Haruto Kazehara hanyalah remaja biasa yang tak pernah bermimpi menjadi seseorang yang istimewa—sampai takdir mengubah segalanya secara tiba-tiba lewat sebuah kecelakaan. Saat ia membuka mata kembali, ia mendapati dirinya terbangun di dunia yang tak pernah ia bayangkan: sebuah negeri yang dipenuhi cahaya sihir, hutan berbahaya, monster purba, naga yang menguasai langit, dan kerajaan kuno yang menyimpan ribuan rahasia.
Penuh harap ia menyambut kekuatan baru sebagai pahlawan yang legendaris. Namun kenyataan berbalik mengecewakan: sihir yang ia miliki justru berjenis aneh, tak terduga, dan seringkali gagal total di saat-saat paling krusial. Alih-alih tampil gagah dan memukau, Haruto malah kerap menjadi bahan tertawaan teman-temannya—belum lagi tingkah laku slime rakus bernama Pochi yang selalu mengikutinya ke mana saja dan tak segan membuat kekacauan di mana pun mereka berada.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon (Rahu)l, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4 – Menuju Kota Pertama
Sinar matahari pagi menembus celah dedaunan raksasa, menciptakan jalur-jalur cahaya keemasan di atas tanah berlumut. Udara pagi terasa sejuk dan bersih, menghapus sisa aura mengerikan yang semalam menyelimuti hutan tempat pertarungan hidup dan mati mereka berlangsung.
Haruto menjatuhkan tubuhnya ke atas batu datar yang hangat terkena sinar matahari. Kakinya terasa lemas seolah seluruh tenaga telah disedot habis.
"Huff... huh... akhirnya... selamat juga," ucapnya pelan sambil menatap langit biru yang terbuka di antara kanopi pohon.
Pochi, yang sudah kembali ke wujud aslinya sebagai slime biru bulat kecil, melompat lincah dari tanah lalu mendarat tepat di bahu kanan Haruto.
"Pyoo! Pyoo!" suaranya terdengar riang, seolah pertempuran maut semalam hanyalah permainan biasa.
"Iya, iya. Kau benar-benar hebat," Haruto tersenyum tulus sambil mengusap tubuh kenyal dan dingin itu dengan punggung jarinya.
Ia masih teringat jelas bagaimana slime kecil itu berani menghadapi monster raksasa sendirian, bahkan mampu berubah wujud menjadi dirinya. Tanpa bantuan makhluk aneh ini, pasti ia sudah menjadi makanan pagi serigala sihir itu.
"Aku benar-benar berutang nyawa padamu, Pochi."
"Pyoooo!" Pochi memantul tinggi di bahunya, tampak sangat bangga mendapat pujian.
Haruto kemudian menatap ke dalam hutan yang lebat dan tak berujung. Ia menarik napas panjang, lalu berdiri perlahan sambil meregangkan otot-otot yang kaku.
"Tapi aku tidak mungkin terus hidup di dalam hutan selamanya. Aku harus pergi ke tempat beradanya manusia."
Pikirannya kembali melayang ke semua novel dan cerita isekai yang pernah ia baca dengan antusias di kamar tidurnya dulu.
"Biasanya..." gumamnya pelan, "Tokoh utama yang baru tiba akan menuju kota pertama. Di sana pasti ada penginapan, pasar yang ramai, banyak petualang hebat..."
Matanya tiba-tiba berbinar terang.
"Dan yang paling penting... pasti ada Guild Petualang!"
Haruto mengepalkan tangannya penuh semangat.
"Kalau dunia ini berjalan seperti cerita, di guild pasti ada alat ajaib yang bisa melihat bakat, kemampuan, tingkat kekuatan, atau setidaknya berapa banyak energi sihir yang kumiliki."
Pochi memiringkan tubuh bulatnya bingung.
"Pyu?"
"Dan aku juga ingin tahu," Haruto menatap slime itu lekat-lekat, "sebenarnya kau ini monster apa. Slime biasa tidak mungkin bisa berubah wujud menjadi manusia persis seperti itu kan?"
Ia mengangkat Pochi ke depan wajahnya.
"Mungkin kau adalah monster legendaris yang disegani semua orang?"
Pochi menjulurkan lidah kecilnya sebentar, lalu menggeleng pelan.
"Bleh... pyoo."
Haruto tertawa kecil.
"...Sepertinya bukan juga ya."
Mereka pun melanjutkan perjalanan, berjalan perlahan mengikuti aliran sungai jernih yang berkelok membelah hutan. Menurut pengalaman Haruto bermain permainan fantasi, sungai besar hampir selalu bermuara ke pemukiman, desa, atau kota.
Sepanjang jalan, matanya tak henti-hentinya memandangi keindahan alam yang belum pernah ia bayangkan sebelumnya. Ada bunga berwarna ungu yang kelopaknya memancarkan cahaya lembut seperti lentera kecil. Ada jamur setinggi badannya dengan tudung selebar payung hujan yang berwarna-warni cerah. Bahkan seekor kupu-kupu bersayap transparan berkilauan seperti kaca pernah hinggap sebentar di puncak kepalanya sebelum terbang kembali ke angkasa.
"Wah..." Haruto menggeleng takjub. "Dunia ini sungguh luar biasa indah."
Tiba-tiba Pochi melompat turun dari bahunya.
"Pyoo!"
"Kenapa?"
Slime itu melesat cepat ke balik semak-semak yang rimbun. Tak lama kemudian ia kembali sambil mendorong sebuah buah bulat berwarna merah menyala sebesar apel.
"Ini untukku?"
Pochi mengangguk mantap.
Haruto memetik buah itu, membersihkannya sedikit, lalu menggigit pinggirannya. Rasa manis yang menyegarkan seketika menyebar di mulutnya, disertai rasa sejuk yang mengalir ke tenggorokan.
"Enak sekali!"
Pochi pun segera melahap buah lainnya, hingga tubuh birunya perlahan berubah sedikit kemerahan.
Haruto tertawa lepas. "Kau memang rakus sekali ya, Pochi."
Beberapa jam berjalan kaki berlalu perlahan. Pepohonan raksasa mulai menipis dan jarang-jarang. Di kejauhan, tampak hamparan tanah lapang dan sebuah jalan tanah yang cukup lebar dan padat.
Haruto bersorak pelan.
"Jalan! Itu berarti ada orang yang sering melewati sini!"
Ia segera berlari kecil menuju pinggir jalan. Tak lama kemudian, terdengar suara derap langkah kuda dan bunyi roda kayu yang berputar di atas tanah.
"Kita berhasil!"
Sebuah kereta sederhana berwarna cokelat yang ditarik oleh dua ekor kuda berbadan besar mendekat perlahan. Haruto segera melambaikan tangannya setinggi-tingginya.
"Halo! Pak! Tolong sebentar!"
Kusir kereta menghentikan kudanya dengan lembut. Seorang pria paruh baya dengan wajah ramah dan kulit terbakar matahari turun dari bangku pengemudi, lalu menatap Haruto dari ujung kepala hingga kaki dengan pandangan heran.
"Kau tersesat, Nak? Sendirian di pinggir jalan dekat hutan?"
"Eh... bisa dibilang begitu, Pak," jawab Haruto sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Pria itu mengernyit sedikit.
"Kau keluar dari arah Hutan Grimm sana?"
"Iya benar."
Wajah pria itu seketika berubah pucat pasi.
"Kau... kau bisa keluar hidup-hidup dari sana? Hutan itu dilarang dimasuki orang biasa!"
Haruto tersenyum kecut.
"Hampir saja tidak bisa, Pak."
Mata pria itu kemudian tertuju pada seragam sekolah Haruto yang tampak asing dan sedikit lusuh.
"Pakaianmu... sangat unik. Belum pernah aku melihat model seperti itu di mana pun."
"Itu... model terbaru dari tempat asalku," jawab Haruto asal saja dengan senyum canggung.
"Begitu ya," pria itu tampak tidak ingin menanyakan hal yang aneh-aneh lagi. "Lalu kau mau ke mana?"
"Ke kota terdekat, Pak."
"Kebetulan sekali. Aku ini hendak mengantar barang dagangan ke Kota Lumin."
Haruto tersenyum lebar hingga matanya menyipit.
"Bolehkah saya ikut sekali?"
"Tentu saja. Ayo naik."
Haruto segera naik ke atas kereta dan duduk di sudut yang teduh. Pochi yang sempat naik bersamanya diam-diam menyelinap masuk ke dalam tas kain yang diberikan kusir untuk barang bawaan.
"Jangan keluar dulu ya, nanti menakuti orang," bisik Haruto pelan.
"Pyoo," sahut Pochi dari dalam tas.
Kereta kembali berjalan perlahan membelah jalan tanah. Di sepanjang perjalanan, pria paruh baya itu mulai bercerita banyak hal.
"Kota Lumin ini cukup aman untuk pemula. Dikelilingi tembok batu yang tebal dan dijaga ketat oleh pasukan penjaga."
"Benarkah? Lalu apakah di sana ada Guild Petualang?" tanya Haruto tak sabar.
Mata kusir itu berbinar sedikit.
"Kau sudah tahu? Ya, di sana ada kantor pusat guild untuk wilayah ini. Kalau ingin bekerja, memburu monster, atau bahkan menjual barang jarang, semuanya harus terdaftar di sana."
Haruto hampir melompat kegirangan.
"Benar-benar seperti yang kubayangkan!"
"Apa katamu?"
"Eh, tidak apa-apa, Pak. Hanya senang saja."
Pria itu tersenyum dan melanjutkan ceritanya.
"Di sana juga ada alat khusus yang bisa mengukur jumlah energi sihir, menilai bakat bertarung, bahkan mencatat kontrak kerja sama dengan monster peliharaan atau teman seperjalanan."
Haruto menahan napas.
"Bahkan monster peliharaan juga bisa diperiksa jenis dan kemampuannya?"
"Tentu saja," pria itu tertawa renyah. "Seringkali ada petualang yang mengira monster peliharaannya biasa saja, ternyata setelah diperiksa di alat guild, ia termasuk spesies langka yang sangat berharga."
Haruto melirik tas kain di sebelahnya dengan pandangan berbinar.
"Kalau begitu... mungkin aku akhirnya bisa tahu apa sebenarnya asal-usulmu, Pochi."
Ia semakin tidak sabar untuk segera tiba di Kota Lumin. Rasanya perjalanan ini berjalan terlalu lambat.
Namun belum lama harapannya melambung tinggi...
Kusir kereta tiba-tiba menarik kendali kudanya dengan kuat hingga kereta berhenti mendadak.
"Sial..." gerutunya pelan.
"Ada apa, Pak?" tanya Haruto kaget.
Pria itu menatap lurus ke depan dengan wajah tegang.
Di tengah jalan yang sempit itu berdiri tiga orang bertopeng kain, masing-masing memegang pedang pendek yang terhunus tajam.
Pemimpin mereka bertubuh tinggi besar melangkah maju sambil tersenyum sinis.
"Turun dari kereta dan serahkan semua barang berharga yang kalian bawa," suaranya berat dan penuh ancaman. "Kalau tidak mau susah... kami akan mengambilnya sendiri dengan paksa."
Pedang pemimpin itu diarahkan tepat ke arah Haruto.
Haruto menghela napas panjang, lalu menepuk pelan dadanya.
"Hari pertama benar-benar tiba di pemukiman manusia... kenapa yang kutemui malah masalah lagi ya?"
Pochi bergerak gelisah di dalam tas, seolah siap melompat keluar kapan saja saat tuannya dalam bahaya.