua orang, diceraikan dengan hina, dan mati muda. Yang lebih menyulitkan: aku memiliki suami, pria tampan namun dingin yang dalam cerita aslinya tak pernah menyayangi Freya dan justru ikut menghancurkannya.

Aku bertekad mengubah takdir. Aku tak ingin berakhir mati. Namun setiap kali aku mencoba bersikap jahat sesuai watak asli Freya demi tidak dicurigai, sang suami justru bersikap sebaliknya.

Orang lain mencela aku? Ia langsung membela dengan tajam.
Aku hanya sedikit terluka? Ia panik seolah nyawaku terancam.
Aku mencoba menjauh? Ia justru menarikku masuk ke dalam pelukannya dan melarang pergi.

"Siapa pun yang berani menyakiti isteriku, harus siap menghadapi aku," ucapnya dengan sorot mata tajam yang tak pernah kulihat dalam cerita aslinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayu gerimis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22: Bayang Masa Lalu di Balik Tawa

Pagi itu, aroma kopi hangat dan roti panggang mengisi ruang makan, menciptakan suasana yang begitu damai — seakan penderitaan panjang yang kami lalui hanyalah mimpi buruk. Ibu Arga tampak lebih cerah hari ini; rambut putihnya disisir rapi, wajahnya yang mulai kembali bersinar tak lagi pucat seperti saat ditemukan di gudang tua.

"Freya, cobalah kue ini," ujar Ibu Arga lembut, menyodorkan sepotong kue bolu berhias taburan kacang. "Resep ini kesukaan ayah Arga dulu. Dulu aku sering membuatnya setiap akhir pekan."

Aku menerima kue itu dengan senyum. "Terima kasih, Bu. Pasti enak sekali."

Arga yang duduk di sebelahku tersenyum melihat interaksi kami. Ia merangkul bahuku sekilas, lalu menatap ibunya. "Ibu pasti lelah setelah sekian lama sendirian. Mulai sekarang, biarkan aku dan Freya yang menjaga Ibu."

Ibu Arga tersenyum haru, matanya berkaca-kaca. "Kalian sudah dewasa... sungguh cepat sekali waktu berlalu. Rasanya baru kemarin kau masih anak-anak yang lari ke pelukanku ketakutan karena mimpi buruk, Arga."

Suasana terasa begitu hangat, sampai membuatku hampir lupa — kebahagiaan ini sempat direnggut darinya selama bertahun-tahun. Namun, di tengah tawa itu, aku melihat secercah bayang kerinduan mendalam di mata Ibu Arga.

"Bu," panggilku pelan, memberanikan diri. "Kalau Ibu berkenan... bolehkah Freya tahu apa yang sebenarnya terjadi dulu? Tentang Surya, dan kenapa hal sekeji itu bisa terjadi?"

Suasana di meja makan seketika hening. Arga menegap sesendok teh, lalu mengangguk pelan pada ibunya — memberi izin sekaligus dukungan.

Ibu Arga menarik napas panjang, menatap jendela besar yang memandang ke taman. "Surya... dulu ia bukan orang jahat. Atau mungkin, kejahatannya tumbuh perlahan, tertutup ambisi yang membara." Ia berhenti sejenak, menelan ludah. "Dia adalah tangan kanan ayahmu, Arga. Sahabat dekat sekaligus orang kepercayaan keluarga. Kami semua menghormatinya, bahkan menganggapnya saudara."

"Lalu kenapa dia bisa berubah begitu jahat?" tanya Arga pelan, suaranya penuh kesedihan.

"Karena dia merasa semua yang dimiliki ayahmu seharusnya miliknya," jawab Ibu Arga pelan namun tegas. "Dia merasa lebih pintar, lebih pantas memimpin perusahaan besar keluarga Pratama. Saat ayahmu menunjukmu sebagai pewaris tunggal, meskipun kau masih muda saat itu... ambisinya berubah menjadi kebencian yang tak terpadamkan."

Ia berhenti, tangannya meremas ujung serbet — seakan kembali merasakan ketakutan masa lalu. "Kecelakaan yang menimpa ayahmu... itu bukan kecelakaan murni, kan, Bu?" tanya Arga, suaranya bergetar.

Ibu Arga menggeleng pelan, air mata jatuh membasahi pipinya. "Bukan. Surya yang mengaturnya. Dia ingin ayahmu mati, lalu mengambil alih segalanya. Dan saat aku mengetahuinya... dia menculikku, mengurungku bertahun-tahun, membiarkan dunia ini mengira aku sudah mati."

Dadaku sesak mendengarnya. Betapa kejamnya hati manusia yang bisa menyembunyikan niat busuk di balik wajah setia begitu lama.

"Dan Laras?" tanyaku tiba-tiba. Nama itu terucap begitu saja dari bibirku. "Di mana dia sekarang? Setelah semua ini berakhir, kenapa dia tak pernah muncul?"

Arga menghela napas panjang. "Aku sudah mencarinya sejak kemarin. Rumahnya kosong, tak ada kabar dari siapa pun. Seakan dia menghilang begitu saja."

"Mungkin dia takut," gumam Ibu Arga pelan. "Dia pernah terlibat terlalu dalam dengan rencana Surya. Mungkin dia merasa tak pantas untuk kembali."

Pagi itu berakhir dengan perasaan campur aduk. Di satu sisi, kami bahagia bisa berkumpul kembali sebagai keluarga. Namun di sisi lain, banyak hal yang masih menggantung — kepergian Laras, ancaman Surya yang masih terngiang, dan pertanyaan besar tentang keberadaanku sendiri di dunia ini.

Siang harinya, saat Arga pergi sebentar ke kantor untuk mengurus beberapa hal mendesak, aku berjalan sendirian ke taman belakang. Angin berhembus lembut, menggerakkan dedaunan yang berbisik pelan. Aku duduk di bangku kayu, memandang kosong ke arah kolam ikan yang jernih.

Apakah aku benar-benar pantas berada di sini? pikirku. Aku hanyalah orang asing yang jatuh ke dalam cerita ini. Bagaimana jika suatu hari, semua ini diambil kembali dariku?

"Kau sedang memikirkan sesuatu yang berat."

Suara lembut Ibu Arga terdengar dari belakang. Ia berjalan pelan mendekat, lalu duduk di sampingku.

"Maaf, Bu... sepertinya wajahku terlalu terbaca," jawabku tersenyum tipis.

Ibu Arga menatapku lekat-lekat, matanya penuh kelembutan sekaligus ketegasan. "Freya, aku tak tahu dari mana asalmu, atau apa yang membawamu ke sini. Tapi satu hal yang aku tahu pasti — kau adalah anugerah bagi keluarga kami. Kau menyelamatkan Arga. Kau menyelamatkanku. Dan kau menyatukan kembali keluarga Pratama."

Ia menggenggam tanganku erat. "Jangan pernah merasa dirimu orang asing di sini. Rumah ini, keluarga ini... semuanya adalah rumahmu. Dan apa pun yang terjadi di masa depan, aku akan selalu menganggapmu sebagai anakku sendiri."

Air mata menetes di pipiku. Kata-katanya begitu menenangkan, seakan menghapus segala keraguan yang selama ini bersemayam di hatiku. Aku memeluknya erat, merasa diterima sepenuhnya — bukan sebagai karakter dalam cerita, melainkan sebagai diriku sendiri.

Namun malam itu, saat Arga pulang, wajahnya tampak gelisah. Ia duduk di sebelahku di tepi tempat tidur, menatap lantai dengan pandangan tak fokus.

"Ada apa, Arga?" tanyaku pelan, menyentuh pipinya.

Ia mengangkat wajah, menatapku dengan tatapan bingung. "Tadi di kantor... aku menemukan berkas lama. Surat yang ditulis Surya beberapa tahun lalu. Isinya... dia bukan orang yang bekerja sendirian, Freya."

Jantungku berdegup kencang. "Maksudmu?"

"Dia punya sekutu. Seseorang yang berada di dekat kita selama ini," jawab Arga pelan, suaranya berat. "Dan nama orang itu... sudah terhapus sebagian. Tapi aku yakin — orang itu masih bebas. Dan dia sedang mengawasi kita."

Keheningan menyelimuti ruangan itu, tiba-tiba terasa dingin. Ancaman Surya di penjara ternyata bukan sekadar ancaman kosong. Bahaya belum benar-benar berlalu. Dan seseorang yang selama ini kita kenal... mungkin adalah musuh yang sebenarnya.

 

Lanjut ke Bab 23? Siapa sosok misterius itu? Ke mana Laras menghilang? 🔥

1
Irsyad
wah keren
Ayu Gerimis: makasiii KK Irsyad udah mampir dan suka yaa 🥰"
total 1 replies
septia19
di tunggu kelanjutannya besti 😍
Ayu Gerimis: siap 👍
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!