NovelToon NovelToon
Santri Bar-Bar Milik Gus CEO

Santri Bar-Bar Milik Gus CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO / Nikahmuda
Popularitas:3.4k
Nilai: 5
Nama Author: Heresnanaa_

~

​Nayanika Sadira Pangestu, gadis kaya raya yang cantik, nakal, dan bar-bar, akhirnya kena batunya. Karena saking seringnya bikin pusing, ia "dibuang" orang tuanya ke sebuah pesantren pedalaman untuk bertobat.

~

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 4

***

Matahari pagi baru saja menyembul di ufuk timur, membiaskan cahaya keemasan yang menembus embun tipis di kompleks Pondok Pesantren Al-Falah. Namun, kedamaian pagi itu sama sekali tidak mampir ke hati Nayanika Sadira Pangestu.

Dengan langkah menghentak-hentak penuh amarah, Naya berjalan menuju halaman depan ndalem—rumah utama kediaman Kyai Abdullah. Di tangan kanannya, ia menyeret sebuah sapu lidi bergagang bambu panjang yang baru saja ia ambil paksa dari gudang asrama. Penampilannya masih berantakan; jilbab instan pinjaman dari Sarah terpasang miring di kepalanya, menutupi sebagian rambut pirangnya yang mencuat keluar.

"Sialan! Awas lu ya, Ustadzah galak! Benar-benar enggak punya perikemanusiaan!" umpat Naya setengah berteriak, mengabaikan beberapa santri putra yang berjalan menjauh sambil memandangnya heran.

Naya berdiri di tengah halaman ndalem yang luar biasa luas. Pohon-pohon mangga dan ketapang yang rindang tumbuh subur di sana, menyisakan hamparan daun kering yang berserakan di atas paving blok. Melihat luasnya area yang harus dibersihkan, nyali Naya sempat ciut. Ditambah lagi, perutnya sudah mulai berbunyi keroncongan karena belum terisi apa pun sejak semalam, dan kepalanya terasa berputar akibat kurang tidur.

"Gue disuruh bersihin ini semua sendirian? Yang bener aja! Emangnya gue pembantu!" gerutu Naya, meluapkan emosinya.

Alih-alih menyapu dengan benar dan mengumpulkan daun-daun itu dalam satu gundukan, jiwa bar-bar Naya justru mengambil alih. Ia mengayunkan sapu lidi itu ke sana kemari secara brutal, seperti orang yang sedang berlatih pedang.

SRAK! SRAK! BRRAK!

"Rasain nih! Rasain!" teriak Naya sambil menendang gundukan daun kering yang baru setengah dikumpulkannya hingga terbang berserakan kembali ke segala arah. "Biarin aja makin berantakan! Gue mogok kerja! Emang gue peduli?!"

Naya terengah-engah, memegangi pinggangnya. Peluh mulai bercucuran di pelipisnya. Rasa kesal, lapar, dan lelah bercampur menjadi satu, membuat emosinya kian menyala. Matanya menangkap sisa-sisa daun kering yang berada di dekat gerbang masuk ndalem. Dengan langkah lebar, ia menghampiri area itu.

"Sialan, sialan, sialan!" Naya merutuk berulang kali.

Ia memegang gagang sapu lidi dengan kedua tangannya, menariknya jauh ke belakang, lalu mengayunkannya dengan kekuatan penuh ke arah gerbang luar. Ia berniat membuang seluruh debu dan daun itu keluar halaman demi meluapkan kekesalannya.

SRAAAKKK!

Angin kencang berembus seiring dengan kibasan sapu brutal Naya. Debu tebal berhamburan ke udara, membentuk awan kecokelatan yang pekat. Namun, di detik yang sama, terdengar suara langkah kaki yang kokoh dari arah teras rumah.

Naya tidak sempat mengerem gerakannya. Kibasan sapu lidinya mendarat telak, menyabet ujung sebuah sepatu pantofel hitam mengilat yang baru saja melangkah turun ke halaman. Tidak hanya sabetan sapu, awan debu yang diterbangkan Naya pun sukses mendarat dengan sempurna, mengotori permukaan sepatu dan bagian bawah celana kain hitam milik sang pemilik sepatu.

Suasana mendadak hening seketika. Angin seolah berhenti berembus.

Naya mengerjapkan matanya yang kelilipan debu. Begitu pandangannya membaik, ia mendongak. Di hadapannya, berdiri seorang pria muda dengan tubuh tegap dan tinggi yang proporsional. Pria itu mengenakan kemeja formal putih bersih yang disetrika sangat rapi, dipadukan dengan celana kain hitam mahal. Di tangan kirinya, tersampir sebuah jas kerja berwarna senada, sementara jam tangan mewah melingkar di pergelangan tangannya. Di balik lensa kacamata berbingkai tipis yang bertengger di hidung mancungnya, sepasang mata elang menatap lurus ke arah sepatu pantofelnya yang kini memutih akibat debu tanah.

Naya sempat terpaku selama beberapa detik. Gila, ini orang ganteng banget, batin Naya spontan. Wajah pria di hadapannya memiliki garis rahang yang tegas, kulit bersih, dan aura karisma yang sangat pekat tipe pria eksekutif muda papan atas yang biasa ia lihat di kawasan SCBD Jakarta.

Namun, rasa kagum itu langsung menguap ketika Naya melihat ekspresi wajah pria itu. Rahangnya mengeras, dan tatapan mata di balik kacamatanya begitu menusuk, sedingin es yang sanggup membekukan apa saja.

"Apa yang kamu lakukan?" suara pria itu terdengar rendah, bariton, dan penuh penekanan yang mengintimidasi.

Naya yang dasarnya berdarah panas dan tidak suka diintimidasi, langsung mengabaikan rasa bersalahnya. Ia berkacak pinggang, menatap balik pria tampan itu dengan pandangan menantang.

"Heh! Lagian lu ngapain sih jalan di sini?! Enggak lihat apa gue lagi nyapu?! Punya mata tuh dipakai dong, Bos! Malah sengaja nyari penyakit!" semprot Naya ketus, sama sekali tidak ada nada penyesalan dalam suaranya.

Pria itu perlahan mengalihkan pandangannya dari sepatunya yang kotor, lalu menatap Naya dalam-dalam. Sifat bar-bar Naya sama sekali tidak membuatnya gentar. Ia justru membetulkan letak kacamatanya dengan gerakan pelan yang teramat tenang, namun justru memancarkan aura berbahaya.

"Halaman ini adalah jalan umum menuju pintu keluar ndalem. Dan saya berjalan di jalur yang benar," jawab pria itu datar, suaranya sedingin es di kutub utara. "Kamu yang menyapu dengan cara yang tidak beradab."

"Wah, ngajak berantem nih orang!" Naya maju satu langkah, menodongkan ujung sapu lidinya ke depan dada pria itu. "Heh, denger ya! Gue lagi dihukum kerja rodi di sini karena ustadzah galak itu! Perut gue lapar, kepala gue pusing, dan sekarang lu malah nambah-nambahin masalah dengan nyalahin gue?! Tinggal minggir aja apa susahnya sih?!"

Pria itu menatap ujung sapu lidi yang nyaris menyentuh kemeja putihnya dengan pandangan sinis. "Turunkan sapu kamu sebelum saya bertindak lebih jauh, Nona."

"Enggak mau! Lu minta maaf dulu karena udah ngehalangin jalan gue!" tantang Naya, menaikkan dagunya dengan angkuh.

Pria tampan itu mengembuskan napas pendek melalui hidung, menatap Naya dengan pandangan meremehkan yang sangat kentara. "Menolak meminta maaf atas kesalahan sendiri, berteriak pada orang asing, dan bersikap arogan. Apakah ini standar moral yang dibawa oleh anak kota seperti kamu?"

Kata-kata menohok itu laksana bensin yang menyiram api di dada Naya. "Maksud lu apa bawa-bawa anak kota, hah?! Sok suci banget lu ya! Muka aja ganteng tapi mulutnya lemes kayak emak-emak komplek!" bentak Naya memekik.

Namun, tepat setelah kalimat makian itu keluar dari mulutnya, kepala Naya mendadak berdenyut hebat. Rasa sakit yang teramat sangat menyerang pelipisnya secara tiba-tiba. Pandangan matanya yang semula tajam menantang, mendadak kabur dan berputar-putar. Dunia di sekelilingnya seolah berguncang hebat.

"Aduh..." Naya meringis, tangannya spontan melepaskan gagang sapu lidi dan beralih memegangi kepalanya yang terasa seberat godam. Perutnya yang kosong melilit hebat, memicu rasa mual yang mendera.

Pria di hadapannya mengerutkan kening, menyadari perubahan drastis pada raut wajah Naya yang mendadak pucat pasi seperti mayat. "Kamu kenapa?" tanyanya, nada suaranya sedikit berubah, meski tetap terdengar kaku.

"Gue... gue pusing..." cicit Naya lirih. Sifat bar-bar-nya runtuh total digilas rasa sakit. Tubuhnya mendadak kehilangan seluruh daya. Kedua lututnya terasa lemas bak jeli, tak mampu lagi menopang berat badannya.

Hampir ambruk.

Tepat saat tubuh Naya limbung dan hendak jatuh bebas ke atas paving blok yang keras, sebuah gerakan cepat terjadi. Pria itu dengan sigap melempar jas di lengannya ke atas bangku taman terdekat, lalu melangkah maju secepat kilat.

GREEP.

Sebelum tubuh Naya menyentuh tanah, sepasang lengan yang kokoh dan kuat telah lebih dulu menangkap pinggang dan punggungnya. Naya terjatuh tepat di dalam dekapan dada bidang pria asing tersebut. Aroma parfum maskulin yang mewah, bercampur dengan keharuman samar minyak wangi khas pesantren, langsung menyeruak masuk ke indra penciuman Naya.

Naya yang berada di ambang kesadaran perlahan membuka matanya yang berat. Jarak wajah mereka kini teramat dekat, hingga Naya bisa melihat dengan jelas bulu mata lentik di balik kacamata pria itu dan ekspresi kaku yang kini menatapnya dengan guratan samar rasa cemas.

"Hei. Buka mata kamu," perintah pria itu, suaranya yang bariton kini terdengar menggema di telinga Naya.

Naya hanya mampu mengerang lirih, memegangi kemeja putih pria itu dengan sisa tenaga di jarinya yang gemetar. "Lapar..." bisik Naya pelan, sebelum akhirnya pandangannya menggelap sepenuhnya dan kesadarannya hilang total di dalam dekapan sang pria kaku.

Pria itu menghela napas panjang melihat gadis di pelukannya yang telah pingsan. Ia menatap halaman yang masih berantakan, lalu menatap wajah pucat Naya.

"Baru hari pertama sudah merepotkan," gumamnya pelan. Dengan gerakan mantap, ia menyurukkan lengannya ke bawah lutut Naya, lalu mengangkat tubuh gadis itu dalam gendongan bridal style dengan sangat mudah, seolah berat badan Naya tidak ada apa-apanya.

Pria itu berbalik, membawa Naya melangkah lebar menuju teras rumah utama ndalem. Tepat saat ia sampai di pintu, Bu Nyai Halimah keluar dengan wajah terkejut melihat putranya menggendong santri baru dalam keadaan pingsan.

"Astagfirullah, Zayyan! Ini Naya kenapa?" tanya Bu Nyai Halimah panik, mendekati putranya.

Pria itu—Gus Zayyan Maulana Al-Fariz—menatap ibunya dengan wajah datar tanpa ekspresi. "Pingsan, Umi. Katanya lapar. Dia membuat kegaduhan di halaman asrama subuh tadi, lalu dihukum Ustadzah Maryam di sini tanpa sarapan."

"Ya Allah... kasihan sekali anak ini," cicit Bu Nyai Halimah, mengusap kepala Naya yang terkulai di dada putranya. "Ayo, bawa masuk ke kamar tamu ndalem, Yan. Biar Umi buatkan teh hangat."

Zayyan mengangguk patuh. "Enggeh, Umi."

Sembari melangkah masuk ke dalam rumah, Gus Zayyan melirik sekilas ke arah wajah damai Naya saat pingsan. Sifat bar-bar gadis itu saat sadar tadi benar-benar menguji urat sarafnya. Zayyan tahu, mulai hari ini, kehidupannya yang teratur sebagai seorang CEO dan pengasuh pondok tidak akan pernah sama lagi selama gadis kota ini berada di bawah pengawasannya.

BERSAMBUNG

1
Kholiq Masbuhin
greget banget thorrr,antek2 Fida bikin darting.mapus di bikin Naya kicep🤣🤣
Kholiq Masbuhin
🥹🥹bikin mewekkk, semangat terus Thor
Kholiq Masbuhin
huhuhuhu terharu q thorr🥹🥹, seperti masuk dalam ceritanya
Kholiq Masbuhin
gilaaaa lanjutkan thorrrr,kamu membuat aku menghaluuuuu
Kholiq Masbuhin
thorrrrrrrrrrrrrr bom bas tis,ya Allah mengguncang hatiku,sampe deg deg serrrrrrrr.tidak bisa berkata-kata,karyamu bagusss bangettttt.semoga semakin bagus thorrrrr,lope lope banyak banyak🤍🥰😘
Kholiq Masbuhin
aaaaaa thorrrr di lope lope sama alur ceritanya 🥰🥰 ku tunggu punya yg banyak2 ya thorrrrr, semangat 💪
Kholiq Masbuhin
up nya jam berapa Thor ?setiap hari apa gimana? di tunggu Thor, semangat 💪💪😘
Kholiq Masbuhin
bagus banget,alur ceritanya santai ringan dan enak di bacanya.semangat nulisnya ya
Kholiq Masbuhin
suka banget sama alur ceritanya ,ringan dan santai.enak di bacanya.aku pernah baca novel seperti punyamu ini Thor, serupa tapi tak sama.semangatttt terus ya nulisnya,🤍
Kholiq Masbuhin: /Drool/
total 2 replies
Runi Mayantri
gus zayyan ud mulai trtarik ma si nay😄😄😄😍
Ell Fikar
udh up banyak tp msh kurang rasanya
ahhhh gus zayyan, naya yg di perhatiin aku yg baperrrrrrr

lanjut thor up yg banyak
guest1053527528
lanjut thor bagus ceritax dengan aksi bar2 dan menentang sy suka itu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!