Zhao Ryn, gadis manis dua puluh tahun menganggap Sian Lee penerus Lee Group adalah cahaya terang dalam gelapnya hidup.
"Bawa dia pergi!" Perintah dingin seorang Sian berhasil meruntuhkan benteng kokoh Ryn.
"Sian, kumohon tolong aku." Ryn memohon belas kasih Sian agar bisa membantunya namun kembali mendapat penolakan darinya.
"Nona Ryn, mohon kerja samanya." Asisten Jun memberi isyarat agar Ryn bergegas meninggalkan klub nomer satu di kota Jasata.
Bisakah Ryn menemukan kebahagiaan hidupnya? Atau dia benar-benar harus bertahan sendirian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aan Iman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
lmb4
"Apa aku menghambatmu Vick?" Tanya Sian Basa-basi memperhatikan tangan Ryn yang digenggam oleh pria lain membuatnya tak suka.
"Tidak Sian. Kau masuklah, aku masih ada urusan." Langkah Vick langsung terhenti ketika Jun menahan dadanya.
"Kau boleh pergi, tapi tinggalkan dia." Perintah Sian menatap wajah Ryn, dan ia menyadari Ryn terluka dikening. Mengepal sudah tangan Sian didalam saku celananya.
"Aku sudah membelinya seharga lima puluh juta, aku akan melakukan apapun padanya itu sudah menjadi hakku. Bukankah kau tidak menyukai pelayanannya?" Vick tanpa sadar sudah menyinggung seorang Sian Lee.
"Saya akan mengirim uang seratus juta ke rekening anda tuan Vick. Mohon lepaskan nona Ryn." Kali ini asisten Jun bersuara.
Vick sontak menoleh ke arah Ryn. Tebakannya salah, Sian menyukai Ryn sehingga rela menggelontorkan dana untuk menebusnya. Ia pun tersenyum licik dengan cepat memberi penawaran.
"Aku bisa memberinya gratis, jika kau menyetujui proyek kemarin." Usul Vick. Asisten Jun menatap Sian menunggu keputusan yang akan ia ambil.
"Kalau begitu, bawa saja dia pergi." Lagi-lagi Sian menolak membantu Ryn. Sudah Vick duga, dia lalu menyeret Ryn menuju mobilnya.
Ryn menyempatkan diri menoleh ke arah Sian, pria yang sudah tiga kali menolaknya. Tak buang waktu Vick segera menancap gas meninggalkan parkiran VIP klub.
"Tuan, aku akan mengikuti mereka." Jun berhenti melihat Sian melambaikan tangan tanda tidak perlu melakukannya. Dirinya sendiri yang akan mengambil Ryn dari Vick.
Di tengah perjalanan mobil Vick benar-benar diganggu oleh Sian. Mereka seperti sedang melakukan balapan liar. Hingga akhirnya Sian berhasil menghadang Vick yang terpaksa menginjak rem sangat dalam. Tak lupa Vick merentangkan tangan melindungi Ryn agar tidak terbentur. Dasar pria dakjal, tadi melukai Ryn secara sengaja tapi sekarang bersikap gentlemen.
"Sian sialan." Segera Vick keluar dengan membanting keras pintu mobil.
Belum sempat Vick berucap Sian sudah melayangkan tinju ke wajahnya, kemudian Sian juga menghantamkan wajah Vick keatas kap mobil begitu keras. Jika saja Sian tidak memiliki belas kasih mungkin kepala Vick bisa hancur di tangannya.
"Jangan berani menyentuhnya lagi." Sian memperingati Vick yang masih menyesuaikan nafasnya.
Ryn hampir tak sadar ketika Sian mengangkat tubuhnya untuk digendong, ia lantas memeluk leher Sian erat membenamkan kepala di dada bidangnya. Rasanya begitu hangat, nyaman dan aman. Seolah segala sakit dan takut menghilang begitu saja.
Dan Ryn benar-benar tertidur pulas selama perjalanan. Ia membuka mata setelah merasakan kehadiran seseorang disampingnya. Wanita berseragam dokter itu tersenyum padanya.
"Lukamu sudah di bersihkan. Kau pasti sangat lelah hingga tidak terganggu sama sekali." Ryn memposisikan dirinya duduk demi menghargai sang dokter.
"Terima kasih." Ucapnya sopan.
"Aku juga bisa membantu mengobati punggungmu,, " Lea, dokter pribadi keluarga Lee memang memiliki keberanian dalam menghadapi pasien seperti Ryn. Yang menyembunyikan beberapa luka hanya agar tidak ada satupun yang tahu bahwa dia kesakitan.
"Itu bukan perbuatannya,,, " Ryn malah takut Lea beranggapan Sian telah menyakiti tubuhnya.
"Aku tahu. Dia pria baik hanya saja tidak bisa berekspresi. Kau wanita pertama yang Sian bawa ke apartemen, bahkan tempat tidurnya." Senyum hangat Lea membuat bingung Ryn, kenapa juga dia menceritakan sisi lain Sian padanya.
"Lalu, kemana biasanya dia membawa mereka?" Karena Ryn yakin Sian pasti dikelilingi banyak wanita cantik dan seksi guna memuaskan hasratnya.
"Hotel." Jawab Lea singkat. Ada rasa tidak suka mendengar dugaannya tentang Sian benar adanya.
Tanpa suara Sian muncul masuk ke dalam kamar miliknya. Lagi, Ryn harus terpesona oleh ketampanan Sian yang hanya mengenakan pakaian rumah. Lebih santai, tidak semenakutkan seperti biasanya.
"Jika sudah selesai Jun akan mengantarmu pulang." Kata Sian menatap Lea seolah mengusirnya secara halus.
"Kuharap kita bisa bertemu lagi." Ucap Lea pada Ryn sebelum pergi meninggalkan mereka.
Sian berdiri disamping Ryn sehingga gadis itu mendongak demi menatapnya. Keduanya sama-sama terpaku beberapa saat sebelum Sian memutusnya.
"Kau bisa tidur di sini malam ini." Ryn cukup terkejut mendengar suara tenang Sian, apalagi dia menawarkan hal tak terduga yaitu mengizinkan Ryn menginap.
Ryn mencekal lengan Sian menghentikan langkahnya yang ingin keluar kamar. "Lima puluh juta yang orang itu bayar, adalah harga kebebasanku." Jelas Ryn memberitahu Sian agar dia tahu bahwa Vick secara tidak langsung sudah membantunya keluar dari neraka.
"Jun akan mengurusnya. Jangan khawatir dia tidak akan berani mengganggumu lagi." Ujar Sian mencoba menenangkan Ryn.
"Aku anggap tuan yang sudah membantuku,,, "
"Sian, panggil aku Sian Zhao Ryn." Sian segera memotong ucapan Ryn, tak suka Ryn memanggilnya dengan sebutan tuan.
"Bukankah tidak sopan, kau adalah tuan muda pemimpin ketiga sedangkan aku hanya wanita penghibur." Kali ini Ryn membalikkan ucapan Sian, entahlah mungkin Ryn iseng mengungkit hal tersebut.
"Benar, dan kau harus mengingat itu baik-baik. Jangan pernah menyukaiku Zhao Ryn." Mendengar ultimatum Sian jujur membuat jantung Ryn berdegup kencang. Apakah Sian dapat membacanya dengan jelas?
***
Keesokan paginya Ryn terbangun paling akhir dimana Sian sudah berangkat bersama Jun menuju kantornya. Bagaiamana mungkin Ryn tidak jatuh hati padanya, Sian bahkan membuatkan sarapan untuknya lengkap dengan sebuah memo. Padahal bisa saja dia memesan online atau memerintah juru masak.
'Datang ke kantorku setelah kau siap jika masih ingin bekerja.'
Selain sepiring omelette dan roti bakar, Sian juga memberinya paper bag berisi setelan kerja. Ryn begitu menyukai pilihan Sian, model yang simpel tapi terkesan elegan.
"Aku menyukaimu atau tidak itu menjadi urusanku." Gumam Ryn tersenyum gembira bukan main.
Setibanya mobil yang dikendarai Jun di depan kantor Lee Group, beberapa staf menunduk hormat ketika berpapasan dengan Sian. Pemimpin grup raksasa di negeri beribu pulau itu, mencakup hotel bintang lima, restoran berlabel Michelin star mereka yaitu Le Dinning, serta Leinsurance, perusahaan asuransi terkemuka. Bahkan Sian ingin melebarkan sayapnya di bidang fashion, memberi merek bernama LeJeans yang sebentar lagi diluncurkan.
"Tuan, nona Meimei kembali mengubungi dia ingin pulang untuk liburan musim panas ini." Sebelum bekerja Jun memberitahu Sian kabar adiknya.
"Biarkan dia kembali dan tetap awasi." Perintah Sian, Jun selaku asisten mengangguk patuh.
"Baik tuan. Rapat lima belas menit lagi dimulai." Jun kembali mengingatkan agenda pertama Sian hari itu.
Sementara Ryn memasuki lobi perusahaan setelah berjalan kaki dari halte. Ia menjadi pusat perhatian dengan pakaian khas pelamar kerja namun begitu cantik dan sopan.
"Aku akan melakukan tes wawancara dengan bagian personalia." Kata Ryn memberitahu petugas penerima tamu.
"Anda bisa naik ke lantai lima." Selain menunjukkan arah, bagian depan juga memberi kartu tamu untuk akses masuk. Tak lupa Ryn juga menyimpan kartu Identitas sesuai peraturan.
"Terima kasih." Ucap Ryn.
Kedua petugas wanita itu berbisik setelah Ryn berjalan.
"Hei, bukankah tadi pagi asisten Jun membicarakan nama Zhao Ryn ? "
"Ya, kira-kira siapa gadis tadi? Dimana dia akan bekerja nantinya? "
Begitu isi percakapan singkat mereka.
Ryn dipersilahkan masuk oleh kepala personalia. Duduk tanpa rasa gugup karena ia yakin bisa melaluinya dengan baik.
"Kau tahu dibagian mana ditempatkan jika lolos seleksi? " Tanya wanita paruh baya seusia Yuni yaitu empat puluh satu tahun.
"Tidak bu." Jawab Ryn jujur.
"Service, Le star Hotel. Seharusnya posisi itu di kosongkan, tapi asisten Jun memintaku secara langsung menempatkanmu di sana." Jelasnya panjang lebar dan dipahami oleh Ryn.
"Aku akan melakukan pekerjaan dengan baik, meski bukan di dapur." Ryn berbicara penuh tekad demi bisa bekerja.
"Baiklah. Pertama isi dulu formulir data diri dan beberapa pertanyaan mengenai kesiapanmu dalam bekerja." Meski melalui koneksi dan tidak tahu apa hubungan Ryn dan Jun, dia tetap profesional dalam melakukan wawancara. Ryn memiliki antusias juga semangat juang tinggi.
Di ruang rapat, Jun berbisik pada Sian menyampaikan berita kedatangan Ryn. Sian mendadak tak sabar ingin melihat wajah gadis yang seharusnya tidak ia biarkan masuk kedalam hidupnya.
"Kita break setengah jam." Putus Sian beranjak dari kursi lalu keluar begitu saja.
Akan Sian pikirkan resikonya nanti. Sekarang dia hanya ingin mengikuti kata hati bahwa Sian mulai menyukai Ryn. Dia sendiri tanpa Jun, sang asisten tetap di ruang rapat mengawasi para peserta.
"Tuan... " Sapa kepala personalia menunduk hormat saat Sian menghampiri.
"Aku ada urusan dengannya." Ujar Sian memberitahu. Ryn terkejut bukan main melihat sikap Sian yang blak-blakan.
"Baik, saya permisi."
Tinggal tersisa mereka di depan pintu ruang personalia. Ryn hanya menunggu Sian bicara sedangkan Sian bingung harus membahas apa.
"Sian." Seseorang memanggil pria di hadapan Ryn secara nyaring penuh antusias.
Saat menoleh Sian hanya bisa termangu. Ryn memperhatikan perubahan raut wajahnya, mungkinkah mereka memiliki hubungan tertentu?