NovelToon NovelToon
SUAMIKU SELAMANYA MILIK KELUARGANYA

SUAMIKU SELAMANYA MILIK KELUARGANYA

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami / Mengubah Takdir
Popularitas:5k
Nilai: 5
Nama Author: blcak areng

"Mulai hari ini, silakan ambil kembali anak laki-laki kebanggaanmu, Ibu. Karena suamiku... selamanya memang hanya milik keluarganya!"

​Dulu, rumah tanggaku bersama Mas Bayu begitu harmonis. Dia suami yang manis dan selalu menyerahkan seluruh gajinya padaku. Tapi semua hancur saat kami mengalah untuk pindah dan tinggal satu atap dengan Ibu Mertua serta adik ipar.

​Neraka dimulai ketika suami dari adik iparku menganggur. Alih-alih menegur menantunya yang malas, Ibu Mertua justru terus mengamuk dan memanipulasi keadaan. Kena guilt trip dan air mata sang ibu, Mas Bayu tega merebut hak keuanganku. Seluruh gajinya resmi diserahkan ke rekening ibunya demi membiayai ipar parasit.

​Saat nafkah anakku dipangkas habis dan suamiku lebih memilih melihatku menangis demi senyum ibunya, aku sadar pernikahan ini sudah mati.

​Nggak akan ada lagi tangisan mengemis. Aku akan angkat kaki membawa putriku, mengembalikan Mas Bayu pada keluarganya, dan membuktikan betapa hancurnya hidup mereka tanpa diriku

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

SUAMIKU SELAMANYA MILIK KELUARGANYA

​Ingatan tentang hari terakhir di Bandung itu selalu hadir tiap kali aku menatap langit-langit kamar ini. Hari di mana aku membiarkan diriku dituntun oleh rasa cinta dan kepatuhan sebagai seorang istri. Hari di mana aku percaya pada janji manis Pipo bahwa tidak ada yang akan berubah di antara kami.

​Kini, sudah seminggu berlalu sejak kaki kami resmi melangkah di rumah keluarga Bayu di Jawa Tengah.

​Seharusnya rumah besar berarsitektur lama ini terasa hangat karena diisi oleh orang-orang yang terikat pertalian darah. Namun bagi diriku, tiap sudut rumah ini justru terasa begitu asing dan menekan. Tidak ada rasa aman yang pernah kurasakan di Bandung dulu. Yang ada hanya kecanggungan yang terus menumpuk di dalam dada.

​"Mimo, Naya mau main sama Kucing di luar boleh?"

​Suara mungil Naya memecahkan lamunanku. Siang itu, putri kecilku sedang duduk di atas karpet kamar sambil memeluk boneka beruang lusuhnya.

​Aku tersenyum tipis, berlutut menghampirinya. "Main di teras depan aja ya, Sayang? Jangan dekat-dekat sama selokan belakang."

​"Siap, Mimo!" jawabnya riang.

​Saat aku menggandeng tangan kecil Naya keluar menuju area ruang tamu, aku melihat Ibu Mertuaku Ibu Sumiati sedang duduk di sofa kayu sambil merapikan tumpukan pakaian. Wajahnya yang keriput di sekitar mata nampak serius.

​"Ibu... Naya izin main di teras depan sebentar ya," sapaku sopan sambil tersenyum ramah.

​Ibu Sumiati melirikku sekilas. Tidak ada senyum hangat yang menyambutku.

Tatapannya menelusuri penampilanku dari ujung kepala sampai ujung kaki dengan pandangan yang sulit diartikan dingin dan menyipit.

​"Iya," jawabnya singkat tanpa berekspresi, lalu kembali melanjutkan kegiatannya melipat baju seolah kehadiranku di sana hanya angin lalu.

​Perlakuan dingin seperti ini bukan yang pertama kalinya kurasakan sejak kami tiba seminggu lalu. Sikap Ibu Sumiati benar-benar membuatku bingung setengah mati.

​Dulu, saat kami masih tinggal di Bandung dan Ibu Sumiati sesekali berkunjung menginap selama dua atau tiga hari, beliau adalah sosok ibu mertua yang sangat manis. Beliau selalu memujiku di depan Bayu, mengusap kepalaku dengan kasih sayang dan selalu mengagumi betapa pintarnya aku mengurus rumah serta membesarkan Naya.

​Tapi kenapa sekarang berubah seratus delapan puluh derajat?

​Sejak kami menginjakkan kaki untuk tinggal menetap satu atap di sini, kehangatan itu menguap tanpa bekas. Ibu Sumiati lebih banyak diam jika berhadapan denganku. Tindak-tandukku di dapur seolah selalu dia awasi dengan pandangan menilai. Jika aku memasak, beliau kerap menatap bumbu-bumbu yang kugunakan dengan helaan napas berat, seolah aku sedang melakukan kesalahan besar.

​Rasa tidak nyaman itu terus menggerogoti pikiranku sepanjang hari. Aku merasa seperti seorang penyusup di rumah ini, bukan sebagai menantu yang disambut dengan tangan terbuka.

​Malam harinya, jam dinding kayu di ruang tengah sudah menunjukkan pukul delapan malam. Deru mesin mobil Bayu akhirnya terdengar memasuki halaman.

​Aku segera merapikan pakaianku dan melangkah ke pintu depan. Saat pintu terbuka, wajah lelah Bayu menyambutku. Kemeja kerjanya sudah tertekuk di bagian lengan, dasinya sudah dilonggarkan.

​"Pipo pulang..." bisiknya pelan.

​"Pagi sampai malam kerja pasti capek banget ya, Pipo?" ucapku tulus. Aku menyambut tas kerjanya dan mencium punggung tangannya dengan hormat.

​Bayu tersenyum tipis, merangkul bahuku sejenak. "Lumayan, Mimo. Penyesuaian di kantor cabang baru ternyata lumayan menyita pikiran. Naya udah tidur?"

​"Baru aja merem sepuluh menit yang lalu," jawabku.

​Setelah Bayu membersihkan diri dan menyantap makan malam sederhana yang kupanaskan kembali di dapur, kami akhirnya bisa beristirahat di dalam kamar utama kami yang berukuran sedang. Naya sudah tertidur lelap di ranjang kecil di sudut kamar.

​Bayu menyandarkan punggungnya di kepala ranjang, memejamkan mata sambil memijat pelipisnya sendiri. Rasa lelah terpancar jelas dari garis-garis wajahnya.

​Aku melangkah mendekat, duduk di sampingnya, lalu perlahan menggantikan jemarinya untuk memijat lembut kedua pelipis dan bahunya yang tegang.

​Bayu menghela napas lega, membiarkan jemariku bekerja. "Makasih ya, Mimo. Pijatan kamu selalu paling enak."

​Aku tersenyum pelan, namun kepalaku masih dipenuhi oleh ganjalan yang menumpuk sejak siang tadi. Aku menatap wajah suamiku yang terpejam. Bagi diriku yang kini tidak memiliki orang tua dan hidup jauh dari kota kelahiran, Bayu adalah satu-satunya rumah, tempatku mengadu dan bersandar dari segala resah.

​"Pipo..." panggilku pelan dengan suara ragu-ragu.

​Bayu membuka matanya perlahan, menatapku dengan pandangan lembut. "Kenapa, Sayang? Ada yang sakit?"

​Aku menghentikan pijatanku, lalu menggenggam jemari suamiku di atas pangkuan. Aku menarik napas panjang untuk mengumpulkan keberanian.

​"Aku... mau ngobrol sebentar boleh?" tanyaku.

​"Ngobrol apa, Mimo? Ngomong aja, kayak sama siapa aja," sahut Bayu sambil tersenyum tipis, mengusap punggung tanganku.

​Aku menunduk sejenak, memilih kata-kata yang paling halus agar tidak menyinggung perasaannya.

​"Ini tentang Ibu, Pipo..." bisikku lirih.

​Alis Bayu bertaut tipis. "Ibu? Kenapa sama Ibu? Ibu sakit?"

​"Nggak, bukan sakit fisik..." Aku mendongak, menatap mata suamiku jujur. "Pipo... jujur aku merasa agak bingung sama sikap Ibu seminggu belakangan ini. Aku ngerasa Ibu agak beda ke aku."

​Bayu menatapku heran. "Beda gimana maksud kamu, Mimo?"

​"Sikapnya dingin banget, Pipo," aku menyampaikan isi hatiku yang paling dalam. "Kalau aku sapa, Ibu jawabnya singkat banget tanpa natap aku. Kalau aku lagi di dapur atau lagi ngurus Naya, tatapan Ibu itu kayak... kayak nggak suka atau kurangg sreg gitu sama aku."

​Aku menggenggam tangan Bayu lebih erat, mencoba mencari kepastian. "Dulu waktu Ibu main ke rumah kita di Bandung, Ibu manis dan hangat banget sama aku, kan? Tapi kenapa semenjak kita pindah ke sini dan tinggal satu atap, Ibu kayak menjaga jarak? Apa ada perkataan atau perbuatanku yang salah tanpa aku sadari, Pipo?"

​Bayu diam sejenak. Dia menarik tangannya dari genggamanku untuk mengusap wajahnya sendiri, lalu menghela napas panjang. Wajah lelahnya makin terlihat keruh.

​"Mimo..." Bayu memegang kedua bahuku, menatapku dengan pandangan tenang yang terkesan mengayomi. "Kamu itu cuma terlalu sensitif aja karena baru seminggu di sini."

​"Sensitif?" ulangku pelan.

​"Iya, Mimo. Kamu kan belum terbiasa tinggal sama orang tua lagi setelah sekian lama kita mandiri berdua di Bandung," jelas Bayu dengan nada suara yang sangat halus, mencoba menenangkanku. "Ibu itu orangnya memang begitu. Beliau udah sepuh, pikirannya banyak. Apalagi rumah ini kan biasanya sepi, tiba-tiba ada kita."

​"Tapi Pipo, bedanya berasa banget..." potongku lirih. "Aku bukan cuma ngerasa asing, tapi ngerasa kayak nggak diharapkan di sini."

​Bayu tersenyum tipis, menggelengkan kepalanya pelan seolah anggapanku hanyalah sebuah kekhawatiran yang berlebihan. Dia menarik tubuhku ke dalam pelukannya, merengkuhku erat di dadanya.

​"Nggak mungkin Ibu nggak suka sama kamu, Mimo," bisik Bayu lembut di telingaku sambil mengelus rambut panjangku. "Kamu kan menatunya. Kamu yang melahirkan Naya, cucu kesayangan Ibu. Ibu cuma butuh waktu buat adaptasi sama kehadiran kita. Kamu juga harus belajar memahami karakter orang tua, ya?"

​Aku bersandar di dada bidangnya, mendengarkan detak jantungnya yang teratur. Kalimat-kalimat manis Bayu selalu memiliki sihir untuk menenangkan gejolak di dadaku, namun kali ini, ada rasa ganjal yang masih tersisa di sudut hatiku.

​"Beneran cuma karena adaptasi, Pipo?" tanyaku memastikan dari balik dadanya.

​"Iya, Sayang. Percaya sama Pipo," jawab Bayu mantap, lalu mengecup puncak kepalaku dengan hangat. "Jangan mikir yang aneh-aneh lagi ya? Pipo nggak mau kamu stres. Tugas kamu di sini cuma fokus ngurus Naya dan bantu-bantu Ibu sebisanya. Soal perasaan Ibu, biar nanti Pipo yang pelan-pelan ajak Ibu ngobrol kalau memang ada yang ganjal."

​Mendengar janji itu, pertahananku melunak. Aku memilih untuk mempercayai suamiku. Mungkin benar kata Bayu, aku saja yang terlalu berlebihan dan mudah terbawa perasaan karena belum terbiasa dengan suasana baru ini.

​"Maaf ya, Pipo... aku malah nambah beban pikiran kamu pas kamu lagi capek kerja," ucapku merasa bersalah.

​Bayu mengurai pelukannya, menatap wajahku dengan senyum manisnya yang sangat kukenali. "Nggak apa-apa, Mimo. Kan Pipo udah bilang, kalau ada apa-apa ngomong sama Pipo. Pipo bakal selalu ada buat kamu dan Naya."

​Malam itu ditutup dengan pelukan hangat suamiku di atas ranjang. Di dalam kegelapan kamar, aku memejamkan mata sambil berdoa dalam hati agar perasaanku ini salah. Aku berharap rumah ini benar-benar bisa menjadi tempat bernaung yang aman bagi keluarga kecil kami, sebagaimana yang dijanjikan Bayu sebelum kami berangkat dari Bandung.

​Namun, intuisi seorang wanita jarang sekali meleset. Aku tidak pernah tahu bahwa sikap dingin Ibu Sumiati selama seminggu ini hanyalah tenang sebelum badai besar datang menerjang rumah tanggaku.

1
Zhafran Althaf
aku kepo loooo kak banyakin updatenya
blcak areng: 2 bab ya kak sehari
total 1 replies
Zhafran Althaf
good job mayaaa
Lee Mba Young
iya lah ngapain juga bertahan di situ, mending pergi Wong anak nya saja gk di anggep. mending pergi drpd anaknya mlh trauma seumur hidup Dan tidak berkembang krn di besarkan di kluarga toxic
Zhafran Althaf
udah pergi aja biar kapok di bayu
Zhafran Althaf
kak centong nasi di rumahku masih panas kalau buat nabok ibunya bayu
Zhafran Althaf: gemess aku sama mulutnya yang lemes ituuu🤣🤣🤣
total 2 replies
susi ana
hadir thor
blcak areng: siap Akak😍😍
total 1 replies
Himna Mohamad
sdh mampir kK lanjut
blcak areng: ehh mksh kakak🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!