Oca dipaksa menikah dengan pria asing di depan altar—demi memenuhi wasiat sang kakek yang tak bisa ia menolak. dan yang tak terduga, suaminya adalah seorang aktor terkenal yang harus disembunyikan rapat-rapat dari dunia, termasuk dari sahabat-sahabatnya sendiri.
Belum sempat ia membiasakan diri dengan kehidupan barunya, datang seseorang yang perlahan mengisi ruang kosong di hatinya—ruang yang sengaja ditinggalkan oleh suaminya sendiri. Oca pun membuka hati, tanpa pernah menyangka ada yang luput dari pandangannya.
Kini ia terjebak di antara dua hati: satu yang seharusnya ia cintai karena status, dan satu lagi yang ia pilih sendiri karena rasa.
Tapi siapa sangka, tak semua yang terlihat tulus benar-benar seperti itu.
Siapakah yang berhak atas hati Oca? 💍
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon avy sulas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hanya Perjodohan, Katanya
Ketika jam istirahat habis, Oca dan kedua sahabatnya bergegas masuk ke dalam kelas, mengikuti pelajaran berikutnya hingga bel pulang berbunyi.
Mereka bertiga berjalan bersama menyusuri koridor menuju gerbang sekolah, membahas tugas kelompok yang baru diumumkan oleh guru.
"Hufft, kenapa sih tugas kelompok mulu, mana kelompoknya digabung sama kelas sebelah lagi." gerutu Kinan sambil membenarkan tali tas di bahunya.
"Yang penting bukan sekelompok sama si Reno aja udah untung, orangnya nyebelin banget, tau. Suka sok ngatur." sahut Andira.
"Eh, tapi enak juga kali kalau sekelompok sama dia, lumayan kan orangnya ganteng." celetuk Oca asal.
"Ih, naj1s! Pokoknya jangan sampai deh. Kalau beneran sekelompok sama dia, gue mending pindah kelompok sekalian." cibir Andira sambil mendorong bahu Oca pelan.
"Nggak boleh gitu entar beneran sekelompok sama si Reno, baru tau rasa lo."
"Amit-amit! Jangan didoain begitu, napa?" Andira langsung melotot kesal.
"Emang faktanya gitu, biasanya nih ya yang paling nolak malah nanti yang paling sering ketemu." ucap Kinan menimpali.
"Apaan, sih! Kalian berdua kompak banget ngerjain gue."
Mendengar jawaban itu, Oca dan Kinan langsung tertawa terbahak-bahak.
Di tengah candaan mereka, tiba-tiba ponsel Andira berdering. Ia merogoh saku roknya dan melirik layar ponselnya sebentar. Begitu melihat nama Bryan tertera di sana, ia langsung sumringah mengangkat panggilan itu.
Tapi belum sempat Andira membuka suara, pria di seberang telepon lebih dulu berbicara.
"Coba liat ke arah parkiran.”
Andira mengerutkan kening tapi tetap menurut menoleh ke arah parkiran. Disana orang pria berdiri santai di samping mobil sport hitam, ponsel masih menempel di telinganya. Matanya menatap lurus ke arah gerbang sekolah tepatnya ke arah Andira sambil tersenyum.
"Itu siapa?" tanya Kinan, mengernyit bingung.
"Lah, iya. Siapa tuh? Dari tadi ngelihatin ke sini terus. Gue jadi takut," timpal Oca yang ikut menoleh ke arah pria itu.
Sedari tadi tatapan pria itu memang terus tertuju ke arah mereka bertiga. Oca juga merasa belum pernah melihat wajah pria itu di sekolah mereka.
Andira langsung menutup sambungan teleponnya sambil tertawa melihat ekspresi penasaran Oca dan Kinan.
"Kalian ya... itu gebetan baru gue."
"Lah, serius?! bukannya kemarin lo sama Gio, cowok kelas sebelah?" Oca mengangkat alis.
"Udah putus. Ternyata dia playboy, masih deketin cewek lain pas masih sama gue." jawab Andira kesal.
"HAH?!" Kinan dan Oca kompak kaget, sebelum akhirnya tertawa.
"Untung cepet ketauan," lanjut Andira sambil mengangkat bahu. "Nah, yang sekarang beda. Namanya Bryan. Udah kuliah, anak konglomerat. Liat aja tuh, baru jemput doang udah bawa mobil gitu.”
"Yee... dasar nih anak. Selera lo nggak jauh-jauh dari yang tajir," celetuk Oca sambil memutar bola matanya.
“Tau, tuh,” Kinan ikut menimpali.
Andira cuma nyengir. "Ya jelas dong, gue mah realistis aja. Udah ah, gue duluan ya. Bye, my friend!" ucapnya sambil melayangkan ciuman ke arah Oca dan Kinan, lalu berlari kecil menghampiri Bryan.
Mereka berdua hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah sahabatnya itu. Setelah Andira pergi, kini tinggal mereka berdua yang masih berdiri di depan gerbang sekolah.
Oca menoleh ke Kinan. "Lo pulang gimana, Nan?"
"Gue dianter—"
Belum sempat Kinan menyelesaikan ucapannya, suara motor besar terdengar mendekat dan berhenti tepat di depan mereka. Devan, sang Ketua OSIS, duduk di atasnya dengan helm masih terpasang.
"Cepetan naik," ucap Devan singkat.
Kinan mendesah, tapi tetap melangkah mendekat. "Ya udah, Ca. Gue duluan, ya!"
Oca hanya melambai sebelum Kinan naik ke motor itu dan mereka berdua melaju pergi, menyisakan Oca sendirian di depan gerbang sekolah.
Tak lama, mobil sedan hitam yang sudah begitu ia kenal berhenti tepat di hadapannya. Pak Darto segera turun dan membukakan pintu untuknya.
"Silakan, Nona."
Oca mengangguk pelan, lalu masuk ke dalam mobil dan duduk di kursi belakang.
Selama perjalanan pulang, pikirannya terus dipenuhi ucapan Kinan tadi siang. Oca mengembuskan napas pelan, lalu mengeluarkan ponselnya dan kembali membuka aplikasi Instagram. Jarinya bergerak mencari nama yang sejak tadi terus terngiang di kepalanya.
Anthony Valtierre.
Tak butuh waktu lama, akun pria itu langsung muncul di layar ponselnya.
Foto Anthony bersama Emma yang sedang tersenyum akrab di sebuah restoran mewah langsung memenuhi beranda.
Oca memperbesar foto itu, tatapannya terpaku cukup lama pada unggahan tersebut. Tangan Emma melingkar manja di lengan Anthony, posisinya begitu dekat seolah mereka memang pasangan.
Tiba-tiba saja dadanya terasa sesak.
Padahal ia dan Anthony menikah bukan karena saling mencintai. Bahkan sejak awal mereka sama-sama tidak menginginkan pernikahan itu.
Tapi melihat perempuan lain berdiri begitu dekat dengan pria yang kini menyandang status sebagai suaminya, tetap saja membuat hatinya terasa tidak nyaman.
Matanya tanpa sadar turun ke arah dadanya sendiri yang biasa-biasa saja, lalu kembali ke foto Emma yang terlihat jauh lebih berisi. Oca mendengus pelan.
"Pantas aja, cowok mana yang nggak betah deket-deket kalau begitu." batinnya sinis.
Tapi detik berikutnya, Oca justru mengerutkan kening.
"Ngapain juga gue mikirin beginian?" batinnya mulai panik dengan pikirannya sendiri.
Toh, hubungannya sama Anthony cuma sebatas perjodohan. Mereka menikah bukan karena cinta. Jadi, buat apa dia kesal cuma gara-gara ngelihat suaminya dekat sama wanita lain?
Oca buru-buru mengunci ponselnya, lalu membuangnya begitu saja ke jok sebelah. Ia menyandarkan kepalanya ke kaca jendela, mencoba mengabaikan perasaan asing yang baru saja muncul itu.
Tapi sepanjang sisa perjalanan, bayangan tangan Emma yang melingkar di lengan Anthony tetap saja muncul, berulang-ulang, seakan menolak untuk pergi dari kepalanya.
Oca mengembuskan napas kesal.
"Nyebelin..." gumamnya pelan, entah sedang mengumpat Anthony, Emma, atau justru dirinya sendiri.
beda lagi sama aku lebih suka bahasa formal GK trlalu gaul karena aku sendiri mereka suka seperti itu 🤣