Alexander "Alex" Ar-Rasyid (30 Tahun)
Seorang CEO muda yang dingin, perfeksionis, dan workaholic. Ia memegang kendali penuh atas Ar-Rasyid Group, sebuah konglomerat raksasa di bidang properti dan investasi. Baginya, pernikahan adalah bentuk kerja sama bisnis yang tidak penting, hingga sebuah perjodohan keluarga memaksa hidupnya jungkir balik.
Keisha Azalea Pramesti (25 Tahun)
Seorang fashion designer berbakat, mandiri, dan memiliki idealisme tinggi. Ia pemilik butik haute couture Azalea Label. Di balik senyum lembutnya, Keisha adalah wanita tangguh yang menolak dipandang sebelah mata dan sangat mencintai dunianya—sketsa, kain, dan jarum jahit.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Scrpn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
2
Matahari berganti posisi, membawa bias jingga kemerahan yang perlahan tenggelam di balik cakrawala ibu kota. Jam di pergelangan tangan Alexander Ar-Rasyid menunjukkan pukul tujuh malam kurang lima menit. Pria itu baru saja mematikan mesin mobil sedan eropa hitamnya tepat di depan pelataran sebuah restoran fine dining paling eksklusif di kawasan Menteng, The Apex Sky Lounge. Tempat itu terkenal bukan hanya karena hidangannya yang bernilai jutaan rupiah per porsi, tetapi juga karena privasinya yang ketat, menjadikannya sarang para konglomerat, pejabat tinggi, dan kaum elit untuk membicarakan rahasia besar atau sekadar memamerkan status sosial mereka.
Alex merapikan kerah kemeja hitam di balik jas tailor-made miliknya. Ekspresinya datar, dingin, dan tertutup rapat. Bagi seorang Alexander, agenda malam ini bukanlah sebuah kencan romantis yang patut dinanti-nantikan dengan debar jantung berdebar. Ini adalah eksekusi sebuah hukuman sosial yang dijatuhkan oleh sang kakek demi melanggengkan kekuasaan dinasti Ar-Rasyid. Di matanya, wanita yang akan ditemuinya malam ini kemungkinan besar adalah seorang putri manja dari keluarga terpandang, wanita yang menghabiskan hari-harinya di salon kecantikan, berbelanja tas mewah bermerek internasional, dan menganggap pernikahan sebagai batu loncatan untuk menguasai harta suaminya.
"Tuan Ar-Rasyid, mari saya antarkan ke meja Anda. Meja nomor empat belas di area rooftop privat," sapa seorang pelayan pria dengan setelan rapi dan senyum membungkuk hormat, menyambut kedatangan sang CEO begitu ia melewati pintu utama.
"Terima kasih," jawab Alex singkat, suaranya berat dan berwibawa.
Ia berjalan mengikuti langkah sang pelayan menyusuri koridor remang-remang yang dihiasi lampu kristal gantung bergaya klasik modern. Langkah kaki Alex mantap dan penuh percaya diri, seolah seluruh tempat itu berada di bawah telapak kakinya. Ketika mereka tiba di area rooftop yang dikelilingi dinding kaca tembus pandang dengan pemandangan kota Jakarta bermandikan lampu malam, mata Alex langsung menangkap sosok seorang wanita yang duduk membelakangi arah kedatangannya.
Wanita itu mengenakan gaun midi berwarna emerald green berpotongan anggun yang memeluk tubuh rampingnya dengan sempurna. Rambut cokelat gelapnya yang panjang ditata ikal longgar jatuh di bahu, menampilkan leher jenjang yang bersih. Di atas meja di depannya, tidak ada segelas champagne mahal atau ponsel pintar keluaran terbaru yang sibuk dimainkan—melainkan sebuah buku catatan kecil bersampul kulit dan sebuah pensil mekanik. Wanita itu tampak sedang mencoret-coret sesuatu di atas kertas, seolah ia sedang berada di meja kerjanya sendiri alih-alih di sebuah restoran mewah berbintang lima.
Tepat waktu, setidaknya dia bukan tipe wanita yang suka membuat orang menunggu, batin Alex dingin, menilai dari jarak beberapa langkah.
Pelayan menghentikan langkahnya di dekat meja tersebut dan berkata dengan sopan, "Nona Pramesti, Tuan Ar-Rasyid telah tiba."
Mendengar nama itu, wanita yang sedari tadi tenggelam dalam dunianya sendiri mendongakkan kepalanya perlahan. Keisha Azalea Pramesti menutup buku catatannya dengan gerakan cepat, lalu berdiri untuk menyambut tamu yang paling ia hindari seumur hidupnya. Saat tatapan mata mereka beradu untuk pertama kalinya, waktu seolah berhenti selama sepersekian detik.
Alex terpaku di tempatnya. Jantungnya yang biasanya berdetak dalam ritme konstan dan teratur tiba-tiba berkejap di luar kendali. Ia membayangkan akan bertemu dengan sosok wanita sombong penuh riasan tebal. Namun yang berdiri di hadapannya kini adalah seorang wanita dengan kecantikan alami yang terpancar kuat dari sorot matanya yang tajam, tegas, namun menyimpan kilat perlawanan yang sangat menarik. Tidak ada senyum dibuat-buat di wajah Keisha; yang ada hanyalah garis bibir yang terkatup rapat, menunjukkan bahwa wanita itu hadir di sana dengan keterpaksaan yang sama besarnya dengan dirinya.
Di sisi lain, Keisha menahan napasnya sesaat. Alexander Ar-Rasyid jauh lebih mengintimidasi secara langsung daripada foto-foto majalah bisnis yang sering ia lihat. Tinggi badan pria itu menjulang sempurna, dikemas dalam balutan busana mahal yang memancarkan aura dominasi mutlak. Rahangnya yang tegas, hidungnya yang mancung, serta sepasang mata tajam berwarna kelam menatapnya dengan intensitas yang membuat kulit Keisha merinding seketika. Pria ini adalah perwujudan sempurna dari badai es yang siap membekukan siapa saja yang berani menentangnya.
"Selamat malam, Tuan Ar-Rasyid," ucap Keisha dengan suara yang sengaja ia buat selantang dan sekokoh mungkin, menolak untuk terlihat gentar di hadapan sang CEO. Ia mengulurkan tangannya dengan kaku, sebuah gestur formalitas yang terpaksa ia lakukan demi menjaga kesopanan di depan umum.
Alex mengerjap sejenak, menarik kembali kesadarannya dari keterkejutan visual yang baru saja ia alami. Ia menyambut uluran tangan itu. Sentuhan kulit mereka terasa kontras—tangan Alex hangat, besar, dan kasar di beberapa bagian karena cengkeraman kekuasaan, sementara tangan Keisha terasa pas di genggamannya, lembut namun dingin karena gugup. Alex menggenggamnya sedikit lebih kuat dari yang diperlukan, sengaja memberikan ujian mental pertama kepada wanita di depannya.
"Selamat malam, Nona Pramesti. Senang akhirnya bisa bertemu dengan wanita yang begitu dipuja-puja oleh keluarga besar saya untuk dijadikan alat tawar-menawar," balas Alex dengan nada sinis yang dibungkus senyum tipis sarkastik. Ia melepaskan tangan Keisha dengan cepat, lalu menarik kursi di seberang wanita itu dan duduk tanpa menunggu aba-aba.
Keisha merasakan darahnya mendidih seketika. Kalimat pertama yang keluar dari mulut pria itu sudah cukup membuktikan dugaan buruknya: Alexander Ar-Rasyid adalah pria arogan yang tidak memiliki sopan santun dasar dalam memperlakukan seorang wanita, terlebih seorang tamu yang dijodohkan dengannya. Keisha menarik kembali tangannya, mengepalkannya erat-erat di balik meja untuk meredam gejolak amarah yang hampir meledak di dadanya.
Sabar, Keisha. Ingat butikmu. Ingat utang bank yang menumpuk, bisik hati kecilnya, mencoba menenangkan saraf-sarafnya yang menegang.
Keisha duduk kembali dengan anggun, mengangkat dagunya sedikit lebih tinggi untuk menunjukkan bahwa ia tidak ciut oleh gertakan murahan sang CEO. "Saya rasa kita berdua sama-sama tahu, Tuan Ar-Rasyid, bahwa perjodohan ini bukanlah sesuatu yang kita inginkan dari lubuk hati terdalam. Jadi, mari kita lewati basa-basi busuk ini dan langsung pada intinya. Anda tidak ingin menikah, dan saya pun memiliki prioritas hidup lain yang jauh lebih penting daripada mengurusi ego seorang CEO."
Pernyataan blak-blakan itu sukses membuat gerakan tangan Alex yang hendak membuka buku menu terhenti seketika. Pria itu mendongak, menatap tajam ke arah Keisha dengan alis terangkat sebelah. Selama bertahun-tahun memimpin korporasi besar, tidak ada satu pun orang—bahkan para anggota dewan direksi yang sudah tua dan berpengalaman—yang berani berbicara setegas dan seblak-blakan itu di hadapannya, apalagi seorang gadis berusia dua puluh lima tahun yang baru pertama kali ia temui dalam hidupnya.
Sebuah senyum miring yang berbahaya terukir di bibir Alex. Rasa terkejutnya seketika berubah menjadi rasa tertarik yang aneh. Wanita ini tidak seperti boneka porselen yang biasa ia temui di lingkaran sosial elitnya. Keisha adalah seekor anak kucing liar yang memiliki cakar tajam dan siap mencakar siapa saja yang mencoba mengurungnya.
"Wah," gumam Alex rendah, suaranya terdengar begitu berbahaya sekaligus memikat. "Kau punya lidah yang cukup tajam untuk ukuran seseorang yang masa depan finansialnya sedang berada di ujung tanduk, Nona Pramesti. Apakah keluargamu tidak mengajarkan cara berbicara yang sopan kepada calon suamimu?"
Keisha tidak gentar sedikit pun. Ia mencondongkan sedikit tubuhnya ke depan, mendekat ke arah meja dengan mata menyipit tajam. "Keluarga saya mengajarkan saya sopan santun kepada orang yang tahu bagaimana cara menghargai orang lain, Tuan Ar-Rasyid. Tapi untuk seseorang yang langsung merendahkan wanita di pertemuan pertama... saya rasa kesopanan saya terlalu mahal untuk diberikan."
Suasana di meja nomor empat belas itu mendadak membeku. Udara di sekitar mereka seolah berubah menjadi medan perang tak kasat mata. Pelayan restoran yang datang membawa buku menu bergegas meletakkan buku tersebut dan pergi secepat kilat, ketakutan melihat kilatan ketegangan di mata sang CEO.
Alex menatap wanita di depannya lekat-lekat. Alih-alih merasa tersinggung atau marah besar seperti yang biasa ia tunjukkan pada bawahannya yang melakukan kesalahan fatal, dada Alex justru bergemuruh oleh sensasi asing yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Ada api yang berkobar di dalam diri Keisha, api yang sanggup membakar dinding es pertahanan yang sudah ia bangun bertahun-tahun di sekeliling hatinya.
"Menarik," bisik Alex pelan, nyaris seperti desisan angin malam. "Kau pikir kau bisa bertahan lama dengan sikap seperti itu di dalam sangkar emas keluarga Ar-Rasyid?"
"Saya tidak berencana untuk tinggal lama di sangkar Anda, Tuan Ar-Rasyid," balas Keisha tanpa ragu sedikit pun, menatap lurus ke dalam manik mata hitam pria itu. "Kita hanya perlu membuat kesepakatan malam ini, menandatangani dokumen yang diinginkan kakek Anda, lalu setelah waktu yang ditentukan... kita masing-masing berjalan ke arah yang berlawanan."
Alex terdiam sesaat, mencerna setiap kata yang keluar dari bibir merah muda wanita di depannya. Sebuah rencana licik sekaligus menantang mulai terbentuk di dalam benak kepala dingin seorang Alexander Ar-Rasyid. Ia tidak akan membiarkan pernikahan ini berjalan semudah dan sesederhana yang diinginkan oleh wanita ini. Jika Keisha ingin bermain api, maka Alex akan memastikan bahwa wanita itu terbakar habis dalam jeratan permainannya sendiri.
"Baiklah," ucap Alex akhirnya, suaranya kembali dingin namun mengandung nada penuh kemenangan yang tersembunyi. Ia membuka buku menu, lalu menatap Keisha dengan senyuman tipis yang mengerikan. "Kita buat kontraknya. Tapi ingat satu hal, Nona Pramesti... sekali kau masuk ke dalam duniaku, keluar hidup-hidup bukanlah pilihan yang mudah."