"Aaaaaaa!"
Pekikan Amira membumbung tinggi begitu ia menyibak selimut. Pandangannya bergeser ke samping, dan jeritannya makin melengking melukai udara.
"Aaaaaa!"
"Aaaaaaaa!" Seorang pria di sebelahnya mendadak ikut berteriak panik. "Bajuku... bajuku mana?!"
Keduanya saling menoleh dengan napas memburu.
"Aaaaaaa!" jerit mereka bersamaan.
"Bajingan!" maki Amira seraya menunjuk pria itu.
"Kamu!"
"Kamu yang bajingan! Dasar Tante girang gila!" balik pria itu tak mau kalah.
"Apa katamu?!" Mata Amira membelalak lebar. Tangisnya mendadak pecah tanpa bisa ditahan. "Kamu pria bajingan! Kamu udah merusak aku!"
"Kamu yang mengambil keperjakaanku! Kenapa malah kamu yang menangis?" kata pria itu dengan santai. Tangannya meraba-raba area lantai, sibuk mencari celana tanpa peduli pada Amira yang terisak. Namun, gerakannya terhenti saat jarinya menyentuh cairan pekat berwarna merah. "Apa ini? Darah?"
Detik berikutnya, wajah pria itu pucat pasi. "Mamahah..." Giliran pria itu yang menangis sesenggukan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santi damayanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 8
Tak lama setelah Amira dan Luki pergi, beberapa pria bersikap mencurigakan melangkah masuk ke area parkir Mall Ibu. Mata mereka liar memindai setiap sudut, hingga akhirnya berhenti di depan sebuah Grand Livina hitam.
"Mobilnya ada di sini, tapi orangnya ke mana? Sebentar lagi mall tutup," ucap salah seorang pria seraya mengamati interior mobil yang kosong.
Seorang petugas security yang sedang berpatroli mendatangi mereka. "Maaf, Anda mencari siapa ya?"
"Saya cari pemilik mobil ini, Mas. Apa Anda melihatnya?"
Security itu menatap curiga. "Ada keperluan apa mencari pemilik mobil ini?"
"Oh, saya ini kerabatnya. Yang punya mobil namanya Amira. Malam ini dia mau menikah, tapi orangnya belum pulang ke rumah. Kami sedang mencarinya," jawab pria itu beralasan.
Petugas security itu langsung menekan tombol handy-talky di bahunya, berkoordinasi sejenak dengan rekan di ruang pemantau. "Sepertinya pemiliknya sudah keluar dari area mall, Mas."
"Sama siapa?"
"Tadi terlihat naik ojek," sahut petugas itu.
"Benarkah?"
"Benar. Ini ada foto tangkapan layar CCTV saat orang bernama Amira keluar area mall dibonceng ojol," tunjuk petugas security pada layar ponselnya.
"Boleh saya minta fotonya?"
"Silakan."
Pria itu dengan cepat memotret layar ponsel sang security. "Baiklah kalau begitu, terima kasih banyak." Mereka bertiga langsung bergegas keluar dari mall.
Begitu ketiga pria itu menjauh, sang petugas security merogoh ponsel pribadinya dan menelpon sebuah nomor khusus.
"Pantau terus perjalanan Tuan Besar dan Nyonya. Sepertinya ada Orang Tak Dikenal (OTK) yang sedang mengincar," ucapnya tegas.
Pesan darurat itu menyebar secara diam-diam ke seluruh pelosok kota. Tanpa disadari siapa pun, sebuah operasi pengamanan tingkat tinggi sedang berlangsung secara sunyi senyap untuk mengawal perjalanan Amira dan Luki.
Sementara itu, di kediaman mewah keluarga Ratna, suasana semakin memanas dan kacau. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan malam, tetapi Amira belum juga menampakkan batang hidungnya.
"Bagaimana ini, Ratna? Sudah jam delapan malam, mana pengantin perempuannya?!" cecar Lia, saudara jauh Ratna yang memang terkenal hobi mencari-cari kesalahan.
"Sabarlah, aku dan Mas Angga sedang mencarinya!" sahut Ratna gusar.
"Lagian kenapa sih kamu mendadak sekali menikahkan Amira? Bukankah rencananya baru minggu depan?" timpal Liana tak kalah sengit. "Eh, sebenarnya Amira mau nikah sama siapa? Kata Jeng Dewi, Raka nggak jadi nikah sama Amira!"
"Apa?! Amira enggak jadi nikah sama Raka?!" pekik beberapa kerabat wanita secara bersamaan.
Linda, salah satu investor utama perusahaan, langsung melangkah maju dengan raut menuntut. "Hey, Jeng Ratna! Amira sebenarnya mau nikah sama siapa? Kenapa bisa batal sama Raka?! Kamu bakal rugi besar kalau Amira nggak nikah sama Raka! Kalau sampai hubungan bisnis ini putus, aku bakal tarik semua investasiku!"
"Iya, benar!" sahut yang lain. "Kalau kamu nggak bisa menjalin hubungan baik sama keluarga Jeng Dewi, lebih baik kami juga ambil balik modal kami!"
"Kalian tenang dulu!" potong Ratna setengah berteriak. "Aku dan Jeng Dewi sudah sepakat. Raka tetap akan menikah dengan keluarga kita, tapi dengan Risma!"
"Astaga, untung saja..." desah Linda lega, sebelum akhirnya mengernyit. "Tapi sayang sekali ya, kenapa bukan Amira? Kenapa kamu selalu saja mengutamakan anak tiri ketimbang anak kandung sendiri?"
Rahang Ratna seketika mengeras. Sindiran itu bagai sembilu yang menusuk dadanya. Teman-temannya selalu saja menuduhnya tidak adil karena lebih memanjakan Risma ketimbang Amira.
"Sudahlah! Yang penting keluarga kita masih berhubungan baik dengan keluarga Raka, dan masa depan perusahaan tetap cerah!" tegas Ratna meyakinkan.
"Ya sudahlah kalau begitu."
Ratna lalu melangkah ke teras, menghampiri Angga yang sedang gelisah bolak-balik seraya menggenggam ponselnya. "Bagaimana, Mas?"
"Mobilnya ada di Mall Ibu, tapi orangnya enggak ada," jawab Angga seraya berpura-pura panik.
"Astaga! Anak itu ke mana sih?! Jam segini masih belum datang juga!" gerutu Ratna meluapkan emosinya.
"Kamu tenang saja. Amira pasti datang, aku akan terus berusaha mencarinya," ucap Angga mantap. Namun di dalam hatinya, Angga dibuat heran bukan main—bagaimana bisa anak buahnya gagal menemukan Amira, seolah-olah wanita itu lenyap ditelan bumi?
Risma mendadak berlari keluar dari ruang dalam dengan wajah pucat. "Mamah! Bahaya, Mah! Teman-teman Mamah terus menanyakan kapan Amira sampai!"
"Kenapa mereka nggak sabaran sekali?!"
"Nggak tahu, Mah! Mereka bahkan mengancam, kalau Amira nggak datang malam ini, mereka bakal mengajukan mosi tidak percaya dan membatalkan seluruh investasi mereka!"
"Astaga, Amira! Bikin ulah saja!" amuk Ratna frustrasi.
"Hanya saham receh, kenapa mereka harus se-repot itu?" cemooh Handoko yang baru melangkah ke teras, wajah tuanya tampak tenang meski matanya memancarkan kekecewaan pada Ratna.
"Walaupun saham mereka sedikit, koneksi bisnis mereka itu kuat, Ayah!" sanggah Ratna tak mau kalah.
"Terus, sekarang apa mau mereka?" tanya Handoko datar.
"Perubahan kepemimpinan perusahaan!" jawab Ratna cepat.
Handoko terkekeh sinis. "Sepertinya kamu bernafsu sekali ya menjadikan anak tirimu sebagai CEO?"
"Bukan seperti itu! Ini adalah konsekuensi dari kepemimpinan Amira yang tidak kompeten!"
"Memang anak tirimu itu kompeten?!" tembak Handoko tajam. "Selain menghamburkan uang, memangnya apa yang bisa dia lakukan untuk perusahaan?!"
"Ayah! Jangan berkata seperti itu! Risma juga anakku!" bentak Ratna membela. "Perubahan kepemimpinan ini murni keinginan para pemegang saham!"
"Kamu pikir aku tidak sanggup membeli seluruh saham receh mereka, hah?!" tegas Handoko dingin.
"Oke, Ayah memang hebat! Tapi Ayah juga harus pegang janji Ayah sendiri. Kalau Amira tidak datang malam ini, Ayah harus menyerahkan posisi puncak perusahaan padaku!"
"Iya, aku tidak akan pernah ingkar janji!" sahut Handoko tegap.
Tak lama kemudian, empat orang wanita yang merupakan jajaran investor melangkah tegas ke teras menghampiri mereka.
"Nyonya Ratna, kami sudah sepakat. Jika Amira tidak datang malam ini, kami minta Amira resmi mundur dari jabatan CEO!" tegas Riska, perwakilan investor.
Ratna melirik Handoko dengan senyum kemenangan terselubung. "Lihat sendiri kan, Ayah? Ini bukan keinginanku. Aku sama sekali tidak mengintervensi mereka."
"Trik murah an," desis Handoko jijik. "Ini baru jam delapan malam, kenapa kalian begitu tergesa-gesa?"
"Maaf Tuan Handoko, di surat undangan tertulis acara akad dimulai tepat jam delapan malam. Tapi Amira belum juga muncul. Ini membuktikan bahwa dia sama sekali tidak disiplin!" ujar Riska tajam.
"Hanya karena hal sepele seperti ini kalian menyebut cucuku tidak disiplin?!" pangkas Handoko dengan suara berat yang menggelegar. "Bagaimana dengan hari-hari sebelumnya?! Saat Amira bekerja membanting tulang sampai larut malam demi membesarkan perusahaan, sementara kalian cuma duduk manis ongkang-ongkang kaki menerima dividen, hah?!"
Sekelompok investor itu mendadak bungkam. Namun Riska langsung berdehem, mencoba menguasai keadaan kembali. "Sudahlah, Tuan. Anda dikenal sebagai tokoh berintegritas tinggi. Anda sendiri yang berjanji akan menyerahkan perusahaan kepada Nyonya Ratna jika Amira tidak datang. Lebih baik Tuan tanda tangani saja dokumen pengalihan ini sekarang."
Handoko hanya mendengus kasar, menatap barisan manusia tamak di hadapannya. "Kalian memang orang-orang ambisius..." Ia melirik jam di tangannya. "Tunggu sepuluh menit lagi. Kalau Amira tetap tidak datang, aku sendiri yang akan menandatanganinya."