NovelToon NovelToon
Kontrak Cinta Sang Konglomerat

Kontrak Cinta Sang Konglomerat

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Nikah Kontrak / Diam-Diam Cinta
Popularitas:6.4k
Nilai: 5
Nama Author: Siti Kembang

**Keira Salim** tidak pernah menyangka hidupnya akan berubah drastis dalam semalam.

Ayahnya masuk penjara karena judi, ibunya sakit keras, dan adik kembarnya baru saja menabrak mobil Bugatti milik pewaris konglomerat terbesar di Jakarta — **Rayhan Kurnia**.

Ganti rugi: dua ratus miliar rupiah.

Keira mendatanginya untuk negosiasi, tapi pria itu justru menatapnya dengan mata gelap yang tak terbaca, lalu berkata dengan santai:

*"Bayar pakai dirimu."*

*"Syarat pertama — jadi pacarku."*

Keira tahu ini gila. Tapi demi adiknya, demi ibunya, dia mengangguk.

Yang tidak Keira tahu: Rayhan sudah **mencintainya dalam diam selama sepuluh tahun** — sejak pertama kali melihatnya di trotoar saat mereka berusia delapan tahun.

Di balik wajah dingin dan sikap arogan itu, tersimpan ratusan surat cinta yang tak pernah dikirim, ribuan foto yang diam-diam diambil, dan sebuah ruangan rahasia yang dipenuhi jejak obsesi selama satu dekade.

Dia rela **mengorbankan mimpinya**, berlutut di hadapan ibunya yang kejam, dan **mempertaruhkan seribu miliar** — semua demi satu orang.

*"Selama Rayhan hidup, Keluarga Salim tidak akan jatuh."*

Tapi ketika Rayhan akhirnya kembali setelah lima tahun berjuang sendirian di luar negeri...

Keira menatapnya dengan mata kosong.

*"Maaf... apakah kita pernah saling kenal?"*

Dia sudah **melupakannya**.

Sepenuhnya.

---
**「Dia mencintainya sepuluh tahun dalam diam. Dia melupakannya dalam sekejap. Tapi cinta sejati tidak bisa dihapus — bahkan oleh waktu.」**

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Kembang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 4

Bab 4: Ciuman Pertama

"Pacarku," bisik Rayhan, mata gelapnya menahan seluruh ruangan agar tidak bergerak, "kenapa gemetar?"

Keira tidak langsung menjawab. Ibu jarinya masih terasa di pipi, ringan, tetapi cukup untuk membuat seluruh tubuhnya lupa cara bersikap biasa. Ia ingin turun dari meja. Ingin mundur. Ingin mengingat bahwa laki-laki ini adalah kreditur adiknya, bukan seseorang yang boleh membuat jantungnya melompat seperti ini.

"Karena posisinya aneh," jawabnya akhirnya.

Rayhan menatap lutut mereka yang hampir bersentuhan, lalu tertawa pelan. "Jadi bukan karena aku?"

"Jangan terlalu percaya diri."

"Sayang, kalau soal kamu, aku memang selalu percaya diri."

Keira memalingkan wajah. Rayhan tidak mengejarnya. Ia hanya mengambil surat utang itu, melipatnya, lalu memasukkannya ke dalam laci meja.

"Pulanglah. Besok kuliah, kan?"

Keira terkejut. "Hanya itu?"

"Kau berharap apa?"

Wajah Keira langsung panas. "Tidak."

"Aku akan menunggu sampai kau berharap."

Kalimat itu mengikuti Keira sampai ia keluar dari Villa PIK. Bu Wati mengantarnya ke mobil dengan senyum yang tidak banyak bertanya. Sepanjang perjalanan kembali ke Depok, Keira menatap lampu jalan lewat satu per satu, sementara di layar ponselnya ada pesan baru dari Rayhan.

Jangan lupa makan malam, pacarku.

Keira mengetik `jangan panggil begitu`, lalu menghapusnya. Mengetik `baik`, lalu menghapusnya juga. Akhirnya ia hanya mengunci ponsel, tetapi sudut bibirnya bergerak sedikit sebelum ia sadar dan cepat-cepat menahannya.

Hari-hari berikutnya berjalan seperti kampus tidak tahu ada perjanjian aneh yang baru saja mengikat hidupnya. Video penolakan Varian masih dibicarakan, tetapi berita kampus bergerak cepat. Mahasiswa baru sibuk dengan jadwal, forum, tugas kelompok, dan persiapan malam pembukaan resmi di auditorium UI.

Sabtu malam, Keira duduk di baris tengah auditorium dengan Tina dan Sania. Lampu panggung padam. Begitu musik gamelan kontemporer bercampur denting piano terdengar, seorang perempuan muncul di bawah sorot cahaya putih.

Sophia Oei.

Keira menahan napas.

Ia pernah menonton video Sophia sejak SMA di layar ponsel retak. Dulu, ketika rumah Salim mulai dijual satu per satu, ketika Hendra menghilang di balik skandal dan Mama Liana mulai sering sesak napas, Keira diam-diam menari di kamar sempit hanya untuk merasa hidupnya belum seluruhnya runtuh. Sophia adalah alasan ia percaya bahwa tubuh yang bergerak bisa menyelamatkan sesuatu di dalam diri.

Di panggung, Sophia bergerak seperti air yang memiliki tulang. Setiap putaran bersih, setiap hentakan kecil punya makna. Tidak berlebihan, tidak meminta belas kasihan. Keira memegang ujung kursinya sampai buku jarinya memucat.

"Kei," bisik Tina, "kamu sampai tidak berkedip."

"Dia luar biasa," balas Keira pelan.

Sania menyenggolnya. "Kamu harus minta foto nanti."

Keira menggeleng cepat. "Tidak mungkin. Pasti banyak orang."

Saat pertunjukan selesai, tepuk tangan memenuhi auditorium. Keira berdiri bersama semua orang, dadanya penuh sesuatu yang hangat dan sakit. Ia ingin suatu hari bisa berada di panggung seperti itu, bukan sebagai orang yang bersembunyi dari utang, tetapi sebagai seseorang yang benar-benar dipilih karena kemampuannya.

Ponselnya bergetar.

Keluar pintu samping kiri.

Keira menatap nama pengirim. Rayhan.

Ia menoleh ke sekeliling. Di dekat pintu VIP, Rayhan berdiri dengan kemeja putih dan jaket hitam, terlalu mencolok untuk pura-pura tidak terlihat. Beberapa mahasiswa mulai berbisik. Rayhan tidak peduli. Ia hanya mengangkat alis, seolah bertanya kenapa ia belum bergerak.

"Aku ke toilet sebentar," kata Keira pada Tina dan Sania.

Ia berjalan ke pintu samping dengan kepala menunduk. Begitu sampai di koridor, Rayhan sudah menunggu.

"Kau suka dia?"

"Siapa?"

"Sophia Oei."

Mata Keira langsung hidup. "Suka. Dia salah satu penari terbaik di Indonesia. Tekniknya bersih, ekspresinya tidak berlebihan, tapi setiap gerakannya..."

Ia berhenti karena sadar Rayhan sedang tersenyum.

"Apa?"

"Matamu beda kalau bicara soal menari."

Keira menutup mulut sebentar. "Maaf. Aku terlalu banyak bicara."

"Aku suka."

Dua kata itu membuat wajahnya panas lagi.

Rayhan mengeluarkan kertas foto berukuran kecil dan spidol perak dari saku jaketnya. "Ayo."

"Ke mana?"

"Minta tanda tangan."

"Tidak bisa. Backstage pasti dijaga."

"Bisa."

"Ray, jangan bikin masalah."

Rayhan berhenti. Senyumnya melebar sedikit. "Kau baru panggil aku apa?"

Keira baru sadar. "Rayhan."

"Telat. Aku dengar."

Ia menggenggam pergelangan tangan Keira, tidak keras, hanya cukup untuk menuntunnya melewati koridor menuju area belakang panggung. Dua petugas keamanan menahan mereka, lalu langsung menyingkir begitu melihat Rayhan.

Di balik pintu, beberapa penari sedang melepas aksesori. Sophia berdiri dekat meja rias, membicarakan sesuatu dengan seorang pria berambut perak. Keira langsung mengenali Darren Oei dari lingkaran The UI Four, tetapi suasana di antara mereka tidak seperti kakak beradik biasa. Darren berdiri terlalu dekat. Sophia menatapnya terlalu tenang, seolah ada kalimat lama yang sama-sama mereka tahan.

"Darren," panggil Rayhan.

Darren menoleh, wajahnya datar. "Ray."

Sophia mengikuti arah pandangnya. Tatapannya berhenti pada Keira, lalu turun ke foto dan spidol di tangan Rayhan.

"Penggemar?" tanyanya.

Keira langsung gugup. "Maaf, Ci Sophia. Saya Keira Salim. Saya hanya... saya sangat mengagumi karya Ci Sophia sejak lama."

Sophia tersenyum kecil. "Kalau mengagumi tari, jangan hanya mengagumi penarinya. Latih tubuhmu sampai ia tidak berbohong."

Keira mengangguk cepat. "Iya, Ci."

Rayhan menyodorkan foto dan spidol. "Tanda tangan untuk pacarku."

Keira hampir tersedak. "Ray."

Sophia mengangkat alis, sementara Darren melirik Rayhan selama satu detik lebih lama dari biasa.

"Pacarmu?" tanya Sophia.

"Iya."

Keira ingin menginjak kaki Rayhan, tetapi ia ingat mereka sedang di depan idolanya. Sophia menandatangani foto itu dengan tulisan rapi.

Untuk Keira. Menarilah dengan jujur.

Ketika foto itu kembali ke tangannya, Keira memegangnya seperti benda rapuh. "Terima kasih, Ci Sophia."

"Sama-sama." Sophia menatapnya lebih lembut. "Kau menari?"

"Dulu. Sekarang belum banyak."

"Kalau masih ingin, jangan terlalu lama berhenti."

Kalimat itu menancap di dada Keira. Ia belum sempat menjawab ketika suara pintu lain terbuka. Beberapa orang masuk, membuat area backstage menjadi lebih ramai. Rayhan menarik Keira sedikit ke samping agar tidak tertabrak.

Di saat itulah Keira melihat Darren menahan lengan Sophia.

Gerakannya singkat, hampir tidak terlihat, tetapi cukup membuat Sophia berhenti. Keira membuang muka cepat, merasa baru saja melihat sesuatu yang bukan untuknya.

Rayhan melihat reaksi itu. Senyumnya muncul. "Mau kabur?"

"Aku tidak sengaja lihat."

"Kalau begitu sembunyi."

Belum sempat Keira bertanya, Rayhan menariknya masuk ke ruang penyimpanan kostum kecil di sisi koridor. Pintu tertutup, menyisakan cahaya tipis dari celah bawah. Ruangan itu sempit, penuh gantungan pakaian panggung dan bau parfum bercampur bedak.

"Rayhan," bisik Keira panik. "Ini apa?"

"Tempat aman."

"Aman dari siapa?"

"Dari rasa malu kamu."

Keira menatapnya. Mereka berdiri terlalu dekat. Punggungnya hampir menyentuh rak kostum, sementara Rayhan di depannya seperti dinding hangat yang tidak memberi jalan keluar.

"Kita harus keluar."

"Nanti."

"Kalau ada yang lihat..."

"Mereka akan berpikir aku sedang mencium pacarku."

Keira membeku.

Rayhan menunduk, matanya turun ke bibir Keira, lalu kembali ke matanya. "Mau coba?"

"Apa?"

"Ciuman."

"Tidak."

"Kau terlalu cepat menjawab."

"Karena jawabannya memang tidak."

Rayhan tertawa tanpa suara. "Takut?"

"Tidak."

"Kalau begitu cium aku."

Keira menatapnya seperti ia baru saja meminta hal paling tidak masuk akal di dunia.

"Kau bilang tidak takut."

"Tidak takut bukan berarti mau."

"Benar." Rayhan mengangguk, lalu mundur setengah langkah. "Kalau tidak mau, bilang tidak. Aku dengar."

Jarak kecil itu seharusnya membuat Keira lega. Anehnya, dadanya malah semakin kacau. Rayhan tidak memaksa. Justru karena itu, ajakannya terasa berputar-putar di udara, menggoda rasa ingin tahu yang seharusnya tidak ada.

Ia ingat surat utang. Ingat perjanjian. Ingat bahwa ini bukan hubungan biasa.

Tetapi ia juga ingat tanda tangan Sophia di tangannya. Ingat Rayhan menyiapkan foto dan spidol tanpa ia minta. Ingat bagaimana laki-laki ini menghafal hal kecil yang bahkan belum sempat ia ceritakan.

"Sekali," ucap Keira sangat pelan.

Mata Rayhan langsung gelap.

"Apa?"

"Sekali saja."

Rayhan menatap sepatunya, lalu tersenyum. "Kau terlalu pendek."

Keira tersinggung. "Kalau begitu batal."

"Injak sepatuku."

"Apa?"

Rayhan menunjuk sneakers Air Jordan putih di kakinya. "Naik."

"Itu mahal."

"Kau lebih mahal."

Keira kehabisan kata. Dengan wajah panas, ia meletakkan kedua kakinya di atas sepatu Rayhan. Tangannya refleks mencengkeram lengan laki-laki itu agar seimbang. Tinggi mereka mendadak lebih dekat.

"Begini?" bisiknya.

"Begini."

Keira menutup mata sebentar, lalu memberanikan diri menyentuh bibir Rayhan dengan bibirnya.

Ringan. Kaku. Hanya sedetik.

Ia ingin mundur, tetapi Rayhan menahan pinggangnya dengan satu tangan.

"Itu bukan ciuman," bisiknya.

Keira membuka mata. "Lalu apa?"

"Salam."

Sebelum ia sempat protes, Rayhan menunduk dan mencium balik. Kali ini tidak ada jari sebagai pembatas. Bibirnya hangat, pelan pada awalnya, lalu semakin dalam ketika Keira tidak mendorongnya menjauh. Dunia di luar pintu menghilang. Suara orang-orang, musik auditorium, bahkan rasa takut, semuanya memudar menjadi detak jantung yang terlalu keras.

Lutut Keira lemas di atas sepatu Rayhan.

Rayhan mengencangkan pelukan di pinggangnya. "Bernapas, Kei."

Keira baru sadar ia benar-benar lupa bernapas.

Ia menarik napas gemetar, dahi hampir menempel ke dada Rayhan. Foto bertanda tangan Sophia masih tergenggam di satu tangan, sedikit terlipat di ujungnya.

Di luar pintu, langkah kaki berhenti.

Rayhan mengangkat kepala. Senyum hangatnya lenyap, digantikan dingin yang tajam.

Ia membuka pintu ruang kostum dengan satu tangan, tetap menyembunyikan Keira di belakang tubuhnya.

Di ujung koridor, Varian berdiri dengan ponsel di tangan.

Rayhan menatapnya tanpa berkedip.

"Sudah puas lihat?"

1
Riyanti Bee
Cerita menarik, penulisan rapi.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!