Riuh derap langkah di koridor kampus hari itu menjadi saksi hangatnya hubungan yang membendung segala keraguan. Di bawah naungan pohon angsana yang menggugurkan bunganya, Amanda duduk bersama Zahra, menatap lembaran tugas akhir yang hampir rampung. Enam tahun bukan waktu yang singkat untuk merajut benang persahabatan. Sejak mengenakan seragam putih-biru di bangku SMP, Zahra selalu menjadi tempat Amanda pulang, berbagi tawa, hingga rahasia terkecil sekalipun. Bagi Amanda, Zahra bukan sekadar teman biasa, melainkan saudara kandung yang tidak terikat oleh darah. Setiap keputusan besar dalam hidup Amanda selalu melewati pertimbangan Zahra, termasuk ketika seorang pria bernama Zidan datang mengisi hatinya dua tahun lalu.
Zidan adalah sesosok pria berkarisma dengan senyum menenangkan yang berhasil meluluhkan hati Amanda. Selama masa perkuliahan, ketiganya hampir tidak pernah terpisahkan. Di mana ada Amanda dan Zidan, di situ pula ada Zahra. Amanda sering kali merasa menjadi wanita paling
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perpisahan Yang Dewasa
Hari penentuan yang dinanti-nantikan itu akhirnya tiba. Mentari pagi menyinari langkah Amanda yang berjalan anggun memasuki gedung Pengadilan Agama. Wajahnya tampak jauh lebih segar, dipadu dengan riasan tipis yang menonjolkan kecantikan alaminya. Tidak ada lagi lingkaran hitam di bawah mata atau raut kehampaan; yang ada hanyalah binar ketegasan dan kedamaian jiwa.
Di sampingnya, Arya melangkah dengan setelan jas terbaiknya, memancarkan aura kepercayaan diri yang kuat sebagai pelindung dan kuasa hukumnya.
Suasana di dalam aula sidang utama begitu hening saat Majelis Hakim memasuki ruangan. Zidan yang duduk di kursi tergugat tampak makin kurus, lesu, dan tak bermaya dengan pakaian tahanannya. Ia bahkan tak berani menatap langsung ke arah Amanda yang duduk tegak penuh wibawa di sisinya.
"Persidangan perkara perceraian dan pembagian harta bersama atas nama Penggugat Amanda dan Tergugat Zidan, resmi dibuka," ucap Hakim Ketua dengan suara berat yang mengema.
Hakim Ketua membacakan setiap pertimbangan hukum dengan cermat, memaparkan seluruh bukti pengkhianatan Zidan serta penyalahgunaan dana bersama yang berhasil dibongkar oleh Arya. Setiap lembar dokumen yang dibacakan makin menyudutkan Zidan tanpa celah sedikit pun.
"Memutuskan," suara Hakim Ketua meninggi, membuat seluruh isi ruangan menahan napas.
"Menjatuhkan talak satu ba'in sughra Tergugat Zidan terhadap Penggugat Amanda. Mengabulkan seluruh gugatan Penggugat, serta menetapkan seluruh aset harta gono-gini, termasuk rumah tinggal dan akun aset terkait, secara sah jatuh menjadi hak milik penuh Penggugat Amanda."
Ketuk! Ketuk! Ketuk!
Palu hakim diketuk tiga kali dengan lantang, memutus ikatan pernikahan itu untuk selamanya.
Amanda menghela napas panjang. Air mata yang menetes di pipinya kali ini bukanlah air mata kesedihan, melainkan pendar kebebasan yang murni. Seluruh beban, pengkhianatan, dan masa lalu yang kelam resmi berakhir detik itu juga.
Saat bangkit dari kursi, Amanda menoleh sejenak ke arah Zidan yang tertunduk lesu meratapi kehancuran hidupnya sendiri. Tanpa mengucap sepatah kata pun, Amanda berbalik dan berjalan keluar dari aula sidang—menyambut masa depan baru yang merdeka di samping Arya.
Langkah kaki Amanda bergema pelan di atas lantai marmer aula sidang. Bukannya langsung berjalan keluar bersama Arya, Amanda berbalik dan melangkah perlahan menuju tempat Zidan berdiri terpaku di bawah kawalan petugas.
Zidan mendongak, matanya yang sembap membelalak tak percaya melihat wanita yang baru saja resmi menjadi mantan istrinya itu berjalan mendekat. Ada keraguan, ketakutan, dan penyesalan mendalam di raut wajah pria itu.
Di hadapan Zidan, Amanda berhenti. Dengan ketenangan yang membuncah dari kedewasaan hatinya, Amanda mengulurkan tangan. Ia meraih jemari Zidan, lalu mencium takzim tangan mantan suaminya itu untuk terakhir kalinya—sebuah gestur penutup atas bakti dan masa lalu yang pernah ada di antara mereka.
Zidan membeku, tenggorokannya tercekat hingga tak sanggup mengeluarkan sepatah kata pun.
Amanda mendongak, menatap lurus ke dalam iris mata Zidan dengan binar yang begitu jernih tanpa dendam, namun penuh ketegasan yang tak tergoyahkan.
"Terima kasih untuk tiga tahunnya, meskipun dengan penuh kebohongan," ucap Amanda lirih namun terdengar sangat jernih di telinga Zidan. "Aku pamit. Nikmati apa yang sudah kamu tabur."
Kata-kata itu terucap begitu tenang, tetapi dampaknya bagai hantaman keras yang meremukkan sisa-sisa kesadaran Zidan. Sebelum air mata Zidan menetes lebih deras, Amanda sudah berbalik membelakangi pria itu.
Ia melangkah mantap mendekati Arya yang menunggunya di dekat pintu keluar dengan tatapan penuh rasa hormat dan kagum. Tanpa menoleh lagi ke belakang, Amanda berjalan keluar menyongsong cahaya matahari pagi, meninggalkan Zidan yang menangis histeris meratapi penyesalannya di balik jeruji keadilan.