SINOPSIS:
"Lima ratus tahun di dunia kultivasi mengajarkanku satu hal: kebaikan adalah kelemahan, dan pengkhianatan hanya bisa dibayar dengan darah."
Ethan Mahendra adalah seorang pemuda genius yang hidupnya dihancurkan dalam semalam oleh keserakahan Keluarga Wijaya—konglomerat penguasa kota. Dianiaya hingga sekarat di sebuah gang gelap, jiwanya justru terlempar ke Alam Kultivasi Bawah. Di sana, ia merangkak dari dasar lumpur, bertarung melintasi lautan darah, hingga berhasil menyentuh puncak tertinggi sebagai kultivator "Alam Kenaikan Abadi Bintang 9". Namun, tepat sebelum ia melangkah ke Alam Keabadian, sembilan sekte besar mengkhianatinya.
Alih-alih binasa, ledakan jiwanya justru melempar Ethan kembali ke masa lalu—masuk ke dalam tubuh mortal aslinya di Bumi, tepat beberapa menit setelah ia dipukuli hingga hampir mati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhamad Aditiar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gerbang yang Tertidur
Bab 4: Gerbang yang Tertidur
Kabut yang menyelimuti Bukit Arjaya mendadak berputar perlahan.
Bukan karena angin.
Melainkan karena helaian Qi yang mengalir keluar dari retakan pada Batu Mata Air Ketujuh. Cahaya biru redup menjalar mengikuti ukiran kuno di permukaan batu, membentuk pola melingkar yang saling terhubung seperti urat nadi.
Ethan berdiri tanpa bergerak.
Tatapannya tenang, tetapi pikirannya bekerja cepat.
"Suara itu tidak berasal dari formasi biasa."
Di dunia kultivasi, formasi penyimpan pesan hanya mampu meninggalkan rekaman kehendak pemiliknya. Rekaman seperti itu tidak dapat mengenali siapa yang datang. Namun suara yang baru saja terdengar jelas menyebut satu kata.
Pewaris.
Artinya, sesuatu di balik batu itu masih memiliki kemampuan mengenali keberadaan seseorang.
Kemungkinan pertama, ada roh penjaga.
Kemungkinan kedua, ada artefak yang memiliki kesadaran.
Kemungkinan ketiga...
Masih ada makhluk hidup yang bertahan.
Dari ketiga kemungkinan itu, Ethan justru paling berharap yang pertama.
Dua kemungkinan terakhir jauh lebih berbahaya bagi kondisinya saat ini.
Ia tidak langsung mendekati batu.
Sebaliknya, Ethan berjongkok dan menyentuh tanah di sekitar retakan.
Jarinya menyapu permukaan tanah yang lembap.
Beberapa butir pasir menempel di ujung kukunya.
Ia mengamati arah aliran Qi dengan saksama.
"Lima simpul..."
gumamnya pelan.
Retakan itu bukan pusat formasi.
Melainkan salah satu simpulnya.
Jika dipaksa dibuka sekarang, seluruh formasi kemungkinan akan runtuh.
Lebih buruk lagi...
Bisa memicu mekanisme pertahanan.
Ethan pernah melihat banyak kultivator mati karena terlalu percaya diri membuka segel kuno tanpa memahami strukturnya.
Ia tidak berniat menjadi salah satunya.
Di sisi lain bukit...
Alya Pramesti masih berdiri di balik pepohonan, ditemani pria paruh baya yang menjadi asistennya, Bram.
Mereka tidak mendekati lokasi.
Peralatan pemindai energi di tangan Bram beberapa kali mengeluarkan bunyi pendek.
"Bacaan energinya naik lagi."
Alya mengangguk pelan.
"Aneh."
"Bukankah kawasan ini sudah diperiksa puluhan tahun?"
"Sudah."
"Lalu kenapa baru malam ini aktif?"
Bram menggeleng.
"Data arsip tidak menjelaskan."
Alya memandang ke arah puncak bukit yang diselimuti kabut.
Dalam benaknya, wajah Ethan kembali terlintas.
Pemuda itu datang tepat sebelum anomali energi muncul.
Terlalu kebetulan.
"Jangan bergerak dulu," katanya.
"Kita hanya mengamati."
Bram tampak ragu.
"Kalau organisasi lain datang?"
"Itu sebabnya kita tidak boleh gegabah."
Tatapan Alya tetap tertuju ke arah batu besar yang hanya tampak samar dari kejauhan.
"Aku ingin tahu..."
"...dia sebenarnya siapa."
Sementara itu, beberapa kilometer dari Bukit Arjaya.
Di sebuah gedung tua yang tampak seperti gudang kosong, belasan orang berkumpul mengelilingi meja bundar.
Mereka mengenakan pakaian sipil biasa.
Namun di lengan kiri masing-masing terpasang lambang berbentuk mata hitam.
Seorang pria berambut putih meletakkan sebuah foto di atas meja.
Foto Ethan Mahendra.
"Dia masih hidup."
Seorang wanita berkacamata mengernyit.
"Bukankah laporan Keluarga Wijaya menyatakan target sudah dieliminasi?"
"Itulah masalahnya."
Pria tua itu mengetukkan jarinya ke meja.
"Tim lapangan yang dikirim malam ini juga gagal."
Seorang pria bertubuh kekar bersedekap.
"Perlu kita habisi sekarang?"
"Tidak."
"Kenapa?"
Pria tua itu menatap seluruh ruangan.
"Karena seseorang telah membuka simpul pertama."
Ruangan langsung sunyi.
Wanita berkacamata itu perlahan berdiri.
"Apakah maksud Ketua..."
"...Gerbang mulai bangkit?"
Pria tua itu tidak menjawab.
Namun wajahnya yang berubah serius sudah cukup menjadi jawaban.
Kembali di Bukit Arjaya.
Ethan mengeluarkan lipatan surat peninggalan ayahnya.
Ia memperhatikan simbol lingkaran hitam bergaris sembilan.
Kemudian membandingkannya dengan ukiran pada batu.
Ada satu perbedaan kecil.
Pada simbol di surat...
Salah satu garis terlihat sedikit lebih panjang.
Awalnya tampak seperti kesalahan gambar.
Namun setelah diamati lebih teliti, Ethan menyadari garis itu sebenarnya menunjuk ke arah tertentu.
Ia mengangkat kepala.
Mengikuti arah garis tersebut.
Pandangannya berhenti pada sebuah pohon beringin tua sekitar dua puluh meter dari batu.
Batangnya sangat besar.
Akarnya menjulur ke segala arah.
Tidak ada yang istimewa...
Setidaknya bagi orang biasa.
Ethan berjalan mendekat.
Setiap langkah dilakukan perlahan.
Semakin dekat ke pohon itu, aliran Qi semakin jelas terasa.
Ia mengelilingi batang pohon sekali.
Lalu berhenti.
Tangannya menyentuh salah satu akar yang menonjol.
Retak.
Suara sangat pelan terdengar.
Ethan menekan sedikit lebih kuat.
Tiba-tiba...
Sebagian akar bergeser ke samping.
Memperlihatkan sebuah rongga sempit.
Di dalamnya terdapat sebuah kotak kayu hitam sebesar telapak tangan.
Kotak itu dipenuhi debu.
Namun tidak sedikit pun lapuk.
Ethan mengangkatnya perlahan.
Kayu itu terasa dingin.
Jauh lebih dingin daripada udara malam.
Ia tidak langsung membuka kotak tersebut.
Sebaliknya, ia mengendus aroma kayunya.
"Hm..."
Tidak ada racun.
Tidak ada jebakan mekanis.
Namun tetap saja...
Ia belum yakin.
Saat Ethan hendak kembali ke Batu Mata Air Ketujuh...
Langkahnya tiba-tiba berhenti.
Ada suara ranting patah.
Sekali.
Dua kali.
Bukan hewan.
Langkah itu terlalu teratur.
Ethan segera memadamkan napasnya.
Ia bersembunyi di balik batang pohon.
Tak lama kemudian, tiga sosok berjubah abu-abu muncul dari arah utara.
Mereka memakai topeng putih polos.
Tidak membawa senter.
Namun berjalan tanpa ragu seolah mengenal setiap sudut bukit.
Salah seorang di antaranya berbicara pelan.
"Jejak energinya berakhir di sini."
"Segelnya aktif?"
"Belum sepenuhnya."
"Maka kita masih punya waktu."
Ethan memperhatikan mereka dengan saksama.
Ia sama sekali tidak mengenali pakaian itu.
Namun salah satu pria membawa kompas aneh yang jarumnya bercahaya merah.
Bukan alat modern.
Melainkan artefak.
"Organisasi baru..."
batinnya.
Mereka juga mencari tempat ini.
Ketiga pria berjubah berhenti tepat di depan Batu Mata Air Ketujuh.
Pemimpin mereka mengeluarkan sebuah pecahan batu giok berbentuk bulan sabit.
Begitu benda itu didekatkan ke permukaan batu...
Ukiran yang sebelumnya bercahaya biru langsung bergetar.
"Energinya bereaksi."
"Kita benar."
"Gerbang memang ada di sini."
Salah satu anggota bertanya,
"Bagaimana kalau penjaganya masih hidup?"
Pemimpin mereka tersenyum tipis.
"Kalau masih hidup..."
"...berarti sudah waktunya dibunuh."
Tatapan Ethan sedikit berubah.
Ia belum mengetahui siapa mereka.
Namun satu hal jelas.
Kelompok ini bukan sekadar pencari harta.
Mereka datang dengan tujuan menghancurkan sesuatu.
Pemimpin berjubah mulai menyalurkan energi ke dalam batu giok.
Qi yang digunakan sangat lemah.
Sekitar Alam Pemurnian Tubuh Bintang 5.
Tidak terlalu tinggi.
Namun cukup jauh di atas Ethan saat ini.
Ethan menarik napas pelan.
Kalau bertarung langsung...
Peluangnya kecil.
Apalagi mereka bertiga.
Ia harus memanfaatkan keadaan.
Pandangannya beralih ke retakan pada batu.
Kemudian ke posisi ketiga pria itu.
Lalu ke lereng bukit.
Sebuah rencana perlahan terbentuk.
Ia mengambil kerikil kecil.
Menghitung jarak.
Kemudian...
Tak!
Kerikil itu melesat mengenai cabang pohon sekitar tiga puluh meter di belakang kelompok berjubah.
Suara benturan membuat mereka serentak menoleh.
"Siapa di sana?"
Dua orang langsung bergerak memeriksa.
Kini hanya pemimpin mereka yang tetap berada di depan batu.
Kesempatan.
Ethan tidak menyerang.
Ia justru bergerak memutar dengan langkah seringan angin.
Berbekal pengalaman ratusan tahun, ia memanfaatkan setiap bayangan pohon sebagai perlindungan.
Beberapa detik kemudian, ia sudah berada di sisi lain batu besar tanpa diketahui.
Jaraknya tinggal lima meter.
Ia bisa melihat jelas permukaan batu.
Juga batu giok bulan sabit di tangan pemimpin berjubah.
"Bukan kunci."
"Melainkan pemicu paksa."
Kalau benda itu digunakan terus, formasi mungkin akan rusak.
Ethan tidak bisa membiarkan itu terjadi.
Bukan karena ingin melindungi siapa pun.
Tetapi karena seluruh petunjuk mengenai ayahnya ada di balik segel tersebut.
Tepat saat pemimpin berjubah meningkatkan aliran Qi...
Sebuah suara tenang terdengar dari belakangnya.
"Kalau kau terus memaksa..."
"...kau akan mati lebih dulu daripada segelnya terbuka."
Pria berjubah langsung berbalik.
Matanya menyipit melihat Ethan berdiri beberapa meter di belakang.
"Kau siapa?"
"Ethan."
"Itu bukan jawaban."
"Cukup untuk saat ini."
Pemimpin berjubah mengamati Ethan beberapa saat.
Lalu tersenyum mengejek.
"Alam Pemurnian Tubuh Bintang 1."
"Berani mengajariku?"
Ethan tidak terpancing.
"Formasi ini menggunakan lima simpul."
"Kau sedang mengalirkan Qi ke simpul yang salah."
Pria itu tertawa.
"Lalu menurutmu kau lebih tahu?"
"Aku yakin."
Senyum di wajah pria berjubah perlahan menghilang.
Untuk sesaat...
Keraguan muncul di matanya.
Karena apa yang dikatakan Ethan memang benar.
Ia sendiri tidak memahami formasi itu sepenuhnya.
Namun sebelum sempat berpikir lebih jauh...
Dua bawahannya kembali berlari.
"Ketua!"
"Tidak ada siapa-siapa!"
Pemimpin berjubah segera sadar.
Tatapannya kembali ke arah Ethan.
Namun...
Pemuda itu sudah menghilang.
"Celaka!"
Ia langsung berbalik.
Batu giok bulan sabit di tangannya...
Lenyap.
Beberapa ratus meter dari lokasi.
Ethan berlari menembus hutan dengan napas berat.
Di tangan kirinya tergenggam batu giok bulan sabit yang baru saja ia curi.
Ia tidak tersenyum.
Sebaliknya, wajahnya justru semakin serius.
Begitu disentuh, ia merasakan aura yang sangat familiar dari benda itu.
Aura yang...
Pernah ia rasakan lima ratus tahun lalu.
Di Dunia Kultivasi.
Sebelum sempat memeriksanya lebih jauh, batu giok itu mendadak berdenyut.
Permukaannya retak.
Lalu memancarkan seberkas cahaya merah ke langit malam.
Cahaya itu melesat tinggi, menembus awan, membentuk simbol bulan sabit raksasa yang dapat terlihat dari seluruh penjuru kota.
Di dalam markas Divisi Pengamatan, Alya langsung berdiri dari kursinya.
Di Gedung Wijaya Group, Ardi menatap langit dengan wajah pucat.
Di ruang bawah tanah gedung tua berlambang mata hitam, pria berambut putih perlahan membuka matanya.
Dan di tempat yang sangat jauh, di balik gerbang batu yang tersembunyi di pegunungan, seorang pria berjubah hitam membuka kedua matanya untuk pertama kalinya setelah puluhan tahun bermeditasi.
Senyumnya tipis, namun mengandung hawa dingin yang menusuk.
"Jadi..."
"...pewaris itu benar-benar telah kembali."